Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Seperti dapat berkah (Bonchap)


__ADS_3

Amara menarik rambut panjangnya ke sisi kiri untuk mempermudah Dimas membukakan resleting gaun pengantinnya. Ia begitu mempercayai Dimas melebihi siapa pun. Sehingga sama sekali tak berpikiran buruk tentang apa yang akan dilakukan oleh pria itu selanjutnya.


Mula-mula Amara memang merasakan tangan Dimas menarik resletingnya. Namun, pria itu melakukannya dengan penuh kehati-hatian sebab Dimas menariknya dengan gerakan perlahan. Terlihat dari pantulan cermin memang Dimas mengarahkan pandangan ke tempat lain demi menghalau rasa malu istri tercintanya.


Diam-diam bibir Amara mengukir senyum. Merasa tenang sekaligus tersentuh, tanpa sadar Amara mengatupkan kedua kelopak matanya. Ia memejam. Tak bisa dipungkiri lagi, ada yang menghangat di dalam dadanya. Ada rasa bahagia yang nyata. Pria yang menjadi cinta sejatinya kini benar-benar telah dimiliki.


Karena begitu larut dengan kebahagiaan, Amara sampai lupa jika Dimas telah selesai membukakan resletingnya. Ketika dirasakannya sebuah sentuhan hangat yang tak biasa pada permukaan kulit di bagian punggung kanannya, barulah Amara membeliak dan refleks membuka mata lalu menoleh ke belakang.


Wajah Amara memerah seketika mendapati Dimas tengah mengecup punggungnya yang polos tanpa sehelai benang. Dadanya bergemuruh. Ia belum pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya. Tindakan Dimas yang diluar perhitungan Amara itu membuatnya salah tingkah.


Sedangkan sikap berbeda justru ditunjukkan oleh Dimas. Pria itu tetap terlihat tenang, bahkan hanya melempar senyum manis setelah dirinya kedapatan.


Tak tahu harus berbuat apa, Amara refleks bergerak menciptakan jarak seraya menutup kembali bahu kanannya dengan gaunnya yang tersingkap.


"Ma-makasih, Mas. A-aku ke kamar mandi dulu."


Dimas hanya tersenyum sambil geleng kepala menyaksikan tingkah kikuk istrinya. Amara sampai-sampai tergagap. Bahkan langsung lari ke kamar mandi demi menyembunyikan wajah pucatnya.


Di mata Dimas itu benar-benar menggemaskan. Pria itu malahan semakin bersemangat menggoda istrinya. Segera ia melangkah mendekati pintu dan mengetuknya sambil menyerukan panggilan barunya.


"Sayang ... boleh aku masuk?" Dimas mengatupkan bibir menahan tawa. Ia yakin, Amara di dalam sana tengah panik dan gemetaran.


"Jangan! Nanti gantian aja!"


Tuh kan. Dari nada bicara saja sudah kelihatan.


"Tapi aku udah kebelet tuh." Lagi-lagi Dimas menahan tawa.


"Yaaaah ...!" Terdengar suara Amara di sana seperti merengek. Mungkin karena malu bercampur kesal. Namun, tak lama kemudian pintu dibuka dari dalam dan sosok Amara yang masih dengan gaun pengantinnya muncul dari dalam.


Menyadari jika dirinya tengah diperhatikan Dimas yang tersenyum sambil bersedekap dada, gadis itu memasang tampang kesal lalu melangkah sambil mengangkat ujung gaunnya yang panjang.


"Ya udah. Kamu duluan aja," ucapnya seperti tak rela.


"Nggak mau. Aku maunya barengan aja."


Amara membeliak mendengar perkataan Dimas yang terlontar dengan nada menggoda itu. Iya, dia tahu mereka telah sah menjadi suami istri dan sudah menjadi tugasnya untuk melayani suami. Tapi, tidak secepat ini juga, kan?


"Besok-besok aja barengannya, ya. Kalau sekarang bakalan ribet, soalnya aku tuh mandinya lama banget."


"Alasan." Kini giliran Dimas yang pasang muka sebal. Namun itu hanya terjadi sebentar saja. Sebab setelahnya ia berbicara dengan nada antusias. "Aku tuh tau, biasanya kamu mandinya cepet, Sayang. Lagian kalau lama juga nggak masalah. Mandi berdua tuh makin lama makin asyik tau, nggak." Dimas tersenyum sambil memainkan alisnya menggoda Amara. Membuat wajah gadis itu kian memerah lantaran merasa jengah.


Dimas sengaja diam memperhatikan istrinya, menunggu bagaimana reaksi Amara. Ternyata gadis itu begitu teguh pada pendiriannya. Atau mungkin karena rasa malu yang tak terkira membuat Amara menggeleng kuat-kuat.


"Nggak mau, Mas ... gantian aja."


Mau tak mau Dimas mengangguk. Amara kelihatan tak nyaman dan ia tak ingin membuat istrinya merasa tertekan.


"Ya udah, aku duluan ya."


Amara mengangguk cepat. Kini wajah gadis itu kembali menunjukkan senyumnya melihat keramahan Dimas.


Herannya, begitu banyak tempat di kamar hotel tipe presidential suite yang disewa Dimas untuk mereka itu, Amara malah memilih menunggu Dimas sambil menyandarkan tubuh pada dinding bercat putih di belakangnya. Diam-diam ia pun berangan. Jika tadi ia menerima ajakan Dimas untuk mandi bersama, maka saat ini apa yang tengah mereka lakukan berdua di dalam sana?


Apakah benar-benar mandi?


Yakin cuma mandi?

__ADS_1


"Apaan sih? Dasar otak." Amara sontak mengerjapkan mata dan memukul dahinya sendiri sekadar untuk menjernihkan pikiran. Sepertinya angannya terlalu jauh berkelana.


Entah berapa lama Amara berdiri di sana. Hingga pintu kamar mandi terbuka dan sosok Dimas yang tinggi tegap itu muncul mengagetkan.


Untuk sesaat Amara lupa caranya berkedip. Matanya mendadak terserang amnesia lantaran dimanjakan oleh pemandangan indah di depannya. Dimas yang hanya mengenakan piyama mandi terlihat segar dan tampan dengan rambut setengah basah disugar ke belakang yang berkilau indah. Lebih-lebih lagi senyumannya yang merekah.


Pria itu menyipitkan mata ketika menatap istrinya. Apalagi saat itu Amara hanya terbengong sambil memandanginya. Namun, bukanlah itu yang membuat Dimas bertanya-tanya. Melainkan tempat yang dipilih Amara untuk digunakan selagi menunggunya mandi.


"Sayang, dari tadi kamu berdiri di situ?"


"Iya," jawab Amara dengan polosnya.


"Astaga. Padahal aku mandi lama banget loh tadi. Nggak capek berdiri terus? Kakinya nggak pegel?"


"Hehe, enggak." Meringis, Amara merutuki kebodohannya. Hanya karena godaan Dimas tadi mendadak otaknya jadi tumpul. Untuk apa juga sejak tadi ia berdiri? Toh ada begitu banyak sofa dan tempat duduk yang terletak di beberapa titik di kamar ini. Amara, Amara. Dasar.


"Ya udah, mandi gih sana. Perlu aku bantu?" tawar Dimas setelah mempersilahkan Amara. Ia berpikir Amara pasti kerepotan dengan gaun pengantin yang dikenakannya.


"Nggak, Mas. Nggak perlu." Amara segera mengangkat gaunnya lalu cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi sebelum jantungnya merosot ke bawah lantaran godaan Dimas.


Rupanya, setelah mandi pun Amara kembali dibuat kebingungan. Pasalnya, ia tak menemukan selembar pun baju ganti yang bisa dikenakan. Hanya ada beberapa lembar piyama mandi yang ia temui. Ia tak mungkin semalaman akan berada di bilik ini. Namun, ia juga tak bisa menemui Dimas dengan penampilan seperti ini.


Lantas bagaimana?


Terpaksa, Amara keluar dengan keadaan seperti itu. Berbalut piyama mandi dan dengan rambut setengah basahnya karena memang belum dikeringkan.


Senyuman manis Dimas langsung menyambutnya begitu Amara keluar. Dimas sendiri tengah memainkan ponsel sembari duduk pada sebuah sofa besar sambil selonjoran. Begitu santainya.


Sejenak Amara memejamkan mata sambil menggeleng lemah demi menghalau rasa malunya. Jika Dimas saja terlihat menggoda dengan hanya mengenakan handuk mandi saja, tetapi kenapa berbeda dengan dirinya? Amara benar-benar merasa dirinya sangat memalukan dengan penampilan seperti itu. Tanpa dalaman dan tanpa ... bra. Astaga.


"Mandinya sudah?" tanya Dimas.


Berhenti tak jauh dari Dimas, ia lantas bertanya. "Lihat baju ganti kita, nggak?"


Terdiam seperti berpikir, kemudian Dimas menggeleng pelan. "Enggak," jawabnya jujur. "Dari tadi aku nyari-nyari juga nggak ada. Apa mungkin Mama lupa bawain baju ganti kita, ya?"


"Entah. Kenapa nggak nanya aja? Biar lebih jelas, kan?"


"Okay, aku telpon bentar, ya."


Berulang kali Dimas menghubungi nomor Amelia, akan tetapi wanita itu tak kunjung menjawab teleponnya. Ia putus asa dan memutuskan mengakhiri usahanya.


"Nggak diangkat, Sayang. Mungkin Mama udah tidur."


"Masa, ah. Baru juga jam segini." Ekspresi Amara mulai gelisah. Itu dapat ditangkap jelas oleh Dimas. Pria itu buru-buru mengambil opsi lain dengan memberikan sebuah usulan.


"Aku coba telpon Euis atau Bi Eli ya."


"Iya." Amara mengangguk setuju. Akan tetapi, seperti yang sebelumnya, panggilan kepada keduanya tak ada yang mendapat sahutan.


Masih berusaha menghubungi nomor orang-orang, diam-diam mata Dimas memindai penampilan istrinya. Amara berdiri kaku dengan tangan memegangi dua sisi tepian piyama. Gadis itu seolah-olah khawatir kain yang hanya ditali itu akan dibuka paksa.


Dimas hanya bisa tersenyum melihat itu. Ia menyadari sifat pemalu istrinya. Menurutnya hal ini sangat wajar. Mereka baru saja menikah secara sah. Ditambah lagi latar belakang Amara yang memang belum pernah bersinggungan dengan pria lain selain dirinya. Tugasnya hanya menenangkan Amara dan membuat gadis itu merasa nyaman agar acara malam pertama mereka berjalan dengan lancar.


"Nggak bisa, Sayang. Nggak ada yang angkat." Nada bicara Dimas terdengar menyerah. Ia mematikan ponselnya lalu meletakkan di atas meja.


Tindakan Dimas itu secara langsung membuat Amara panik. Ia spontan memperhatikan dirinya sendiri dan kain piyama di badannya. Oh tidak! Mana mungkin dua hari menginap di sana ia akan berpenampilan seperti ini!

__ADS_1


Sejujurnya Dimas tahu tentang kegelisahan yang Amara rasakan. Namun, ia memilih pura-pura tidak tahu demi meminimalisir ketegangan Amara. Ia pun memutuskan mengajak Amara berkomunikasi dengan pembahasan yang jauh dari malam pertama.


"Ada nomor lain yang bisa dihubungi? tanyanya kemudian.


"Emm, ada. Aku coba telpon Miranda, ya," usul Amara. Gadis itu langsung berhambur ke arah nakas, di mana tas jinjingnya berada di sana. Kali ini ia terlihat santai selagi mengambil ponselnya lalu mulai menghubungi nomor Miranda.


Awalnya ia masih tersenyum. Namun, lama kelamaan senyumnya memudar lantaran panggilannya tak juga mendapatkan sahutan.


Ia menatap Dimas yang rupanya juga tengah memandanginya. Lalu kemudian tanpa pikir panjang ia pun menyebik dan mengeluh dengan nada manja.


"Nggak diangkat juga, Mas. Gimana dong ...?" Ia memberengut memandangi layar ponselnya. "Padahal dia online, loh. Tapi bisa-bisanya nggak angkat telepon aku."


Karena sibuk menggerutu, tanpa sadar Amara melangkah mendekati Dimas, lalu menunjukkan ponselnya pada pria itu.


"Nih Mas, lihat. Dia online, kan? Tapi kenapa nggak mau angkat telepon aku?"


"Mungkin Miranda online tapi ketiduran, Sayang. Makanya nggak angkat telepon." Dimas berusaha menenangkan tetapi Amara masih terlihat kesal. "Udahlah, Sayang. Positif thinking aja."


Karena Amara masih bungkam, terpaksa Dimas menarik tubuh istrinya untuk dibawa ke pangkuan. Berharap kekesalan gadis itu mereda, nyatanya yang terjadi justru Amara membeliak. Sepertinya Amara terkejut dan tak menyangka.


Saat dua pasang mata bersirobok, iris tegas milik Dimas menatap lembut tapi penuh tuntutan. Membuat syaraf Amara seperti lumpuh sehingga ia tak mampu berkutik dan berujung pasrah ketika Dimas melabuhkan ciuman di pipi kanannya.


"Kenapa ngeributin baju ganti sih? Bukannya kita belum butuh itu, ya?" Mengusap lembut pipi istrinya, Dimas bertanya pelan setelah melepaskan ciuman.


Tanpa berniat menunggu jawaban Amara, Dimas kembali melanjutkan kata.


"Ini malam pertama kita. Kenapa nggak kita manfaatkan dengan melakukan hal-hal yang indah-indah?"


Dimas yang memainkan rambut Amara akhirnya menyadari jika rambut istrinya masih setengah basah.


"Rambut kamu masih basah, Sayang. Boleh aku keringkan?"


Mata Amara sontak mengerjap. Ia pernah merasakan sentuhan lembut tangan Dimas saat mengeringkan rambutnya. Rasanya sangat nyaman dan menyenangkan. Apa salahnya jika ia merasakan itu lagi? Walaupun terkesan memanfaatkan statusnya sebagai istri, toh bukan dirinya yang minta, kan? Dimas sendiri yang menawarkan diri.


"Boleh," celetuk Amara dengan mata berbinar senang.


"Yuk." Dimas menarik tangan Amara, membawa gadis itu untuk duduk di depan meja rias.


Amara begitu patuh kepada Dimas, sedangkan Dimas begitu lembut memperlakukan Amara. Sangat sempurna. Sambil mengeringkan rambut istrinya menggunakan hair dryer, Dimas mengajak bicara istrinya sambil sesekali melempar pujian.


"Sayang, kamu punya itu punya rambut indah loh. Kenapa sih dulu harus disembunyikan?"


Amara tersenyum sebelum menjawab. "Karena aku cuma mau tunjukkan rambut ini hanya untuk suamiku. Paham?"


Suara lembut Amara membuat Dimas mengulum senyum. Tangannya tetap memainkan hair dryer tapi matanya terus memandangi wajah Amara.


"Akulah orang yang beruntung itu," celetuk Dimas menimpali pertanyaan Amara. Ia memperhatikan Amara demi melihat ekspresinya, ternyata saat itu Amara memutar bola matanya seperti meragukan kata-kata Dimas. "Ih nggak percaya."


"Kamu berlebihan."


"Enggak," bantah Dimas. "Mungkin kamu nggak tau, pertama kali bisa lihat rambut kamu aku berasa dapat rezeki nomplok."


"Hah?"


"Iya. Seperti dapat berkah yang nggak terkira. Apalagi sekarang aku udah berhasil dapatin orangnya."


Amara sontak menatap wajah Dimas melalui pantulan cermin demi menyelami kejujuran pria itu. Menepikan rasa malu. Mengabaikan deguban jantung yang bertalu-talu.

__ADS_1


Kalian tahu bagaimana perasaan Amara saat ini? Seperti melayang di atas awan dan berbaring di atas bunga-bunga yang bermekaran.


__ADS_2