Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Otak nggak ada akhlak


__ADS_3

Seseorang yang dipertemukan kembali setelah sempat berpisah, terkadang bisa menjadi sebuah obat kerinduan, sekaligus luka baru andai keadaannya sudah berbeda.


Begitulah yang saat ini Amara rasakan. Kerinduannya pada Dimas memang terobati, tetapi hatinya merasa luka oleh sikap dingin dan kata-kata kasar yang suaminya tunjukkan. Ditambah lagi dengan penolakan dan ungkapan Dimas barusan yang tidak sesuai dengan fakta membuatnya merasa perlu untuk meluruskan.


"Mas Dimas tunggu!"


Amara menarik tangan Dimas hingga pria itu terpaksa menghentikan langkahnya.


"Apa lagi?" tanya Dimas kesal. Ia kemudian melirik Amara dengan malas. "Lo udah denger sendiri gue tadi bilang apa? Cepetan pulang karena elo udah nggak dibutuhkan lagi. Ngerti?"


Amara menggeleng. Ucapan Dimas memang menunjukkan sikap tidak suka, tetapi bahasa tubuhnya menunjukkan suka saat tangannya dipegang oleh Amara. Dan entah atas dasar apa tiba-tiba Amara begitu beraninya memohon pada Dimas dengan nada merengek.


"Mas, kasih aku kesempatan untuk merawat Mas Dimas sebagai bentuk permintaan maaf. Aku tau Mas Dimas marah! Aku tau Mas Dimas kesal. Tapi aku melakukan semuanya itu bukan tanpa sebuah alasan. Aku mohon Mas Dimas izinkan aku, ya. Aku janji bakal bersikap profesional meskipun kita masih suami istri. Dan aku janji nggak akan bikin Mbak Naura cemburu dengan sikap dan perilaku aku."


"Heh, ngapain juga Naura harus cemburu sama lo!" Dimas menyahuti dengan cepat kata-kata Amara itu dengan nada sinis. Tentu saja karena ia dan Naura kini sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Namun, hal itu rupanya ditanggapi berbeda oleh Amara lantaran ketidaktahuannya hingga membuat gadis itu tertunduk sedih dan kemudian berucap lirih.


"Aku ngerti maksud Mas Dimas."


Nggak ada alasan untuk Mbak Naura cemburu sama aku. Kami adalah dua wanita dengan latar belakang sangat berbeda. Benar-benar tidak se-level.


Untuk sejenak Dimas tertegun. Ia menyadari kesalahannya dalam berucap sekaligus memahami ketidaktahuan Amara. Akan tetapi ia sama sekali tak memiliki niatan untuk menjelaskan. Belum saatnya.

__ADS_1


"Mas, kamu nggak keberatan, kan?" tanya Amara dan sukses menarik Dimas dari lamunan. Pria itu berdeham pelan untuk menetralkan perasaan dan kemudian menarik tangannya dari genggaman Amara.


"Mas, demi Allah aku nggak menginginkan bayaran! Apa lagi dengan nominal tinggi seperti yang tadi Mas katakan. Aku mohon Mas jangan salah paham," sambung Amara lagi.


Sejujurnya Amara tak perlu meyakinkan Dimas hingga sedemikian rupa. Dalam hati, pria bahkan begitu tersanjung mendengar penuturan istrinya tadi. Tapi lagi-lagi perlu menahan diri untuk melihat sejauh mana sikap profesional kerja yang Amara katakan tadi.


"Memangnya lo sanggup terima apa pun konsekuensinya?" tanyanya memastikan.


Amara mengangguk cepat. "Pasti Mas. Aku siap dengan segala resikonya," jawabnya kemudian tanpa memahami maksud Dimas yang sebenarnya.


Saat ini yang ada di benaknya hanyalah bisa menaklukkan keangkuhan Dimas beserta gadis bernama Naura lah yang jadi tantangan terberatnya. Dan mungkin juga kelak matanya akan sering-sering ternoda dengan kemesraan mereka berdua. Tapi biarlah. Toh ia pernah merasakan hal yang lebih perih dari ini. Ia bahkan sudah terbiasa. Baginya ini bukanlah kendala.


Dimas yang hendak berbicara mendadak urung lantaran harus memijat kepalanya. Kesehatan yang belum pulih benar tetapi memaksa pulang membuatnya merasa tak karuan. Mata berkunang-kunang, kepala merasakan pusing yang hebat dan ditambah perut yang mual.


Buru-buru saja ia menahan tubuh lemas Dimas sendirian lantaran Baskoro telah lebih dulu masuk meninggalkan mereka dengan alasan tak ingin mengganggu mereka berdua.


"Aku bantu Mas Dimas masuk, ya." Tak mempedulikan sikap penolakan Dimas, Amara memapah suaminya masuk ke dalam. Beruntung saat itu Baskoro tengah berbincang dengan Euis dan Eli di ruang tamu, hingga ketiganya ikutan panik dan membantunya membawa Dimas ke kamar.


Entah obat apa yang Amara minumkan hingga tak lama kemudian Dimas merasa kelopak matanya begitu berat dan kantuk bukan kepalang. Ia tak bisa menahan diri untuk tetap terjaga hingga Dimas benar-benar tertidur setelahnya.


***

__ADS_1


Rasa haus yang menyiksa membuat Dimas terjaga malam itu. Ia membuka mata dan menyadari dirinya masih terbaring di ranjang kamar pribadinya.


Seketika ia mengerjapkan mata dan melirik ke atas nakas. Rupanya jam weker menunjukkan pukul tiga dini hari, tetapi telinganya mendengar sayup-sayup suara orang mengaji. Dimas hapal betul suara ini.


Benar saja. Saat melirik ke sisi lain kamarnya, ia melihat seseorang memakai mukena duduk di lantai sambil baca Mushaf. Ia yakin betul itu Amara.


Meskipun suaranya lirih, tetapi tetap mendayu-dayu menyapa gendang telinga Dimas. Begitu syahdu, hingga membuat jantungnya seketika berdebar-debar.


Tanpa sadar, senyum di bibir Dimas terkembang dengan mata berkaca-kaca. Tuhan memang sangat baik padanya. Padahal selama ini ia tak pernah meminta gadis soliha sebagai pendampingnya, tetapi Dia justru mengirim gadis sesempurna Amara kepadanya.


Sayangnya Dimas terlambat menyadari hingga ia perlu tertatih untuk membawa Amara kembali.


Karena hatinya dulu terlalu dibutakan oleh cinta, hingga Dimas berpikir letak kebahagiaannya berada pada Naura. Sampai-sampai ia nyaris memilih mati dan hampir saja gila hanya karena gadis bernama Naura. Dan sekarang ia telah menyadari kebodohannya.


Setelah beberapa lama terdengar Amara membaca Tashdiq, pertanda mengajinya telah selesai. Buru-buru saja Dimas kembali memejamkan mata dan berpura-pura tidur seperti sebelumnya.


Dari tempatnya berbaring, Dimas yang kini membuka sebelah matanya bisa melihat Amara tengah membuka mukena.


Dasar otak Dimas. Tiba-tiba dia membayangkan apa yang selama ini belum ia lihat dari Amara. Bagaimana penampilan gadis itu tanpa jilbab? Bagaimana bentuk rambutnya, seperti apa leher jenjangnya.


Berhenti Dimas! Otak lo nggak ada akhlak memang!

__ADS_1


Dimas benar-benar penasaran. Akankah ia melihat semuanya itu sekarang?


__ADS_2