Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Merasa terancam


__ADS_3

Dimas mengisyaratkan melalui tangan agar Amara berhenti menyuapinya. Bubur nasi yang masih di dalam mulutnya saja begitu sulit untuk ditelan, tetapi gadis itu sudah kembali menyodorkan sendok berisi bubur lagi ke bibirnya.


"Lagi ya, Mas. Biar kamu cepet sembuh," pinta Amara setengah memohon, tetapi Dimas tetap bersikeras menolaknya.


"Kalau gue bilang udah ya udah! Bisa nggak sih nggak usah maksa. Lo itu nggak ngerasain gimana sakitnya, Amara!" Dimas yang membentak Amara tapi Dimas juga yang terluka. Ia bisa melihat wajah gadis itu mendadak muram, tapi Amara buru-buru membuang pandangan untuk menyembunyikan.


Amaraku nggak nangis, kan?


Tanpa sepatah kata Amara beranjak dari tempatnya. Dimas pikir gadis itu marah dan hendak pergi meninggalkan dia, tetapi rupanya ia hanya menghampiri nakas dan kembali dengan segelas air putih di tangan.


"Mas Dimas minum dulu, ya. Biar nggak seret," katanya sembari menyodorkan gelas itu tanpa memandang muka Dimas. Dimas pun menerimanya meski tanpa sadar ekspresinya terbengong.


Mar, kenapa lo nggak maksa gue sih? Padahal gue nggak bisa nolak kalau lo yang maksa. Beneran deh. Paksa gue gih. Jangan diem gitu.


Sayangnya Dimas harus menelan rasa kecewa lantaran Amara bersikap patuh dan tak banyak bicara. Gadis itu menerima gelas darinya lantas menaruh kembali ke atas meja.


Ini adalah hari ke-dua Dimas dirawat. Terjebak dalam kebersamaan dengan Amara harusnya ia merasa bahagia. Tapi yang ada ia malah tersiksa.


Tersiksa lantaran tak bisa berbuat apa-apa padahal sosok yang ia inginkan ada di depan mata.


Ah sial! Ini semua terjadi gara-gara Baskoro. Harusnya sekarang gue udah nyatain perasaan ke Amara kalau gue cinta! Tapi gara-gara drama sialan ini mesti gagal kan semuanya. Udah gitu sikap Amara dingin banget lagi.


Amara dingin? Nggak salah kah Dimas? Padahal dia sendiri yang seperti bongkahan es batu di depan Amara. Dia sendiri yang menciptakan jarak hingga gadis itu merasa sungkan. Tak jarang juga membentak-bentak hingga membuat mata Amara berkaca-kaca.


Sesungguhnya jika ingin mencari siapa yang lebih terluka itu Amara lah orangnya. Ia yang sudah cukup terpuruk dengan jerat cinta bertepuk sebelah tangan, masih harus terpukul pula oleh tuduhan yang Dimas lontarkan.


Amara mengakui dirinya memang berdosa lantaran berbohong kepada suaminya, tapi bukankah kebohongannya itu ia lakukan untuk kebaikan? Parahnya lagi Dimas tak mau tahu mengenai alasannya melakukan hal itu. Pria itu justru memilih mengakhiri hubungan mereka sebelum waktunya tiba.


Sakit? Sudah barang pasti. Terlebih hubungan mereka diakhiri dengan situasi tidak mengenakan. Namun, ada baiknya juga mereka cepat-cepat dipisahkan. Karena dengan begitu Amara tak perlu jatuh cinta terhadap Dimas hingga semakin dalam. Dan ada satu alasan lagi yang membuat Amara menyerah dan enyah. Ialah Naura. Dimas sudah bahagia dengan gadis itu. Jadi untuk apa lagi ia masih berada di sana?


Ngomong-ngomong soal Naura, Amara baru menyadari jika wanita itu sama sekali tak menampakkan batang hidungnya sejak Dimas masuk rumah sakit.


Kemana dia? Mungkinkah pekerjaannya sebagai model itu begitu menguras waktu hingga untuk mendampingi kekasihnya saja ia tidak mampu? Seharusnya Mbak Naura bisa meninggalkan pekerjaan itu demi Mas Dimas. Toh, Mas Dimas memiliki segalanya yang Mbak Naura inginkan.


Lantaran kesal, Amara bermonolog di dalam hati. Tetapi ia enggan menanyakan hal itu kepada Dimas. Khawatir jika pria itu akan memberikan respon yang berlebihan. Marah pastinya.


Tanpa sadar Amara menjatuhkan kotak tisu di tangannya ke lantai hingga menimbulkan suara dan itu berhasil mengundang perhatian Dimas.


"Ngapain lo kayak gitu? Ngamuk? Marah sama gue?"


Begitulah nada bicara Dimas terhadap Amara sejak pertemuan terakhir ini. Kalau bukan bentakan, ya ketus dan sinis. Namun, Amara tak pernah ambil pusing dan bawa perasaan. Ia hanya menanggapinya dengan senyuman selama air mata masih bisa ditahan. Kali ini ia justru ingin menikmati kebersamaan dengan Dimas bagaimana pun perlakuan pria itu terhadapnya.


Ini adalah momen yang sangat langka untuk Amara. Kapan lagi bisa merawat pria yang dia cinta? Meskipun yang ia dapat hanyalah lara, tapi tetap saja ia merasa bahagia.

__ADS_1


"Ah, enggak kok. Kapan sih aku pernah marah sama Mas Dimas?" Amara mengambil kotak tisu yang terjatuh sebelum kemudian menaruhnya ke atas meja. Ia mengambil beberapa lembar dan berjalan mendekati Dimas.


Tak ada ekspresi marah ataupun kesal saat ia mengusap area bibir Dimas. Ekspresi ceria selalu menghiasi wajahnya. Justru Dimas yang harus bekerja keras menahan kikuk lantaran sikap lembut Amara terhadapnya. Jantungnya juga mendadak sulit dikondisikan. Dan tiba-tiba saja ia lupa caranya berkedip saat menatap sosok cantik itu.


"Sekarang Mas Dimas butuh apa? Aku selalu di sini buat jagain Mas Dimas." Amara menawarkan diri setelah menyelesaikan sesi usap-mengusap. Ia berdiri siaga, menunjukkan kesiapan kapan pun pria itu membutuhkan.


"Gue ... cu-ma bu-tuh pu-lang!" ucap Dimas dengan penuh penekanan. Ia menggemertakkan gigi, menunjukkan jika ia tak main-main dengan permintaannya.


Amara menggeleng samar menanggapi permintaan Dimas.


"Maaf, Mas. Untuk yang ini aku nggak bisa."


"Kenapa nggak bisa? Toh gue baik-baik aja. Justru lo bisa gue tuntut karena mengurung pasien yang nggak mau dirawat!"


"Tuntut aja, Mas. Aku nggak masalah kok kalaupun harus dipenjara." Amara menjawab santai sembari tersenyum tanpa sedikit pun bergerak dari posisinya. Gadis itu terlihat tenang dan tak gentar.


Sementara Dimas justru terlihat kesal. Upayanya untuk bisa cepat pulang sekaligus tingkahnya yang menyebalkan untuk memancing kemarahan Amara itu gagal total. Ia kemudian teringat pada pertanyaan Amara terhadapnya barusan, dan ia pun tergelitik untuk membahasnya. Dari pada penasaran, bukan?


"Lo bilang tadi apa? Kapan lo pernah marah sama gue?" Dimas menyipitkan matanya selagi bertanya. Ia mengamati ekspresi Amara yang terlihat tanpa dosa sebelum kemudian melancarkan aksi menudingnya dengan menggebu-gebu. "Lalu yang waktu itu apa namanya? Lo tiba-tiba pergi dari rumah itu karena marah, kan! Pakai nggak ngaku segala, lagi."


"Bukan marah, Mas."


"Lantas?"


"Lo nyindir gue?" Dimas menyipitkan matanya. Sebagai manusia normal ia tentu tahu arah pembicaraan Amara. Memang dialah yang lebih dulu pergi dari rumah dan tak mendengar penjelasan Amara. Meskipun ia memiliki niat baik, tapi tetap saja gadis itu tak mengerti seperti apa rencananya saat itu.


"Maaf. Aku nggak berniat nyindir Mas Dimas." Raut sesal tergambar di wajah Amara.


"Asal lo tau ya, Mar. Gue pergi dari rumah dengan maksud baik, kok. Gue cuma pengen lo bebas menentukan masa depan. Tanpa terhalang ikatan pernikahan kita. Tapi apa yang lo buat? Lo malah pergi dan ninggalin rumah lo sendiri." Dimas mendengkus kesal lantas membuang muka.


Entah siapa yang salah dan siapa yang benar, yang jelas sama-sama memiliki alasan sebagai pembelaan. Hingga pintu kamar terdengar berderit dan muncul sosok Baskoro yang tengah tersenyum, di celah yang terbuka.


"Assalamualaikum." Baskoro kemudian masuk tanpa sedikitpun rasa bersalah. Bahkan ia tak menghiraukan tatapan Dimas yang menghunjam ke arahnya.


"Hai Amara. Dim, gimana kabar lo?"


"Brengsek, lo!" Dimas menyambut sahabatnya itu dengan kalimat umpatan. "Buruan urus kepulangan gue sekarang juga kalau lo nggak pengen gue kabur!"


"Lho lho ada apa ini?" Baskoro memasang tampang lugu dan bersikap pura-pura bego. Ia buru-buru duduk tak jauh dari Dimas dan bersikap begitu perhatian. "Kok tiba-tiba minta pulang, sih? Muka lo masih pucet, Dim, lo masih butuh perawatan di sini. Sabar dulu, ya."


"Sabar sabar. Lo enak ngomong doang, guenya tersiksa tau Bas."


Di saat Dimas dan Baskoro meributkan hal yang tidak penting, ponsel Amara yang berada dalam saku pakaian kerjanya mendadak bergetar pertanda adanya sebuah panggilan. Gadis itu langsung mengangkatnya dan berbicara sembari berjalan.

__ADS_1


"Ya Juan, aku masih di kamar perawatan VIP di lantai lima. Ada apa?"


"Ini gue lagi di depan pintu ruangan itu."


"Hah?"


Amara langsung membuka pintu itu, dan benar saja. Sosok Juan yang menjulang itu memang benar-benar berdiri di sana. Tangannya masih menempelkan ponsel yang masih terhubung dengan Amara di telinganya.


"Hey. Tumben ke sini?" tanya Amara seperti tidak menyangka. Namun, meski begitu ia tetap terlihat bahagia.


"Kenapa memangnya? Nggak boleh ya aku tiba-tiba datang? Atau perlu buat janji lebih dulu?" goda Juan dengan tatapan mata yang penuh perasaan.


"Ish, apaan sih kamu," balas Amara sambil menepuk manja bahu sahabatnya.


Namun, tanpa Amara sadari, interaksinya dengan Juan itu tak luput dari perhatian Dimas yang berada di dalam. Pria itu bisa melihat dengan jelas bagaimana kedekatan mereka, sikap perhatian Juan terhadap Amara dan tingkah manja Amara pada Juan.


Entah mengapa hatinya mendadak tidak nyaman. Keberadaan Juan lagi-lagi membuatnya merasa terancam.


Mungkin inilah yang Baskoro maksudkan itu.


Langsung bawa Amara pulang? Lo yakin dia masih mau?


Ah, tiba-tiba Dimas jadi meragu.


Baskoro yang sejak tadi nyerocos memberikan siraman rohani kepada Dimas terpaksa menoleh ke arah pandangan sahabatnya itu lantaran ekspresi Dimas mendadak terlihat kesal.


Baskoro tersenyum tipis setelah bisa menelaah apa yang terjadi. Dengan masih tanpa rasa bersalah, ia lantas bertanya pada Dimas hanya sekadar untuk memastikan.


"Kenapa lo cemberut gitu? Lo cemburu, ya?"


Dimas mengalihkan pandangannya pada Baskoro sebelum kemudian berdecih.


"Gue? Cemburu sama Juan? Cih, nggak level."


"Owh, nggak level." Baskoro menyebikkan bibirnya sembari mengangguk paham. "Tapi kenapa lo kelihatan nggak suka dengan kedekatan mereka? Merasa terancam ya?" tebak Baskoro, dan rupanya Dimas mengangguk mengiyakan.


"Dikit sih."


"Ya tetep aja. Itu namanya cemburu Dimas bodoh!"


Dimas sontak mendelik. Kata-kata Baskoro benar-benar menohoknya. Memang benar sih, cemburu dengan merasa terancam itu maknanya sama aja. Namun, meski begitu Dimas memiliki jurus ampuh untuk membuat Baskoro bungkam dan tidak menyudutkannya lagi.


"Jadi gimana, Bas. Lo ada kata-kata terakhir sebelum nanti gue bunuh?"

__ADS_1


__ADS_2