
Duduk pada sebuah sofa panjang, Amara memperhatikan Dimas yang terbaring lemah di atas ranjang. Pria itu sudah benar-benar terlelap usai tadi mengkonsumsi vitamin beserta obat. Hal itu terlihat dari dengkuran halus yang terdengar darinya.
Amara yang merasa tak tenang memang masih enggan beranjak dari sana. Sebagai bentuk tanggung jawab, ia ingin memastikan keadaan Dimas baik-baik saja. Ia ingin tetap berada di sana hingga Dimas benar-benar sembuh dari sakitnya. Meski rasa kantuk mulai datang. Meski rasa pegal menyerang seluruh badan. Ia abaikan itu semua semata-mata demi kebaikan pasiennya.
"Pergi, lo. Pergi!"
Amara yang nyaris terlelap langsung bangkit dari duduk usai mendengar teriakkan Dimas. Pria itu mengigau sambil menghentakkan tangannya seperti sedang memukul seseorang.
Sontak saja Amara menangkap tangan Dimas dan kemudian menahannya. Ia pun mengusap pelipis Dimas yang basah oleh keringat sebelum kemudian membisikkan istighfar di telinga.
Setelah Dimas kembali tenang ia kembali mengistirahatkan badan. Memilih duduk pada kursi rias di sisi ranjang, Amara kembali memperhatikan Dimas dengan wajah pias.
"Ya Allah, redakanlah rasa sakit yang tengah dideritanya. Berikanlah Mas Dimas kesembuhan, karena Engkau adalah dzat yang maha menyembuhkan," lirih Amara sambil menadahkan tangan. Ia berdoa dengan khusyuk demi kesembuhan pasiennya.
Malam semakin larut. Namun Amara masih juga terjaga. Seolah-olah tak memberinya kesempatan untuk istirahat, Dimas terus saja mengigau tentang Naura. Terkadang menggigil hingga Amara harus menghangat tubuh pria itu dengan tumpukan berlapis-lapis selimut tebal. Namun, jika terlalu lama tak dibuka pria itu justru malah bermandikan keringat.
Lama kelamaan, Amara mulai menatap Dimas dengan keheranan. Meski sudah mengkonsumsi obat yang mengandung parasetamol dengan kadar tinggi, suhu tubuh pria itu masih juga tetap tinggi.
Mau tak mau, ia harus melakukan cara untuk menurunkan suhu tubuh pria itu, dan pilihannya jatuh pada kain handuk kecil beserta air hangat. Ya, Amara begitu telaten mengompres dahi Dimas. Dimas sendiri sepertinya tak menolak akan apa yang Amara lakukan, itu terlihat dari sikap pria itu yang tak melakukan perlawanan.
Sembari menunggu kompresnya menyerap panas di dahi Dimas, Amara mengambil ponselnya yang sejak sore tadi tersimpan rapi di dalam tas. Saat membuka kunci layar, ia melihat begitu banyak notifikasi masuk, beberapa panggilan terlewat dan beberapa chat belum dibaca.
Nama Juan lah penyumbang terbanyak pertama panggilan tak terjawab. Begitu juga chat melalui pesan whatsapp. Amara tersenyum senang melihatnya, lalu bergegas membalas pesan agar sahabatnya itu tak khawatir berkelanjutan.
[Juan, maaf baru bisa balas pesan kamu. Tadi Mas Dimas mendadak tantrum setelah bertemu kekasihnya. Aku berusaha menenangkan dia sampai-sampai mengabaikan ponselku sendiri. Apa kau sudah tidur?]
Pesan sudah terkirim dan menunjukkan centang dua abu-abu. Amara menghela napas, lalu meletakkan gawainya ke atas nakas.
"Mungkin Juan sudah tidur," gumamnya. Ia melirik jam tangan di pergelangan kirinya. "Pantas saja. Sudah pukul satu dini hari," ujarnya setelah itu.
Tak ingin berprasangka, Amara kemudian kembali memfokuskan perhatian pada Dimas. Ia meraba kain kompres dan ternyata sudah kering. Gegas diambilnya dan membasahi kain itu sebelum kemudian ditempelkan lagi pada dahi Dimas.
__ADS_1
Ting. Ponselnya berdenting pelan dan berhasil menarik perhatian Amara. Gegas gadis itu meraihnya dan membuka pesan itu dengan tak sabaran.
Sejurus kemudian, senyumnya mengembang samar. Benar saja, rupanya pesan balasan dari Juan.
[Aku belum lama sampai rumah dan baru selesai mandi, Mar. Lalu sekarang keadaannya bagaimana? Apakah dia masih tantrum? Perlukah aku datang ke sana untuk menemanimu?]
Buru-buru Amara mengetik pesan balasan. [Tidak, Juan. Sekarang Mas Dimas sudah tenang, kok. Kamu nggak usah khawatir, ya.]
[Nggak khawatir gimana, jam segini kamu belum istirahat, loh Mar! Sedangkan besok kamu tetep beraktivitas seperti biasa.] Juan terlihat marah.
[Bentar lagi aku tidur kok, kamu tenang ya .... Aku tuh udah terbiasa tidur larut malam. Waktu kerja di rumah sakit juga sering nggak tidur semalaman saat dapat giliran jaga malam, kan ... jadi, stop cemas berlebihan! Aku nggak papa, beneran.]
Juan di sana tampak menghela napas usai membaca pesan Amara. Ia paham betul bagaimana sifat gadis itu. Selalu mengatakan ia baik-baik saja demi menepis kekhawatiran orang lain.
Selain pura-pura percaya apa lagi yang bisa dilakukannya? Toh sekarang mereka berada di tempat yang jauh, dan Amara melarangnya untuk datang. Lebih-lebih lagi ini sudah larut malam.
[Ya udah, aku nggak cemas lagi. Telponan bentar yuk. Pengen denger suara kamu,] ajak Juan.
Mau tak mau Juan pun mengikuti keinginan Amara. Ia pun segera mengetik pesan balasan. [Janji besok ya. Kamu yang telpon duluan buat bangunin aku,] pintanya setengah memaksa.
Karena tak ingin berdebat, akhirnya Amara pun mengiyakan saja. [Iya, besok aku telpon buat bangunin kamu. Udah, tidur gih. Aku nggak mau besok panggilan tak terjawab di ponselmu membludak akibat kamu susah dibangunkan, hahaha,] gurau Amara, dan mau tak mau membuat Juan di sana jadi tertawa.
Sesi berbalas pesan pun berakhir usai keduanya mengakhiri dengan salam perpisahan. Namun, meski begitu bukan berarti keduanya langsung benar-benar tertidur setelahnya.
Tanpa mereka sadari, Amara dan Juan yang masih memegangi ponsel kompak senyum-senyum sendiri selagi membaca ulang pesan mereka tadi. Ada yang menghangat di dalam dada. Membuat sesuatu yang sebelumnya sempat beku kini mencair karenanya.
Walaupun masih harus menahan diri dan memendam perasaan cinta, tetapi bisa kembali dekat dan melihat senyum ceria sebagai seorang sahabat itu sudah cukup membuat mereka bahagia. Ya, bahagia mereka memang sederhana. Mungkin begitu definisi cinta bagi Amara dan Juan.
"Hoaamm." Amara menutup mulutnya yang ternganga saat menguap menggunakan telapak tangan. Ia hanyalah gadis biasa yang bisa diserang kantuk kapan saja. Meski bersikeras untuk menahan, tetapi rasa yang datang secara alamiah ini benar-benar tak bisa dilawan. Hingga hanya dalam sekejap saja, ia sudah terlelap dengan pipi berbantal tepian ranjang.
***
__ADS_1
Suara getar yang bersumber dari ponsel di atas nakas memaksa Amara untuk terjaga dari tidurnya. Gadis itu mengerjapkan matanya yang masih terasa berat. Mengarahkan pandangan ke atas nakas, tangannya lantas menjulur, berupaya meraih ponselnya yang tergeletak di sana.
Gegas digesernya icon gagang telepon berwarna hijau untuk mengangkat panggilan dari Juan.
"Assalamualaikum, Juan," sapanya membuka percakapan.
"Mar, kamu baru bangun?" tanya Juan dari seberang sana karena mendengar suara Amara yang parau khas bangun tidur.
"Iya Juan, maaf karena aku gagal membangunkanmu," sesal Amara. Gadis itu berucap dengan nada lemah.
Bukan Juan namanya jika tak khawatir pada Amara. Pria itu langsung memberondong sahabatnya dengan bermacam pertanyaan.
"Benar-benar baru bangun?" Juan meninggikan intonasi suaranya. "Kamu semalam tidur jam berapa sih, Mar? Kamu ngapain aja setelah kita memutus chat semalam? Apa Dimas kembali membuat ulah dan bikin kamu kerepotan?"
"Enggak, Juan ... enggak gitu. Mas Dimas nggak bikin ulah, kok. Aku aja yang keenakan tidur sampai lupa bangun .... Kamu jangan mikir yang macam-macam, ya," ujar Amara untuk menenangkan.
Juan di seberang sana terdengar menghela napas.
"Ya, udah ... kalau gitu cepetan salat Subuh, ya. Keburu waktunya habis. Sudah jam enam lebih, loh," tutur Juan dengan nada mengingatkan.
Amara menyimpul senyum. Perhatian semacam inilah yang selalu ia rindukan dari Juan.
"Iya, aku salat dulu ya. Makasih udah dibangunin."
"Iya, sama-sama," balas Juan. Mereka pun mengakhiri panggilan setelahnya.
Amara masih senyum-senyum sendiri saat memandang foto profil Juan yang masih terpampang di layar ponselnya. Seketika wajahnya merona bahagia mendapatkan kembali perhatian cintanya.
Namun, seketika ia menyadari suatu hal dan langsung terperanjat dibuatnya.
"Bukankah semalam aku ketiduran di kursi dengan berbantal tepian ranjang? Lalu kenapa sekarang justru terbaring di atas ranjang dengan balutan selimut tebal?" gumamnya bertanya-tanya. Matanya juga juga mengamati diri dan sekitarnya dengan sikap kebingungan.
__ADS_1
"Dan bukankah ini tempat Mas Dimas? Dia yang seharusnya sedang terbaring di sini, bukannya aku!" Amara menepuk dahinya sendiri selagi berucap. "Astaga, aku kehilangan pasienku. Mas Dimas kamu di mana? Mas Dimas!" serunya sambil bangkit dan berlari ke luar kamar dengan wajah panik.