
Di sebuah ruang kamar berukuran besar dengan desain yang elegan, Amara hanya berdiri terpaku sambil memegangi gagang koper hitam berisi pakaiannya. Sementara Dimas yang juga berada di sana, hanya bisa mematung dengan tubuh menyandar pada tembok dan tangan bersedekap dada.
Ini bukan kali pertama mereka berada di dalam kamar yang sama. Namun, jelas kali ini terasa berbeda sebab kini status mereka telah berbeda pula. Menjadi suami istri dalam waktu sekejap mata, terlebih tanpa adanya rasa cinta, membuat keduanya didera kikuk luar biasa.
Menoleh ke sisi kanan bagian belakang, pandangan Amara bersirobok dengan Dimas yang ternyata tengah memperhatikannya dalam diam. Gadis itu sontak membuang muka, lalu tertunduk kaku lantaran merasa malu.
"Ngapain lo senyum-senyum gitu?"
Suara Dimas menggema dalam keheningan, membuat Amara tersentak lalu menggeser bola matanya ke arah kanan.
"Ish Mas Dimas! Siapa yang lagi senyum-senyum, sih!" Mendengar pertanyaan Dimas yang bertolak belakang dengan fakta, jelas membuat Amara geram bukan kepalang. Gadis itu sontak menoleh ke arah belakang dan menatap Dimas dengan nyalang tajam.
"Heleh, dari sini kelihatan jelas, kok. Lo pasti lagi girang lantaran bakal tidur di kamar gue, kan. Girang nggak, girang nggak? Ya girang lah! Lo jadi perawat gue aja merupakan anugerah dari Tuhan, apalagi sampai nikah, coba. Ya kan, ya kan?" tuduh Dimas dengan seringai nakal di bibirnya.
"Ih, siapa juga yang kegirangan! Dan siapa juga yang merasa ini sebuah anugerah? Yang ada ini tuh musibah!" tegas Amara penuh penekanan di akhir kata dengan nada tak suka.
"Eh, hati-hati lo kalau ngomong." Dimas merubah posisi berdirinya, lalu menuding Amara dengan telunjuk. "Beneran cinta sama gue bakal patah hati, lo." Ia berkata setengah mengucap sumpah, setelah itu berjalan santai menuju ranjang dengan mata melirik ke arah Amara.
Sedangkan Amara, ia tak berniat menanggapi ucapan Dimas lebih lanjut sebab paham betul bagaimana tabiat pria itu. Berbicara ceplas-ceplos tanpa penyaringan, seolah-olah tak menyadari jika perkataannya bisa melukai hati seseorang. Namun, Amara justru suka sebab dibalik sikap menyebalkan itu Dimas memiliki hati yang mulia sebagai manusia.
Ia tahu, tuduhan Dimas terhadapnya tadi dilakukan semata-mata hanya untuk mencairkan suasana. Pria itu tak ingin mereka berlama-lama terbelenggu dalam kebisuan tanpa bisa melakukan apa-apa.
Melihat Dimas yang tiba-tiba menarik selimut dan merebahkan tubuh di atas kasur dengan nyaman, sontak mata Amara membulat tak percaya. Hal yang sebelumnya terlintas di benak adalah Dimas akan merelakan ranjang nyaman itu untuk dia sebagai bentuk solidaritas seorang pria terhadap wanita. Namun, yang terjadi di depan mata justru kebalikannya. Pria itu seolah-olah tak menganggapnya sebagai wanita. Benar-benar ekspektasi tak seindah kenyataan.
"Loh Mas. Kok Mas Dimas tidur di situ?"
Dimas membuka selimut yang menutupi kepala, lalu setengah bangun demi menatap Amara. Memutar bola mata malas, ia lantas berucap dengan nada sinis. "Ini 'kan kamar gue. Wajar lah kalau gue tidurin."
__ADS_1
Bola mata Amara membulat sempurna melihat Dimas kembali merebahkan tubuh dan bersikap acuh.
"Lah. Terus aku tidur di mana?"
"Serah lo! Mau di atas lemari, kek. Di atas sofa. Atau di atas genteng juga gue rela." Dimas kembali menutupi tubuhnya. Sontak saja Amara terperangah hingga geleng kepala.
"Sabar ... sabar." Amara mengusap dada selagi berucap, sedangkan matanya melirik ke arah Dimas demi mengetahui respon pria itu atas sindirannya. Namun, rupanya ia harus pasrah menelan kecewa lantaran Dimas sama sekali tak bergerak dari tempatnya. Pria itu benar-benar tak menganggapnya ada.
"Ya udah, lah. Toh masih ada sofa. Percuma juga nyindir orang yang nggak peka. Cuma buang-buang waktu dan tenaga." Amara menggumam sambil berjalan menuju sofa.
Tanpa Amara sangka, rupanya diam-diam Dimas menertawakannya di bawah selimut. Pria itu tak bisa menahan diri, lantas membuka selimutnya dan berkata, "Oh, jadi barusan lo nyindir gue? Tapi kok nggak ngena ya, hahaha!"
"Kalau nggak bisa ngertiin perasaan wanita mending diem aja deh, Mas. Tidur aja yang pulas! Mana tau bangun-bangun besok ternyata kita udah pisah!" ketus Amara yang kini sudah duduk di sofa.
"Memangnya bisa?" tanya Dimas dengan ekspresi penasaran.
"Entah. Kan aku bilang mana tau."
Untuk sejenak kesunyian kembali membelenggu ruangan. Amara sibuk menata sofa untuk tempatnya berbaring, sementara Dimas yang sudah merebahkan tubuhnya, tetapi diam-diam memperhatikan gerak-gerik istri sirinya.
"Apa lihat-lihat?" ketus Amara sambil mendelikkan matanya. Rupanya gadis itu sadar jika diam-diam Dimas tengah memperhatikannya.
"Cih. Mata mata gue. Kamar juga kamar gue. Lo nggak ada hal melarang gue melakukan apa pun di sini."
"Okay, fine!" balas Amara setengah geram. "Tapi sofa ini tempat aku. Mas Dimas nggak berhak mendekat ke sini selagi aku tidur!"
"Dih, siapa juga yang mau deket-deket lo! Gosah ngarep lo, ya!"
__ADS_1
"Siapa yang ngarep, sih Mas!"
"Elo!"
"Enggak!"
"Iya!"
"Enggak!"
Sama-sama geram, sepasang suami istri siri itu beradu pandang dengan ekspresi tak bersahabat. Hal itu terjadi hanya beberapa saat saja, sebab kemudian keduanya kompak memutuskan untuk menyapa bantal yang empuk dan hangat. Meski masih merasa jengkel, tetapi keduanya sadar perdebatan yang tidak penting hanya akan membuang tenaga dan pikiran saja.
"Mar, lo ada rencana mau ngomongin pernikahan kita ke Juan?" Dimas bertanya setelah beberapa lama sama-sama diam.
Amara yang sudah berbaring dengan posisi membelakangi sontak menoleh ke belakang begitu mendengar suara Dimas.
"Ada. Tapi nggak tau kapan, dan belum ngerti gimana memulainya." Gadis itu menjawab jujur.
"Sama," desah Dimas.
Amara kembali memejamkan mata, lalu lagi-lagi menatap Dimas saat pria itu mengajaknya bicara.
"Gue nggak berani bayangin reaksi Naura nanti kek gimana. Gue khawatir dia frustasi, terus ngamuk-ngamuk nggak jelas."
"Ya kalau Mbak Naura nggak bisa terima kenyataan ini berarti dia bukan wanita baik-baik, Mas."
"Heh, maksud lo apaan!" Tak terima dengan perkataan Amara tentang Naura, tiba-tiba Dimas nyolot nggak jelas. Tubuh pria itu melenting bangun, sedangkan matanya menatap Amara dengan garang. "Jangan ngomongin dia sembarangan, ya!"
__ADS_1
"Sembarangan gimana?" balas Amara tanpa gentar. Gadis itu juga ikut terduduk sebelum kemudian menjelaskan. "Jika Mas Dimas saja bisa menerima Mbak Naura lagi tanpa mengungkit kesalahannya di masa lalu kenapa dia tidak?"
Tercekat, Dimas tak mampu menjawab pertanyaan Amara. Pria itu hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah.