
"Mas Dimas?"
Langkah Amara tercekat. Gadis itu tercengang, menatap Dimas dengan ekspresi terkejut luar biasa. Bukan karena pria itu pulang cepat tanpa pemberitahuan. Melainkan wajah memar serta sudut bibir yang terluka. Tak salah lagi, berarti Dimas baru saja mengalami situasi yang tak mengenakkan hari ini.
"Mas Dimas kenapa bisa begini?" Panik, Amara bergegas menghampiri Dimas dan duduk di sisinya. Pandangannya terpancang pada wajah Dimas yang terluka, sedangkan tangannya sibuk meraba bagian yang sakit hingga tak menyadari tatapan nyalang sang suami. Tak tahu sebetapa marahnya pria itu terhadapnya.
"Mas Dimas jangan ke mana-mana. Aku akan kembali dengan kotak obat."
"Tunggu." Dimas menarik tangan Amara dengan cepat, menahan gadis itu untuk beranjak.
"Mas, aku mau ambil kotak obat." Masih belum juga mengerti bagaimana suasana hati Dimas, Amara mengabaikan perkataan pria itu dengan kembali bangkit hendak mengambil kotak obat. Namun, bukan Dimas namanya jika tak berhasil menghentikan Amara.
"Gue bilang tunggu ya tunggu! Duduk lo! Gue cuma mau minta waktu lo sebentar doang!"
Terkejut sekaligus heran oleh bentakan Dimas, pada akhirnya Amara memilih bersikap patuh dengan kembali duduk di tempatnya. Ekspresinya berubah total. Dari yang semula khawatir akan keadaan Dimas, kini menjadi takut bercampur bingung. Amara bukannya lantas bertanya demi menghalau rasa penasaran yang menguasai diri, melainkan diam memperhatikan Dimas dan menunggu apa yang pria itu ingin katakan.
"Dari mana aja lo barusan?" tanya Dimas dengan tatapan penuh selidik ke arah Amara.
"Emmm ... aku ...." Amara terlihat salah tingkah dan bingung mau menjawab apa. Dari sikap yang Dimas tunjukkan dari awal ia datang, Amara bisa menyimpulkan jika pria itu tengah dalam situasi sangat marah. Entah pada siapa. Dan jika kali ini ia sampai salah menjawab, Amara khawatir Dimas akan semakin marah.
"Dari ketemuan sama Juan, kan? Seperti biasanya, kan?"
Melihat Dimas bertanya sembari tersenyum, jelas saja Amara langsung mengangguk sembari tersenyum. Namun, Dimas bisa menilai jika senyum gadis itu terlihat ambigu. Bahkan Amara sendiri cenderung membuang muka dan enggan menatap matanya. Dimas sangat yakin jika kali ini Amara tengah berusaha berbohong padanya.
"Owh, gitu." Dimas mengangguk paham sebelum kemudian kembali bertanya. "Gimana kabarnya Juan? Habis ngapain aja tadi kalian berdua?"
Amara terdiam. Ia menatap Dimas dengan seksama dan kini mulai menilai jika pria itu tengah menelisik dirinya. Ekspresi Dimas kali ini begitu berbeda dari biasanya, dan hal itu benar-benar membuatnya khawatir sekaligus takut.
"Mas Dimas kenapa? Siapa yang udah bikin Mas Dimas babak belur seperti ini?" Pada akhirnya Amara memutuskan untuk bertanya meski dengan nada hati-hati.
"Lo mau tau siapa yang bikin gue kayak gini? Beneran mau tau?" bentak Dimas sembari menunjuk wajahnya sendiri, sedangkan Amara hanya bisa terdiam dengan ekspresi wajah tegar sekalipun hatinya sakit mendapat bentakan.
__ADS_1
"Juan yang udah bikin gue kayak gini! Puas lo?"
Amara tergemap. Meski di awal ia sudah menerka-nerka, tetapi tetap saja penuturan Dimas membuatnya tak bisa berkata-kata.
"Kenapa diam? Lo puas udah bohongin gue selama ini?"
Tertunduk lemah, Amara hanya bisa menggelengkan kepala.
"Maksud lo apa bohongin gue? Mau lo apa?"
Amara lagi-lagi menjawabnya dengan gelengan kepala.
Dimas menggeram frustasi. Pria yang terlihat kacau itu mengacak rambutnya sendiri. Mengusap wajahnya dengan kasar, ia lantas mengangguk mantap seolah-olah telah memutuskan sesuatu dengan pasti.
"Gue nggak suka kebohongan. Gue nggak suka pengkhianatan!" Sembari bangkit dari duduknya, Dimas berucap tegas penuh penekanan. Kilatan kemarahan kian kentara dari netra.
Amara sontak menyusul berdiri dengan wajah penuh sesal dan kesedihan. Sembari memegangi lengan Dimas, ia pun berusaha menjelaskan.
"Mas aku bisa jelasin semuanya. Aku nggak berniat bohongin Mas Dimas."
Amara sontak membulatkan bola mata dan menatap Dimas dengan ekspresi tak percaya.
"Mas Dimas." Amara menggeleng tak terima sebelum kemudian meraih jemari pria itu dan menggenggamnya dengan erat. "Kamu nggak serius dengan ucapanmu barusan, kan? Aku tau kamu emosi, tapi ... tapi nggak harus gini juga, kan."
"Keputusanku udah bulat, Amara ... ini udah nggak bisa diganggu gugat!"
"Tapi Mas–" Amara menggantung ucapannya sebab kehabisan kata-kata. Ia bahkan kian panik sebab Dimas tiba-tiba beranjak dari sana. "Mas Dimas, tunggu! Mas aku minta maaf ...!" Amara berteriak sembari mengikuti Dimas yang berjalan cepat menuju kamar.
Tak patah arang, ia terus membujuk dan berusaha menggagalkan keinginan Dimas. Ia berusaha menahan pria itu untuk berkemas. Namun, nihil. Dimas begitu teguh dengan pendiriannya. Air mata Amara bahkan tak dihiraukannya.
"Mas ... aku mohon. Mari kita bicarakan ini baik-baik dan dengan kepala dingin. Aku tau pada akhirnya kamu akan pergi dan kita akan berpisah. Tapi nggak dengan cara menyakitkan kayak gini, Mas ...! Aku mohon, dengerin penjelasan aku dulu ...!"
__ADS_1
Dimas menghentikan langkah ketika Amara bersimpuh memeluk kakinya. Jujur, ia begitu membenci momen-momen seperti ini. Hatinya seperti remuk tak berbentuk, lebih-lebih lagi melihat tangisan Amara yang kian sedu sedan. Tapi bagaimanapun juga ia harus melakukan ini demi sesuatu hal.
Dan tanpa sepengetahuan Amara, tangan Dimas bergerak mengusap wajahnya yang sempat basah oleh titik air mata. Menghela napas dalam untuk menetralkan perasaan, ia lantas membungkukkan badan untuk menangkub bahu Amara sebelum akhirnya ia berbicara.
"Plis, Mar ... gue harus pergi. Gue udah terlanjur kecewa sama lo. Gue harap lo bisa ikhlasin gue, ya," tutur Dimas sembari mengusap lembut wajah Amara. Berbeda dengan sebelumnya, Dimas kini tampak menyunggingkan senyum meski hal itu sama sekali tak akan mengubah keputusannya.
Gadis itu balas menatapnya. Wajahnya kian basah, sedangkan matanya mulai sembab. Masih dengan tangis sesenggukan, Amara menguatkan diri untuk bicara.
"Mas ... demi Allah aku nggak bermaksud membohongimu .... Aku punya alasan sendiri untuk itu ...!" terangnya dengan nada merengek dan tatapan penuh harap.
Dimas sendiri tak bisa berbuat apa-apa selain berupaya menenangkan Amara. Ia pun memiliki alasan tersendiri hingga memilih jalan ini.
"Mungkin udah jalannya kayak gini, Mar. Gue minta elo ikhlas. Lupain perjanjian waktu itu. Nggak usah peduliin perasaan orang tua gue. Lo berhak mendapatkan kebahagiaan, Mar. Rasanya nggak adil kalau lo menderita terus. Gue gini juga demi kebaikan, lo kok. Udah ya ...."
Dimas bangkit usai mengusap puncak kepala Amara, lalu kemudian berjalan sambil menarik koper berisi barang-barang penting miliknya. Mobil melesat pergi, pertanda jika Dimas benar-benar meninggalkan Amara sendiri.
***
"Dimas?"
Amel yang membuka pintu tampak terkejut mendapati putranya tengah berdiri di depan mata dengan penampilan kacau dan wajah penuh kesedihan. Tak langsung mendapatkan balasan kata dari putranya, ia lantas menggeser pandangan ke sisi kiri, di mana sebuah koper besar milik Dimas itu berada.
Mengembalikan pandangan pada putranya yang masih bergeming tanpa ekspresi, Amel tahu putranya tidak dalam situasi baik-baik saja saat ini. Bagaimanapun juga Dimas adalah putra kandungnya. Entah seberapa besar Dimas telah membuat hatinya sakit, tapi tetap saja ia merasa iba dan prihatin melihat putranya seperti ini.
"Dimas, apa yang terjadi, Nak?"
"Ma–" Dimas tak melanjutkan kata-katanya. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan.
Amel merentangkan tangannya lebar-lebar untuk menerima dan menyambut putranya pulang. Karena bagaimanapun besarnya kesedihan sang putra, ibu adalah tempatnya pulang untuk mengadu.
"Cerita pada Mama, Nak. Mama pasti akan mendengarkan."
__ADS_1
Benar saja. Tangis Dimas pecah ketika melabuhkan tubuh pada pelukan sang Mama. Pria itu terlihat tak seperti biasanya, begitu rapuh dan porak-poranda.
"Aku udah nyakitin hati wanita yang aku cinta, Ma! Sekarang aku nggak ngerti harus berbuat apa."