
"Ehemm!" Dimas berdehem keras hingga mengejutkan Amara. Gadis itu berjingkat dan reflek menoleh ke arah Dimas dengan wajah tegang. Sementara Dimas hanya tersenyum santai saat membalas tatapan gadis itu.
Kesal karena merasa dipermainkan, Amara mendesah pelan. Gadis itu memberengut, lalu mengalihkan pandangannya ke arah layar.
Untuk sejenak keduanya kembali terdiam sebelum kemudian Dimas berbicara untuk mengusir ketegangan. "Bisa juga lo ketawa," sindirnya dengan nada meremehkan. Bahkan pandangan matanya sama sekali tak bergeser dari ponselnya.
Amara menoleh lalu mendengkus. "Ya bisa lah, saya kan manusia juga! Memangnya Mas Dimas pikir saya ini tembok, yang lempeng dan kaku?"
"Buahahaha!" Dimas terpingkal mendengar ucapan Amara. "Lo lucu juga ternyata! Sampai ngakak gue, sumpah."
Amara menatap heran pada Dimas sambil mengingat-ingat kalimat apa yang baru saja ia ucapkan. Seingatnya tidak ada bagian yang lucu hingga memancing orang untuk tertawa, lalu apa yang membuat Dimas tiba-tiba ngakak?
Ih, aneh. Apanya yang lucu, coba? Udah stress kali, ya? batin Amara sambil menggelengkan kepalanya. Lantas duduk bersandar sambil bersedekap dada dan memangku kaki kanannya. Sesaat kemudian ia kembali menoleh dan menatap Dimas dengan mata menyipit. Eh iya, dia kan emang stress, batinnya pula.
Keduanya lagi-lagi terdiam dan sibuk pada urusan masing-masing. Dimas yang tengah menunduk menatap layar ponselnya merasa terusik dengan pergerakan sofa yang tiba-tiba. Sontak ia menoleh ke arah si biang kerok, dan langsung membulatkan mata melihat Amara yang memaling ke arahnya dengan mata terpejam sempurna.
Dan yang membuat Dimas heran lagi adalah dua tangan Amara yang pasang badan menutupi mukanya seolah sengaja untuk menghalangi pandangan dari layar.
Tadinya Dimas sempat berpikir jika gadis itu ketakutan oleh adegan filmnya. Namun sesaat kemudian ia teringat jika yang mereka putar bukanlah jenre horor, melainkan komedi romantis. Lantas apa yang membuatnya ketakutan?
Karena penasaran, Dimas pun segera mengalihkan pandangannya untuk menatap layar besar. "Astaga," decaknya sambil menggelengkan kepala.
Dimas terseyum lalu menoleh lagi menatap Amara. "Kenapa mesti merem segala? Lo takut?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Takut gimana sih, Mas. Malu tau, ada adegan kaya gitu," jawab Amara tanpa bergerak sedikitpun.
"Malu? Cuma liat adegan ciuman kayak gitu!" Dimas meninggikan suaranya seolah-olah tak percaya. Ia menegakkan punggung dan mencondongkan tubuhnya ke arah Amara untuk mengamati gadis itu dengan seksama. Dan sesaat kemudian ia terpingkal sambil menghentakkan punggung pada sandaran sofa. "Ya ampun Amara, cuma adegan ciuman kayak gitu doang elo malu? Hahaha!" Tawa Dimas semakin menggelegar. Ia bahkan tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa kaku akibat tak mampu menahan diri untuk tertawa.
__ADS_1
Amara sontak membuka mata. Entah mengapa tawa Dimas itu begitu menyinggung perasaannya. Memangnya salah jika ia malu melihat adegan seperti itu? Bukankah dalam agama malu itu sebagian dari iman?
Amara menggemertakkan gigi dan mengepalkan tangannya. Ia kesal. Kesal pada Dimas. Kesal pula pada film sialan yang sudah menodai kepolosan matanya. Dan kini sorot matanya menatap Dimas dengan jengah.
Dimas mencoba mengatupkan bibirnya, berusaha menghentikan tawa. Ia lantas menoleh ke arah Amara. Namun lagi-lagi ia ingin tertawa saat melihat wajah marah Amara yang sudah mirip seperti Medusa. Tetapi demi keamanan bersama, ia memilih untuk menahan dari pada nanti terjadi baku hantam, dan membiarkan perutnya kaku karena kram.
"Kenapa Mas Dimas menertawakan saya! Yang lucu dari saya apa?" Amara bertanya sambil mengedikkan dagunya. Bahkan memasang wajah ganas untuk menegaskan kemarahannya.
Dimas menatap Amara sambil mengamati gadis itu dengan seksama. "Elo nggak pernah ciuman sampai setua ini?" tanyanya kemudian tanpa berkedip. Bahkan matanya menyipit penuh selidik.
Wajah Amara sontak memerah mendengar pertanyaan Dimas. Entah malu atau marah. Punya hak apa laki-laki itu sampai berani menanyakan hal itu. Bukan berarti dia membayar Amara, terus seenaknya saja memperlakukan gadis itu bahkan sampai membuatnya malu. Bagaimanapun juga Amara memiliki privasi yang harus dihargai.
Melihat Amara yang hanya diam membisu dengan tubuh terpaku seperti batu, entah mengapa membuat Dimas terseyum penuh kemenangan. Dengan ekspresi yang Amara tunjukkan, Dimas bisa menyimpulkan jika pertanyaannya itu adalah sebuah fakta dan kebenaran.
"Iya kak, iya kan? Ngaku lo!" desak Dimas dengan nada bercanda, sambil menuding Amara dengan jari telunjuknya. Sesaat kemudian tawanya pun pecah. Ia terpingkal sambil membenturkan kepalanya pada sandaran sofa.
Sungguh hal itu semakin membuat jiwa polos Amara meronta-ronta. Bukan karena malu tidak pernah berciuman, tetapi ingin menunjukkan seberapa besarnya arti kesucian. Amara tak sedih meskipun tak pernah merasakan pacaran, ia justru bangga bisa mempertahankan kesuciannya hingga detik ini. Tapi lelaki gila ini malah terpingkal melihat sesuatu hal yang ia banggaan. Seolah-olah hal itu memang patut untuk ditertawakan. Yang jadi pertanyaan, di sini yang tidak beres siapa?
"Jadi bener, lo belum pernah--" Dimas menggantung ucapan. Namun menggantinya dengan gerakan tangan, menempelkan ujung dengan ujung jemarinya yang menyatu seolah-olah sedang mempraktekkan dua bibir yang tengah beradu.
Menyerah, Amara pun mengangguk pasrah. Persetan Dimas mau mengoloknya seperti apa, memang kenyataan dirinya jomblo, kan.
Dimas berdecak sambil geleng kepala. "Ya ampun, polos banget si lo," gumamnya heran.
Sesaat kemudian Dimas terseyum lebar. Ia merentangkan tangan kirinya, lantas menepuk bahu Amara seperti memberi dukungan sambil berucap, "Salut gue. Hebat. Lo jomblo sejati sampai setua ini. Harusnya elo di beri penghargaan atas ini."
Amara langsung menatap jengah pada Dimas. "Mas Dimas ngeledek saya?" tanyanya dengan nada tidak suka.
__ADS_1
"Oh, enggak dong. Ini bentuk apresiasi dari gue, hehe," balas Dimas sambil nyengir dan mengacungkan dua jarinya.
Amara mendesah pelan lalu menunduk dengan wajah ditekuk. "Saya memang nggak pernah pacaran, kali Mas," jawab Amara dengan nada melemah.
Saya memang nggak pernah pacaran. Tapi gara-gara kamu kesucian bibir saya jadi ternodai. Andai saja Mas Dimas tau kalau saya telah mengorbankan ciuman pertama saya buat kamu agar Mas Dimas mau melepas tangan ini waktu itu, batin Amara dalam hati sambil menatap Dimas yang tengah fokus menatap layar.
"Kalau nggak pernah pacaran, terus yang ngejar-ngejar lo di rumah sakit itu siapa?" tanya Dimas dengan wajah penasaran.
"Siapa?" Amara menautkan alisnya bingung. Berusaha mengingat-ingat kejadian yang lelaki itu maksudkan. Namun sedetik kemudian Amara teringat pada peristiwa, di mana ia bertemu dengan Juan kala itu. Dari sini membuat Amara mengerti bahwa lelaki yang Dimas maksud adalah Juan.
Amara mendesah pelan, lalu tertunduk dengan wajah sedih. "Dia cuma sahabat saya sejak SMP kok, Mas. Engggak lebih."
"Kalau cuma sahabat kok lo sampai nangis-nangis?"
Kali ini Amara mendesah kasar, lalu menatap Dimas dengan wajah tak bersahabat. "Itu urusan saya Mas. Mas Dimas nggak perlu tau."
"Cih! Siapa juga yang mau tau? Gue mah ogah!"
Nih orang ya! Ngeselinnya nggak ketulungan. Dia yang ngebet nanya tapi bilangnya nggak mau tau! Bikin geregetan aja! Batin Amara kesal.
Bersambung
Hari ini up dua bab ya guys,
**happy reading, jangan lupa tinggalin like, komentar dan voting kalau suka. sekedar untuk apresiasi buat saya🤭✌️
terima kasih buat yang udah kasih ya, love you full deh**.
__ADS_1
Guys, tolong kasih rate bintang lima dong, rate ku tiba-tiba anjlok, aku sedih😭😭😭
hibur aku ya, biar seneng dan lancar update lagi