Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Panggil Mama


__ADS_3

Seperti hari-hari sebelumnya, pagi ini Amara bangun awal dan beraktivitas di dapur bersama Eli. Tak ada yang berubah dari segi apa pun meski kini ia berstatus sebagai istri dan menantu keluarga ini.


"Masak apa hari ini?"


Amara dan Eli menoleh bersamaan kala mendengar suara wanita yang datangnya dari arah belakang. Keduanya spontan menghentikan kegiatan, lantas tersenyum begitu mendapati Amel yang tengah berdiri di pintu, lalu berjalan mendekat.


"Masak rendang daging, ayam rica-rica, gurame asam manis sama sayur sop, Bu. Amara juga baru selesai bikin sambal." Eli menjawab dengan menyebutkan menu-menu yang baru mereka siapkan. Ia juga melirik Amara sekilas tatkala menyebutkan namanya.


"Hemm, sepertinya enak. Udah lama aku nggak makan masakan Bi Eli. Jadi kangen, nih." Amel berujar sembari tersenyum pada Eli.


"Kalau gitu buruan sarapan, Bu. Mumpung masih anget."


"Sebentar, Bi. Nunggu papanya Dimas yang lagi mandi." Diam sejenak, Amel mengalihkan pandangan pada Amara yang sejak tadi hanya diam saja. Ia mengamati gadis yang tertunduk kaku itu dari ujung kaki hingga kepala sebelum kemudian melayangkan tanya.


"Amara, Dimas mana?"


Amara tersentak saat Amel tiba-tiba bertanya padanya. Gadis itu sontak mengangkat pandangan, lalu menjawab setengah gugup.


"Dari pagi tadi Mas Dimas sudah pergi, Nyonya. Tapi saya nggak tau perginya ke mana, soalnya Mas Dimas nggak pamit saya."


"Nggak pamit?" ulang Amel dengan ekspresi tak percaya.


"Iya, Nyonya. Mungkin Mas Dimas nggak sempat pamit karena terburu-buru, sedangkan saya berada di dapur."


"Kok Nyonya, sih? Panggil aku dengan sebutan Mama, dong."


"Oh, ma–maaf, Nyonya. Eh, maaf. Mama maksud saya." Amara membungkam mulutnya yang baru saja salah ucap menggunakan telapak tangan. Diperhatikan mertuanya, ia hanya bisa tersenyum kecut, sedangkan Amel menghela napas sambil menggeleng pelan.


"Amara ... Amara. Kamu ini sudah menjadi menantu di rumah ini. Jadi biasakanlah mulai dari sekarang, ya."


"Baik, Ma." Amara mengangguk patuh.


"Ikut Mama ke meja makan. Ada yang mau bicarakan sama kamu."


"Saya?" Gugup, Amara mengerjap tak percaya dengan tangan menunjuk diri sendiri. Matanya menatap Amel yang melangkah pergi serta Eli yang tengah tersenyum itu secara bergantian demi untuk memastikan.


"Ya jelas kamu to, Ndo', memang siapa lagi? Masa iya Bibi," terang Eli sembari tersenyum gemas. "Dah sana. Ikuti mertua kamu. Siapa tau mau dikasih wejangan." Eli mengedikkan dagunya ke arah pintu, memberi isyarat kepada Amara agar gadis itu segera berlalu.


"Tapi ... Amara kok deg-degan ya, Bik. Takut ...." Amara menggigit bibir bawah.


"Halah. Apa yang mau ditakutkan. Nyonya nggak doyan makan orang. Udah, buruan."


Akhirnya, meski dengan langkah berat, Amara sampai di ruang makan keluarga itu dan berjalan mendekat. Ia menatap takut-takut pada kedua mertuanya yang menempati dua dari sepuluh kursi pada meja makan besar itu dengan jarak berdekatan.


"Sini, Amara ... nggak usah takut-takut gitu." Amel berucap penuh penekanan. Ia bisa merasakan kehadiran Amara sekalipun tanpa melihatnya. Wanita itu tengah sibuk memindahkan nasi beserta lauk pauk ke piring sang suami.

__ADS_1


"Iya, Ma."


"Duduk," titah Amel saat Amara sudah dekat.


Gadis itu mengangguk patuh, lantas duduk menempati kursi di seberang Amel, sesuai dengan yang wanita itu perintahkan.


Tanpa banyak kata, Amel menciduk nasi dan menaruhnya pada piring kosong di hadapan Amara. Sontak saja Amara merasa tak enak hati. Mana ada mertua yang begitu terhadap menantunya.


"Kamu mau pakai lauk apa, Mar?" tanya Amel ramah karena melihat Amara yang tampaknya tak nyaman.


"Nggak usah, Ma. Biar Amara ambil sendiri aja."


"Nggak pa-pa. Sekali-kali Mama yang ambilkan sebagai penyambutan. Kamu ngapain masih takut-takut gitu, sih?" Amel mencebikkan bibir lantaran Amara masih tampak kaku meskipun ia sudah bersikap ramah dan melakukan pendekatan. "Anggap saja kami ini seperti orang tua sendiri. Bukannya orang tua kandung kamu sudah meninggal sejak kamu kecil?"


Amara tersenyum getir, lantas menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Amel.


"Bukannya takut, Ma. Cuma belum terbiasa," jelas Amara kemudian.


"Nah, kalau gitu mulai sekarang coba dibiasakan, ya. Anggap ini rumah sendiri. Terlepas dari saling cinta atau tidaknya kalian berdua, pernikahan kamu dan Dimas secara langsung mengikat kita menjadi keluarga. Jadi, mau bagaimanapun juga kamu adalah anak kami, iya kan, Pa." Amel melirik pada suaminya dan tersenyum dengan manja guna meminta persetujuannya. Karena sama-sama suka pada Amara, sontak saja pria itu manggut-manggut sambil mengacungkan jari jempolnya.


"Betul," ujar pria itu dengan mantap.


"Tuh, kan," Amel pula menegaskan. Wanita itu kembali meyakinkan Amara.


Entah apa yang harus Amara katakan untuk mengurai perasaannya. Menikah tanpa cinta, tetapi mendapatkan mertua sebaik mereka. Ini benar-benar dilema.


***


Matahari menukik turun ketika senja menunjukkan semburat jingga. Sebelum gelap datang memeluk malam, Amara mengunci jendela-jendela yang terbuka dan menutupnya dengan tirai.


Gadis itu hendak beranjak, akan tetapi tarikan di pergelangan tangannya berhasil membuat dia berjingkat dan nyaris berteriak. Namun, ketika mengetahui siapa pelakunya, gadis itu sontak menghela napas lega lalu menggeram kesal.


"Mas Dimas? Ngapain narik-narik tanganku gini, sih?" Amara terkejut bercampur heran karena Dimas membawanya berlindung di balik tembok ruang tengah.


Entah pria itu bersembunyi dari siapa hingga mengisyaratkan pada Amara untuk diam dengan menempelkan telunjuk ke bibirnya. Terang saja, Amara yang hendak mengomel terpaksa bungkam dan membungkam mulutnya sendiri.


"Ssttt. Jangan keras-keras. Nanti Mama dengar," bisik Dimas sambil celingukan menatap sekeliling.


Amara mengangguk tanda paham, lalu menurunkan tangannya yang berkelindan dengan bibir.


"Hari ini gue bahagia banget, Mar ... bahagiaaa banget." Dimas berucap seraya mencubit kedua pipi Amara gemas karena saking bahagianya. Matanya yang tampak berbinar kiat memperkuat auranya, hingga mau tak mau Amara ikut tersenyum karena ikut bahagia untuknya.


"Tebak, gue bahagia karena apa?" tanya Dimas lirih masih dengan senyuman yang mengembang.


"Emmm ... menang lotre?"

__ADS_1


"Ish, bukan!" Dimas geram menanggapi tebakan Amara yang dinilainya asal.


"Lah, terus apa? To the point aja, lah Mas. Otakku udah cukup pusing, jangan ditambah pusing lagi dengan main tebak-tebakan."


"Okay, okay, aku kasih tau langsung aja ya. Jadi gini." Dimas mulai menjelaskan, sementara Amara diam mendengarkan. "Tadi gue beraniin diri minta ketemuan sama Naura."


"Terus-terus?" tanya Amara dengan wajah antusias.


"Gue ceritain semuanya, dong. Dan lo tau gimana reaksi Naura?"


Amara sontak menggeleng.


"Dia ngertiin gue, Maaarrr ... dia maafin gue." Dimas mengguncang bahu Amara karena saking bahagianya. Hingga gadis itu untuk sejenak hanya mengerjap bingung, sebelum kemudian turut tersenyum senang untuk suaminya.


"Bagus, dong ... selamat ya, Mas," ucap gadis itu tulus.


"Makasih," balas Dimas dengan ceria. Seketika itu ia kembali mengisyaratkan Amara untuk diam setelah untuk sesaat ia hanyut dalam euforia kebahagiaan. Sedangkan Amara bersikap patuh dan kembali membungkam mulutnya.


Memperhatikan wajah Amara yang sepertinya juga terlihat bahagia, pada akhirnya Dimas pun menanyakan sesuatu hal pada gadis itu demi untuk memastikan.


"Kalau lo gimana. Udah ngomongin ini sama Juan?"


Seketika Amara terdiam. Ia langsung teringat seharian ini telah menghabiskan waktu bersama dengan Amel sebagai menantu dan mertua yang bahagia. Walau sejujurnya ia menganggap Amel seperti ibu kandungnya, tetapi tetap saja ia merasa tak enak hati pada Dimas.


Menatap Dimas dengan ekspresi penuh rasa bersalah, ia pun berucap lirih dengan wajah penuh sesal.


"Belum." Amara menggeleng lemah.


"Yah, kok belum? Seharian ini ngapain aja sih di dalam rumah?" Dimas bertanya dengan ekspresi kecewa, menatap Amara lekat-lekat menunggu gadis itu bicara.


"Ya, ngapa-ngapain, lah. Lagian aku juga nggak enak mau pamit sama Mama. Bingung gimana ngomongnya."


"Cie cie ... udah manggil nyokap gue dengan sebutan mama, pula. Cie cie ...," ledek Dimas sambil menunjuk wajah Amara. Suasana hati pria itu memang mudah sekali berubah-ubah. Sebentar-sebentar marah, sebentar-sebentar kecewa, tetapi juga mudah sekali tertawa. Terang saja Amara langsung menundukkan kepala demi menyembunyikan wajahnya yang malu-malu.


"Ya mau gimana lagi. Beliau sendiri yang maksa," tutur Amara sembari mencebik.


"Iya, iya, dipaksa. Tapi lo suka, kan ...?" tuding Dimas dengan alis mata yang di naik-turunkan.


"Ihhh Mas Dimas! Aku cuma–" Amara mengurungkan niatan mengomel lantaran Dimas tiba-tiba menyentuh puncak kepalanya. Awalnya ia berpikir pria itu hendak mengacak-acak jilbab dan menggoda seperti biasa. Namun, rupanya ia salah sangka. Dimas justru mengusap dengan lembut sembari tersenyum tulus.


"Baik-baik jadi menantu Mama enam bulan ke depan, ya. Kalau kita udah nikah, itu artinya dia nyokap lo juga."


Amara tak bisa menjawabnya dengan kata-kata. Hanya seulas senyum ambigu yang ia tunjukkan. Entah mengapa senyuman Dimas kali ini tampak berbeda dari biasanya. Dan diam-diam ia merasakan sesuatu yang menghangat di dalam dada. Entah itu apa.


Di saat keduanya hanyut dalam tatapan yang kian dalam, tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu yang seketika merusak momen mereka.

__ADS_1


"Dimas! Dari mana saja, kamu?"


__ADS_2