Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Gini-gini doang


__ADS_3

Keesokan harinya, Amara tetap beraktivitas seperti biasa. Bangun pagi-pagi, beribadah, dan menyiapkan makanan untuk Dimas. Sembari menunggu pria itu bangun, ia menggunakan waktu luang untuk menyiram bunga di taman.


Demi profesionalitas pekerjaannya, Amara berusaha bersikap biasa, walau tak bisa dipungkiri perlakuan Dimas semalam begitu tak mengenakkan. Tak seperti biasanya, Dimas yang selalu jahil dan ceria mendadak garang dan tak bersahabat. Ucapannya terkesan kasar.


Meski begitu, Amara berusaha menepis pikiran buruk. Mungkin ia saja yang terlalu bawa perasaan. Sekian waktu bersama Dimas dan dengan segala kejutannya, ia nyaris lupa dengan watak keras yang pria itu miliki. Iya, Amara telah terbuai dengan sikap hangat Dimas akhir-akhir ini.


"Ehemm!"


Terkejut, Amara sontak menoleh saat mendengar suara dehaman seorang pria. Gadis itu mau tak mau menyunggingkan senyum, ketika melihat Dimas sudah berdiri di belakangnya. Pria itu masih terlihat sangat kacau. Muka bantal, rambut acak-acakan, dan piyama tidur lengan panjang masih menempel di badan.


"Lo ngapain di situ?" Seolah-olah tak terjadi apa-apa sebelumnya, Dimas bertanya dengan nada ketus seperti biasa. Tentu saja hal itu membuat Amara senang, sebab Dimas sudah kembali seperti semula.


"Mas Dimas lihat sendiri 'kan, nih aku lagi nyiram bunga." Amara menjawab setengah sebal.


Dimas tersenyum meragukan. "Masa? Nyiram bunga apa mandiin bunga ...?"


"Hah?" Mengerutkan kening, Amara sontak mengikuti arah pandang Dimas demi memastikan perkataan pria itu. Benar saja Dimas berkata demikian. Rupanya tanpa sadar ia mengguyur bunga itu hingga lama.


"Tuh, kan. Lo ngelamun, ya," tuduh Dimas dengan senyum mengejeknya.


"Enggak."


"Halah, ngaku."


"Dibilang enggak, ya enggak." Dengan bibir yang manyun, Amara mematikan kran air, lalu beranjak dari sana. Dimas yang melihat itu hanya bisa berdecak sebelum kemudian melayangkan protes keras.


"Woy, ini gue belum selesai ngomong, loh. Kok ditinggalin gitu aja!"


Amara tak menggubris perkataan Dimas. Gadis itu tetap melanjutkan langkah sembari melepas celemek yang menempel di badan.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan. Ini adalah waktu Dimas untuk sarapan. Gadis itu sengaja berinisiatif untuk menyiapkan sebelum pria itu memintanya duluan.


Seperti yang sudah ia duga, rupanya Dimas benar-benar menyusulnya ke dapur. Pria itu langsung menarik kursi meja makan dan menempatinya dengan asal.


"Mau kopi," pinta Dimas manja sambil memanyunkan bibirnya. Tangan kanannya menopang dagu selagi memandangi Amara yang tengah sibuk menyiapkan hidangan.

__ADS_1


Mendengar itu, mau tak mau Amara sontak menghentikan kegiatan. Mengangguk samar, ia kemudian beranjak menuju pantry demi untuk membuatkan secangkir kopi.


"Thank you," ucap Dimas saat menerima cangkir kopi yang diberikan Amara. Ia tersenyum senang, lalu mulai menyeruput dari tepian cangkirnya.


"Masih panas, Mas. Nanti bibir kamu kebakar." Amara memperingatkan Dimas. Benar saja. Baru juga dibilang, pria itu meringis karena kepanasan. Tersenyum kecil, ia lalu menaruh lagi cangkirnya di atas alas berupa piring kecil.


Tak habis akal, Amara memilih opsi lain demi membantu Dimas yang tak sabaran. Gadis itu mengambil sendok makan, lalu menyodorkannya pada Dimas.


"Pakai sendok, Mas. Tapi edikit-sedikit, ya."


Alih-alih menerima sendok itu, Dimas justru menatap Amara dengan mimik manja. "Suapin ...," pintanya.


"Ya ampun, Mas. Masa minum kopi aja minta disuapin." Amara memutar bola mata malas.


"Suka-suka gue, lah. Percuma lo ada kalau enggak dimanfaatkan. Ayolah, buruan!" Bersikap tak mau tahu, Dimas menatap Amara penuh tuntutan. Menunggu gadis itu menyuapinya.


Amara mendengkus. "Dasar manja," umpatnya kemudian. Namun, meski begitu ia tetap mengikuti keinginan pasiennya. Bahkan dengan telaten menyuapi bayi besar itu menggunakan sendok.


Dimas terlihat antusias menerima suapan Amara. Senyumnya terkembang sempurna. Menaruh kedua tangan di atas meja, ia membuka mulut lebar-lebar menerima suapan gadis di sampingnya. Pria itu benar-benar menunjukkan sikap berbanding terbalik dengan semalam.


Terang saja hal itu mengundang tanya di benak Amara. Gerangan apakah yang baru saja dialami oleh pria itu. Mungkinkah Dimas menyembunyikan sesuatu?


"Mar," panggilnya memecah keheningan.


"Emm," balas Amara tanpa memandang muka.


Tiba-tiba Dimas tercekat. Ingin mengatakan sesuatu hal tetapi rasanya terasa berat. Alhasil, ia hanya terdiam ketika kedua netra saling menyapa.


"Ada apa?" Amara menyipitkan mata ketika bertanya.


Dimas berdeham kecil, lalu mengalihkan pandangan untuk sejenak sebelum kemudian kembali menatap Amara.


"Entar ikut gue," ujarnya.


"Kemana?"

__ADS_1


"Pesta."


"Hah!"


"Uhuk!" Dimas tersedak kopi yang disuapkan Amara karena keterkejutan gadis itu.


"Ya ampun, Mas. Hati-hati kalau minum." Melihat Dimas terbatuk-batuk, Amara segera menaruh cangkir dan sendok ke meja. Bangkit untuk meraih tisu, ia kemudian mengusap bibir Dimas dan menepuk pelan punggung lebar itu.


Dimas mengurut dadanya, lalu menelan ludah dengan susah payah. Tatapan sebal lantas ia layangkan pada Amara.


"Lo yang nggak hati-hati, makanya gue tersedak!"


"Ya maaf," sesal Amara sambil melabuhkan bokongnya kembali duduk di kursi. "Aku cuma kaget waktu Mas Dimas bilang pesta. Emm ... tadi aku cuma salah dengar, kan?" tanyanya memastikan.


"Lo nggak budek, kan Mar? Kuping lo itu masih berfungsi dengan normal, kan?" Dimas justru balik bertanya dengan nada ketusnya.


Amara hanya menggeleng lemah sebagai jawaban. Ia memang tidak tuli, tetapi ajakan Dimas tadi benar-benar sulit dipercayai.


"Ke pesta ngapain harus bawa-bawa aku? Apa Mas Dimas nggak malu kalau sampai dikatain bayi yang masih bawa-bawa pengasuh segala buat ke pesta?" tanyanya berusaha memperingatkan.


"Enggak." Dimas menjawab singkat, tetapi dengan nada penuh keyakinan.


"Tapi, Mas–"


"Nggak ada tapi-tapi!" potong Dimas sebelum Amara menyelesaikan ucapannya. "Selama lo masih jadi perawat gue, kita itu satu paket. Ngerti?" tegas Dimas, dan pria itu tersenyum puas saat Amara menganggukkan kepala tanda bahwa ia paham.


***


Tak tahu harus melakukan apa, Amara hanya mondar-mandir di dalam kamarnya. Setengah jam telah berlalu sejak Dimas memberinya waktu, tetapi ia justru bingung memanfaatkan hal itu.


Pintu kamar diketuk dari luar, disusul dengan suara panggilan.


"Mar!"


Amara sontak menatap pintu, lalu menggigit ujung jari telunjuk. Wajahnya terlihat panik.

__ADS_1


"Udah belum? Lo nggak lagi tidur, kan?" Suara Dimas terdengar mendesak. Mau tak mau, Amara segera membuka pintu yang sebenarnya tak dikunci.


"Apa-apaan ini?" Dimas terperangah begitu sosok Amara muncul dari celah pintu yang terbuka setengah. Pria itu memindai tubuh Amara dari ujung kaki hingga kepala, lalu kemudian berdecak. "Astaga .... Disuruh dandan dari tadi hasilnya gini-gini doang?" geramnya sambil geleng kepala.


__ADS_2