
Dimas meninggalkan tempat makan bersama itu dengan wajah kesal. Bukan kesal karena tangannya ketumpahan makanan, melainkan reaksi berlebihan Laras terhadap sikap polos bocah bernama Doni.
Benar-benar tidak mencerminkan wanita berpendidikan.
Sampai di sebuah pintu, ia berhenti sejenak sembari melihat kondisi di dalamnya untuk memastikan jika itu benar-benar dapur yang ia cari.
Sepertinya dia memang tidak salah. Di dalam sana terdapat set meja makan, pantry berikut alat memasaknya dan juga wastafel pencucian piring.
Suasananya juga lengang, hanya ada satu petugas yang tengah mencuci piring dengan posisi membelakanginya. Mungkin karena yang lain tengah berada di tempat makan, bersama dengan dirinya barusan tadi.
Dimas tak berniat ingin tahu lebih dalam siapa gadis berhijab panjang dengan celemek menempel di badan itu. Yang ia tahu, hanya bersikap sopan selagi meminta izin mencuci tangan. Ia pun harus tahu tempat dan menjaga etika sebagai seorang tamu, pun menghargai seorang wanita muslim dengan menundukkan pandangan.
Gadis itu tetap bersikap ramah dengan menjawab salamnya meskipun ia sempat terkejut.
Aneh. Jangan-jangan ia melamun? Padahal gue sudah menyapanya dengan nada yang pelan.
"Silahkan."
__ADS_1
"Terima kasih." Dimas menjawab sopan sebelum melangkah mendekat. Gadis itu kemudian memberinya tempat.
Pengaruh Amara benar-benar dahsyat di kehidupannya. Saking tak bisa melupakan, sampai-sampai Dimas mengira jika suara lembut itu milik Amara.
Dimas, Dimas. Otakmu sudah dipenuhi dengan Amara hingga mengira semua orang yang kau temui adalah istrimu. Amaramu tidak ada di sini, Dimas. Sadarlah.
Dimas mengibaskan kepala untuk menghalau pikiran aneh yang hinggap di benaknya. Ia membuka kran air lalu mulai mencuci tangan. Rasa penasaran tiba-tiba saja hadir dan membuatnya melirik ke sisi kiri.
Sayangnya, gadis dengan postur nyaris sama seperti Amara itu terkesan menyembunyikan wajah dengan sengaja menoleh ke arah kiri, sehingga membuat Dimas harus puas dengan hanya menatap sisi jilbabnya saja.
Menjalar turun ke bawah, bola mata Dimas setengah membulat menatap jemari lentik yang sedikit berbusa itu. Sekian waktu mendapatkan perawatan dari Amara, jelas dia paham betul bagaimana bentuk jemari serta cincin yang dipakai gadis itu. Ia nyaris membuka mulut untuk bicara, tetapi suara gaduh yang berasal dari belakangnya itu sukses merusak semuanya.
"Tidak perlu Laras, saya nggak pa-pa." Dimas menarik tangannya, menghindari kontak fisik dengan Laras. Dan ketika pandangannya tertuju pada sosok yang sejak tadi tak bersuara, matanya sontak membelalak.
Amara? Kau kah itu?
Belum sempat Dimas berbuat apa-apa, Amara sudah lebih dulu beranjak dari sana. Ia sempat melihat wajah istrinya itu memucat sebelum kemudian melesat.
__ADS_1
"Maaf. Saya harus pergi." Mengabaikan perhatian dari Laras, Dimas memilih bergegas menyusul Amara. Sayangnya, sesampainya di luar, ia tak melihat siapa pun di sana.
Dimas berhenti sembari mengedarkan pandangannya. Mengusap wajahnya kasar, ia nyaris frustasi tak bisa menemukan keberadaan sang istri. Marah bercampur sesal, ia merasa gerakannya begitu lamban sampai-sampai melepaskan Amara yang sudah jelas-jelas berdiri di depan mata.
Ini semua karena Laras. Batin Dimas berteriak menyalahkan gadis itu.
Di tengah keputusasaan, bahu Dimas terasa ditepuk dari belakang hingga membuatnya refleks menoleh untuk melihat siapa di sana.
"Dim, lo ngapain di sini? Dari tadi gue cariin juga."
Dimas sontak berbalik badan saat tahu rupanya Baskoro lah yang menegurnya. Ia langsung menggenggam tangan Baskoro sambil berkata dengan nada meyakinkan.
"Bas, Amara ada di sini, Bas. Amara ada di sini!"
"Hah! Mana? Amara-nya mana, Dim?" balas Baskoro pula penuh semangat. Pandangannya langsung mengedar ke sekeliling, celingukan mencari-cari keberadaan istri sahabatnya.
"Itu dia." Ekspresi Dimas mendadak lemas. "Tadi dia ada, Bas, tapi pas gue kejar tau-tau dia ngilang."
__ADS_1
"Ngilang?" Baskoro mengerutkan keningnya. Ia lantas memegang dahi Dimas dengan punggung tangan seolah-olah ingin memastikan sesuatu hal. "Lo sehat kan, Dim? Nggak lagi mimpi apalagi halusinasi?"
"Bangs*t lo, Bas. Nggak lihat mata gue melek gini!" Dimas langsung menepis tangan Baskoro dan memakinya geram. Ia mendengkus sebelum kemudian memberikan perintah. "Gue nggak mau tau. Pokoknya lo temuin Amara sekarang, atau gue nggak akan pulang."