
Persiapan pernikahan dilakukan secara kilat sebab semua pihak ingin akad nikah dilangsungkan secepatnya. Bersyukur, Tuhan memberi kemudahan hingga semuanya berjalan lancar tanpa ada hambatan.
Sebelum akad nikah berlangsung, beberapa hari sebelumnya keluarga Dimas menggelar acara pengajian dan juga sungkeman. Sedangkan Amara melangsungkan acara itu di tempat yang berbeda, yaitu di kediamannya yang dibelikan oleh Dimas.
Acara akad nikah akan dilangsungkan di sebuah masjid besar yang letaknya tak jauh dari rumah Dimas. Dimas dan Amara memang sepakat ingin acara sakral itu hanya dihadiri oleh kerabat dekat saja. Sedangkan resepsi pernikahan sendiri akan dilangsungkan di ballroom sebuah hotel bintang lima dengan dihadiri oleh ribuan tamu undangan. Dimas dan Amara mengundang seluruh teman mereka. Begitu pula dengan orang tua Dimas yang mengundang semua teman dan rekan bisnisnya.
Amara menghela napas panjang untuk menetralkan perasaan. Ia kini sedang duduk di sebuah kursi di dalam kamar. Kebaya muslim modern cantik warna putih sudah melekat di badan. Riasan pengantin juga sudah menghias wajah.
Ia didandani ala adat Sunda dengan pemilihan siger warna perak, senada dengan corak payet pada kebayanya. Tak ketinggalan rias daun sirih pada tengah kening, riasan kembang tanjung pada bagian belakang mahkota siger, serta untaian melati yang jatuh di samping tubuh.
Dua hari tak berjumpa dengan Dimas membuatnya dilanda rindu yang membara. Ia hanya bisa mendengar suara pria itu saat Dimas menghubunginya melalui sambungan telepon. Tidak lebih.
Tak ada yang lebih membahagiakan dari mendapatkan suami yang baik dan mertua yang perhatian. Amara juga merasa sangat beruntung memiliki mertua yang begitu sayang dan pengertian. Amelia lah yang menyiapkan seluruh persiapan pernikahan ini. Dia memilihkan semua yang terbaik. Wanita itu sama sekali tak memperbolehkan Amara kelelahan barang sedikit pun. Sehingga tak ada pilihan lain bagi Amara selain pasrah menerima semuanya.
Pintu terdengar diketuk dari luar menyusul sosok Miranda muncul setelah terbuka. Gadis cantik dengan balutan kebaya warna peach itu tersenyum dan melangkah mendekat. Dialah yang menemani Amara selama beberapa hari menjelang pernikahannya.
"Amara, kamu sudah siap?" tanya gadis itu dengan memegangi lembut kedua bahu Amara. Sambil tersenyum, ia memandangi wajah sepupunya melalui pantulan cermin di depan mereka.
"Insya'allah siap, Mir." Amara menjawab lirih. Siapa tidak siap ia tentu saja harus siap. Bagaimanapun juga ini adalah acara sakral yang hanya terjadi sekali dalam hidupnya.
Miranda mengusap lembut pundak Amara sebagai bentuk dukungan. Ia bisa melihat ketegangan di wajah sepupunya.
"Harus siap, dong .... Ini adalah awal dari kebahagiaan kamu, Amara. Bismillah. Insya'allah semuanya dilancarkan," ujarnya meyakinkan.
"Bismillah." Amara melafalkan basmalah setelah itu mengembuskan napas panjang. Sedikit merasa tenang, ia menyunggingkan senyum pada Miranda.
"Kamu cantik sekali, Amara. Aku sampai pangling loh," puji gadis bersanggul miring itu dengan mata berbinar senang.
"Kamu bisa aja bikin aku seneng, Miranda."
__ADS_1
"Ih, ini beneran tau, Mar. Kamu cantik banget!" Miranda begitu menggebu-gebu untuk menepis kurangnya rasa percaya diri sepupunya sejak dulu. Lagi pula ia juga berkata jujur. Amara memang sudah cantik sejak lahir. Bahkan kecantikan Amara dulu sempat membuatnya iri dan dengki.
Beruntung, Tuhan segera menyadarkannya dari sifat keji semacam itu hingga kini bisa mensyukuri segala nikmat yang dimiliki. Jika mengingat sikapnya yang dulu benar-benar membuat Miranda sangat malu.
"Kamu tahu, Amara–" Miranda kembali menambahkan. Ia kemudian melanjutkan setelah melihat mimik penasaran sepupunya. "Dimas adalah pria yang beruntung karena bisa memiliki kamu. Kamu harusnya bangga karena itu."
Amara sontak memutar bola matanya. "Miranda, plis ya. Jangan puji-puji aku terus. Nanti kalau aku melayang ke atas awan dan nggak bisa balik turun gimana?"
Sontak saja Miranda terkekeh mendengar penuturan sepupunya. "Kamu ini ada-ada aja sih, Mar. Y nggak mungkin, lah."
Ketukan pelan di pintu kamar berhasil menyita perhatian keduanya. Amara dan Miranda kompak menoleh ke arah sana dan tersenyum mendapati sosok Melissa muncul. Wanita paruh baya dengan balutan kebaya warna peach–couple dengan Miranda–itu tersenyum lembut selagi berjalan menghampiri.
"Gerangan apa yang sedang putri-putriku ini bicarakan, heum?" tanyanya dengan nada gurauan.
"Ade deh, Ma. Ini obrolan calon manten sama cewek yang berharap jadi manten." Miranda berkelakar yang sontak membuat Amara menahan tawa.
"Insya'allah kamu bakal nyusul, Miranda. Kan kamu udah bertunangan. Bukankah hanya tinggal menentukan tanggalnya saja?"
"Aamiin." Amara menadahkan tangannya sebelum kemudian meraupkan ke wajah.
"Sudah siap?" tanya Melissa memastikan. "Berangkat yuk. Jangan biarkan suamimu terlalu lama menunggu."
Mendengar itu jantung Amara jadi berdebar makin kencang. Waktu ijab kabul mereka semakin dekat saja. Perasaannya jadi campur aduk antara belum siap dan juga sudah tak sabar. Ah entah lah. Amara tak bisa menjelaskannya. Yang ada ia semakin gugup saja.
Iring-iringan mobil yang mengantar Amara sudah bertolak menuju masjid yang akan dipergunakan ijab qobul. Sampai di sana suasana sudah ramai sebab dari pihak Dimas sudah terlebih dulu datang.
Dimas yang memakai beskap Sunda warna senada dengan yang dikenakan Amara tampak tak berkedip melihat mempelainya tiba. Dadanya berdegup kencang karena bahagia.
Amara menjelma bagai Dewi dari khayangan karena saking cantiknya. Digandeng Miranda dan Melissa, ia berjalan anggun mendekati meja ijab qobul yang sudah ditempati Dimas, penghulu, wali, dan para saksi. Ia membalas tatapan Dimas sekilas lalu menyimpul senyum malu-malu. Tanpa diminta, Dimas bahkan membantunya menempati kursi karena melihat kebaya panjang yang dikenakan Amara membatasi pergerakan istrinya itu.
__ADS_1
"Bisa dimulai sekarang acaranya?" tanya penghulu setelah memastikan Amara sudah duduk dengan nyaman.
"Sudah, Pak Penghulu." Dimas menjawab mantap.
"Sudah siap?" Kini giliran penghulu itu bertanya pada Amara.
"Insya'allah sudah," jawab Amara.
"Baik."
Seketika suasana masjid itu menjadi hening. Seluruh perhatian orang-orang berpusat pada Dimas yang tengah berjabat tangan dengan penghulu yang akan menikahkan keduanya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Amara Andini binti Rahman Adipura dengan mas kawin tersebut di atas ... tunai!" Dimas mengucapkannya dengan lantang dan dalam satu tarikan napas setelah penghulu menghentakkan tangan.
"Bagaimana para saksi? Sah?" Penghulu bertanya pada para saksi yang langsung dijawab dengan mantap.
"Sah!"
"Alhamdulillah ...!"
Semua yang ada di sana kemudian berdoa bersama dengan khusyuk dipimpin oleh penghulu.
Setelahnya, Amara dan Dimas saling berpandangan dengan ekspresi penuh haru dan kebahagiaan. Dimas mengulurkan tangannya untuk kemudian Amara kecup punggung tangannya agak lama dan penuh perasaan. Lalu kemudian, Dimas menangkub wajah Amara dan mengecup keningnya penuh kelembutan.
"Amara ... istriku sayang," bisiknya setelah itu.
Dan dengan mata berkaca-kaca, Amara pun membalas panggilan Dimas tak kalah lembutnya. "Mas Dimas ... suamiku sayang."
Karena saking bahagianya, Dimas tak bisa menahan diri untuk mencium kening istrinya lagi dengan penuh sayang.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Amara. Aku sangat-sangat mencintaimu."
Tamat 🤭