
Mufakat telah didapat, membuat Dimas dan Amara sama-sama sepakat. Keduanya mencari hari baik untuk pindah rumah dan menyiapkan segala sesuatunya dengan matang.
Niat yang baik, harus diapresiasi dengan hal baik pula, bukan? Begitu pula dengan Amelia. Ia mendukung penuh keinginan putranya untuk hidup mandiri. Ia membantu segala persiapan, mulai dari acara selamatan, dan segala yang dibutuhkan agar rumah putranya terasa nyaman.
Meski memiliki niatan positif, tetapi Dimas menanggapi negatif tindakan mamanya. Ia menilai Amel terlalu over protective padanya dan Amara. Wanita paruh baya itu bahkan sengaja memanggil pekerjaan untuk mengosongkan kamar bawah dengan alasan tak terpakai nantinya.
Jelas saja itu hanya alibi saja, sebab Amel sudah bisa membaca jika kelak kamar itu akan digunakan oleh Amara.
Huh, jangan panggil aku Mama jika tidak bisa membaca akal bulus kamu, Dimas. Amel membatin penuh kemenangan.
Dimas dan Amara hanya diam dan saling pandang saat set ranjang baru dengan harga setara satu unit motor itu diangkut menggunakan truk. Ranjang itu adalah pilihan Amara sebab ia sendiri yang akan menempatinya.
Dimas memang menawarkan berbagai merk spring bed yang bagus dengan nominal yang membuat mata Amara seketika membola. Namun, pilihan Amara justru jatuh pada set ranjang berwarna putih itu dengan nominal harga paling murah dari yang lainnya. Ah, andai dia tahu nasib kasur itu akan berakhir mengenaskan tanpa bisa ia gunakan ....
"Tenang ... entar gue beliin lagi ranjang yang lebih bagus dari itu. Jangan sedih lagi, okay." Dimas mengusap punggung Amara selagi berucap, itu pun ketika sosok Amel tak lagi berada di dekat.
Amara masih tertegun menatap bagian belakang mobil truk yang bergerak menjauh itu. Ketika gadis itu menoleh dan menatapnya dengan sendu, ia kembali mengusap lembut punggung Amara dan tersenyum tulus untuk menenangkan.
"Terus, sebelum beli kasur baru aku tidurnya di mana?" tanya Amara masih dengan ekspresi sendu.
"Terserah lo," jawab Dimas cepat dengan ekspresi meyakinkan.
"Beneran? Terserah aku?" Mata Amara mulai berbinar senang.
"Beneran."
"Terserah aku mau tidur di mana aja?" Kali ini Amara terlihat antusias.
"Iya ... terserah elo mau tidur di mana aja, selama ...." Dimas menjeda ucapannya sembari menarik dari menjauhi Amara. Dengan bibir tersenyum miring, ia lantas melanjutkan kata sembari ambil ancang-ancang untuk lari. "Bukan kamar gue yang lo tidurin ... kabur!"
Terang saja ulah Dimas membuat Amara langsung geram. Lagi-lagi ekspektasinya tak sesuai dengan kenyataan. Sembari menatap kesal pada Dimas yang sedang lari masuk ke dalam, ia pun berteriak dengan geram.
"Mas Dimas awas kamu, ya!"
***
Dua hari sudah Amara dan Dimas hidup berdua di rumah baru. Tentunya mereka tidur terpisah dan ruang kamarnya pun yang berbeda. Karena tak mau tidur di sofa, Amara memutuskan membeli kasur lipat di toko furniture terdekat.
Bukan tanpa alasan Amara memilih benda itu sebagai alas tidur. Selain lebih ringkas dari pada ranjang, juga mudah disembunyikan ketika sang mertua datang bertandang.
__ADS_1
Walau awalnya Dimas merasa tak tega, tetapi melihat bagaimana Amara menyukainya tak urung membuat dia hanya pasrah menyerahkan keputusan pada istrinya. Toh ini juga hanya untuk sementara. Hingga mamanya yakin dan perlahan membuang jauh sikap over protective-nya.
"Dasar. Memang nggak ada potongan orang kaya sama sekali, lo ya. Udah dibeliin kasur yang empuk, eh baliknya ke kasur lipat lagi. Nasib ... nasib," ledek Dimas saat itu. Sedangkan reaksi Amara hanya mencebik.
Seperti yang telah mereka sepakati bersama di awal, Dimas dan Amara setuju tak akan mengusik ketenangan satu sama lain selama tinggal satu atap. Maka, hari-hari mereka lalui dengan kesibukan masing-masing tanpa saling mengganggu. Dimas sibuk bekerja, sedangkan Amara sibuk menyiapkan diri untuk kembali bekerja jadi perawat.
Namun, kendati demikian, keduanya tak pernah melupakan kewajiban. Dimas memberi nafkah lahir, sedangkan Amara memberikan pelayanan selayaknya istri pada umumnya meski bukan di atas ranjang. Keduanya tak jarang mengisi pertemuan singkat yang dimiliki di antara segudang kesibukan itu dengan komunitas yang baik. Makan bersama. Membahas apa yang perlu dibahas, kadang juga berdebat hingga berujung saling ejek.
Seperti pagi ini, Amara sudah duduk di meja makan setelah selesai menyiapkan hidangan untuk sarapan. Sambil menunggu Dimas turun, ia membuat segelas sereal yang dicampur dengan susu coklat dan menikmatinya selagi hangat.
"Heh. Bengong aja."
Amara tersentak saat Dimas tiba-tiba menepuk pundaknya. Ia bahkan nyaris tersedak oleh air susu yang baru di seruput. Ia sendiri bahkan tak habis pikir, benarkah barusan melamun sampai-sampai tak menyadari Dimas muncul?
"Ngelamunin apa lo barusan?"
"Aku? Melamun?" tanya Amara dengan jari menunjuk diri sendiri, sedangkan matanya menatap Dimas yang sudah duduk di kursi seberangnya dengan ekspresi penuh tanya.
"Ya kalau bukan melamun terus namanya apa? Orang lo sampai bengong gitu. Tuh, ilernya sampai netes masuk ke gelas."
Gelagapan, buru-buru Amara mengusap bawah bibirnya. Mendapati tak ada apa pun di tangannya, langsung saja sorot mata menusuk langsung terarah ke depan, tepat ke wajah Dimas.
"Lagian ... lo mikirin apa sih sampai bengong gitu? Oh iya gue tau. Pasti mikirin Juan yang lembek itu, kan?" tebak Dimas sambil memicingkan mata. Kemudian menyeruput kopi hitam yang sejak tadi sudah Amara siapkan. Melihat Amara hanya diam saja, ia memilih kembali melontarkan pertanyaan.
"Lo udah bilang ke Juan belum, tentang pernikahan kita?"
Amara tak menjawab dengan kata, melainkan sebuah gelengan kepala. Namun, hal itu cukup membuat Dimas cukup jengkel terhadapnya.
"Belum? Masih belum juga sampai sekarang!" tanyanya heran dengan nada suara tinggi.
Amara menggeleng untuk yang kedua kali.
Dimas sontak mendengkus.
"Amara ... Amara. Mau sampai kapan lo rahasiakan dari dia!"
"Aku nggak ngerti harus mulai dari mana dulu, Mas. Aku nggak berani." Amara menjawab dengan mimik takut-takut.
"Nggak ngerti mulai dari mana, gimana? Ya dari A, terus ke B, udah gitu ke C. Gampang, kan. Sesuai urutan!"
__ADS_1
"Tapi pengakuan itu enggak segampang ngapalin huruf abjad, Mas ...."
"Halah, itu tadi cuma perumpamaan aja! Apa perlu gue bantu ngomong ke Juan!" desak Dimas karena saking geramnya. Jelas saja Amara tak mau dan langsung geleng kepala.
"Jangan!" tolak Amara cepat. Ia takut, jika Dimas yang menjelaskan, Juan justru salah paham.
"Terus?"
"Iya. Nanti aku beraniin diri ngomong ke dia."
"Bagus," pungkas Dimas, lantas mulai menyantap sarapannya.
***
Pukul delapan pagi mobil mewah milik Dimas keluar dari rumah baru mereka dan melesat membelah jalanan kota. Pria itu tak sendiri. Di sisi kiri, Amara menempati kursi penumpang dengan pakaian rapi membalut badan.
"Lo janjian di mana sama Juan?" tanya Dimas setelah beberapa lama menempuh perjalanan.
"Kenapa memangnya?" Bukannya menjawab, Amara justru balik bertanya.
"Ya maksud gue lo mau diturunin di mana? Lo nggak berniat ngintilin gue nyampe kantor, kan?" tanya Dimas lagi dengan nada setengah curiga.
"Ih, ya nggak lah, Mas. Turunin aku di mall sana aja. Ada yang mau aku beli dulu soalnya. Habis itu langsung ketemuan sama Juan."
"Gue tau, lo pasti mau beliin dia oleh-oleh, kan? So sweet banget sih."
"Apaan sih. Kayak kamu nggak pernah aja."
Dimas lantas menepikan mobilnya tepat di depan mall besar yang ditunjuk oleh Amara. Gadis itu segera turun usai merapikan jilbab walau sebenarnya tak berantakan. Menutup pintu lantas setengah membungkuk demi melihat wajah Dimas, ia pun mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama. Gue cabut dulu, ya." Setelah berpamitan, Dimas pun kembali melajukan mobilnya.
Ketika hendak beranjak dari sana, tiba-tiba ponsel Amara berdering dan memaksa gadis itu merogohnya dari dalam tas jinjing.
"Mama?" Amara mengernyit heran saat melihat nama Amel terpampang di layar ponselnya. Gegas ia menggeser icon gagang telepon berwarna hijau untuk menerima panggilan.
"Assalamualaikum, Ma."
Gadis dengan balutan cardigan muslimah itu terdiam selagi yang di seberang berbicara, lantas tak lama kemudian menyahuti dengan mantap.
__ADS_1
"Insya'allah bisa, Ma. Amara segera ke sana."