
"Bi Eli lagi goreng apa? Baunya dari kejauhan udah enak banget, loh," ucap Amara sambil merangkul dari belakang Eli yang sedang menggoreng sesuatu. Gadis berhijab itu lantas melongok ke arah wajan untuk melihatnya sendiri. "Oh pisang goreng rupanya," tuturnya kemudian sambil tersenyum.
"Mau?" tanya Eli sambil tersenyum dengan bola mata melirik ke arah Amara yang menyandarkan dagu di pundaknya. Gadis itu pun langsung menganggukkan kepala mengiyakan. "Tuh, sudah ada yang matang," lanjutnya sambil menggeser pandangan dan menatap piring berisi pisang goreng matang itu seolah sedang memberi isyarat pada Amara.
"Uh mau dong," ucap Amara begitu antusias, lantas segera melangkah mendekati piring itu dengan penuh semangat. Tanpa pikir panjang lagi, Amara lantas menggerakkan tangan berniat untuk mengambilnya.
Namun gadis dengan pakaian putih-putih itu justru membeliak seperti tersengat kala tangannya menyentuh pisang goreng itu "Masih panas Bi ...," keluh Amara sambil mengibas-kibaskan tangannya.
"Ya iya lah Neng, kan baru diangkat," tukas Eli sambil tersenyum masam. "Sini Bibi bantu biar pas megangnya nggak kepanasan." Eli menaruh spatula yang dipegangnya, lantas meraih satu tisu makan yang tersedia di atas pantry dan kemudian menggunakannya untuk membalut setengah bagian pisang goreng. "Ini, monggo," ucapnya sambil menyodorkan pisang itu pada Amara.
"Makasih, Bi," Amara menerimanya dengan suka cita.
"Nggak usah buru-buru pas makanannya."
"Iya, Bi," balas Amara dengan senyum, sambil mengusap pelan bahu Eli.
"Mak Jawa itu apa? Kok Eneng nggak dikasih? Ih, Emak Jawa tega!"
Euis yang baru muncul mengomel di ambang pintu. Tentu saja kedatangan gadis itu membuat Amara dan Eli spontan menoleh. Gadis imut itu lantas mendekat dengan kaki yang dihentak-hentakan ke lantai. Bahkan wajah cantik itu cemberut, hingga mirip seperti kain kusut.
"Ini kenapa to, ini kenapa? Datang-datang kok langsung ngomel dan fitnah orang sembarang. Muka ditekuk udah mirip monyet yang kena timpuk. Kamu kenapa, Euis Sayang?" Eli menyambut gadis manja itu dengan kedua tangannya, lantas membawanya duduk pada salah satu kursi di meja pantry.
"Euis lagi kesel, Mak!" gerutu Euis sambil memanyunkan bibir usai menempati kursi yang Eli sediakan.
"Kesel?" Eli pura-pura terkejut. Wanita itu menatap Euis dengan penuh antisipasi sebelum kemudian berkelakar. "Wah, bahaya ini. Kamu kalau kesel biasanya suka nelan orang bulat-bulat, loh."
"Emak!" sahut Euis cepat, lantas bibirnya memberengut manja. Ia menatap Eli dengan sorot memperingatkan. "Jangan ngledekin Euis ...." rengeknya dengan mimik wajah memelas, kemudian bergerak merangkul lengan Eli dengan manja.
Eli pun mendesah pelan lantas mencebikkan bibir. "Iya, iya, maap." Eli berucap kesal. Wanita itu kemudian bangkit dan melangkah menuju kompor untuk mengangkat pisang gorengnya yang sudah matang.
"Euis kamu kesel sama siapa?" Amara yang penasaran segera merapatkan duduknya dengan Euis. Ia meletakkan sisa pisangnya ke atas sebuah piring kecil. Lantas dengan wajah penuh rasa ingin tahu, ia memfokuskan diri memperhatikan Euis yang tampak lemas tak bertenaga.
Menerima segelas air putih yang di berikan Eli, Euis lantas menenggaknya hingga habis tanpa sisa. Mengembalikan gelas itu lagi pada Eli, Euis lantas berucap, "Kurang atuh Mak."
"Oh, kurang ya?" Eli menatap Euis dan gelas kosong itu dengan wajah keheranan. "Bentar ya, Emak ambilkan," dengan tergopoh Eli melangkah menuju dispenser dan kembali dengan segelas penuh air putih. "Ini air putihnya." ucapnya selagi memberikan gelas itu.
Tak butuh waktu lama, Euis lantas meneguk air putih itu hingga menyisakan setengah bagiannya.
"Sekarang udah tenang, kan? Udah ngerasa enakan? Apa perlu aku periksa tekanan darahmu juga?" Amara menawarkan dengan kesungguhan, sementara Euis hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya. "Kalau gitu buruan cerita," desaknya pula seolah tak sabaran.
"Cerita ...?" Euis mengerjap bingung. "Eneng disuruh cerita apa?"
__ADS_1
Membulatkan mata, Amara lantas menepuk berulang-ulang dahinya. Kelakuan Euis selalu berhasil membuatnya geregetan. "Tadi bukannya kamu lagi kesel?" tanyanya dengan wajah sedikit kesal. "Terus, keselnya sama siapa ...?" Kali ini Amara bertanya dengan penuh penekanan hingga rahangnya terlihat mengetat.
Nyengir hingga menunjukkan deretan giginya yang putih, Euis langsung menggelengkan kepalanya. "He-he-he, enggak kesel sama siapa-siapa."
"Terus?" Eli bertanya dengan mimik kesal sambil membulatkan mata. "Yang tadi datang-datang sambil menggerutu, bibir dimonyong-monyongin sampai maju lima senti dan nenggak dua gelas air putih sekaligus tadi karena apa!"
"Capek." Euis menjawab santai lalu menggigit pisang goreng sisa Amara.
"Huffth," Eli mengembuskan napas kasar, lalu menepuk dahinya berulang-ulang. Sabar, sabar, batinnya kesal sambil mengurut dada.
Wanita paruh baya itu lantas menarik pipi tembam Euis sambil berkata, "Berani ngerjain Emak, kamu ya! Ha, rasakan cubitan Emak!"
"Aduh Mak aduh Mak. Sakit!" jerit Euis sambil menarik tangan Eli hingga melepaskan pipinya.
"Berani ngerjain lagi, Emak cekek kamu nanti!" gertak Eli sebal, lantas memalingkan wajah sambil bertopang tangan di atas meja.
"Euis nggak ngerjain kok, Mak. Suer!" Euis mengacungkan dua jarinya untuk meyakinkan, sementara matanya menatap Amara dan Eli bergantian. Gadis itu lantas memberengut sedih saat Amara dan Eli terlihat tak terpengaruh. "Euis teh capek beneran atuh, Mak. Dari kemarin kerjaan Euis nyetrika baju nggak selesai-selesai."
"Masa nyetrika dari kemarin nggak selesai? Emang seberapa banyak, sih? Bukannya cuma baju Mas Dimas aja?" tanya Amara penasaran, lantas membayangkan sebanyak apa baju yang telah lelaki itu gunakan.
"Cuma lima stel, sih." Euis menjawab enteng, lalu bertopang dagu di atas meja.
"Cuma lima stel nggak selesai dari kemarin?"
Namun sesaat kemudian Euis kembali dengan sesuatu di tangannya.
"Apa lagi!" cegah Eli dengan perkataan, bahkan sebelum Euis sempat membuka mulut untuk bicara.
Euis menyebik, lantas menempelkan pipi pada bingkai pintu dapur. "Emak dendam sama Euis, ya?" tanyanya dengan nada sedih. "Euis datang dengan maksud baik, kok. Cuma mau minta tolong."
Amara mencegah Eli yang sudah akan mengomel. Lantas menatap Euis dan kemudian bertanya. "Minta tolong apa, Euis?"
Euis menyodorkan sesuatu yang ada di tangannya. "Tolong kasih makanan ini buat Empus," lirihnya dengan nada memohon sambil meringis dan menggigit bibir bawah. Sementara kedua kakinya bergerak merapat, seolah tengah menahan diri untuk buang hajat.
Amara menatap ragu pada tempat makan kucing berisi biskuit itu, lantas mengembalikan pandangan pada wajah pada Euis. "Kamu sendiri kenapa?"
"Nggak bisa ...! Euis pengen pup." Euis memperlihatkan wajahnya yang semakin ngenas. Bahkan tangan kirinya mencengkeram bingkai pintu dengan kuat. Terlihat sekali ia sedang berjuang keras untuk menahan.
"Oh, oke oke." Amara segera mengambil alih tempat makan kucing itu, lantas melongo menatap Euis yang lari terbirit-birit sambil memegangi pantatnya.
***
__ADS_1
Amara berjalan keluar dengan mulut masih mengunyah pisang goreng. Tanpa sengaja ia bertemu dengan Dimas di depan pintu. Seketika gadis itu menghentikan langkah saat Dimas menghalangi jalannya dengan pasang badan.
Dimas menatap mulut Amara yang masih bergerak, lantas menurunkan pandangan menatap sesuatu di tangan perawatnya itu.
"Bawa apaan, lo?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik.
"Oh, ini--"
"Minta, dong."
"Jangan, Mas!" Amara menarik cepat mangkuknya saat Dimas hendak meraih. Lantas menepikannya dari hadapan pria itu.
Sontak saja Dimas berdecak sebal sambil berkacak pinggang. "Bagus lo, ya. Punya makanan enak diumpetin dari gue? Nggak mau bagi-bagi, lo? Dasar pelit!" makinya tak mau tahu.
Amara menggeleng cepat berusaha menyangkal. "Enggak Mas, bukan begitu. Ini makanan kuc--"
Terlambat. Baru saja Amara hendak mengatakan yang sebenarnya, tapi Dimas sudah lebih dulu menyomot biskuit itu lantas mengunyahnya dengan penuh perasaan.
'Kriuk-kriuk' suara biskuit itu di mulut Dimas. Lelaki itu menghentikan kunyahannya. Sementara wajahnya memperlihatkan mimik aneh. "Enak, sih. Tapi kok rasanya aneh, ya," gumamnya bertanya-tanya.
Merasa ada yang tidak beres, Dimas lantas mengalihkan pandangan menatap Amara. Entah mengapa ia semakin curiga saat melihat ekspresi takut gadis yang tengah membungkam mulut dengan tangan itu.
"Ini apaan sih!" tanya Dimas setengah menghardik, dengan ekspresi wajah yang mulai tak bersahabat.
"Anu, Mas. Itu--" Amara menggantung ucapannya dengan wajah takut.
"Lo tadi makan ini juga, kan!" tegas Dimas mulai kesal.
Amara menggeleng pelan.
"Lalu!" Dimas semakin curiga.
Amara menggigit bibir bawah sambil memejamkan mata. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengakui. Percuma saja berbohong jika hal itu tak juga membuatnya selamat.
"Yang saya makan tadi pisang goreng--"
"Dan ini?" tanya Dimas sambil menunjuk mulutnya yang masih menampung kunyahan makanan. Lelaki itu terlihat semakin cemas, seolah tak siap mendengar jawaban dari Amara.
"Itu--" Amara menghentikan kata-katanya, lantas membeliak ngeri saat Dimas mulai mengangkat tangannya untuk mengancam. "Itu biskuit kucing ...."
"Hah!" Dimas berteriak histeris hingga tanpa sadar menyemburkan semua isi di mulutnya. Dan sialnya, semburan itu mengenai tepat di wajah Amara. Bisa dibayangkan betapa kesalnya gadis itu mendapatkan anugerah tak terduga ini?
__ADS_1
Bersambung