Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Pengorbanan Sia-sia


__ADS_3

"Ehemm." Dimas berdeham kecil sambil membetulkan posisi duduknya. Ia menatap Juan dengan kesungguhan dan kembali menjunjung tinggi profesionalismenya. "Bagaimana, bisa kita mulai meeting pertama kita?" tanyanya memastikan.


Juan mengangguk. Mau tak mau ia harus melupakan dendamnya untuk sementara waktu. Nasi telah menjadi bubur. Ia sudah terlanjur memilih perusahaan konstruksi Dimas sebagai kontraktor pembangunannya.


"Baik. Silahkan," jawab Juan.


Dimas mengangguk kecil. Ia lantas membuka laptopnya, dan mulai menunjukkan beberapa desain dengan anggaran berbeda yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ia bahkan menjelaskan secara rinci, mulai dari hitung-hitungan, keunggulan desain dan struktur bangunan.


Dimas begitu piawai dalam menyampaikan sebuah proyek dengan bahasan yang lugas dan tak bertele-tele. Ia bahkan mahir memperkirakan ketahanan bangunan dengan menyesuaikan bahan bangunan yang diminta oleh Juan.


"Jika berkenan, saya bisa merekomendasikan bahan dengan harga miring, tetapi dengan kualitas bagus untuk menghemat pengeluaran Anda." Sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, Dimas menawarkan opsi lain yang menurutnya bagus pada Juan usai menjelaskan semuanya.


Mendengar itu entah mengapa sisi sentimental Juan meronta-ronta. Ditatapnya dengan tajam Dimas–yang tengah memperhatikan dia dengan jemari saling bertaut–lantas berucap dengan nada sinis.


"Lo pikir gue terlalu miskin hingga membutuhkan barang dengan harga miring? Cih, gue bahkan bisa menggelontorkan dana berapapun besarnya hanya untuk proyek ini."

__ADS_1


Alih-alih tersinggung, Dimas justru menanggapi perkataan Juan dengan tersenyum santai.


"Baik. Kalau begitu saya nggak perlu repot-repot mengurus hal ini, bukan? Jadi, kapan proyek ini akan direalisasikan?" tanya Dimas masih dengan gaya santai tetapi penuh keseriusan.


Masih menatap Dimas dengan sorot tajam, Juan pun menjawab dengan mantap. "Secepatnya."


Meeting telah mencapai mufakat meski diwarnai dengan debat yang tak penting. Dimas akhirnya bangkit dari duduk, kemudian mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Juan pertanda telah mencapai kesepakatan. Ia tetap tersenyum ramah meski Juan tak kunjung menyambutnya.


Melirik Amara yang masih siaga di tempatnya, Juan akhirnya menjabat tangan Dimas, meski dengan perasaan malas.


"Saya tidak keberatan," timpal Juan dengan nada sinis.


Hingga beberapa detik berlalu, keduanya masih tetap berjabat tangan dengan pandangan beradu sengit. Dimas yang terlihat santai pada akhirnya memutuskan untuk melepaskan tangannya lebih dulu. Tersenyum miring pada Juan, ia pun sengaja meraih tangan Amara sebelum kemudian menariknya.


"Yuk pulang," ajaknya.

__ADS_1


Atas nama profesional kerja, Amara sendiri memilih patuh pada Dimas. Ia terlihat pasrah, bahkan berlalu dari sana tanpa sedikitpun menoleh pada Juan.


Tak rela diperlakukan layaknya orang asing oleh Amara, Juan bergerak cepat mengejar keduanya dan menarik sebelah tangan Amara untuk menghentikan.


"Mar," panggilnya dengan mimik wajah sedih. Seketika langkah Amara terhenti, lantas menoleh menatap Juan. "Kenapa kamu giniin aku? Salah aku apa sama kamu?"


Amara menatap tangannya yang menyatu dengan tangan Juan sejenak, sebelum kemudian mengarahkan pandangan pada wajah sedih Juan. Ia tersenyum getir. Ada perih yang menjalar di relung hati saat dipaksa mengubur dalam-dalam rasa cinta yang pernah datang. Terpaksa merelakan sang bunga layu dan gugur meski belum sempat mekar. Demi kebahagiaan Juan ia rela mengorbankan perasannya. Kini, setelah perlahan berusaha menata hati, kenapa justru Tuhan mempertemukan mereka kembali?


"Juan ... aku harus pergi sekarang. Tolong lepasin, ya." Tak ingin menarik tangannya dengan paksa, Amara memohon kerelaan Juan untuk melepaskannya. Namun, Juan bukanlah pria yang mudah menyerah, dan ia sangat paham akan hal itu.


"Mar, plis. Kita sahabat, bukan? Kenapa kamu menjauhi aku?"


"Halah ...! Kalau cinta ya cinta aja! Ribet banget sih kalian berdua ini!" celetuk Dimas tanpa memandang keduanya.


Jelas saja Juan dan Amara yang sempat sejenak melupakan keberadaan Dimas langsung terkejut dibuatnya. Keduanya saling tatap sebelum kemudian mengalihkan pandangan pada Dimas secara bersamaan.

__ADS_1


"Saling cinta tapi sok-sok'an menyembunyikan. Berkorban atas nama cinta, padahal sebenarnya sia-sia belaka. Sampai kapan kalian akan nyiksa diri seperti ini!" tambah Dimas lagi yang membuat Amara dan Juan bungkam seribu bahasa.


__ADS_2