Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Kayak bini gue aja


__ADS_3

"Selamat pagi, Pak."


"Pagi." Dimas membalas sapaan setiap karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya.


Berbeda dengan saat bersama dengan Amara, di tempat kekuasaannya ini Dimas selalu menunjukkan wibawanya. Meski terkesan tegas, tetapi pemuda berkulit putih itu tetap ramah dan rendah hati. Tetap bersikap tenang meski perusahaan sedang ditimpa masalah besar. Tak banyak bicara, tetapi otaknya yang bekerja. Berpikir keras mencari jalan keluar. Jadi tak heran, jika usaha yang dirintisnya dari lulus kuliah itu berkembang pesat hingga sekarang.


Ting! Lift berdenting dan pintu terbuka. Usai bertemu dengan sekretarisnya, Dimas lalu melangkah menuju pintu yang menghubungkan langsung dengan ruang kerjanya.


Baskoro yang tengah duduk di kursi putarnya menjadi pemandangan pertama saat Dimas membuka pintu. Baskoro yang saat itu tengah mempelajari berkas-berkas langsung menyambut dengan senyuman begitu Dimas tiba.


"Ada hal penting apa yang bikin lo manggil gue ke sini?" Tanpa basa-basi, Dimas bertanya demikian selagi mendekat ke meja asistennya.


"Akulah hal penting itu."


Dimas sontak menoleh ke arah sofa begitu mendengar suara wanita yang sangat dikenalinya. Pria itu seketika membulatkan mata. Terperangah mendapati seorang gadis dengan pakaian seksi tengah duduk dengan sikap elegannya.


"Naura?" lirihnya tak percaya.


"Aku senang kamu masih mengingatku, Dimas," ucap Naura dengan senyum penuh haru. Gadis itu lantas bangkit dan melangkah mendekati Dimas.


"Ada perlu apa kamu datang kemari?" Dimas menatap sinis pada Naura. Sejurus kemudian, tatapan itu beralih pada Baskoro yang seketika menggelengkan kepalanya, bersikap seolah-olah tak tahu apa-apa. "Jadi ini yang lo bilang hal penting tadi!" sinis Dimas pada pria itu. Aura kemarahan menguar dari tubuhnya.


"Dim–"


"Lepas, Naura!" potong Dimas dengan intonasi tinggi, sedangkan tatapannya begitu tajam menusuk. Terpaksa, Naura menurunkan tangannya yang sudah melingkar mesra di lengan Dimas.


"Dimas, ada sesuatu hal yang ingin kuceritakan kepadamu."


Dimas hanya bergeming. Namun, wajahnya terlihat merah padam. Giginya menggemeretak. Bahkan gadis di sampingnya itu tak menyadari jika ia tengah berusaha keras meredam amarahnya yang hampir meledak-ledak.


Pengkhianatan Naura waktu itu adalah sebuah pukulan keras. Pengaruhnya begitu dahsyat. Meruntuhkan mental Dimas hingga pria itu nyaris menghilangkan nyawanya. Namun, ketika ia mulai bangkit dan menata hati, gadis itu justru muncul kembali. Parahnya, ia muncul dengan wajah polosnya seolah-olah tak memiliki dosa.


Kepahitan demi kepahitan telah berhasil dilalui. Dimas berusaha untuk ikhlas menjalani semuanya. Ia menganggap ini adalah sebuah ujian. Layaknya besi yang ditempa habis-habisan hingga membentuk sebuah senjata yang kuat, begitulah kiranya mental Dimas sekarang. Ia merasa lebih matang dari sebelumnya.


Seperti tekadnya yang sudah bulat untuk melupakan semuanya, pada akhirnya Dimas memutuskan untuk memaafkan Naura. Ya, hanya sebatas memaafkan.


Menghela napas untuk menetralkan perasaan, Dimas pun berusaha bersikap biasa saja.


"Ceritakan saja. Tapi aku tak punya banyak waktu untuk itu," tutur Dimas berterus terang.

__ADS_1


"Dimas .... Apakah kau semarah itu padaku?" Dengan mata berkaca-kaca, Naura menatap Dimas dengan wajah mengiba. "Aku hanya meminta sedikit waktumu untuk menjelaskan kesalahanpahaman ini. Kau pasti berpikiran buruk tentang diriku, bukan?"


Tak menjawab dengan kata, Dimas hanya menatap lekat-lekat wanita yang masih berstatus sebagai kekasihnya. Berusaha menelisik lebih dalam, kebohongan yang tercetak di sana. Namun, sayangnya Dimas tak menemukan itu dari netra Naura.


Mungkinkah dia jujur?


Sebagai wanita yang pernah menjadi prioritas utama, tentulah Dimas tak bisa melupakan Naura begitu saja. Nama itu masih terpatri jauh di lubuk hati. Pun demikian dengan selaksa kenangan yang membekas di ingatan.


Entah karena pesona Naura yang mendominasi ataukah rasa cinta Dimas yang masih membekas di hati, hingga pria itu tanpa sadar menerima ajakan Naura untuk bicara berdua di tempat yang lebih nyaman.


***


Setelah menyelesaikan urusan di rumah sakit, Amara mencoba menghubungi Dimas sesuai permintaan pria itu sebelum mereka berpisah. Satu kali tak mendapat tanggapan, gadis berjilbab itu kembali mengulangi hingga tiga kali.


Ia mendesah pelan sambil menurunkan ponsel dari telinga. Tak mendapat jawaban dari Dimas membuat gadis itu menjadi gelisah. Beragam spekulasi buruk seketika berdatangan. Berdesakan dan mengganggu pikiran.


"Mas Dimas baik-baik aja, kan?" gumamnya pelan. Selain tak ada tanggapan, pria itu juga sama sekali tak memberi kabar. Salahkah jika ia merasakan kekhawatiran?


Menghela napas panjang, Amara berusaha menetralkan pikiran. Mencoba menghalau pikiran-pikiran buruk dari kepalanya.


"Bisa saja 'kan, Mas Dimas sedang sangat sibuk sekarang." Amara bermonolog. Ia berusaha berpikiran positif. Bukankah pemikiran itu bisa menjadi doa?


[Mar, maaf banget aku nggak bisa jemput. Kamu bisa pulang sendiri, kan?]


Meski ada pembatalan janji secara sepihak, akan tetapi Amara tak terlihat kecewa karenanya. Gadis itu justru bernapas lega, setidaknya di sana Dimas baik-baik saja. Tak menunggu waktu lama, ia segera mengetik pesan balasan untuk pasiennya.


[Iya nggak pa-pa, Mas. Aku bisa pulang sendiri, kok. Kamu baik-baik ya, di sana.]


Tak lama kemudian, notifikasi pesan masuk kembali Amara terima.


[Pasti.]


Setelah membaca, Amara tersenyum dan bernapas lega. Ia melihat perkembangan kesehatan Dimas sudah sangat baik hingga sekarang. Pria itu sudah kembali pada dirinya sendiri. Lebih tenang dan sudah mandiri. Itu berarti, masa kerjanya juga tak lama lagi. Ya, tentu Dimas tak membutuhkannya lagi.


***


Matahari sudah menukik ke arah barat. Senja telah berganti menjadi petang. Amara yang sejak tadi berusaha tenang kini mulai kelimpungan. Pasalnya, hingga pukul sembilan malam Dimas masih belum juga menunjukkan tanda-tanda kepulangan.


Mengingat ini kali pertama Dimas keluar sendirian, tentu saja Amara merasakan kekhawatiran. Bukan tanpa alasan. Selama masih menjadi perawat Dimas, ia masih memiliki tanggung jawab pada kesehatan pria itu.

__ADS_1


Amara bukannya tak mau berusaha. Ia sudah menanyakan keberadaan pria itu melalui pesan, tetapi tak mendapatkan balasan. Begitu pula dengan beberapa kali panggilan, Dimas pun tak memberi tanggapan.


Lelah mondar-mandir di teras depan, ia memutuskan untuk masuk dan mengempaskan bokong di sofa.


Euis yang melihat kegelisahan di wajahnya pun berusaha menenangkan dengan menawarkan makanan dan minuman. Namun, Amara menolak dengan alasan tak berselera. Gadis itu pun menyerah, dan memutuskan duduk di sisi Amara untuk mengajaknya bercanda.


Beberapa menit berlalu. Suara deru mobil yang memasuki halaman pun menarik perhatian keduanya.


"Itu suara mobil Mas Dimas, Teh," tebak Euis sambil mengacungkan telunjuknya.


"Sepertinya gitu, Euis."


"Alhamdulillah, Mas Dimas akhirnya pulang. Euis lega, Teh."


"Sama."


Suara siul mewarnai langkah Dimas yang bergerak mendekat. Amara dan Euis masih berada di tempat mereka selagi menunggu kemunculan pria itu. Benar saja, sosok Dimas dengan wajah semringahnya benar-benar muncul di ambang pintu. Melihat keberadaan Amara dan Euis di ruang tamu, ia sontak menghentikan siulan itu.


"Wah, Mas Dimas siul-siul, meni bahagia pisan, euy," ledek Euis dengan logat sundanya.


Tak menjawab dengan kata-kata, Dimas hanya menunjukkan senyum ambigu. Pria itu melirik Amara sekilas, sebelum kemudian mengalihkan pandangan.


"Mas Dimas pasti haus. Euis bikinin minum, ya," tawar Euis dengan sikap cerianya.


"Boleh," jawab Dimas.


Euis pun segera beranjak dari sana. Meskipun masih meninggalkan dua orang di ruang tamu itu, akan tetapi hingga semenit berlalu belum ada obrolan yang terjadi dengan dua orang itu. Padahal, begitu banyak tanya yang ingin segera Amara layangkan pada pasiennya.


"Gue mandi dulu, ya." Tak ingin terjebak dalam situasi tak nyaman, Dimas berinisiatif untuk berpamitan. Ia tahu telah membuat gadis itu gelisah dengan lama menunggu. Namun, ada sesuatu hal yang tak mungkin ia katakan untuk sekarang.


"Mas Dimas dari mana?" Tak bisa menahan diri, Amara terpaksa bertanya sebelum Dimas benar-benar pergi dari sana. Ia bangkit dari duduk, lalu menghampiri Dimas yang nyaris saja melangkahkan kaki andai ia tak bertanya tadi.


"Dari kantor, Mar. Ada urusan yang nggak bisa gue tinggalkan," jawabnya terdengar terpaksa.


"Kok baru pulang? Kok aku telpon nggak diangkat?"


"Mar, lo kok kayak bini gue aja sih, interogasi sana-sini. Gue capek, Mar. Baru pulang. Biarin gue istirahat bentar ngapa?" sungut Dimas tanpa memandang muka.


"Maaf, Mas. Aku cuma khawatir."

__ADS_1


"Yang penting gue nggak papa, kan?" pungkas Dimas dengan intonasi tinggi, lalu berlalu begitu saja meninggalkan Amara.


__ADS_2