Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Cie cie


__ADS_3

"Sialan lo! Nggak bisa lebih hati-hati, apa!" Dimas mengumpat penuh kemarahan setelah berhasil mengeluarkan kacang dari dalam tenggorokannya.


Beruntung, kepanikan Ely tadi membuat Amara menyadari jika Dimas tersedak makanan dan dengan sigap segera memberikan pertolongan.


Namun, kali ini gadis itu harus menanggung kemarahan Dimas akibat kecerobohannya yang sebenarnya tak disengaja. Karena merasa bersalah, Amara hanya bisa diam dengan kepala tertunduk takut. Sedangkan tangannya tanpa sadar meremas ujung baju karena saking takutnya.


"Maaf, Mas ... aku nggak sengaja ...," lirih Amara. Hanya itu kata yang berhasil keluar dari mulutnya.


"Maaf-maaf. Lo pasti sengaja mau bikin gue celaka, kan!" tuduh Dimas sambil menuding wajah Amara.


"Demi Allah, enggak!" Amara cepat-cepat menyangkal sambil menunjukkan dua jarinya.


Dimas tampak meradang. Ia bahkan tak menghiraukan ucapan Ely yang berusaha menengahi, pun demikian dengan Amara yang mencoba menjelaskan.


Berusaha meredam amarahnya, Dimas yang semula berdiri kini kembali melabuhkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki tadi. Melirik sinis ke arah Amara, ia pun berkata, "Lo harus dapat hukuman yang setimpal."


"Apa!" Amara mendelikkan mata. Pikiran liar langsung menjalar di lobus frontalnya. Jika Dimas mengatakan ia harus mendapatkan hukuman setimpal, apakah itu artinya ia harus menelan kacang telur itu secara bulat-bulat juga? Begitulah yang dipikirkannya.


Tak ingin hal itu benar-benar terjadi, Amara sontak berlutut dan memeluk kaki Dimas, lalu mulai mengeluarkan jurus wajah mengibanya.


"Mas Dimas ampuni aku. Kasih aku hukuman apa pun asal bukan itu! Jangan paksa aku buat nelan kacang telur juga. Aku nggak mau tersedak, Mas. Aku masih muda, aku belum mau mati! Hutang aku masih banyak. Kalau mati nanti siapa yang mau bayarin ...!"


Dalam hati Dimas tertawa terbahak-bahak. Ia merasa puas karena aktingnya untuk menakut-nakuti Amara berjalan mulus lancar jaya. Namun, sebisa mungkin ia menahan diri agar tetap terlihat garang di mata perawatnya. Karena apa? Harga diri tetap yang utama.


"Eh, nggak bisa gitu, dong. Kamu tahu hukum alam, kan? Kamu juga pasti tau hukum karma!" tolak Dimas tanpa memandang muka. Padahal ia tengah berusaha menahan diri agar tidak meledakkan tawa. Semakin Amara ketakutan ia justru kian merasa senang.


"Mas, ampun ...," mohon Amara. Gadis itu mendongak, menatap Dimas dengan mata berkaca-kaca.


Tepat ketika itu, Dimas juga tengah menunduk dan menatap perawatan. Mata mereka pun bersirobok untuk sejenak, sebelum akhirnya Dimas membuang pandangannya.


Sial. Lihat Amara nangis gini kok gue jadi nggak tega ngerjain dia lama-lama. Dasar perempuan. Selalu saja menggunakan air mata mereka sebagai senjata, batin Dimas.


Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Dimas lantas berdeham pelan.

__ADS_1


"Bangun lo! Berasa jadi raja gue disembah-sembah gini," celetuknya dengan mimik sebal.


Sedangkan Amara bersikap patuh. Gadis itu langsung berdiri dan menunjukkan senyum secerah mentari. "Makasih, Mas," ucapnya kemudian.


"Iya. Gue maafin lo ini terpaksa banget, tau nggak!"


Mendengar itu mimik Amara sontak berubah murung. Gadis itu kemudian menunduk dengan wajah penuh sesal.


"Tapi tetep, lo kudu terima hukuman gue."


Amara sontak mendongak, dan menatap Dimas dengan wajah tak percaya. "Hukumannya apa, ya Mas?" tanyanya penasaran.


Dimas diam sejenak sembari berpikir. sedangkan Amara yang berdiri di depannya tampak memperhatikan dengan seksama. Tepatnya menunggu hukuman apa yang akan Dimas berikan untuknya nanti.


"Hah, entar aja lah," desah Dimas sambil memutar tubuh menghadap meja. "Gue mau sarapan biar ada energi. Dalam keadaan laper gini gue susah mikir."


"Owh," balas Amara sambil menganggukkan kepala.


"Kok cuma owh?" protes Dimas dengan tatapan sinisnya.


"Layani gue, lah!"


Amara mengerjapkan mata. Menatap Dimas dan hidangan di atas meja, ia mengerti harus melakukan apa.


"Baik, Mas." Amara mengangguk patuh. Kemudian dengan cekatan memindahkan nasi lengkap dengan sayur dan lauk ke dalam piring makan Dimas. Setelahnya, ia menaruh itu tepat dihadapan pria itu. "Silahkan ...." Ia berucap dengan nada ceria.


Memasang ekspresi datar, Dimas menatap hidangan itu sejenak, lalu berpindah ke wajah Amara. "Gitu doang?" tanyanya dengan nada meremehkan.


Bibir Amara sedikit ternganga. Bola matanya juga melebar saat menatap pasiennya. Ia kemudian kembali memperhatikan piring makan Dimas, dan menurutnya semuanya sudah lengkap tersaji di sana. "Memangnya apa lagi yang kurang sih, Mas?" tanyanya setengah kesal.


Dimas sengaja menghentakkan kedua tangan, bersikap seolah-olah sedang pegal. "Suapi gue. Tangan gue lagi kesemutan, jadi nggak bisa dipake buat makan."


Amara mendelikkan mata. Ia menatap Dimas setengah tak percaya. Namun, karena tatapan Dimas yang terarah sinis terhadapnya, mau tak mau ia pun mengangguk patuh demi menghindari tingkah absurd pria itu.

__ADS_1


"Hehe, baik Mas. Pasti aku suapi dengan senang hati," ucapnya dengan senyuman yang dipaksakan.


***


Usai menyuapi Dimas dengan segala kerewelannya, Amara bergegas membersihkan diri dan berpenampilan rapi seperti biasanya. Hari ini adalah jadwal ke rumah sakit untuk menyerahkan laporan kesehatan Dimas. Segala berkas yang di butuhkan sudah ia persiapkan sejak kemarin. Hanya perlu tambahan sedikit untuk hari kemarin.


Andai saja kehadiran Naura tak berpengaruh pada keadaan psikis Dimas semalam, laporan kali ini adalah laporan terbaik mengenai kesehatan Dimas selama dalam perawatannya. Hal itu tentunya berpengaruh pula pada jangka waktu ia merawat Dimas.


Namun, karena kejadian itu mau tak mau ia harus menuliskan pula hal itu dengan sebenar-benarnya demi kebaikan Dimas. Maka ia pun terpaksa harus berada di samping pria itu lebih lama lagi. Tentunya dengan menyiapkan rasa sabar seluas lautan.


Jam tangan yang sudah menunjukkan angka sembilan membuatnya harus buru-buru berangkat. Ia sudah janji dengan Dokter Khanza akan datang pukul sepuluh, tentu saja tidak enak jika sampa datang terlambat dan membuat wanita itu menunggu.


Tepat ketika melangkah dengan tergesa-gesa keluar dari kamar, saat itu pulalah Dimas keluar dari ruang kerjanya. Pria dengan balutan jas semi formal itu tampak membetulkan jam tangannya. Melihat kehadiran Amara yang terlihat terburu-buru, ia pun tergelitik untuk bertanya.


"Ngapain lo kelihatan kacau gitu?" Menelusupkan jemari ke dalam saku celana, ia memperhatikan Amara yang sibuk dengan tas jinjingnya. Sedangkan ketiak tampak mengapit berkas-berkas yang dikemas dalam sebuah map.


"Aku udah telat banget ini, Mas. Lagi buru-buru," jelas Amara tanpa menghentikan kesibukannya. Ia kemudian berhenti saat menyadari sesuatu hal. Memperhatikan penampilan Dimas yang sudah rapi, ia pun mengerutkan kening sebelum akhirnya melayangkan tanya. "Mas Dimas sendiri mau ke mana?"


"Mau ketemuan sama Juan di lokasi. Maklum, lah. Dia kan klien pertama setelah gue sembuh, jadi gue harus baik-baikin dia, dong," ucapnya dengan senyum bangga.


"Cie cie, yang sekarang udah akur," goda Amara sambil menyunggingkan senyum.


"Akur karena ada maunya. Kalau nggak ada mah ogah baikin dia. Apa'an. Cowok nggak ada gentle-nya sama sekali. Nembak cewek aja nggak berani," sindir Dimas dengan nada meremehkan.


Amara mencebik. Bagaimanapun ia paham akan apa yang Dimas maksudkan. Namun, ia pun tak mungkin melimpahkan kesalahan pada Juan karena tak mau menyatakan cintanya duluan. Ia paham betul, sahabatnya itu tak ingin merusak kebersamaan mereka dengan kata cinta yang tergesa-gesa. Terlebih, sebelumnya ia sendirilah yang menginginkan agar mereka bersahabat selamanya.


"Kalau memang dia itu cowok peka, harusnya ngerti lah. Kan gue udah kasih kode keras kau elo itu juga suka sama dia!" imbuh Dimas dengan nada menggebu-gebu. Ia diam sejenak, lalu menatap Amara dengan mata menyipit. "Kenapa lo manyun-manyun gitu? Cie cie, yang lagi nunggu untuk ditembak ...."


"Ih, apa sih Mas Dimas!"


Plak!


"Aduh!" Dimas mengaduh saat tangan Amara mendaratkan pukulan gemas tepat di lengannya. "Sakit, tau Mar!"

__ADS_1


"Makanya jangan suka ledekin orang!"


__ADS_2