
Amara yang kebetulan melewati dapur dibuat heran oleh lampu ruangan yang masih menyala. Padahal ia ingat betul setengah jam lalu Eli berpamitan untuk beristirahat di kamarnya.
"Siapa yang berada di dapur?" Gadis itu menggumam. Berbekal rasa penasaran itulah ia lantas menghampiri untuk memastikan.
Langkah Amara yang tanpa suara itu ternyata membuat Dimas tak menyadari kehadirannya. Pria itu tengah meneguk air mineral langsung dari botol. Namun, saat usai dan berbalik badan hendak kembali ke kamar, keterkejutan tampak begitu kentara ketika mendapati Amara berdiri di sana.
"Mas, aku ingin bicara!"
Dimas yang sebelumnya memilih berlalu tanpa sepatah kata sontak berhenti kala itu juga. Pria itu diam sejenak, lantas berbalik badan tepat menghadap ke arah Amara.
"Bicara apa?" tanya pria itu datar. "Kalau soal pernikahan, mendingan lo buang jauh-jauh niat itu, deh." Dimas kemudian membuang muka setelah berkata.
"Mas, kita nggak bisa terus-terusan kayak gini."
Amara berjalan mendekati Dimas, sedangkan pria itu justru menatap Amara dengan ekspresi tidak suka.
"Terus ...!" sinis Dimas penuh penekanan. Tatap matanya juga menyorot tajam.
Amara menatap Dimas yang membuang muka. Dari bahasa tubuh saja, ia tahu betul Dimas sangat membencinya. Namun, ia merasa tak terima sebab segala yang terjadi pasti atas seizin-Nya. Merasa ada yang perlu diluruskan, ia kemudian kembali berkata, "Mas, kamu boleh benci sama aku. Tapi plis. Ini semua terjadi di luar kendali aku."
"Gue nggak benci sama lo!" sahut Dimas tegas sambil menatap Amara lekat.
"Terus?" tanya Amara dengan nada meragukan. Ia lantas melanjutkan perkataan ketika Dimas masih bungkam. "Beberapa hari ini kamu terus saja hindari aku. Namanya apa jika bukan benci! Kamu sudah dewasa, harusnya bisa memahami situasi. Apa Mas tau? Dengan cara Mas Dimas yang belakangan sering uring-uringan dan nggak mau diajak bicarakan baik-baik ini bikin aku salah paham! Aku yakin, Mas Dimas benci sama aku."
"Hey! Gue tegasin sekali lagi, ya! Gue nggak benci sama lo."
__ADS_1
"Oh, ya?" Lagi-lagi Amara menunjukkan keragu-raguan.
"Ya. Gue cuma benci sama keadaan!" tegas Dimas. Ia menjeda ucapan dengan mengalihkan pandangan sejenak dan mendesah kasar, seolah-olah ingin membuang beban berat yang mengimpit dada. Saat kembali menatap Amara dan menilai gadis itu masih menunggunya bicara, barulah ia kembali melanjutkan ucapannya.
"Asal lo tau, sampai detik ini gue belum berani ngomong sama Naura! Gue nggak tau mau mulai dari mana buat cerita. Ada dua ratus panggilan tak terjawab dan tiga ratus lebih pesan whatsapp."
"Aku juga!" sahut Amara tak mau kalah. "Juan menelponku setiap saat dan mengirim banyak pesan. Tapi nggak satu pun yang aku angkat atau aku balas."
"Tapi Naura itu pacar gue, sedangkan Juan itu cuma–"
"Iya aku tau dia itu cuma sahabat!" potong Amara dengan nada geram. Bahasa tubuhnya juga terlihat seperti menantang. "Tapi bagi aku dia bukan hanya sekadar sahabat. Dia bisa merangkap apa pun sesuai yang kubutuhkan!"
Dimas berdecih, lantas menatap Amara dengan ekspresi meremehkan. "Iya, gue tau. Karena kalian berdua itu kasih tak sampai. Ck ... ck ... ck ... kasihan," decaknya kemudian.
Melihat bagaimana cara Dimas meledeknya barusan, Amara jelas saja tak terima. Kendati yang Dimas katakan itu benar adanya, tetapi tetap saja gadis geram bukan kepalang. Ia menggemertakkan gigi dan mengepalkan tangan. Napasnya juga tampak memburu, menandakan jika ia tengah berusaha menahan amarah. Namun, sesaat kemudian ia menemukan cara pembalasan yang dirasa ampuh menyentil hati Dimas.
***
Pagi hari, situasi tenang rumah berlantai tiga itu mendadak dibuat gaduh oleh sang pemilik yang baru saja tiba. Bagaimana tidak? Pasalnya, belum juga sempat mengistirahatkan badan dari lelah oleh jauhnya perjalanan, sang nyonya langsung saja berteriak-teriak memanggil putranya.
"Dimas! Dimas!"
"Ma. Kita baru saja tiba, janganlah buang-buang tenaga dengan teriak-teriak seperti itu." Sang pria berucap sambil mendudukkan diri di sofa panjang, sementara si wanita tampak celingukan mencari-cari keberadaan putranya.
"Kalau nggak teriak nanti dia nggak mau turun, Pa. Malahan bisa-bisa nggak mau ketemu sama kita. Papa ingat 'kan, gara-gara hal ini saja dia jadi enggan menghubungi kita. Padahal yang salah siapa? Dia sendiri, Pa." Amel mendesah kasar, lalu kembali meneriaki putranya. Namun, kali ini ia tak lupa memanggil Amara juga, menantu dadakannya.
__ADS_1
"Bu, biar saya naik buat panggil Mas Dimas, ya." Eli yang muncul dari luar sembari menarik koper besar, menawarkan diri memberikan bantuan. Wanita yang tahu betul bagaimana watak Dimas itu berencana memberikan siraman rohani tipis-tipis pada Dimas yang tampaknya enggan menemui orang tuanya.
"Boleh deh, Bi," jawab wanita cantik berusia matang itu.
Eli mohon diri dengan sopan. Namun, saat berbalik badan dan berjalan beberapa langkah, ia sontak menghentikan langkah saat melihat kemunculan Amara. Gadis itu tampak pucat dan matanya agak sembab.
Wajar. Sebagai seorang wanita, ia berusaha memahami posisi gadis itu. Dengan pernikahan yang berlatar belakang tertangkap basah tentunya menggiring opini publik pada hal-hal buruk tentang gadis itu. Ia tentu akan dipandang sebelah mata, diremehkan, bahkan dihujat kendati tak melakukan kesalahan.
"Amara, kamu baik-baik saja?" tegurnya hati-hati saat mereka sudah berhadapan.
"Alhamdulillah baik, Bi." Amara menjawab pelan, dengan senyuman yang jelas dipaksakan.
"Sana temui Ibu. Bibi mau panggil Mas Dimas dulu," pamitnya kemudian, dan dibalas anggukan kepala oleh gadis itu. Wanita itu menaiki anak tangga, sementara Amara tampak berjalan pelan menghampiri sang majikan.
Amara mengambil napas dalam dan mengembuskannya perlahan, berusaha menenangkan perasaannya yang dilanda kekalutan. Semakin dekat jaraknya dengan sang majikan, semakin kencang pula jantungnya berdetak. Keringat dingin mulai bercucuran saat detik-detik menakutkan itu akan tiba. Entah bagaimana orang tua Dimas akan memperlakukan, otak Amara bahkan tak mampu memikirkannya.
Di sana, sepasang suami istri itu tengah duduk bersebelahan. Si pria tampak santai menyandarkan punggungnya, sedangkan si wanita tampak menatap Amara dengan ekspresi wajah garang. Kakinya menyilang, sedangkan tangannya terlipat di depan dada.
Amara menghentikan langkah dengan jarak tiga meter tepat di hadapan keduanya. Ketakutan kian menjalar. Tangan basahnya meremas ujung pakaian yang dikenakan.
Tersenyum canggung kepada kedua mertua barunya, Amara lantas berusaha menyapa meskipun suaranya tenggelam seperti tercekat di tenggorokan.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya."
"Duduk. Dan diam. Bicaralah saat aku menyuruhmu bicara. Kita tunggu sampai Dimas turun." Amel melirik ke arah sofa kosong di sisi Amara, seolah-olah memberi kode pada gadis itu untuk segera menempatinya.
__ADS_1
Amara mengangguk patuh, lantas dengan hati-hati menempati sofa itu. Ia hanya bisa diam, menantikan detik-detik menegangkan di mana ia akan disidang habis-habisan.