Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Perjuangan untuk orang yang istimewa


__ADS_3

"Apakah jantung Anda sering berdebar-debar belakangan ini? Sering senyum-senyum sendiri tanpa sebab?"


"Hilang konsentrasi secara mendadak? Atau bahkan suasana hati begitu mudah berubah-ubah?"


"Waspadalah sodara-sodara! Itu bukanlah pertanda Anda mengalami gangguan jiwa!"


"Ini bukanlah gejala biasa! Ini adalah gejala jatuh cinta! Gejala ini bahkan lebih parah dari gejala gangguan jiwa, sebab karena cinta, orang bisa menjadi gila!"


"Waspadalah! Waspadalah!"


Beberapa gadis berpakaian perawat itu tertawa bersamaan setelah saling bersahut-sahutan. Apa lagi jika bukan lantaran menggoda Amara, gadis yang akhir-akhir ini selalu banyak melamun jika sedang sendirian.


"Kalian sedang demo, ya? Kok pakai berorasi segala," ucap Amara yang baru memasuki ruangan perawat di rumah sakit itu dengan nada datar. Ia juga menatap satu persatu teman-temannya dengan ekspresi penasaran. "Kenapa demonya tentang orang gila, sih? Kenapa malah bukan masalah minyak goreng yang sempat meroket harga pasarnya?"


"Ck ck ck." Salah satu temannya berdecak sambil geleng kepala sebelum kemudian mendekat padanya.


"Uluh-uluh-uluh ... yang pura-pura tidak merasa," goda perawat bernama Hana itu sambil menyenggol lengan Amara.


"Apaan sih, Han." Amara masih tak paham.


"Ish, nih anak." Gigi Hana menggemertak gemas. "Aku jitak juga keningmu itu."


"Ih, kok malah mau jitak?" sahut Amara dengan senyum masam. "Beneran aku nggak ngerti, deh. Ini ada apaan sih?"


"Cie cie, yang lagi jatuh cinta," goda Diana pula.


"Udah ah, aku mau ngantar laporan ke Dokter Khanza dulu."


"Hey mau ke mana!" seru perawat bernama Maya pula saat Amara memutuskan beranjak. "Jangan kabur dulu. Kita belum selesai, kali."


"Ada berkas yang perlu aku serahkan." Amara menyempatkan diri menoleh ke belakang sebelum benar-benar pergi dari sana.


"Yah, mau diinterogasi malah kabur lagi."


"Iya. Kenapa ya Amara tertutup sekali tentang kehidupan pribadinya akhir-akhir ini?"


"Ho'oh. Nggak seperti saat pertama kerja dulu."

__ADS_1


"Kira-kira dia udah punya pacar apa belum, ya?"


"Kalau menurut aku sih udah. Kayaknya cowok tajir. Aku pernah mergokin dia turun dari mobil mewah pas berangkat kerja. Kayaknya diantar deh."


"Serius kamu?"


"Aku serius."


Begitulah kira-kira perdebatan yang terjadi di antara para wanita muda itu setelah Amara pergi dari sana. Mereka saling mengira-ngira mengenai kehidupan Amara yang terkesan ditutup-tutupinya.


Sementara itu di tempat lain, Amara tampak bernapas lega lantaran berhasil kabur dari teman-teman yang mulai kepo akan kehidupan pribadinya.


Sebagai manusia dengan anugerah pemikiran yang cerdas, tentunya ia tahu arah pembicaraan mereka ke mana.


Ternyata aura dari seseorang bisa terlihat jelas oleh orang-orang di sekitar. Ia yang malah tidak merasa jika sering senyum-senyum sendirian. Walaupun tak menampik jika jantungnya sering berdebar-debar setiap kali mengingat nama dan sosok pria itu. Dimas Sanjaya.


Bukannya dia tak mau berterus terang, hanya saja ia belum siap jadi bulan-bulanan. Jelas ia tak mau mengakui status pernikahan yang abu-abu ini. Bagaimana jika mereka tidak percaya dan menganggapnya hanya halusinasi saja? Pasti akan sangat memalukan.


Amara yang tengah berjalan di selasar itu sontak merogoh ponsel di sakunya saat benda pipih itu tiba-tiba berdering. Ia langsung mengambilnya untuk kemudian melihat siapa pemanggilnya.


"Mas Dimas?" Ia mengernyit heran. Baru juga dibatin, ia sudah muncul dalam panggilan telepon. Apakah ini pertanda orang yang berjodoh? Entahlah.


"Assalamualaikum, Mas."


"Waalaikumsalam, Mar."


"Ada apa, Mas?"


"Gini, Mar, gue cuma mau kasih tau kalau hari ini nggak bisa jemput pas pulang kerja. Gue lagi ada di proyek luar kota, dan kayaknya malam ini nggak bisa pulang." Nada bicara Dimas terdengar seperti biasanya. "Lo nggak pa-pa, kan?" Kini suara Dimas terdengar memastikan.


"Ya nggak pa-pa, lah Mas. Aku kan bisa pulang naik taksi online." Amara menjawab sambil tertawa demi meyakinkan ia baik-baik saja.


"Jangan naik taksi. Nanti gue bilang ke Pak Mamad buat jemput, lo."


"Nggak usah repot-repot, Mas. Aku bisa–"


"Gue nggak kerepotan, Mar. Toh yang jemput Pak Mamad," potong Dimas.

__ADS_1


"Ya udah deh, Mas. Makasih ya. Kamu juga hati-hati di sana."


"Sama-sama," jawab Dimas. "Lo juga hati-hati di rumah. Jangan tidur di sofa pas gue nggak ada. Entar ketahuan Mama, lagi." Dimas berpesan.


"Iya, iya, Mas. Aku bakal tidur di ranjang kamu yang besar itu sendirian, hehe."


"Hemm. Seneng lo ya nggak ada gue. Bisa bebas tanpa meluk bayi besar lagi."


Amara mendelik mendengar kata-kata Dimas yang seperti menyindirnya.


"Mas Dimas kok ngomong gitu?"


"Kenapa? Kaget ya?"


Amara menggigit bibir bawahnya. Kok dia tau?


"Gue tau kali. Lo sama Bi Eli dan Euis suka julikin gue bayi besar, kan?"


Mati aku, batin Amara sambil menutup wajahnya.


"Kenapa diam? Lo pasti lagi nyengir, kan? Gue yakin, wajah lo pasti memucat sekarang."


Benar. Amara bisa merasakan wajahnya memucat. Dan kepalanya mendadak pusing. Kenapa tebakan pria itu selalu tepat sasaran? Amara bisa mendengar Dimas tergelak di sana. Bisa-bisanya pria itu menertawakan dirinya setelah menangkap basah kelakuan istrinya di belakang dia.


"Maaas, kenapa sih kamu suka banget mojokin aku?" rengek Amara dengan nada manja. Ia bahkan sudah berani bermanja.


"Mojok itu enak kali, Mar. Apalagi cuma berdua."


"Maas! Aku tutup teleponnya kalau nggak ada yang diomongin lagi, ya."


"Kebiasaan ya. Orang belum selesai ngomong main tutup telepon aja."


"Biar."


"I love you." Sayangnya ungkapan cinta Dimas itu tidak sampai ke telinga Amara lantaran sambungan telah terputus. Dimas menatap ponselnya lalu tertawa tak habis pikir.


"Dasar. Amara, Amara. Gue nggak akan lepasin lo sampai kapanpun juga."

__ADS_1


Amara. Bagiku kau sangat sempurna. Bahkan istimewa. Aku tahu, yang istimewa memang tidak bisa didapatkan dengan gampang. Maka untuk itu aku membutuhkan perjuangan. Iya, aku akan berjuang untuk mendapatkan cintamu.


__ADS_2