Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Cemburu?


__ADS_3

Amara membuka pintu kamar Dimas dari dalam dengan gerakan sangat pelan. Kepalanya lantas menyembul ke luar melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Setelah melihat keadaan sekeliling untuk memastikan sesuatu, barulah ia bernapas lega lantaran tidak menemukan siapa-siapa di sana.


Amara menoleh ke belakang dengan wajah sebal, tepatnya menatap Dimas yang sedang duduk selonjoran dengan santai di ranjangnya seolah-olah tanpa sedikit pun beban pikiran dan kini tengah tersenyum manis sambil memandangnya. Merasa jengah karena menjadi pusat perhatian, ia lantas beranjak dari sana tanpa sepatah kata.


Sementara Dimas hanya bisa tertawa di sana karena melihat tingkah polah istrinya yang sudah seperti maling ayam takut ketahuan.


"Amara, Amara. Berduaan sama suami sendiri aja pakai takut ketahuan orang segala." Dimas bergumam sembari menatap pintu yang kembali tertutup rapat itu. Padahal percuma juga dia bicara seperti itu, toh istrinya juga sudah tidak ada di sana.


Untuk sejenak Dimas tertegun dengan pikiran jauh menerawang. Ia teringat pada kejadian beberapa saat lalu ketika masih mendekap mesra istri tercintanya.


Saat itu Amara merengek meminta ia pulang. Wajah gadis itu benar-benar menggemaskan jika sedang manja begitu. Mata bening Amara menatapnya seperti mengiba. Mungkin memang begitulah jurus para wanita jika sedang memohon pada suaminya.


"Nanti kita pulang, ya. Jangan nginap di sini lagi," rengek Amara tadi.


"Oke." Dimas langsung menjawab mantap hingga membuat Amara langsung berbinar senang. Namun, ia buru-buru melanjutkan kata-katanya yang belum terselesaikan demi menghindari kesalahpahaman istrinya. "Asalkan ... lo turuti satu permintaan gue."


Ekspresi senang Amara langsung berubah muram seketika. Wanita itu tertegun menatap suaminya yang kini tengah menyunggingkan senyuman licik di bibirnya. Sepertinya ia bisa mencium aroma tidak menyenangkan dari persyaratan yang akan Dimas ajukan.


"Apa?" tanya gadis itu dengan wajah lugu tetapi sangat penasaran.


Bukannya langsung menjawab pertanyaan Amara, Dimas malah mengeratkan pelukannya, lalu menatap sepasang iris bening milik istrinya lekat-lekat, dan kemudian kembali berbicara dengan nada serius.


"Gue mau, lo resign jadi perawat di rumah sakit ini sekarang juga."


Dimas bisa melihat keterkejutan di wajah Amara. Gadis itu tersentak dengan pupil mata yang sedikit membesar.

__ADS_1


Untuk sesaat Amara hanya bisa tertegun bingung sambil menatap iris coklat tegas Dimas seolah-olah menyelami keseriusan pria itu melalui sorot matanya. Hingga kemudian Amara menggelengkan kepalanya sembari bergerak melepaskan dekapan Dimas untuk kemudian menjaga jarak, lalu akhirnya berucap dengan nada dingin dan tegas.


"Maaf. Aku nggak bisa."


Bukannya marah oleh penolakan Amara barusan, Dimas justru tetap bersikap tenang sembari mengangguk-angguk paham, seolah-olah ia sudah menebak jika hal ini akan terjadi.


"Gue udah duga. Dan gue juga tetap pada keputusan awal, yaitu nginap di sini dan booking lo sampai shift malam lo nanti berakhir."


Sontak mulut Amara ternganga lantaran tak percaya. Ia memperhatikan ekspresi Dimas yang tetap tenang dan tersenyum, lalu kepalanya bergerak menggeleng sambil menghela napas seolah-olah tak habis pikir.


"Mau Mas Dimas apa sih?" Amara bertanya heran dengan nada yang tegas. "Bisa-bisanya Mas Dimas mengajukan syarat yang bagi aku benar-benar berat? Aku cuma minta Mas Dimas pulang! Agar tidak buang-buang uang! Agar bisa beraktivitas seperti biasanya! Tapi kenapa malah minta aku resign sebagai timbal baliknya!" Amara diam sejenak setelah menyadari kesalahannya yang berucap dengan nada tinggi kepada suaminya. Ia memejamkan mata dan beristighfar di setiap helaan napas sebelum kemudian kembali melanjutkan bicara, tetapi kali ini dengan suara pelan dan bergetar.


"Mas Dimas tau, kan, menjadi perawat adalah cita-citaku sejak kecil. Impianku. Bagiku yang yatim piatu, mendapatkan ini bukanlah perkara gampang. Bagiku juga ini bukanlah sekadar profesi, karena niatku adalah menolong orang yang terluka dengan ilmu pengetahuan yang kumiliki. Ini hidupku, Mas. Ini mata pencaharianku."


Ia lantas meraih tangan Amara, meremas lembut jemarinya, dan menatap mata bening itu lekat-lekat sembari berucap.


"Gue nggak suka lo pegang-pegang orang lain. Gue nggak suka lo jadi bahan pandangan pria lain."


"Aku ini perawat, Mas, jadi merupakan hal wajar jika aku pegang-pegang orang yang aku periksa. Mereka mau memandangku seperti apa ya terserah mereka karena mereka punya mata. Mas ... boleh aku tau rasa nggak sukamu itu berdasarkan alasan apa?" Amara mempertegas tatapannya pada Dimas dan menunggu pria itu memberikan alasannya.


Sedangkan Dimas sendiri malah terlihat salah tingkah diperhatikan oleh Amara dengan tatapan seperti itu. Ia langsung membuang muka dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"Ya ... ya karena ... lo itu tercipta cuma buat ngerawat gue," jawab Dimas sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Yakin cuma itu?" desak Amara dengan ekspresi tidak puas.

__ADS_1


"Yakin lah!"


"Bukannya karena Mas Dimas merasa cemburu?"


Dimas nyaris tak percaya Amara berani bertanya demikian terhadapnya. Untuk sejenak ia bingung harus menjawab apa. Sementara Amara sendiri masih menunggunya untuk bicara.


"Iya, gue cemburu! Mau apa, lo?" Tiba-tiba Dimas berucap lantang sambil menatap tajam pada Amara. Ia bisa melihat wajah gadis itu merona merah. Matanya juga berbinar senang. Namun, Dimas merasa perlu memastikan suatu hal hingga ia kembali menegaskan arti sebenarnya dari kata cemburu yang ia maksudkan tadi.


"Gue cemburu lo pegang-pegang orang lain! Gue cemburu lo dilihatin orang lain! Dan gue cemburu kalau lo bercandaan sama orang lain! Lo itu cuma boleh merawat gue, Mar ... cuma gue. Gue bersedia gaji lo berapa pun yang lo minta."


Saat itu Dimas bisa menangkap dengan jelas ekspresi kecewa di wajah Amara. Walau gadis itu berusaha keras menutupinya dengan tetap bersikap tenang dan tersenyum getir, tetapi sorot matanya tidak bisa berbohong.


Seketika perasaan Dimas bercampur aduk jadi satu. Satu sisi ia bahagia bisa memastikan sendiri jika Amara mencintainya. Namun, di sisi lain, ia juga sedih sebab membuat gadisnya jadi kecewa. Ia telah menyakiti hati Amara, dan menarik ulur perasaannya. Akan tetapi ia bisa pastikan jika tak lama lagi mereka akan hidup bahagia sebagai pasangan suami istri yang sebenarnya.


Dimas mengembuskan napas panjang. Ia merasa beruntung memiliki istri yang baik hati dan sangat pengertian. Tadi ia sempat menggoda Amara hingga kekecewaan gadis itu berubah sebal lantaran malu. Sehingga Amara memutuskan buru-buru pergi sebelum Dimas benar-benar menerkamnya pagi itu.


Dimas hanya tertawa melihat cara Amara pergi meninggalkan dia. Gadis itu terlihat takut setiap kali ia menyinggung tentang malam pertama. Amara bahkan tidak tahu Dimas hanya menggodanya saja. Sebab Dimas sendiri merasa masih ada ganjalan tentang kehalalan hubungan mereka.


Dimas menyadari jika dirinya pernah meninggalkan Amara kendati dengan tujuan yang baik. Dan itulah yang membuatnya ragu dengan sah atau tidaknya pernikahan mereka. Dimas tidak ingin hanya karena nafsu ia dan Amara terlibat hubungan intim tanpa sebuah ikatan. Dimas tidak mau mereka berzina.


Dimas sudah memikirkan semuanya dengan matang dan tinggal menunggu realisasinya saja.


Ia meraih gawai tergeletak di sisi kiri, lalu membuka kunci layarnya dan mulai menghubungi seseorang. Setelah telepon bersambung, barulah ia berbicara pada seseorang di seberang sana.


"Ma. Bisa bantu Dimas untuk urus pernikahan Dimas sama Amara?"

__ADS_1


__ADS_2