Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Kenangan di restoran


__ADS_3

Amara berdiri di ambang pintu dengan pandangan menyisir ke seluruh ruangan. Ia mencari-cari keberadaan Dimas yang telah lebih dulu meninggalkannya.


Ketemu. Gadis itu menghela napas lega kala memandang sesosok pria yang duduk sendirian di samping jendela. Tersenyum tipis, ia lantas melangkah mendekati kursi yang Dimas duduki.


"Masuk juga lo akhirnya. Gue pikir nyasar," celetuk Dimas tanpa memandang Amara. Derit kursi yang terdengar di seberang meja membuatnya yakin jika itu adalah sang perawat. Ia sendiri tengah membalas pesan melalui WhatsApp hingga tak ada waktu untuk menatap Amara.


"Mas Dimas kenapa sih, kalau ngomong nggak pernah disaring?" ketus Amara sebal.


"Penyaringan gue jebol. Udah nggak fungsi lagi." Lagi-lagi Dimas nyeplos tanpa memandang yang diajak bicara.


"Ish," desah Amara dengan ekspresi malas. Gadis itu melipat tangannya di atas meja, bibirnya mengerucut dan menatap Dimas dengan ekspresi kesal.


Dimas yang semula menunduk, tampak menggerakkan bola mata ke atas, menatap Amara untuk sejenak. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi perawatnya. Ia yang memang gemar menggoda, tak bisa membiarkan gadis itu tenang barang sebentar. Gegas ia membuat perkara agar si gadis kelimpungan.


"Buruan pesan makanan! Nungguin lo kelamaan bikin tenggorokan gue kering, tau nggak."


Amara membulatkan matanya seketika.


"Jadi dari tadi belum pesan?" tanyanya setengah tak percaya.


"Belum, lah. Males banget. Ada elo ngapain gue mesti ribet."


Amara mendesah pelan sambil menggelengkan kepalanya. Sembari tangannya mengusap dada, ia pun berkata, "Sabar ... sabar."


"Apa?" ketus Dimas sambil mengedikkan dagunya.


Amara sontak menggeleng cepat. "Enggak ada," jawabnya pura-pura ramah. Yang jelas, dengan senyum yang dipaksakan.


Dimas hanya menyebik menanggapi kepura-puraan Amara. Bagaimanapun ia tahu gadis itu tengah berusaha menahan amarah.


Hehehe, kapok! Ini baru permulaan, Amara. Tunggu bagian terbaiknya sebentar lagi," batin Dimas dalam hati.


Gadis itu kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tepat ketika itu ada seorang pramusaji lewat, dipanggilnya wanita itu dengan sikap sopan dan ramah.

__ADS_1


"Mbak, kita mau pesan, ya," tuturnya.


Wanita dengan pakaian khas pelayan itu mengangguk lalu mendekat.


"Mau pesan apa, Mbak?" tanyanya sopan sambil menyiapkan catatan.


Restoran yang mereka datangi adalah jenis restoran informal dengan target pengunjung kelas menengah ke bawah, dengan harga makanan dan minuman yang relatif terjangkau. Penerimaan pelanggan tanpa sistem pemesanan tempat, dan pengunjung tak perlu mengenakan pakaian formal.


Meski begitu, tempatnya cukup nyaman dan hidangan yang ditawarkan memiliki cita rasa yang nikmat, hingga para pengunjung betah berlama-lama dan tak jarang menjadi langganan. Dimas sendiri memang suka dengan tempat ini karena selain nyaman, juga menyimpan banyak kenangan.


Amara memesan beberapa menu makanan untuk mereka berdua, yang dia tahu itu adalah makanan kesukaan Dimas. Sang pramusaji mohon diri usai pemesanan berlangsung. Namun, baru juga hendak beranjak Dimas sudah memanggilnya lagi.


"Eh, Mbak!"


"Ya, Mas?" tanya wanita itu setelah berbalik badan.


"Saya mau makanan saya ini agak spesial," balas Dimas.


Pramusaji itu mengerutkan keningnya sebelum kemudian bertanya. "Maksudnya, Mas."


Amara sontak membulatkan mata mendengar perkataan Dimas. Pria itu kini tengah menudingnya dengan jari telunjuk, sedangkan bibirnya menyeringai jahat.


"Mas ...!" ucap Amara penuh penekanan dengan pandangan penuh peringatan. "Ini restoran, bukan rumah. Kalau mau masakanku ya di rumah aja, ngapain ngajak ke sini?"


Mengabaikan sikap keberatan Amara, Dimas mengarahkan pandangan pada sang pramusaji sambil tersenyum sebelum kemudian bertanya untuk memastikan.


"Gimana, Mbak? Bisa, kan?"


"Wah, gimana ya Mas ...." Pramusaji itu bersikap ragu.


"Tenang aja, Mbak. Ada kompensasinya, kok. Kalau perlu saya sendiri yang ngomong sama manager-nya deh. Saya juga kenal pemiliknya kok, kebetulan Ikbal adalah teman saya." Dimas berucap santai sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.


"Oh, jadi Mas ini temannya Pak Ikbal?" Mata wanita pramusaji itu langsung berbinar senang. "Maaf saya sampai lupa. Mas ini yang dulu sering datang sama pacarnya ya. Kok beberapa bulan ini nggak mampir, Mas?"

__ADS_1


"Dia baru sembuh dari sakit, Mbak." Amara tiba-tiba menyahuti pertanyaan sang pramusaji. Ia yang sempat melihat perubahan mimik wajah Dimas ketika wanita itu menyebutkan kata pacar, gegas menengahi sebelum berkelanjutan. "Jadi gimana, bisa saya masak buat pasien saya?" tanyanya kemudian untuk memastikan.


"Owh bisa, bisa Mbak. Mari saya antar ke dapur." Pramusaji itu mengisyaratkan dengan tangan agar Amara mengikutinya.


Amara mengangguk samar. Ia lantas menatap Dimas dengan bibir menyunggingkan senyum tulus.


"Sebentar, ya Mas. Aku siapin makanan buat kamu," ujarnya.


Tak menjawab dengan kata, Dimas hanya menganggukkan kepala. Ia kemudian mengekori langkah Amara yang bergerak menjauh melalui pandangannya, hingga gadis itu menghilang di balik pintu bersama dengan pramusaji tadi.


Menyandarkan punggungnya, Dimas lantas menghela napas panjang. Ia kemudian mengedarkan pandangan pada setiap sudut ruangan restoran . Tak ada yang berubah. Semuanya masih sama seperti beberapa bulan lalu saat terakhir kali ia berkunjung ke tempat itu.


Memukul-mukul dahinya pelan, Dimas merutuki kebodohan sendiri yang tanpa sengaja mampir ke tempat ini lagi. Ada getir yang merambat di hatinya. Perkataan pramusaji tadi mau tak mau membuka kembali ingatannya pada kejadian beberapa bulan lalu. Di mana ia sering melewati waktu makan bersama dengan Naura di tempat ini.


Dulu ia pernah bahagia. Dulu ia pernah merasakan cinta pada seorang wanita dengan begitu hebatnya. Namun, seketika semuanya lenyap, hancur berkeping-keping oleh penghianatan yang Naura lakukan.


"Mbak, saya mau pesan minum, ya."


Dimas yang tengah memijat pelipisnya mendadak dikejutkan dengan sebuah suara. Suara lembut seorang wanita yang pernah familiar di telinganya. Demi menjawab rasa penasaran, gegas ia mendongak dan mengarahkan pandangan ke sumbernya.


Deg, seketika jantung Dimas berdebar-debar. Ia tercekat, melihat sosok itu duduk tepat di seberang mejanya. Mengerjap beberapa kali, Dimas seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengucek mata, berharap yang ia lihat tadi bukanlah nyata.


Tepat di saat itu, sang objek tanpa sengaja mengarahkan pandangan ke arahnya dan langsung memberikan reaksi yang sama. Terkejut.


"Dimas?" lirihnya tak percaya.


Alih-alih menjawab sapaan si wanita, Dimas justru membuang muka. Tangannya terkepal erat, dan wajahnya merah padam. Api kemarahan di matanya kian membara begitu tahu si wanita kini duduk tepat di depannya.


"Dimas, kau di sini juga? Lama kita nggak ketemu ya, gimana kabar kamu?" Dengan penuh kelembutan, Wanita itu menggenggam tangan Dimas selagi memberondong pria itu dengan kalimat tanya. Mengabaikan reaksi tak suka Dimas. Mengabaikan ekspresi kemarahan pria itu. Ia bersikap sangat manis, layaknya wanita suci yang tak pernah melakukan dosa hingga membuat orang lain terluka dan menderita.


"Dimas ... aku merindukan–"


"Lepas!" teriak Dimas sambil mengempaskan tangan si wanita, hingga menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


Bersambung ❤️


__ADS_2