
Berusaha mewaraskan otak dari pikiran liar, Dimas berjalan cepat menuju balkon kamarnya dan meninggalkan Amara sendirian di atas ranjang. Napasnya memburu. Jantungnya bertalu-talu. Sedangkan tangannya mencengkeram erat teralis pagar balkon.
Entah setan mana yang merasukinya hingga Dimas hilang kendali dan berkeinginan mencium bibir ranum Amara tanpa bisa ditahan lagi.
Dimas mengacak rambutnya dengan kasar. Bayangan kejadian beberapa menit lalu masih enggan beranjak dari pikiran.
Tadi, Dimas masih sadar jika Amara adalah milik Juan. Ia hanya suami sementara yang akan menceraikan dia setelah pernikahan berumur enam bulan. Ia masih sadar jika dirinya sama sekali tak memiliki hak atas Amara dan hingga detik itu masih berupaya menjaga kesuciannya.
Namun, kesadarannya mendadak buyar oleh sentuhan tanpa sengaja dari tangan Amara yang membuat juniornya di bawah sana meronta-ronta.
Dimas adalah pria normal. Ia juga memiliki nafsu dan hasrat. Lebih-lebih pada wanita secantik Amara meski gadis itu mengenakan jilbab.
Saat itu Dimas sedang berusaha menarik tangan kirinya. Tentu saja dengan gerakan perlahan agar tidak menggangu kenyamanan Amara. Ah, sialnya gadis itu terusik. Amara malah melakukan pergerakan dengan semakin mengeratkan pelukan.
__ADS_1
Awalnya Dimas hanya bisa membeku dan membelalak karena bingung. Ia tak ingin Amara bangun. Maka Dimas sengaja menghentikan pergerakan demi tidak ketahuan.
Saat dirasanya jika tidur Amara kembali pulas, Dimas kembali bergerak dengan mengangkat tangan kiri Amara, berniat untuk memindahkan. Namun, Amara justru menarik tangannya sambil berbicara tidak jelas. Dimas sengaja menurunkan kepalanya demi bisa melihat wajah Amara. Rupanya gadis itu mengigau sebab matanya masih terpejam rapat.
Dimas kembali menghela napas lega. Lega, sebab untuk sementara dia bisa merasa aman. Namun, tidak demikian dengan jantungnya. Jantung Dimas memang berdegup kencang, tetapi ia mengira itu terjadi karena kecemasan berlebihan. Ia cemas Amara akan membuka mata dan melihat bagaimana kelakuan dia yang memeluk tanpa izin.
Seharusnya ia menjauh. Seharusnya ia buru-buru melepaskan diri dan pergi. Namun, sayangnya hati Dimas sekuat tenaga menahan otak dan tubuhnya untuk bergerak melakukan itu semua.
Pandangan Dimas lantas terpaku pada wajah Amara. Sebagai manusia, ia telah lama menyadari jika Amara memang cantik. Namun, sebagai seorang pria, baru sekarang ini ia menyadari kecantikan istrinya itu dengan rasa yang berbeda.
Dimas menyadari sikapnya yang dulu sangat keterlaluan. Kasar dan tak berperikemanusiaan. Ia membenci Naura, tetapi menjadikan Amara sebagai pelampiasan kekesalan. Ia sengaja membuang jauh sisi iba sebagai seorang manusia hingga bisa berlaku tega terhadap Amara saat masih menjadi perawat. Demi Tuhan, Dimas benar-benar menyesal untuk itu.
Mungkin, orang lain atau bahkan Amara sendiri pun tak tahu jika diam-diam Dimas memiliki tekad untuk memperbaiki kesalahannya. Ia ingin menebus semua dengan membuat Amara bahagia. Dan definisi bahagia Amara bagi Dimas adalah bersatu dengan Juan.
__ADS_1
Bukan tanpa sebab. Berulang kali Dimas melihat sendiri bagaimana mata Amara begitu penuh cinta saat memandang Juan. Dimas tahu, Amara bukanlah gadis cengeng dalam menghadapi setiap masalah. Gadis itu bahkan sama sekali tak menitikkan air mata saat menerima begitu banyak perlakuan kasarnya, bahkan hinaan dan cacian yang bagi kebanyakan orang begitu ampuh mematahkan semangat dan harapan, justru tak berlaku bagi gadis itu. Namun, anehnya untuk Juan–yang katanya hanya sekadar sahabat–gadis itu bahkan tak segan meluruhkan air mata.
Berkaca dari itulah Dimas bisa menarik kesimpulan jika Amara begitu mencintai Juan. Dan ketika keduanya tak bisa bersama, Dimas benar-benar merasa iba.
Dimas menelan ludahnya dengan susah payah. Disadarinya atau tidak, sebagai seorang wanita Amara memiliki daya tarik luar biasa. Tanpa sadar, tangan Dimas bergerak menyentuh pipi mulus yang biasanya merona saat malu-malu itu dengan gerakan seringan kapas. Perlahan tapi pasti, sentuhan itu lantas bergulir ke area lain. Seolah-olah tak bisa dikendalikan lagi, jemari itu bergerak membelai hidung, lantas turun dan bertahan lebih lama di bibir Amara yang ranum.
Dan di saat itulah Dimas merasa dirinya tak waras. Ia dengan begitu lancang menyentuhkan bibirnya pada bibir Amara setelah membayangkan betapa lembut dan manisnya bibir itu. Benar saja, saat sudah bersentuhan, alih-alih menghentikan pergerakan dan mengakhiri semuanya, otak liar Dimas justru menuntut bibirnya bertindak lebih.
Dimas yang tak kuasa menahan diri benar-benar melakukannya. Ia ******* bibir Amara dengan penuh nafsu dan begitu lapar. Tangannya bahkan bertindak nakal dengan meraba area sensitif Amara. Terang saja Amara terusik hingga melenguh dengan suara parau nan menggoda. Terlebih tangan gadis itu refleks menyentuh area samping tubuh Dimas dan berakhir mencengkeram dada suaminya.
Sensasi geli langsung merayapi tubuh Dimas. Gelenyar aneh penuh tuntutan langsung merambati urat nadi. Dimas merasa tersiksa. Lebih-lebih lagi suara erangan lembut dari bibir Amara yang tengah ia bungkam itu kian meluapkan hasrat kelelakiannya.
Untuk sesaat Dimas lupa akan semuanya. Dibutakan oleh nafsu yang kini berkuasa. Ia melepaskan pagutan dan berniat membuka kancing pakaiannya. Namun, seperti tersadar dari sesuatu hal, tangannya seketika berhenti pada kancing nomor dua.
__ADS_1
Dimas menggemertakkan gigi dan mengepalkan tangannya penuh kejengkelan. Lagi-lagi wajah Juan yang tengah marah itu muncul di pelupuk mata dan merusak semuanya.