Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Bisa, kan?


__ADS_3

Amara baru merebahkan tubuhnya di sofa saat Dimas datang dari ruang kerjanya.


"Lo belum tidur?" tanya pria itu sambil mengunci pintu kamarnya. Hal itu memang selalu mereka lakukan sejak Amel memaksa keduanya tidur satu kamar. Tentu saja demi menghindari terbongkarnya rahasia jika mereka tidur terpisah.


"Belum. Baru selesai salat sunah." Amara menjawab datar.


"Dih rajin amat ibadahnya," goda Dimas sambil melangkah menuju ranjang.


"Ya iya, lah. Biar sama Allah dikasih jodoh yang baik dan beriman," jawab Amara dengan nada sombong dan penuh keyakinan.


"Kok ciri-cirinya mirip gue?" celetuk Dimas dengan mata membulat, bersikap seolah-olah tengah terperangah.


"Mirip Mas Dimas? Ih, sorry, ya. Mirip Juan sih iya."


"Cih! Juan." Dimas berdecih. "Apaan. Cowok nggak tegas gitu."


"Hey, dia tegas, ya!" seru Amara dengan nada tak suka. Ia merasa tak terima jika Dimas mengatai Juan. Tubuh gadis itu sontak melenting bangun dan duduk menghadap Dimas dengan air muka tak bersahabat.


"Juan itu baik, penyabar, penyayang, ramah, paling mengerti aku, dan nggak pelit."


"Hey! Jadi lo pikir gue ini pelit!" Kini Dimas pula yang terlihat tak terima.


"Loh, Mas Dimas kenapa nyolot gitu? Ini aku ngomongin Juan, loh ya. Kenapa Mas Dimas yang nggak terima. Ish, ish, ish ... semenjak nikah kok jadi perasa gitu, ya?" Amara berdecak dengan seringai mengejek di bibirnya.


"Perasa pala lo. Ya iyalah, orang lo sengaja nyindir gue!"


"Ya ampun, jadi Mas Dimas tersinggung karena aku bilang gitu?"


"Iya, lah. Belum nikah aja gue udah royal. Apalagi udah nikah! Berapa pun yang lo minta bakalan gue kasih, tanpa banyak bacot!" Dimas berucap penuh penekanan di akhir kalimat.


"Nggak usah. Aku nggak mau uang Mas Dimas."


Mendengar perkataan itu terlontar dari bibir istrinya, jelas Dimas tak terima. Entah mengapa, harga dirinya sebagai seorang suami seperti diinjak-injak sekalipun tidak adanya rasa cinta. "Hey, jaga ucapan lo, ya! Dosa tau nggak. Istri itu nggak boleh nolak nafkah dari suami. Bisa kualat entar!"


"Mas Dimas nyumpahin aku?"


"Enggak."

__ADS_1


"Barusan tadi apa?"


"Itu cuma wejangan. Sama, kayak kata-kata Mama tadi sore."


Amara sontak terdiam. Sejenak ia berpikir tentang ucapan Dimas baru saja, dan pada akhirnya ia sadar, kata-kata pria itu memang ada benarnya.


Namun, ia enggan mendebatkan ini lebih jauh mengingat status pernikahan mereka yang masih siri, terlebih tanpa adanya rasa cinta. Malahan selama pernikahan hanya perpisahan saja yang selalu direncanakan. Apakah ini yang dinamakan pernikahan? Batin Amara bertanya-tanya.


"Udah, ah Mas. Aku mau tidur. Udah malam. Ngantuk." Amara merebahkan tubuhnya usai berkata. Gadis itu memposisikan diri miring ke kanan, membelakangi Dimas yang duduk di ranjang, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut tebal hingga sebatas dada. Ia bahkan sama sekali tak khawatir Dimas akan bertindak buruk terhadapnya, sebab dalam hati ia sangat yakin dan percaya pria itu akan menjaga martabatnya sebagai wanita.


"Kebiasaan. Kalau lagi debat pasti sukanya kabur. Pakai alasan ngantuk, lagi," sindir Dimas pada Amara, tetapi gadis itu masih bergeming tanpa suara.


Dimas memiringkan kepala, memperhatikan tubuh gadis itu dengan seksama. Amara sudah tak bergerak, hanya napasnya yang terlihat teratur.


"Mar, lo beneran udah tidur?"


Hening. Tak ada sahutan. Karena tak tahan lagi diabaikan begini, Dimas pun bangkit dan berjalan cepat ke arah sofa panjang tempat Amara tidur.


"Mar, bangun dong, gue mau ngomong." Dimas mengguncang bahu Amara. Tubuh pria itu membungkuk demi bisa melihat wajah istri sirinya.


"Hey, otak lo jangan mikir ngeres dulu!" tegas Dimas dengan nada tak terima. "Bangun! Gue mau ngomong bentar!" titahnya lagi, lantas duduk di sofa mengambil posisi di bawah kaki Amara.


Sedangkan Amara, gadis itu mau tak mau bangkit dari baring dan duduk dengan punggung menyandar.


"Ngomong apa, sih?" tanyanya malas sambil mengucek-kucek mata.


"Matanya melek dulu. Biar nggak berasa mimpi ngomong sama orang ganteng."


"Ihhh, aku belum tidur, tau!" ketus Amara tak terima.


"Owh, belum ya? Gue kira udah mimpi, hahaha."


"Buruan mau ngomong apa," ujar Amara tak sabaran.


"Jadi gini." Dimas memasang mimik serius, lalu mulai menjelaskan maksudnya yang baru terlintas di kepala. "Gara-gara kejadian sore tadi, gue jadi kepikiran sesuatu tau nggak."


"Hemm. Apa?" Amara menautkan alisnya.

__ADS_1


"Lo bilang tadi apa? Mau keluar tapi sungkan buat pamit sama Mama?"


Amara mengangguk.


"Gue tau, perasaan sungkan itu nggak enak."


"Terus?"


"Gue ada ide."


"Apa?" tanya Amara dengan sikap seperti menantang.


"Gimana kalau kita tinggal terpisah dengan Mama?"


"Hah?" Amara sontak membulatkan mata, lalu setelah itu ia mengangkat sudut kiri bibirnya hingga membentuk sebuah seringai meremehkan. Suatu pemikiran negatif langsung hinggap di kepalanya saat itu juga.


"Buat apa mau misah dari mama? Pasti modus ini. Biar bisa kencan sama Naura sepuasnya tanpa ketahuan Mama, kan?"


"Eh, pikiran lo buruk mulu. Ini tuh buat kebaikan kita, tau."


"Kebaikan yang mana, coba?" tanya Amara dengan senyum meremehkan.


"Memangnya lo nggak pengen ngerasain kebebasan di rumah sendiri? Nggak diatur-atur orang lagi sekalipun itu mertua lo sendiri?" Dimas diam sejenak. Ia memperhatikan ekspresi Amara sebelum melanjutkan lagi perkataannya.


"Rencana, gue mau beli rumah baru. Nggak usah yang gede karena kita nggak bakal sewa pembantu. Karena apa? Biar rahasia kita nggak ada yang tau. Kalau bersih-bersih rumah jadi tanggung jawab Lo, sepertinya nggak ada masalah, kan? Toh, gue lihat selama ini lo pinter berbenah rumah. Kita beli rumah dengan dua kamar biar nggak tidur barengan. Jadi, meskipun tinggal serumah, kita tetep punya privasi masing-masing yang harus dijaga, kan? Gue bakal kasih kebebasan buat lo mau ngelakuin apa aja. Lo mau balik kerja lagi, kek. Mau cuma tiduran di rumah, atau mau seharian nongkrong di pengkolan depan nungguin kang bakso lewat, tapi ... tetep. Ada aturan yang harus ditaati, dan yang pasti, harus saling menghargai. Dari pada diem terus di rumah dan nggak ngelakuin apa-apa, bukannya lebih seru kalau lo balik jadi perawat rumah sakit lagi dan ngumpul sama temen-temen?" ujar Dimas dengan nada menggoda sambil memainkan alisnya.


Sontak saja Amara membulatkan mata. Godaan setan macam apa ini? Diberi kebebasan? Dibolehin kerja lagi? Ah, mata Amara langsung berbinar senang kala terbayang indahnya kebersamaan bersama teman-teman. Terang saja gadis itu jadi senyum-senyum sendiri lantaran berangan.


"Hey!" Dimas menjentikkan jarinya di depan wajah Amara. Terang saja gadis itu berjingkat dan senyuman di wajahnya seketika lindap. "Ngapain lo senyum-senyum sendiri? Pasti lagi ngayal, ya?" tuding Dimas.


"Hehe," cengir Amara.


"Gimana? Suka nggak, suka nggak? Ya jelas suka, lah! Lo mau, kan?"


Sontak Amara mengangguk cepat. "Mau mau!" jawabnya antusias.


"Tapi ... lo harus bujuk mama biar kasih kita izin beli rumah. Bisa, kan?" bisik Dimas dengan nada nakal tepat di telinga Amara.

__ADS_1


__ADS_2