
"Tidak! Jangan!" Amara berteriak untuk memperingatkan agar empat gadis itu tidak menyentuhnya. Namun mereka tak menghiraukan, membuat Amara terus bergerak mundur seraya melindungi jilbabnya dengan tangan.
Posisi Amara yang sudah tersudut pada tembok di belakang membuatnya tak bisa menghindar lebih jauh lagi, hingga saat mereka mulai menyentuh jilbabnya, gadis perawat itu terpaksa menghalau tangan-tangan jail itu dengan pukulannya.
"Sialan." Gladys yang kesakitan meringis sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Namun bukannya mengakhiri keributan, ia justru semakin dendam.
"Dys, elo nggak papa, kan?" Salah seorang teman bertanya penuh kecemasan seraya memegangi tangan Gladys untuk memeriksa. Ia tak sadar telah memberi celah untuk Amara. Tak ingin membuang waktu lagi, Amara segera berlari untuk pergi.
"Woy jangan kabur lo!" Teman Gladys lainnya yang menyadari segera bertindak.
Meja kursi untuk pelanggan yang sengaja ditata di pelataran membuat Amara kesulitan saat berusaha kabur. Nahas, ia kembali tertangkap karena langkahnya terhenti saat menabrak salah satu kursi itu.
"Mau ke mana, lo?" tanyanya dengan seringai yang menakutkan. Gadis yang mengenakan celana jeans berpadu dengan tank top itu memegangi lengan Amara begitu kuat. Amara bisa meyakini gadis itu bukanlah wanita biasa pada umumnya, itu terlihat dari otot keras di lengannya.
"Lepaskan saya. Kita tidak ada urusan apa-apa, jadi tolong untuk tidak ikut campur." Amara berucap tenang dengan nada memperingatkan. "Saya sedang buru-buru, jadi dimohon untuk tidak mengganggu."
"Jadi lo buru-buru untuk ini?" Gladys dan tiga lainnya yang datang mendekat tiba-tiba sudah mengambil alih botol air itu dari tangan Amara.
Amara langsung membulatkan mata saat mereka membuka tutup lantas membuang isinya. "Jangan! Itu minuman untuk pasienku!" Amara berteriak dan berusaha mencegah meskipun tangannya dalam cekalan, tapi terlambat sudah.
"Dah, nggak ada alasan lagi buat lo buru-buru, kan?" Gladys tertawa puas sambil melemparkan botol kosong itu ke wajah Amara.
"Gladys kurang baik apa coba, masih untung lo nggak diguyur!" seru si gadis tomboi seraya menonyol dahi Amara.
Kemarahan Amara sudah tak bisa lagi ditahan. Ia mengempaskan tangan si tomboi dan menatap Gladys dengan wajah merah padam. "Sebenarnya apa salahku sampai kamu menggangguku seperti ini? Belum cukup kamu fitnah aku waktu itu! Aku bahkan terbelit hutang, dan sengaja menerima pekerjaan ini hanya untuk menghindari Juan. Apa semua itu belum cukup!" Tanpa sadar Amara mengatakan semuanya hingga mengundang gelak tawa empat gadis itu.
"Owh, elo merasa jadi orang paling menderita?" Gladys maju selangkah dan mendorong bahu Amara hingga bergerak mundur. "Hey, apa kabar gue yang selalu menjadi bayang-bayang lo di mata Juan? Gue kekasih yang diabaikan. Gue nggak dianggap pacar padahal sebentar lagi kita tunangan. Puas, lo bikin hidup gue menderita!"
"Tapi kamu udah miliki dia! Aku dan Juan tidak ada apa-apa, kami bahkan tidak pernah lagi bersua."
__ADS_1
"Tapi dia lebih mentingin kamu sebagai sahabatnya!"
"Dah, lah. Kita culik aja dia. Lucuti pakaiannya lalu rekam. Sepertinya bakal viral." Gadis lain lagi yang sejak tadi mengarahkan ponselnya untuk merekam kejadian memberikan usulan yang seketika mendapat persetujuan.
Membayangkan saja sudah sangat mengerikan, apalagi mengalaminya? Seketika Amara memberontak saat empat gadis itu mulai mencekalnya. Tak peduli akan mengenai siapa, gadis perawat itu mulai mengayunkan tangannya untuk melawan demi melindungi diri.
Plak!
Sebuah tamparannya mengenai tepat di wajah Gladys. Gadis itu ternganga sambil memegangi pipinya. Sejurus kemudian tatapan mata mengancamnya tersorot tajam pada Amara disusul dengan cengkeraman kuat di jilbab dan lengan.
"Kau benar-benar sialan! Berani-beraninya mengancamku! Aku tidak rela, Amara! Aku tidak rela!" Tanpa perasaan, Gladys mendorong tubuh Amara hingga tersungkur.
Namun belum sampai tubuh Amara menyentuh tanah, sepasang tangan kokoh telah berhasil menangkapnya.
Ya, Dimas tiba di saat yang tepat. Pria itu langsung merengkuh tubuh Amara dan membantu gadis itu berdiri tegak. Melihat Amara yang terperangah tak percaya, ia menyunggingkan senyum termanisnya.
"Apa lo terluka?" tanya Dimas sambil merapikan jilbab Amara yang sedikit berantakan. Sedangkan Amara yang masih belum menguasai diri dari keterkejutan hanya bisa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Dimas menatap mata Amara lekat-lekat sambil mengusap lembut puncak kepala si gadisyang tertutup jilbab. "Lo tinggal ngomong aja, perlu gue apain tuh orang-orang?" tanyanya, kemudian memberikan pilihan. "Gue panggil polisi, tangan dan kakinya gue patahin, atau kalau perlu sekarang juga mereka gue matiin?"
Membulatkan mata dengan mulut yang ternganga, Amara lantas menggeleng-gelengkan kepala untuk menolak mentah-mentah tawaran Dimas. Entah serius atau hanya main-main, yang jelas perkataan Dimas tadi terdengar sangat ngeri.
Bukan hanya Amara yang tercengang mendengar penawaran Dimas barusan. Keempat gadis itu langsung terkesiap penuh keterkejutan. Mereka saling pandang satu sama lain dengan ekspresi miris. Bayangan mengerikan langsung hinggap di kepala andai pria itu merealisasikan ucapannya.
Saling memberi kode, keempatnya segera berlari ke arah mobil dan berencana kabur. Dimas sontak menoleh dengan ekspresi penuh kemarahan.
"Woy, jangan kabur lo!" teriaknya sambil bergerak untuk menyusul, tapi langkahnya harus terhenti sebab Amara mencegahnya.
"Biar aja, Mas. Yang penting saya nggak papa."
__ADS_1
"Eh nggak bisa gitu, dong! Mereka harus dikasih pelajaran!" bantah Dimas. Pria itu tak terima mereka pergi begitu saja.
"Mas, kejahatan itu nggak perlu dibalas dengan kejahatan."
"Oke, oke." Dimas menyerah dan mengikuti perkataan Amara. Namun mendadak pria itu menatap Amara dengan senyuman penuh arti, sebelum kemudian berkata, "Tapi, gue main-main dikit boleh lah, ya?"
"Main-main? Maksudnya?" tanya Amara dengan alis bertaut tak mengerti.
Tak menjawab dengan kata, Dimas lantas berjalan mengambil sebuah batu berukuran sedang yang teronggok di tepi jalan. Amara pun mengikuti pria itu dengan pandangan.
Tanpa aba-aba, pria tampan berperawakan tinggi itu kemudian melemparkan batu itu tepat di kaca depan mobil Gladys. Jerit ketakutan keempat gadis dari dalam mobil pun tak terelakkan saat kaca itu retak hingga mengundang gelak tawa Dimas.
Dimas lalu melangkah mendekati mobil itu. Mengetuk pintunya pula hingga Gladys menurunkan kaca jendelanya. Meski nampak jelas ekspresi dari wajahnya, tapi Gladys memberanikan diri untuk menatap Dimas.
"A-ada apa, Tuan?" tanya pacar Juan itu terbata dengan bibir yang bergetar.
Sambil menunjukkan ponselnya, Dimas pun berkata, "Rekaman kalian ada di hp gue. Awas aja kalau kalian masih coba-coba buat nyakitin Amara! Gue jamin kalian bakal meringkuk di penjara," ancamnya sambil menunjukkan seringai mengerikan.
"Nggak! Kami janji, nggak akan nyakitin Amara lagi!"
Dimas menyimpan ponselnya lantas mengamati ekspresi para gadis itu sambil bersedekap dada. "Ya udah! Ngapain masih di sini? Pergi sana! Atau nunggu gue berubah pikiran?" ucapnya sambil mengedikkan dagu.
"J-jangan!" cegah empat gadis itu bersamaan. "Kita akan pergi dari sini sekarang juga." Dengan bahasa tubuh masih gugup, Gladys segera menyalakan mesin mobilnya dan kemudian enyah dari sana.
Dimas terseyum puas menatap mobil Gladys yang bergerak menjauh. Pria pemilik hidung bangir itu lantas menoleh saat Amara bergerak mendekat.
"Mas Dimas beneran merekam kejadian tadi?" tanya Amara dengan wajah penasaran.
"Merekam apaan? Orang baterai handphone gue aja lowbat," jawab Dimas enteng lalu melangkah pergi meninggalkan Amara.
__ADS_1
Bersambung