
"Dim ada apa? Kenapa lo panik gitu?" Baskoro bertanya sambil mendekat. Ia menatap heran pada sahabatnya yang masih terpaku dengan pandangan terpancang pada layar ponselnya. Sepertinya Naura memutuskan sepihak sambungan telepon mereka.
Dalam hati Baskoro berdecak heran. Gadis itu tak ada habisnya mengganggu ketenangan sang sahabat. Ia bisa memastikan jika Naura kembali membuat ulah. Jelas, ia mendengar sendiri bagaimana barusan Dimas mengumpat.
"Amara, Bas–" Dimas mengembuskan napas berat lalu mengusap wajahnya kasar. Seolah-olah ia tak sanggup melanjutkan lagi kata-katanya.
Melihat Dimas tampak stress berat membuat Baskoro semakin penasaran. Ia bergerak kian mendekati Dimas dan mengusap punggung pria itu pelan sebagai bentuk perhatian.
"Tenangin diri lo dulu, Dim. Cerita pelan-pelan," ujarnya menenangkan. Akan tetapi Dimas justru menggelengkan kepala dengan sikap yang sulit dijelaskan. Pria itu benar-benar terlihat panik.
Baskoro tak ingin semakin merusak mood sahabatnya itu dengan terus mendesaknya. Ia memilih diam, memberi waktu kepada Dimas agar bisa berpikir jernih dalam keadaan darurat.
"Gue harus selamatkan Amara sekarang juga sebelum terlambat, Bas." Dimas berucap setelah beberapa saat berusaha menenangkan diri. Ia menatap serius pada Baskoro dan berucap dengan mantap.
Belum sempat Baskoro menjawab, ia sudah beranjak mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja.
Baskoro memperhatikan gerak-gerik Dimas dengan terperangah, lalu sesaat kemudian ia berseru pada Dimas setelah menyadari sesuatu hal.
"Eh, Dim, tunggu! Terus gue gimana?"
"Lo lanjutkan semua pekerjaan kita, Bas. Sorry, gue percayakan semuanya sama lo." Dimas yang sudah beranjak beberapa langkah menyempatkan diri untuk menjawab.
"Dan gue biarin lo berjuang sendirian, gitu?" Baskoro diam sejenak untuk mengamati ekspresi Dimas, lalu kemudian kembali melanjutkan ucapannya dengan nada kesal. "Sahabat macam apa gue ini! Enggak, Dim. Gue harus ikut kemana pun lo pergi."
Tanpa menunggu persetujuan Dimas, Baskoro pun bergegas mempersiapkan diri. Menutup dan meraih laptopnya dan bergegas menyusul Dimas.
Dimas yang awalnya terlihat tidak tenang kini tampak sedikit berbinar mendengar penuturan sahabatnya.
"Thanks, Bas. Lo emang sahabat gue," ucapnya senang bercampur haru.
"Sahabat kan emang gitu, Dim," balas Baskoro sambil menepuk bahu Dimas.
__ADS_1
Baskoro kemudian mengambil alih kemudi Dimas dan melajukan mobil dengan kecepatan kencang. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu kurang lebih dua jam kini hanya ditempuh selama satu setengah jam.
Sebelumnya, Baskoro sempat menanyakan duduk perkaranya ketika tengah dalam perjalanan.
"Dari video yang gue lihat, Amara berada di tengah-tengah kerusuhan, Bas. Gue nggak tau gimana kejadiannya sampai-sampai Amara bisa ada di sana," jawab Dimas masih dengan pikiran yang tidak tenang.
"Kerusuhan? Kok bisa? Bukannya Amara lagi di ada acara amal rumah sakit tempatnya kerja, ya?"
"Iya. Amara memang ikut dalam acara itu. Tapi waktu tadi gue ngantar Amara sempet lihat ada demo besar di sekitar sana!" Dimas mengembuskan napas kasar lalu membuang muka ke arah jendela. Lalu kemudian ia pun bergumam. "Gue yakin, Naura lah yang merancang itu semua buat celakain Amara."
"Sabar, Dim. Amara itu wanita cerdas. Gue yakin dia bisa keluar dari situasi yang nggak aman."
"Gue harap juga gitu, Bas. Tapi gue khawatir banget. Para pendemo yang ricuh itu masing-masing membekali diri dengan persenjataan. Ada yang bawa parang. Ada yang bawa celurit." Tiba-tiba mata Dimas berkaca-kaca. Kemudian ia berucap dengan nada yang bergetar. "Gue nggak bisa bayangin kalau sampai Ama–"
"Dim!" potong Baskoro. "Jangan berpikiran yang buruk dulu! Sugesti pikiran lo dengan hal yang baik-baik. Kalau perlu lo berdoa biar Amara aman di sana."
Baskoro terkesiap Dimas menitikkan air mata. Pria itu terdiam sambil menatap ke arah luar. Kedua tangannya juga mengepal. Sepanjang yang ia tahu, inilah kali pertama Dimas menangisi wanita dengan akal sehatnya. Ia bisa merasakan kesedihan yang dialami sahabatnya. Baskoro juga melihat ketulusan dari cinta Dimas terhadap Amara. Memang, pria itu memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan rasa cintanya.
Kerusakan terjadi di mana-mana. Ban mobil yang dibakar di tengah jalan. Lalu kemudian noda pekat berwarna merah yang berceceran di jalan.
Darah? Oh tidak!
Noda darah itu membuat Dimas semakin panik. Ia berjalan ke sana kemari dengan sikap bingung dan nyaris putus asa. Sesekali ia meneriakkan nama istri tercintanya.
"Amara! Kamu di mana, Sayang!"
Hening. Tak ada sahutan. Dan itu membuat dada Dimas terasa kian sesak.
Baskoro yang berusaha mencari di tempat lain juga kembali dengan tangan kosong. Ia lari tergopoh-gopoh dan menghampiri Dimas yang sedang bertekuk lutut di tengah jalan. Lagi-lagi ia mendapati wajah Dimas penuh dengan kesedihan.
"Dim, gimana?" tanyanya hati-hati. Sedangkan Dimas hanya menjawab dengan gelengan kepala. Pria itu masih memandangi bercak darah di depannya.
__ADS_1
"Dim, itu bukan darah Amara."
Dimas terkesiap. Ia lalu menatap Baskoro dengan secercah harapan pada bola matanya. Kata-kata Baskoro mungkin benar. Rasa panik dan takut kehilangan membuatnya seperti hilang akal. Ia berpikir itu darah Amara hanya karena saat VC bersama Naura tadi Amara sedang berdiri di sana.
Seketika Dimas bangkit dengan semangat yang membara.
"Gue harus temuin Amara."
"Bagus." Baskoro berucap bangga.
Dimas kemudian mengambil ponsel dari sakunya untuk kemudian menghubungi seseorang.
"Lo telpon siapa?" tanya Baskoro penasaran ketika Dimas menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Naura. Dia yang menimbulkan masalah, dia juga yang harus selesaikan masalah." Dimas berucap dengan nada berapi-api. Baskoro bisa melihat dengan jelas kilatan dendam pada kedua netra pria gagah itu.
Tak lama kemudian sambungan terhubung. Sebuah suara wanita yang sangat Dimas kenal akhirnya terdengar menyapa dengan lemah.
"Halo Dimas."
"Bilang sama gue, lo di mana sekarang!" Tak ada kelembutan lagi untuk wanita ular seperti Naura. Dimas bahkan sampai menggemertakkan gigi ketika berbicara.
"A-aku sedang ada di dalam sebuah mobil Box di tepi jalan. Bersama Amara. Kami terkunci di dalam."
Dimas bahkan tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Tubuhnya seperti kehilangan daya. Persendiannya terasa lemas. Ia nyaris limbung andai Baskoro tidak menahannya untuk memberi kekuatan.
Dimas bahkan tak bisa lagi mengeluarkan air mata. Ketakutan sudah menguasai seluruh jiwanya. Membiarkan Amara hanya berdua dengan Naura? Itu sama saja dengan menyerahkan nyawa Amara.
Ia tak bisa lagi membayangkan bagaimana Naura akan bisa dengan leluasa menghakimi istri sirinya. Ia tahu betul bagaimana nekatnya Naura itu. Naura adalah perempuan ular yang rela melakukan segala cara hanya untuk kepuasan semata.
Dengan wajah merah padam menahan kemarahan, ia memberikan titah tegas pada Baskoro.
__ADS_1
"Ambil linggis di mobil!"