Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Jadi Ustadzah


__ADS_3

"Lowbat? Berarti mati dong?" Amara menggumam pelan di tempatnya. "Jadi tadi Mas Dimas cuma bohong?"


"Woy! Mau sampai kapan lo mematung di situ?" Teriak Dimas yang ternyata sudah jauh di sana. Lelaki itu sengaja menghentikan langkah, lalu berbalik badan dan geleng kepala melihat Amara masih terpaku di tempatnya.


"Eh, iya!" Amara terkesiap, lantas berlari-lari kecil untuk menyusul Dimas yang tengah berdiri menunggunya sambil menelusupkan jemari di saku celana.


Saling memandang, dua orang itu lantas berjalan beriringan di trotoar. Untuk sejenak keduanya hanya diam, sibuk bergulat dengan pikiran. Meski ada banyak hal yang bisa dibicarakan, tapi belum ada salah satu dari mereka yang memulainya lebih dulu perbincangan.


Dimas kembali mengentikan langkahnya. Lagi, ia menggelengkan kepala melihat Amara yang tertinggal di belakang. Lelaki itu kemudian mengernyit bingung saat Amara yang berjalan menunduk justru berlalu melewatinya.


"Ni orang, ditungguin malah ninggal. Emang badan gue yang segede ini nggak kelihatan?" gumamnya heran. Mendesah pelan, kemudian ia melangkah cepat untuk menyusul Amara. Dengan kaki panjangnya, tak butuh lama bagi Dimas untuk mencapai gadis itu.


Dimas kembali memperhatikan Amara. Entah sadar atau tidak, gadis perawat itu berjalan tepat di pinggiran trotoar. Dimas khawatir salah satu kakinya akan terjatuh ke bawah hingga membuat kakinya terkilir.


"Mar, Amara." Dimas mencoba memanggil tapi tak ada sahutan dari perawatnya. Rupanya Amara berjalan sambil melamun. Entah apa yang sedang dipikirkannya, tapi sepertinya kejadian tadi begitu mengusik hatinya.


Benar saja, kaki kanan Amara terpeleset dari trotoar hingga membuat tubuh mungil itu oleng. Beruntung Dimas dengan sigap mampu menangkap tubuh Amara sebelum gadis itu sempat limbung. Adegan berpelukan di pinggir jalan pun tak terelakkan hingga memancing perhatian beberapa pengguna jalan yang saat itu tengah berlalu lalang.


Sejenak Amara tampak shock, matanya membulat sempurna sedangkan mulutnya sedikit ternganga. Ia masih belum menguasai diri dari keterkejutannya. Namun sesaat kemudian ia terkesiap menyadari dirinya berada dalam pelukan Dimas.


Untuk sesaat keduanya saling pandang sebelum akhirnya Amara meronta dan berusaha melepaskan diri. Dimas pun segera melepaskan Amara setelah sejenak ia terpaku menatap wajah gadis itu.


Bersamaan keduanya bergerak mundur untuk menciptakan jarak, dan membuang muka dengan suasana canggung.


"Ehem!" Dimas sengaja berdehem untuk mencairkan suasana setelah keadaan hening untuk beberapa saat, hingga membuat Amara terhenyak di tempatnya. Keduanya kemudian saling menatap sambil memasang mimik kesal.

__ADS_1


"Kenapa Mas Dimas peluk-peluk saya!" ketus Amara dengan wajah merah padam. Entah karena marah atau justru karena tersipu.


Dimas yang tak terima sontak membulatkan mata. "Siapa juga yang mau peluk-peluk lo? Hey, yang ada barusan gue nolongin lo yang hampir jatuh tau nggak!"


"Iya, tapi kan nggak perlu sampai peluk-peluk juga ...!"


"Iya, kalau perlu nggak usah ditolongin juga!" sahut Dimas dengan mimik sebal. Laki-laki itu lalu mendengkus sambil membuang muka sebelum akhirnya menggumam kesal. "Tau gitu tadi gue nggak perlu capek-capek nolongin lo. Biarin aja sampai terjungkal di situ. Yang bakalan malu juga siapa dilihatin orang sebanyak itu. Gue mah tinggal nonton aja sambil ngakak. Enggak tau apa badan dia berat, tangan gue aja sampai pegel gara-gara nahan dia," sindirnya sambil bersedekap dada dengan mata melirik pada Amara.


Mendengar itu Amara sendiri nampak salah tingkah. Gadis itu menunduk, mengerjap-kerjap sambil menggigit bibir bawah. Gusar. Selain Juan, selama ini hanya Dimas saja yang pernah bersinggungan dengan dirinya. Jujur, ia sangat malu, apalagi lelaki itu sampai memeluknya.


Mendongak menatap Dimas yang rupanya tengah menatapnya, tanpa sadar Amara bergerak melangkah mundur hingga turun dari trotoar. Tepat di saat itu sebuah motor besar melaju kencang dari arah kanan. Dimas yang melihat itu segera menarik tangan Amara untuk menghindari kemungkinan terjadinya hal yang tak diinginkan.


Untuk yang kedua kalinya tubuh Amara berlabuh di pelukan Dimas tanpa disengaja. Amara masih diam dengan raut wajah shock. Jantungnya berdegup sangat kencang. Lagi-lagi Tuhan mengirimkan Dimas untuk menyelamatkannya hari ini.


Sementara Dimas, pria itu masih merengkuh tubuh Amara dan menatap bagian belakang motor yang melaju kencang itu dengan sorot tajam. Rahangnya mengetat dan tangannya mengepal erat.


"Hey, lo nggak punya otak! Lo putus asa mau bunuh diri!"


Amara menggeleng cepat sebagai bentuk sangkalan.


"Terus ngapain lo pakai mundur ke jalan raya! Mau cari mati! Kalau bosan hidup, sini gue jorokin!" Kesal, Dimas memutar tubuh Amara lalu bersikap seolah-olah ingin mendorongnya.


Sontak gadis itu meronta dan menghindar penuh ketakutan. Ia menepis tangan Dimas lalu memutar badan dan menatap Dimas dengan mata yang berkaca-kaca. Tak bisa menahan lagi, bulir bening luruh begitu saja membasahi pipi.


Menatap gadis di depannya itu, Dimas mengepalkan tangannya dengan gigi yang menggemertak menahan jengkel. Entah sejak kapan perawat itu mulai menguji kesabarannya. Ingin rasanya bersikap acuh, tapi melihat Amara yang berlinang air mata hatinya merasa terenyuh dan iba.

__ADS_1


Menghela napas dalam untuk menetralkan perasaan, Dimas lantas mengusap air mata Amara menggunakan ibu jarinya.


"Sudah, jangan nangis. Muka Lo yang sudah jelek ini, jadi makin jelek tau nggak!" goda Dimas seraya mengapit hidung mancung perawatnya. Tak ayal, Amara langsung merengut kesal sambil menatap Dimas penuh peringatan.


"Mas Dimas ngeledek aku?"


"Enggak! Lagi muji Lo," sahut Dimas geram yang langsung mendapat hadiah pukulan dari gadis itu tepat di lengan kiri.


"Ih ...! Aku nggak sejelek itu, kali!"


"Ih, kepedean!"


"Memang kenyataan kok!"


"Dasar," Dimas mengumpat pelan. Ia akhirnya mengalah. "Dah yuk, pulang. Percuma juga berdebat," ucapnya seraya meraih tangan Amara dan menggandengnya.


Amara membeliak dan langsung menarik tangannya. Dimas yang bingung sontak menoleh dan menatap Amara yang menyembunyikan tangannya ke belakang dengan wajah heran.


"Kenapa sih?" tanya Dimas kemudian.


"Jangan pegang-pegang! Kita bukan mahram."


"Hah?" Dimas menautkan kedua alisnya. "Maksudnya lo apa dengan bilang nggak boleh pegang-pegang? Lo nggak nyadar siapa yang pegang-pegang gue duluan? Elo kan!" tunjuknya tepat ke arah wajah Amara.


Amara membeliak mendengar perkataan Dimas. Yang dikatakan pria itu ada benarnya juga, sich. Selama ini memang dia yang menyentuh Dimas dengan bebas. Namun semua itu ia lakukan semata-mata karena tanggung jawab.

__ADS_1


"Kenapa diam!" bentak Dimas yang sontak mengagetkan Amara. "Nggak usah sok suci, deh! Kalau nggak mau nyentuh dan disentuh, jadi ustadzah aja sono! Ngapain juga jadi perawat!" Dimas berseru kesal lalu berlalu meninggalkan perawatnya.


Bersambung


__ADS_2