
Entah sudah berapa lama Amara memanjatkan doa dan berbincang sendiri di atas pusara itu. Ia tak memedulikan area sekitar. Amara hanyut dalam kenangan manis bersama kedua orang tuanya sendirian. Sampai-sampai lupa jika ada yang menantinya di belakang, berdiri sejak tadi hingga kakinya terasa pegal.
Dimas bisa mendengar jelas apa pun yang dikatakan Amara di sana. Gadis itu menceritakan semua yang dialami. Ada suka. Ada lara. Ia bahkan tercengang saat Amara tanpa segan menyebut namanya dalam sesi curhat itu. Kadang-kadang gadis itu tertawa. Tak jarang pula menitikkan air mata. Hufft, benar-benar drama. Ya, tentu saja Dimas tak mengerti bagaimana perasaan Amara sebab ia masih merasakan keutuhan keluarga. Namun, kendati demikian, ia mencoba memahami dengan membiarkan gadis itu memasuki dimensinya sendirian.
Ah, lama-lama lelah juga. Kalau menyangkut almarhum orang tuanya, Amara jadi amnesia pada segala hal. Dimas pun mulai tak nyaman dengan ini. Hari mulai petang, belum lagi mendung yang menggantung di langit sana, seolah-olah memberikan peringatan jika akan menumpahkan hujan saat itu juga.
"Mar." Dimas menyentuh bahu Amara untuk menarik perhatian. Amara menoleh, dan mendapati Dimas tengah membungkuk dan tersenyum padanya. "Pulang, yuk. Tuh liat, langitnya bentar lagi nangis." Dimas mengarahkan jari telunjuknya ke atas.
Amara mengangkat kepalanya yang menyandar pada pusara sang ibu dengan malas, kemudian menatap wajah Dimas dengan mengiba.
"Sebentar lagi ya, Mas. Aku masih kangen sama Ayah Ibu."
"Keburu hujan, Mar. Besok-besok lagi, yah," bujuk Dimas dengan lembut.
"Tapi–"
"Mar, jarak rumah dengan tempat ini itu nggak dekat Kita butuh waktu perjalanan lebih dari tiga jam, loh. Ini jalanan kampung. Rusak. Gue takut jika keduluan hujan yang turun, mobil gue bakalan terjebak dan kita nggak bisa pulang. Kali ini ... aja, dengerin gue, Mar."
Amara terdiam selagi bertukar pandang dengan Dimas. Karena pria itu memohon dengan sangat, maka terpaksa ia mengikuti keinginan Dimas meski dengan hati terpaksa.
"Ya udah, kita pulang." Amara berucap lirih, kemudian pasrah saat Dimas membantunya berdiri dan menuntun berjalan.
Baru juga beberapa langkah meninggalkan pemakaman, hujan benar-benar turun mengguyur dengan deras. Amara dan Dimas kompak berlari menuju mobil dan bergegas masuk untuk berlindung. Karena tak ada rencana mengunjungi siapa pun di sana, keduanya sepakat untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Dari kaca mobil, keduanya bisa melihat bagaimana hujan turun begitu deras. Kilat menyambar dan petir bersahutan. Dimas melirik Amara dan menangkap ekspresi ketakutan di wajah cantik itu.
"Nggak usah takut. Semuanya pasti baik-baik aja," ucapnya menenangkan.
"Kalau cuma hujan sih aku nggak terlalu khawatir, Mas. Tapi ini hujan deras plus kilat dan petir yang menyambar."
__ADS_1
Dimas terdiam mendengar keluh Amara barusan. Ia tahu ke mana arah pembicaraan gadis itu. Sisi kanan kiri sepanjang jalan yang mereka lalui ditumbuhi pepohonan besar. Tiupan angin kencang yang menerpa bisa saja membuat pepohonan itu tumbang dan menghalangi jalan. Atau lebih parahnya lagi bahkan bisa menimpa kendaraan dan merenggut korban.
Seketika Dimas memejamkan matanya sejenak. Berdoa dalam hati, memohon pada Sang Pencipta agar selalu dilindungi.
Brak!
Amara dan Dimas terkejut bersamaan ketika mendengar suara dentuman di antara gemuruh hujan. Suara itu datangnya dari arah depan. Bersamaan dengan itu pula lampu-lampu yang terpasang di pinggir jalan padam bersamaan.
"Astaghfirullah. Itu suara apa Mas?" Amara bertanya dengan bibir gemetaran.
"Enggak tau, Mar. Tapi dari jika dilihat dari suaranya seperti ada pohon besar tumbang."
"Hah!" Amara setengah histeris. Bayangan mengerikan tentang dirinya terjebak di hutan langsung hinggap di kepala.
Dimas enggan berbicara. Ia memilih fokus pada pemandangan di depannya. Langit mendung serta derasnya hujan yang mendukung senja itu kian melengkapi suasana kelam hingga sukses membatasi jarak pandang. Beruntung, lampu mobil yang menyorot terang itu mampu menembus kegelapan.
Benar saja. Sebuah pohon besar tumbang mengarah ke jalan. Batang pohon tua itu sangat besar dengan ranting dan dedaunan yang rimbun itu sukses menutup jalan.
"Mas ...." Lirih Amara sembari menatap Dimas dengan mata berkaca-kaca. Ia tak bisa lagi melanjutkan perkataannya. Pikiran buruknya baru saja benar-benar terjadi di depan mata.
"Tenang, ya. Semua akan baik-baik saja." Meski dirinya sendiri tengah dalam kondisi bingung dan panik, tetapi Dimas masih berupaya menenangkan Amara. Ia menggenggam jemari dingin gadis itu dengan penuh kehangatan, dan tersenyum tulus demi untuk meyakinkan. "Gue mau turun untuk melihat keadaan di depan."
"Jangan." Amara menahan Dimas yang hendak membuka pintu, membuat pemuda itu sontak mengurungkan niat dan menatapnya keheranan. Ia lantas menggelengkan kepala sembari menggigit bibir bawahnya sebagai bentuk larangan.
"Cuma sebentar, Mar," kata Dimas untuk meyakinkan.
Amara menggeleng cepat. "Aku mohon jangan." Ia lantas menatap ke sekeliling, dan berakhir pada wajah Dimas lagi. "Kita nggak tau sedang berada di mana. Tidak ada rumah. Tidak ada pemukiman warga. Kalau Mas Dimas nekat keluar, aku takut tiba-tiba ada binatang buas yang datang menyerang."
Dimas diam sejenak selagi memikirkan perkataan Amara. Pada akhirnya ia merasa kata-kata gadis itu ada benarnya juga.
__ADS_1
"Iya. Lo ada benarnya." Dimas berucap paham. "Tapi, sepertinya di belakang kita tadi ada mobil. Mungkin kita bisa bekerja sama mengalihkan ranting pohon itu setidaknya sampai bisa dilalui mobil." Dimas memutar posisi tubuh untuk melihat ke belakang, sementara Amara sontak mengikuti apa yang dia lakukan.
"Mana?" tanya Amara saat melihat di belakang mereka hanyalah kegelapan.
"Iya ya. Kok enggak ada." Dimas memicingkan matanya untuk memperjelas pandangan. Ia menatap Amara sejenak lalu kembali mengarahkan pandangan ke belakang. "Tapi gue yakin banget tadi ada mobil di belakang kita. Gue lihat sendiri dari kaca spion, Mar! Memang sih jaraknya nggak terlalu dekat, tapi gue yakin banget itu mobil melaju searah dengan kita!" Dimas berupaya meyakinkan Amara. Namun, melihat dari kenyataan yang ada, tentu saja membuat Amara sulit mempercayainya.
"Tapi nyatanya nggak ada, Mas. Mungkin Mas Dimas salah lihat?"
"Enggak!"
"Atau mungkin mobil itu putar balik?"
"Entahlah!" Dimas menggeram kesal. Pria itu mengempaskan punggung pada sandaran jok, kemudian mendongakkan kepalanya sembari terpejam. Ia lantas mengusap wajahnya kasar. Rasa pusing langsung menyerang kepala. Ia tak pernah menyangka akan melewati malam ini di tempat serupa hutan belantara.
Akses satu-satunya menuju jalan raya tertutup batang pohon besar. Tak ada saudara yang bisa disinggahi. Lebih-lebih hari semakin malam. Tak memungkinkan ada orang datang memberikan bala bantuan.
Amara yang melihat ekspresi Dimas hanya bisa diam sembari menggigit bibir bawahnya. Merasa bersalah, sebab ini semua terjadi karenanya.
"Mas ... maafkan aku ...."
Dimas membuka mata mendengar perkataan lirih itu. Ia lantas menoleh dan mendapati Amara yang tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Semua ini terjadi karena aku. Andai aja aku nggak–"
"Diam." Dimas memotong ucapan Amara. Datar, tanpa emosi. "Nggak usah nyalahin diri sendiri. Nggak usah bikin kepala orang tambah pusing. Mendingan sekarang lo tidur, baru besok kita pikirin gimana caranya keluar dari sini."
Amara menggeleng takut. "Tapi aku belum ngantuk."
"Harus ngantuk!" sentak Dimas dengan mimik tak bersahabat. "Buruan tidur, kalau nggak pengen lihat hantu ketuk-ketuk pintu."
__ADS_1
"Mas!" Refleks, Amara merapatkan tubuhnya sembari memeluk lengan Dimas karena takut.