Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Ketahuan


__ADS_3

Dimas hanya bisa tertawa melihat istrinya kalang kabut kebingungan. Amara memasang jilbabnya dengan tergesa sambil ngomel-ngomel kepada dirinya.


"Makanya, kalau ada orang mau bangun itu jangan dilarang! Jadinya gini, kan ... aku telat."


"Lo yang telat bangun ngapain gue yang disalahin? Bilang aja kalau lo nya yang keenakan tidur jadinya susah bangun." Masih sambil tertawa, Dimas berkelakar. Tentunya hal itu membuat Amara kian sebal.


"Amara, Amara." Dimas berdecak. "Nggak usah segitunya juga kali, Mar. Lo takut apa sih sampai segitu paniknya?"


Bukannya menjawab pertanyaan Dimas, Amara yang sudah selesai mengenakan jilbab, justru menatap suaminya dengan ekspresi kesal.


Lihatlah pria itu. Bisa-bisanya Dimas begitu santai selonjoran di ranjang sambil melipat tangan di depan dada, sementara dirinya, panik bukan kepalang.


"Mas Dimas nyebelin!" Akhirnya Amara hanya bisa mengumpat, walau sebenarnya ingin menyerang Dimas untuk melampiaskan kekesalan. Namun, sayangnya dia tak memiliki cukup keberanian. Lalu tanpa kata lagi ia beranjak dari sana, meninggalkan Dimas yang masih saja menertawainya.


Sesuatu di luar dugaan pun terjadi. Kalina sudah berdiri di depan pintu kamar Dimas ketika Amara membukanya. Gadis itu tidak sendirian. Di sisi kiri dan kanan agak ke belakang berdiri pula beberapa orang teman perawat yang lainnya.


Amara tercekat hingga hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya. Ia menelan ludahnya susah payah. Bayangan buruk langsung hinggap di kepala menyadari tatapan sinis dari teman-temannya. Dan kini ia hanya bisa pasrah ketika Kalina menyeretnya entah ke mana.


***


Sepintar-pintarnya orang menyimpan bangkai, aroma busuknya pasti akan tercium juga. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti bisa terjatuh juga. Begitu pula dengan Amara. Meski dia sudah berusaha menyimpan rapat, perbuatannya yang disembunyikan akhirnya tercium juga oleh teman-temannya. Amara sudah ketahuan.


Dimas memang meminta pelayanan kesehatan secara pribadi. Tidak butuh perawatan medis ataupun Dokter spesialis. Tak menginginkan kunjungan visit dalam bentuk apa pun juga. Yang dia inginkan hanyalah Amara.

__ADS_1


Meski pihak administrasi dan yang terkait sudah menjaga privasinya, tetapi ternyata hal itu tetap memicu kecurigaan para perawat yang mengetahui keberadaan Dimas. Terlebih lagi dengan seringnya Amara menghilang di waktu-waktu tertentu. Sehingga beberapa orang di antara mereka bergerak menyelediki Amara secara diam-diam, entah itu sejak kapan.


Amara tak bisa berkelit lagi. Ia hanya bisa tertunduk dalam, menggigit bibir bawah dan meremas ujung pakaian dinasnya. Ia layaknya terdakwa yang duduk di kursi pesakitan.


Sementara di depannya, Kalina berdiri sambil menunjukkan layar ponsel, di mana di sana terpampang jelas beberapa fotonya tengah tidur berpelukan bersama dengan Dimas, tanpa jilbabnya.


Dari foto yang ditunjukkan oleh Kalina, Amara meyakini jika gadis itu mengambil gambar mereka tepat tadi malam. Ia menyadari kecerobohannya yang terlupa mengunci pintu.


"Mau mengelak lagi? Mau bantah lagi!" Kalina membentak Amara yang duduk di depannya. Gadis itu tersentak, tetapi tak mengeluarkan sepatah kata pun sebagai pembelaan. Ia memang sengaja membawa Amara ke sebuah gudang, agar penghuni rumah sakit yang lain tidak mendengar keributan yang mungkin saja tercipta.


"Gaya-gaya pakai jilbab. Tapi kelakuan busuk seperti Lac*r. Apakah iman kamu nggak cukup kuat sampai-sampai tergoda hanya karena pria tampan."


"Mbak, tolong jaga bicara Mbak! Saya nggak kayak gitu!" Amara akhirnya angkat bicara. Ia mengangkat kepala, memandang Kalina dengan sorot menantang.


"Nggak seperti itu bagaimana!" sahut Kalina dengan nada lebih tinggi. "Ini jelas-jelas kamu, Amara! Kamu dengan pria itu!" Kalina menjeda ucapannya dan mengembuskan napas kasar. Ia lantas mendekatkan wajah ke arah Amara dan menatap gadis itu dengan sinis.


"Ini rumah sakit, Amara. Ini tempat umum. Tempat pelayanan kesehatan yang seharusnya dijaga nama baiknya! Bukannya dijadikan tempat mesum dengan pria tampan kaya raya! Kamu mau, kami adukan ke dewan direksi agar kamu dipecat sekarang juga!"


Amara menggeleng cepat lalu menangkupkan kedua tangannya. Sorot kemarahan yang sempat menghias wajahnya tadi seketika menguap, hilang berganti dengan wajah pilu dan ketakutan setelah Kalina menebarkan ancamannya.


"Plis jangan, Mbak. Aku mohon jangan dilaporkan." Amara memohon dengan wajah mengiba.


Bukan. Bukan nama baiknya yang menjadi bahan pertimbangan. Tetapi nama Dimas. Pria itu pasti akan terbawa ke dalam masalahnya.

__ADS_1


"Kenapa?" Kalina tersenyum angkuh sambil bersedekap dada. "Kamu takut nama baikmu buruk? Atau justru mengkhawatirkan pria itu?"


Amara beranjak dari tempatnya penuh kepanikan. "Mbak, aku mohon jangan laporkan kasus ini. Aku janji, bakal lakuin apa pun yang Mbak minta."


"Oh ya?" Kalina menyipitkan mata. Ia lantas memindai penampilan Amara dari ujung kaki hingga kepala sebelum kemudian menunjukkan seringai di bibirnya.


"Lepas jilbab kamu!"


Sontak Amara terperangah. Bola matanya spontan melebar karena tak menyangka, tangannya pun refleks menggenggam erat kain jilbabnya, seolah-olah tengah mempertahankan kain itu sekuat tenaga.


"Enggak. Enggak akan, Mbak." Amara menggeleng mantap dan bergerak mundur satu langkah.


"Oke. Kalau gitu aku yang bantu buka!" Kalina mendorong tangannya hendak meraih jilbab Amara. Namun, gadis itu tak sadar telah melakukan kesalahan besar.


Karena saking bersemangatnya menghakimi Amara yang dinilainya bersalah, ia tak menyadari suasana tempat itu yang semula riuh mendadak hening. Beberapa teman yang awalnya ikut menghakimi Amara kini bungkam dan bergerak menjauh.


Kalina begitu bersemangat untuk memberikan hukuman terhadap Amara. Bibirnya menyeringai. Tangannya sudah mendapatkan ujung kain jilbab yang kenakan Amara. Namun, ketika ia hendak menariknya, pergerakannya tertahan oleh sebuah cekalan di lengan kanannya.


Kalina terkejut. Ia refleks menatap sesuatu yang menggangu tangan kanannya dan seketika membelalak mendapati lengan kokoh sudah bertengger pada tangannya.


"Jangan sentuh istri saya." Pria itu berucap penuh penekanan. Ada kilatan di matanya menatap Kalina, seolah-olah pria itu tengah dikuasai oleh amarah hingga menebarkan ancaman yang mematikan.


Bukan hanya Kalina yang terkejut. Amara bahkan sampai membungkam mulutnya yang sedikit ternganga karena saking terkejutnya.

__ADS_1


Kalina meringis merasakan nyeri pada lengannya. Pria yang tiba-tiba muncul tanpa diduga itu mencengkeramnya dengan sangat kuat. Pria yang sempat ia ambil fotonya itu melepaskan ujung jilbab Amara dari tangannya dengan paksa. Lalu kemudian ia menarik tangan Amara dan membawa gadis itu ke dalam dekapan. Tangan kanannya membelai lembut punggung Amara seolah-olah menenangkan, bibirnya mendaratkan sebuah kecupan di kening, sekalipun tatapan tajam pria itu tetap terarah menusuk kepadanya.


__ADS_2