
"Baru aja, kok. Yuk berangkat. Tadi katanya buru-buru ...," ujar Dimas dengan nada mengingatkan.
Terang saja hal itu membuat Naura lega bukan kepalang. Setidaknya pria itu tak mendengar apa yang baru saja ia katakan. Buru-buru saja ia bangkit dari tempatnya untuk kemudian bersiap-siap. Hari ini ia memang meminta Dimas untuk mengantarnya ke tempat pemotretan yang berjarak tak jauh dari kantor pria itu.
Sesampainya di tempat yang dituju, Dimas benar-benar mengantar Naura sampai di titik tempat pemotretan. Pria itu memastikan Naura berada di tempat yang aman sebelum ia pergi meninggalkan.
"Aku berangkat kerja dulu, ya. Kamu baik-baik di sini. Jangan nakal. Jangan ganjen." Dimas bahkan menyempatkan diri bercanda seperti biasanya selagi berpamitan, yang kian membuat Naura semakin yakin jika pria itu benar-benar tidak mendengarkan.
Hufft, syukur lah. Naura menghela napas lega sembari mengusap dadanya. Ia lantas buru-buru merogoh ponsel yang tersimpan di dalam tas. Kemudian menghubungi seseorang, entah itu siapa.
Sementara Dimas, pria itu kembali berjalan menuju mobilnya di tempat parkir. Sesampainya di sana ia tak langsung masuk dan pergi begitu saja. Dimas justru menyandarkan tubuh pada body mobil sembari memijat pangkal hidungnya. Entah apa yang tengah dipikirkannya saat ini. Namun, dari gestur wajahnya Dimas terlihat lelah ketika ia menghela napas dalam.
Dari arah belakang, ia mendengar suara derap langkah kaki yang mendekati. Namun, belum sempat ia melihat siapa yang datang, tiba-tiba sebuah kepalan tangan menghantam wajahnya dengan keras hingga menyisakan rasa nyeri dan perih.
"Bajing*n lo Dimas! Bangs*t! Dasar suami nggak berperasaan!"
Dimas yang tanpa persiapan itu sontak tersungkur saat Juan datang dan menghajarnya tanpa ampun. Sembari mengusap darah di sudut bibir, ia menatap Juan yang seperti kesetanan itu dengan ekspresi wajah heran.
__ADS_1
"Hey, maksud lo apa datang-datang main hajar orang sembarangan! Salah gue apa!" Dimas yang sontak bangkit langsung mendekat dan menuding Juan dengan wajah geram. Terang saja ia tak terima oleh sikap Juan yang tiba-tiba menghajarnya tanpa alasan.
Berdecak, Juan lantas menunjukkan seringai mencemooh pada Dimas sebelum berucap. "Memang bener-bener, lo ya! Nggak ada hati nurani sama sekali. Gampang banget lo ambil Amara buat dinikahi. Tapi ujung-ujungnya juga dia lo sakiti!"
"Hey, ini beneran gue masih nggak ngerti, sebenarnya ada apaan sih?"
"Lo emang kebangetan jadi laki, ya! Selama ini gue berusaha diam demi Amara. Tapi untuk sekarang, udah nggak! Gue bakal kasih lo pelajaran. Asal lo tau aja, selama ini gue mantau lo dari kejauhan!"
Juan benar-benar geram. Selama ini ia memang menahan diri untuk tidak ikut campur dan melakukan apa pun terhadap Dimas sebab Amara memohon padanya. Tetapi semakin lama ia semakin tak tahan saja, terlebih perlakuan Dimas terhadap Amara semakin keterlaluan juga. Selain tak menganggap Amara sebagai istri, pria itu bahkan sengaja memasukkan wanita lain ke dalam rumah mereka.
Awalnya ia bisa terima sebab Amara meyakinkan pernikahan mereka hanya akan berjalan sementara waktu saja. Namun, ketika melihat ada cinta di mata Amara untuk Dimas, ia jadi tak terima begitu saja. Juan telah berkorban hingga sedemikian rupa untuk menghapus rasa cintanya terhadap Amara, tetapi Dimas yang sudah jelas-jelas mendapatkan Amara justru menelantarkannya begitu saja. Terang saja Juan geram.
Dimas langsung tercengang mendengar penuturan Juan.
"Cinta?" lirih Dimas tak percaya.
"Iya! Cinta." Juan membalas cepat masih dengan ekspresi marah.
__ADS_1
"Heh, lo jangan ngasal, ya! Justru lo yang selama ini Amara cinta!" Dimas tak kalah geramnya. Ia kini balas menuding Juan dengan tatapan nyalang tajam. "Lo yang selama ini bikin dia nangis! Lo yang udah bikin dia terluka! Lo nggak ngerasa kalau gue mati-matian berusaha bikin kalian bisa jadian. Tapi nyatanya apa? Lo yang nggak bisa manfaatin kesempatan yang ada!"
"Hey, itu dulu!" balas Juan tak mau kalah. "Lo boleh percaya boleh nggak, tapi semenjak nikah, Amara itu cinta sama lo! Walaupun dia nggak pernah mengatakannya, tapi gue bisa lihat dari sorot matanya saat nyebut nama lo. Semenjak nikah, dia berusaha jadi istri yang baik buat lo. Melayani semua kebutuhan lo. Okay, lo mungkin nggak ngerasain itu. Karena apa? Karena lo itu cowok nggak peka!"
Kali ini Dimas tak membalas omelan Juan, bahkan ketika pria itu memakinya dengan kata-kata kasar. Ia justru terperangah dengan pikiran melanglang buana entah ke mana. Penuturan Juan benar-benar mengejutkannya.
"Mungkin selama lo mikir Amara itu sama dengan wanita yang pernah lo kenal, yang bisa dengan gampangnya berpaling hati dari orang yang tak pernah menganggapnya ada. Lo mungkin nyamain dia sama lo yang begitu mudahnya berhubungan sama Naura sekalipun udah nikah sama dia. Padahal nyatanya apa? Gue sama Amara cuma ketemuan sekali doang! Itu pun karena gue yang nyari-nyari dia! Lo tau waktu itu dia ngomong apa?" Juan menjeda ucapannya sembari mengamati ekspresi Dimas. Lalu kemudian dia melanjutkan penjelasan.
"Dia nggak mau ketemu gue lagi sebelum lo ceraikan dia! Lo tau alasannya apa? Karena dia nggak mau selingkuh ataupun main hati selagi masih berstatus istri lo, kendati elo nggak pernah anggap dia itu sebagai istri. Dan hebatnya Amara, dia mampu menahan sakit hati dengan melihat kemesraan lo dan Naura di depan mata. Lo pasti ngiranya Amara selalu sama-sama gue, kan? Padahal enggak!"
Kata-kata Juan masih menggema di telinga Dimas hingga ia berangkat ke kantor, bahkan beraktivitas lainnya. Ia merasa tak tenang, hingga ketika menjelang siang, ia memutuskan untuk pulang.
Rumah dalam keadaan kosong ketika ia masuk siang itu. Entah Amara pergi ke mana, gadis itu tak pamit pada Dimas. Untuk hal ini ia memang tak bisa menyalahkan istrinya itu. Sebab apa? Dialah yang membebaskan pada Amara untuk melakukan apa pun yang dia suka.
Terpaksa, Dimas harus menelan rasa kecewa dan menahan diri sampai Amara datang. Ia memutuskan merebahkan tubuhnya di sofa panjang ruang tengah sembari menunggu istrinya.
Ketika Dimas nyaris terpejam akibat kelelahan, tiba-tiba telinganya mendengar suara gadis mengucapkan salam. Tak salah lagi, itu adalah suara Amara yang baru saja membuka pintu depan.
__ADS_1
Gegas saja Dimas bangun dan bersiap menyambut kedatangan istrinya yang mungkin saja tidak pernah disangka-sangka oleh gadis itu.
Bersambung