
"Aku bawa ini ke meja, ya," pamit Amara usai menuangkan sop ayam pada mangkuk besar. Mendapat anggukan Eli, ia langsung mengangkat mangkuk itu lantas membawanya menuju meja makan yang berada di ruang sebelah.
Ini sudah hari ke tiga setelah kakinya terluka, dan kini luka kecil itu telah sembuh sepenuhnya. Ia tetap beraktivitas seperti biasa, memasak sendiri makanan untuk Dimas, serta menyiapkan segala kebutuhannya.
Capek? Sudah pasti iya. Terlebih bayi besar itu semakin manja. Kesalahan sedikit saja menjadi persoalan besar. Jujur, sebenarnya Amara muak melihat tingkah kekanakan yang seolah-olah disengaja oleh Dimas.
Untuk apa? Tentu saja untuk mengerjai Amara. Dimas suka sekali melihat Amara teraniaya olehnya. Namun, masih dalam taraf normal yang hanya berimbas pada rasa kesal dan geram perawatnya. Nah, di situlah Dimas akan tertawa terpingkal-pingkal penuh kemenangan.
"Sekalian tata juga piringnya ya," titah Eli yang tengah menyiapkan lauk di dapur, dan langsung dijawab oleh Amara.
"Asiap ...!"
Keadaan pun hening untuk sejenak. Tak ada percakapan. Eli sibuk di dapur, sementara Amara sibuk menata peralatan makan untuk Dimas.
Entah ke mana pria itu pergi, pagi-pagi sudah meminta Pak Mamad mengantarnya ke luar rumah. Namun, sebelum keluar, ia sempat berpesan pada Eli untuk tetap menyiapkan sarapan sebab ia hanya akan keluar sebentar.
Sesaat kemudian, suara decitan sepatu yang beradu dengan lantai berbahan marmer terdengar di antara keheningan. Suara langkah kaki itu terdengar mendekat, dan Amara sudah hapal itu langkah siapa. Ia tetap menunduk dan fokus pada kegiatannya.
"Lo masak apaan buat gue?" Suara bas itu terdengar dari arah sisi kanan Amara.
"Sop ayam. Bukannya kemaren Mas Dimas sudah pesen ini?" tanya Amara sambil sibuk menuang air putih ke dalam gelas kaca, tanpa menatap pada orang yang mengajaknya bicara.
Hening sesaat sebelum kemudian terdengar decitan yang dihasilkan dari gesekan kaki kursi dengan lantai. Dimas menarik kursi, lalu mendudukinya. Pemuda itu meneguk jus jeruk yang sudah tersedia, lantas berkata setelah menaruh kembali gelas yang menyisakan setengah bagian.
"Nasi dong," pinta Dimas. Amara mengangguk paham, lalu menuangkan nasi yang baru diciduknya ke piring kosong Dimas. Seolah-olah paham betul dengan apa yang harus dilakukan, ia dengan cekatan mengambilkan beberapa macam lauk pelengkapnya.
"Cukup." Dimas mulai menyantap makanan yang tersaji di depannya. Sedang Amara memilih berdiri stay di sisi kiri belakang Dimas sambil menunduk.
"Ngapain berdiri di situ?"
Amara terperanjat mendengar suara Dimas yang tiba-tiba.
"Nggak ngapa-ngapain, Mas," jawabnya dengan tergagap. Gadis itu langsung menyimpan kembali gawainya ke dalam saku.
"Buruan sarapan. Bentar lagi lo ikut gue ke luar."
"Ke mana, Mas?" tanya Amara cepat dengan ekspresi penasaran. Gadis itu memiringkan kepala demi untuk melihat wajah sang majikan dari arah samping.
"Manut aja kenapa sih! Nggosah pakai nanya segala." Dimas menaikkan intonasi suaranya dan itu ampuh membuat Amara patuh.
Gadis itu langsung menarik kursi dan duduk mengambil posisi di sebelah kiri Dimas.
"Makan yang banyak, biar nanti kuat menghadapi kenyataan," celoteh Dimas sambil tetap mengunyah makanannya.
Kata-kata Dimas bahkan berhasil membuat Amara menyebik sambil kembali menyiduk nasi untuk menambahi yang tadi hanya setengah sendok saja.
Suasana kembali hening. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring makan. Oh iya, Amara sampai lupa memperhatikan bagaimana ekspresi wajah Dimas. Pria itu hanya diam saja menikmati masakannya. Biasanya suka cerewet. Protes ini itu. Kurang garam, lah. Kebanyakan micin, lah. Kemanisan, keasinan, keasaman dan lain-lain.
Penasaran, gadis berjilbab itu mulai mengangkat pandangannya dan langsung menatap Dimas. Eh, rupanya ada yang berbeda dari penampilan pria itu. Ia sudah mengenakan stelan jas rapi. Entah kapan pria itu mencukur rambut.
Dengan model dark and light undercut, Dimas terlihat lebih stylish dari sebelumnya. Jika kemarin ia masih tampil dengan rambut sedikit gondrong tak beraturan, kini ia menipiskan rambut bagian samping hingga ke belakang, dan membiarkan bagian tengah atas cukup panjang. Hingga saat tangannya bergerak menyugar, rambut tanpa pomade itu terbelah jadi dua dengan sendirinya dan membuat pria itu semakin menawan dengan gaya Coll nya.
__ADS_1
"Jangan lama-lama liatin guenya. Bahaya. Entar lo naksir, lagi." Tanpa menatap Amara, Dimas berucap dengan entengnya sambil terus saja makan.
Amara terkesiap. Ia sontak memalingkan muka lalu menelan makanan di mulutnya dengan susah payah.
"Insyaallah saya profesional, Mas," tuturnya usai meneguk minuman.
"Bagus, deh. Jadi lo nggak perlu patah hati."
Ish, pede banget dia. Aku kan cuma terkesima. Enggak naksir juga," batin Amara. Ia kemudian menunduk dan menghabiskan sisa makanannya.
Usai sarapan, keduanya berjalan menuju teras depan. Dimas tanpa peringatan melempar kunci mobilnya ke arah Amara. Beruntung gadis itu selalu waspada hingga berhasil menangkapnya dengan tepat.
"Setirin mobil gue," titah pria berperawakan tinggi itu sambil berlalu.
"Kok saya?" tanya Amara sambil menatap Dimas yang hendak membuka pintu mobil dengan ekspresi bingung.
"Gue masih trauma," ujar Dimas. Pria itu lantas menatap Amara penuh peringatan. Sambil menarik-narik tuas pintu yang masih terkunci, ia pun menggerutu. "Kok malah bengong. Buruan woy, udah kayak patung Pancoran aja!"
Amara terkesiap. Gadis itu menuruni tangga terakhir teras lalu mendekati Dimas.
"Pak Mamad mana?" tanyanya dengan mata celingukan.
Dimas mendesah pelan sebelum menjawab. "Lo nggak liat dia tadi ngantar Bi Eli?"
Seketika Amara tertegun sambil menggigit bibir. Wajahnya langsung terlihat cemas. Dimas yang menangkap ekspresi perawatnya itu langsung memicingkan mata.
"Lo bisa nyetir, kan?" tanyanya penasaran.
"Bisa, sih. Tapi itu dulu," jawab Amara ragu.
Amara mengangguk lemah.
"Ya udah, tunggu apa lagi!"
"Tapi kan nggak pernah nyetir mobil semahal ini, Mas." Amara masih saja beralasan.
"Itu mobil matic. Lo cuma perlu injek pedal gas sama rem doang. Nggak ada injakan rem, jadi lo nggak usah khawatir kaki bakal pegel." Dimas menerangkan.
Akhirnya, keduanya meluncur menuju tempat yang diarahkan Dimas. Walau dengan perasaan cemas bercampur khawatir, Amara berusaha melakukan mobilnya dengan sangat hati-hati.
"Bisa ditambah dikit, nggak?" tanya Dimas memecah keheningan.
"Apanya?" Amara yang terlihat tegang memasang mimik keheranan.
"Kecepatannya, lah! Masa iya nasi! Kita nggak lagi makan-makan sekarang. Dengan kecepatan dua puluh kilo meter per jam kita mau berapa jam mau nyampe tempat janjian? Ini jalanan sepi, Amara ... cuma mobil lo doang yang lewat di jalan selebar ini ...!"
Dimas mulai geram. Waktunya semakin mepet tapi mereka belum juga mencapai seperempat perjalanan.
"Takut, Mas ...," rintih Amara. Ia melirik Dimas sambil menggigit bibir bawah.
"Nggak ada hantu di sini!" Dimas selalu saja begitu, bukannya menenangkan, tapi justru semakin membuat tegang dengan bentakannya.
__ADS_1
"Hu hu ... Mas Dimas tega." Amara nyaris terisak. Ia sangat takut mencoba hal baru. Apalagi mobil itu bukan miliknya. Membawa Dimas pula, tapi mau bagaimana lagi. Ini perintah, dan ia harus menjalankan.
Tanpa peringatan, Amara menginjak pedal gas dengan kuat hingga mobil langsung melesat. Karena begitu tiba-tiba sontak saja menghasilkan tarikan kuat hingga kepala Dimas membentur sandaran.
Masih belum berhenti sampai di situ, Amara yang terkejut akan tindakannya refleks menginjak rem hingga mobil mendadak berhenti dan menghasilkan decitan yang nyaring. Kini mobil yang dikemudikannya berhenti tepat di pinggir jalan
Parahnya, hal itu membuat kepala Dimas membentur dashboard dan tentu saja kesakitan. Yang bikin Amara semakin ketakutan, kini sang majikan tengah menatap dirinya dengan sorot mata tajam.
"Woy, lo mau matiin gue! Hati-hati Amara ... santai aja, rilax ...!" tutur Dimas setengah geram. Tangan kiri pria itu berpegang kuat-kuat pada hand grip plafon mobilnya, sementara tangan kanan mencengkeram lengan baju Amara.
Amara yang menyadari kesalahannya hanya bisa meringis sambil menguatkan cengkeraman pada stir mobil. Menoleh pada pria di sebelah, ia tersenyum kecut, lantas berucap.
"Hehe, maaf. Saya tegang," ringisnya.
Dimas mendesah kasar sambil mengurut dada, lalu kembali menatap perawatnya dengan ekspresi geram.
"Lo udah tau, kan gue trauma! Terus lo mau bikin riwayat gue tinggal nama!"
"Enggak ...!" bantah Amara.
"Terus! Lo mau bikin gue takut?"
"Nggak sengaja, Mas. Nggak mau bikin Mas Dimas takut juga ...." Amara memberengut. "Kan saya bilang nggak yakin bisa, tapi Mas Dimas maksa."
"Lo mau nyalahin gue!"
"Enggak ...." Amara menggeleng lemah. Ia menunduk, tak berani membalas tatapan Dimas.
Lagi-lagi Dimas menghela napas dalam, berusaha menetralkan perasaan. Baru saja ia naik pitam, tapi sesaat kemudian tak tega melihat gadis di sisinya ketakutan oleh kemarahannya.
Bukan tanpa sebab Dimas menyuruh Amara menyetir. Ia ingin perawatnya bisa diandalkan dan mengerti apa yang ia inginkan. Pada akhirnya Dimas pun menyadari, mungkin karena tertekan Amara jadi begini.
"Ya, udah. Maaf gue bentak-bentak lo tadi. Sekarang lanjut jalan lagi ya. Santai aja jangan terlalu banyak pikiran, okay."
Maaf? Aku nggak salah denger? bengong Amara bertanya-tanya. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan sikap pria menjengkelkan ini yang sering kasar tapi juga kadang lembut.
"Malah bengong, lagi. Buruan, sebelum kata maaf gue tarik!"
"Eh, iya-iya." Amara langsung menyalakan mesin mobil dan melakukannya sesuai perintah Dimas.
Dari ekor matanya, Dimas bisa melihat Amara yang senyum-senyum sendiri. Dia bahkan berpikir, gadis itu terharu oleh kelembutan hatinya yang kadang-kadang muncul.
"Cih, padahal gue bilang maaf bukan karena tulus, tau. Tapi biar lo nggak bikin gue celaka."
Amara yang sedang menyetir langsung menoleh pada Dimas dengan tatapan tak percaya.
"Sabodo lah sama perasaan orang lain. Yang penting mah gue aman. Dan satu lagi. Gue punya sopir gratisan. Lumayan kan," gumam Dimas dengan nada sindiran. Sambil senyum-senyum sendiri, matanya terus saja menatap ke arah luar.
Amara mendengkus kesal. Songongnya Dimas memang nggak pernah ada obatnya. Sudah bisa dipastikan, tidak akan pernah terpisah dengan sikapnya yang menjengkelkan. Ia lantas tersenyum saat mendapatkan cara untuk mengerjai balik pasien edannya.
Amara sengaja menambah kecepatan saat tak ada mobil lain yang lalu lalang. Namun, seketika ia memasang wajah panik sambil mengeratkan cengkeramannya pada stir.
__ADS_1
"Mas Dimas, remnya nggak bisa!"
"Hah!"