Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Menemukan pasiennya


__ADS_3

Terjaga dari tidurnya, Dimas mendesah pelan sambil menatap langit-langit kamar. Ia kemudian menatap AC dan lantas menggelengkan kepalanya.


"Pantas aja gerahnya setengah mati. Ternyata AC-nya dimatiin. Pasti kerjaan Amara ini," gerutunya sambil bergerak hendak bangkit guna meraih remote control AC yang biasanya ditaruh di atas nakas.


Pria yang masih mengenakan kemeja putih itu seketika menautkan alis saat mendapati sesuatu terjatuh dari keningnya. Diambilnya kemudian benda itu dengan mimik heran.


"Handuk setengah basah?" gumamnya pelan. Pandangannya kemudian menyisir area sekitar. Ada wadah berisi air, serta beberapa lapis selimut yang menutupi tubuhnya dan berakhir pada Amara yang masih terlelap di sisi kirinya dengan pipi berbantal punggung tangan.


"Memangnya semalam gue kenapa sampai dikompres-kompres segala? Si Amara juga sampai ketiduran gini. Apa gue demam, ya?" ujarnya mengira-ngira.


Usai mencoba mengaitkan semua yang dilihatnya, Dimas lantas berani menarik kesimpulan. Pasti dirinya benar-benar demam hingga Amara begadang demi menjaganya semalaman. Ia lantas geleng-geleng kepala sambil tersenyum tak habis pikir, menyadari betapa terguncangnya dia bertemu kembali dengan Naura.


Sebenarnya hati Dimas sendiri masih terasa perih oleh kejadian itu. Namun, melihat bagaimana perjuangan Amara yang sudah berusaha keras membantu kesembuhannya, Dimas akhirnya memilih bangkit dari keterpurukan dan mencoba berdamai dengan keadaan. Tak ada untungnya menyimpan dendam di dalam dada hingga berlarut-larut. Bukannya bahagia yang di dapat, justru hanyalah rasa sesak yang mendesak.


Ia kemudian sedikit membungkukkan badan demi dapat melihat wajah Amara yang masih terlelap.


"Dasar cewek bodoh. Mau-maunya jagain gue semalaman," celetuknya sambil tersenyum kecil. Diam sejenak, Dimas memperhatikan wajah Amara yang terlihat lelah. Sebagai manusia yang merasa punya hutang budi pastinya akan merasa iba melihat gadis itu tertidur dalam posisi seperti ini.


Tanpa pikir panjang, Dimas pun segera beranjak dan mengangkat hati-hati tubuh perawatnya itu untuk dibaringkan ke atas ranjang. Tak lupa pula menutupinya dengan selimut tebal dan menyalakan kembali AC kamar dengan suhu sedang.


Seolah-olah tak terusik dengan tindakan Dimas tadi, Amara sama sekali tak menunjukkan reaksi apa-apa. Gadis itu malah terlihat merasa nyaman dengan menggeliat kecil dan kemudian berbalik badan miring ke kanan. Tangannya bahkan meraih bantal guling dan mendekapnya ke dalam pelukan.


Tersenyum kecil, Dimas kembali merapikan selimut Amara yang sempat menyingkap saat gadis itu bergerak. Ia kemudian mencondongkan badan ke arah gadis itu sebelum kemudian membisikkan kata.


"Thanks, udah jagain gue sampai sejauh ini." Dimas berucap dengan hati tulus meski tak didengar oleh gadis itu. Diakui atau tidak, ia memang benar-benar membutuhkan sosok Amara. Tanpa adanya gadis itu, Dimas bahkan tak tahu apa jadinya dia saat ini.


Tepat pukul empat pagi Dimas keluar dari kamar. Pria itu menutup pintu kamar dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara dan mengusik tidur Amara. Saat berbalik badan, ia terkejut saat mendapati Bi Ely sudah berdiri di belakangnya dengan wajah keheranan.

__ADS_1


"Bibi bikin kaget aja," lirihnya penuh penekanan.


"Mas Dimas kok sudah bangun. Sudah enakan? Terus ngapain nutup pintunya hati-hati gitu sampai nggak ada suaranya. Biasanya juga Jedar-jeder nggak ada hati-hatinya–" Eli langsung menutup mulut saat Dimas mengisyaratkannya untuk diam. Ia langsung mengangguk paham, lalu melongok ke arah pintu yang tertutup rapat dengan ekspresi penasaran. "Memangnya siapa to yang ada di dalam?" tanyanya kemudian.


"Amara, Bi."


Mendengar itu Ely langsung mendelikkan mata. Terkejut tepatnya. Sedangkan Dimas justru mendesah pelan dan memutar bola mata malas. Seolah-olah tahu pikiran liar yang tengah hinggap di otak asisten rumah tangganya, ia pun segera menjelaskan demi menepis pikiran buruk itu.


"Karena jagain aku Amara sampai ketiduran, Bi. Dia kelihatan lelah banget, jadi aku nggak tega buat bangunin."


"Owalah gitu to," ujar Ely sambil mengangguk paham.


"Iya, lah. Emang Bi Ely mikirnya apaan?" gerutu Dimas sambil menatap Ely sebal, lalu beranjak pergi dari sana.


***


"Bibi masak apa?"


"Masak rendang daging, kesukaan Mas Dimas," jawabnya pada pria yang saat ini duduk di kursi pantry.


"Belum matang ya, Bi? Aku udah lapar, nih." Seperti anak kecil merengek pada ibunya, Dimas berucap demikian sambil memanyunkan bibirnya. Terang saja Ely yang melihat itu langsung tertawa geli karena gemas.


Dimas memang begitu sejak remaja dulu. Memperlakukan Ely layaknya ibu sendiri. Ely sudah seperti ibu pengganti saat mamanya tak berada di sisi.


"Sebentar lagi matang kok, Mas. Sabar sedikit, ya," tutur Ely menenangkan. Ia lantas beranjak menuju lemari, dan melangkah mendekati Dimas dengan tangan membawa dua toples camilan kering.


"Sambil nunggu rendangnya mateng ngemil ini dulu, ya," ujarnya sambil menyodorkan popcorn dan kacang.

__ADS_1


Dimas menatap toples itu. Menyebikkan bibir, lalu kemudian mengangguk samar. "Boleh, deh," ujarnya menyetujui, lantas dibukanya tutup toples berbahan kaca yang berisikan popcorn itu.


"Mas Dimas baik-baik saja, kan?" Setelah beberapa saat terdiam dan sibuk dengan masakannya, pada akhirnya Ely memutuskan untuk bertanya.


Bukan tanpa alasan ia melakukan itu. Ely melihat sendiri bagaimana kondisi Dimas saat kembali sore kemarin. Ia yang terkejut sekaligus penasaran sontak bertanya pada Amara untuk memastikan penyebabnya.


Ah, melihat keadaan Dimas yang tantrum begitu rasanya sulit bagi Ely untuk percaya kini pria itu dalam kondisi baik-baik saja seperti tak terjadi apa-apa. Maka dari itu ia tergelitik ingin memastikan.


"Memangnya aku kenapa?" Seolah abai akan kekhawatiran Ely, Dimas justru balik bertanya dengan gaya santainya sambil memakan popcorn kesukaannya.


"Bukannya kemarin ketemu sama–"


"Naura, kan?" potong Dimas.


Meski Ely agak terkejut, tapi wanita itu tetap mengangguk. "Iya, Mas."


"Aku udah berusaha buat maafin dia dan lupain semuanya, Bi. Bukannya manusia itu boleh marah, tapi nggak baik kalau menaruh dendam? Yang kemaren itu aku cuma syok aja tiba-tiba ketemu dia. Aku pikir Naura udah mati ditelan bumi."


"Heh!" Meski di awal Ely merasa lega atas kerelaan Dimas, tetapi wanita itu langsung mendelik tak habis pikir oleh kata-kata terakhir majikannya itu. "Mas Dimas kok ngomongnya jelek gitu?" tegurnya mengingatkan.


"Lah emang bener, kan!" tegas Dimas setengah mengingatkan. "Dia yang bikin perkara, Bi. Tapi mana coba tanggung jawab dia? Saat aku sakit ada nggak, dia datang buat nengok barang sebentar. Nggak ada, kan!"


Ely hanya bisa menggeleng lemah dengan tatapan iba. Sedangkan Dimas justru tampak meradang hingga wajahnya merah padam. Namun, ia tetap berusaha menahan amarah agar tidak membuncah sebab ia telah mengambil keputusan. Ya, hanya dengan memaafkan dan melupakan ia meyakini hidupnya akan tenang dan tenteram.


Tak ingin larut dalam kesedihan Dimas berusaha mengalihkannya dengan makan. Pria itu menutup toples popcorn, lalu membuka toples kacang telur. Baru menyuapkan beberapa biji ke dalam mulut, tiba-tiba suara teriakan histeris yang muncul dari arah belakang berhasil mengagetkannya.


"Mas Dimas! Aku nyariin kamu ke mana-mana, huaaa." Tanpa peringatan, Amara berhambur ke arah punggung Dimas dengan gerakan kuat karena merasa lega telah menemukan pasiennya.

__ADS_1


Tanpa ia tahu, tindakannya tersebut membuat Dimas tercekat dan tak bisa berkata-kata. Sambil berusaha melepaskan tangan Amara yang merangkul dari belakang, tangan kanan Dimas menunjuk ke arah gelas berisi air putih seperti tengah memberikan isyarat.


Eli yang melihat ekspresi Dimas tampak kebingungan mengartikan isyarat majikannya. Namun, sejurus kemudian, ia tersadar oleh apa yang terjadi barusan. Rupanya Dimas melotot sebab tersedak kacang telur karena saking terkejutnya.


__ADS_2