Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Jalan pakai kaki gue


__ADS_3

“Apaan sih, Mas! Jangan ngeres, deh!” Amara memutar bola mata malas menanggapi reaksi berlebihan pasiennya. Bisa-bisanya pria itu berpikiran macam-macam sedang Amara belum menyelesaikan pertanyaannya.


“Terus, yang mau lo lihat, apaan coba?” Dimas bertanya penasaran.


“Orang yang aku omongin bekas operasi di kepala Mas Dimas! Aku mau lihat seperti apa bekasnya.”


“Owalah, gue kira apaan,” Dimas terkekeh geli. Gusar, lelaki itu kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Menatap Amara yang seolah masih menunggu jawabannya, ia pun membuka topi dan menyondongkan kepalanya. “Nih, kalau mau diperiksa. Udah beberapa hari ini enggak lo cek lagi, kan?”


 “Iya,” Amara lantas menyentuh kepala Dimas berniat untuk memeriksanya. Perlu sedikit usaha baginya untuk meraih kepala Dimas yang tanggung-tanggung saat mendekatkan kepalanya.


Ingin rasanya Amara protes dan meminta kepala Dimas lebih turun, tapi gadis itu terlalu segan dan tak enak hati. Ia juga perlu menjaga suasana hati pasiennya untuk mempercepat pemulihan.


Namun dengan postur tubuh Dimas yang menjulang, Amara jadi kesulitan untuk memeriksanya, hingga memutuskan untuk berdiri dengan satu kaki saja.


"Maaf ya, Mas. Saya berdiri. Soalnya nggak nyampai," ucap Amara dengan nada sedikit canggung.


"Makanya jangan boncel."


"Ih, siapa juga yang boncel? Sebagai wanita posturku udah cukup ideal, kok!" bantah Amara tak terima, kemudian menyebik kesal.


"Hemmm," Dimas menggumam untuk mengakhiri perdebatan.


"Sekarang diam dan patuh. Kalau masih bertingkah akan aku Jambak!" ancam gadis berpakaian putih-putih itu penuh ancaman.


"Iya, iya."


Perawat itu mulai menyibak helai demi helai rambut Dimas yang kini sudah tumbuh lebat. Sesekali menyentuh dan kadang sedikit memberikan tekanan untuk melihat bagaimana reaksi Dimas. Kesakitan atau tidak. Akan tetapi yang Amara lihat sedikitpun Dimas tak menunjukan pergerakan apapun.


Berarti dia baik-baik saja. Bukankah ini artinya lelaki ini sudah sembuh?


Karena berkeringat, mau tak mau membuat surai hitam Dimas basah dan lepek. Namun meski begitu, ia sama sekali tak mengeluarkan aroma yang tidak sedap.


Berkat perawatan yang baik dan telaten, bekas operasi itu bahkan sudah memudar dan hampir tak kelihatan. Amara tersenyum puas karenanya.


Agak lama tangan Amara bermain di kepala Dimas, hingga tanpa ia sadari, pria yang tampak begitu pasrah itu rupanya diam-diam menikmati sentuhannya.


KiJemari selembut sutra itu benar-benar membuat Dimas terbuai. Ada sensasi nyaman dan menyenangkan saat terjadi kontak fisik meski hanya dari helaian rambut.

__ADS_1


Karena begitu menenangkannya, mulut Dimas bahkan menguap. Matanya terasa berat dan mendadak ingin terpejam. Diam tanpa bergerak dengan posisi menunduk agak lama benar-benar membuatnya benar-benar


"Sumpah, gue ngantuk Mar." Dimas berucap dengan mata setengah memejam. Dahinya bahkan hampir membentur dada Amara andai gadis itu tak menahannya.


"Mas." Sambil menahan kepala Dimas, Amara setengah merunduk untuk menatap wajah pria itu.


Dimas terkesiap, lalu mengerjap-kerjap. "Sumpah gue pengen tidur."


"Mas, ini di pinggir jalan! Masa mau tidur?"


"Bodo amat. Lo yang bikin gue ngantuk!"


Seolah tak peduli tempat, Dimas benar-benar memejamkan matanya dengan posisi kepala masih tertahan oleh Amara.


Gadis berjilbab itu mendesah kasar. "Mas. Bangun!" tegasnya. Namun Dimas tak menghiraukan. Alih-alih bangun, pria itu malah mendengkur.


Entah apa yang ada dalam benak Dimas. Tangannya mendadak bergerak melingkar di pinggang Amara lantas merengkuhnya begitu erat seolah-olah tengah memeluk bantal guling. Sontak gadis itu terperanjat dan spontan mendorong tubuh Dimas sambil meneriakkan namanya.


Lagi-lagi Dimas terkesiap. Gerakan Amara yang meronta tadi berhasil mengejutkannya hingga terbangun dan membuka mata.


"Apaan sih?" Dimas mendongak dan menatap Amara yang tengah memasang wajah garang. Seolah tak tahu apa-apa, ia justru mengedikkan dagunya seraya bertanya, "Apaan, sih?"


Berniat mencari tahu sendiri jawabannya, Dimas pun menurunkan pandangan. Lelaki itu langsung membelalak menyadari ternyata tangannya melingkar di pinggang Amara begitu kuat, sampai-sampai sang perawat tak berhasil melepaskan diri.


Secara spontan ia melepaskan gadis itu. Namun gerakannya yang begitu tiba-tiba rupanya membuat Amara yang berdiri dengan satu kaki menjadi oleng. Beruntung, Dimas bisa kembali menangkap tubuh Amara sebelum limbung.


"Hati-hati, dong! Kalau gini caranya Lo bisa jatuh!" sentak Dimas dengan nada mengingatkan sambil mendudukkan tubuh Amara yang masih terbengong di sampingnya. Tampak sekali gadis itu masih belum bisa menguasai diri dari keterkejutannya.


"Kan tadi Mas Dimas yang bikin aku hampir jatuh!"


"Lo diperingatkan kok malah sewot!" sahut Dimas tak terima. Kesal, pria itu mendengkus, lantas membuang muka dan menggumam. "Tau gitu gue nggak nolong lo, tadi. Biarin aja jatuh terjungkal lagi."


"Mas Dimas kok gitu?"


Dimas menoleh dan menatap raut penuh sesal pada wajah Amara. Sebelum gadis itu membuka mulut dan nyerocos panjang lebar, lebih dulu ia meraih tangan si gadis dan menariknya sembari bangkit.


"Dah, pulang yuk. Ngapain lama-lama di sini."

__ADS_1


Menyeret Amara begitu saja, Dimas sampai-sampai lupa jika kaki Amara masih terluka. Sontak saja gadis itu kembali memekik menahan sakit.


"Aow, sakit ...!" Amara mengentakkan tangan Dimas hingga pria itu menoleh ke belakang. "Nggak bisa pelan-pelan dikit, apa? Kakiku masih sakit ...!"


"Oh iya, lupa." Dimas menepuk dahinya sendiri lalu tersenyum kecut. "Sorry, saking pengennya pulang," kilahnya kemudian.


"Pulang, ya pulang! Tapi nggak perlu nyeret orang juga, dong!"


"Iya, iya. Gitu aja jadi masalah. Sini gue papah." tanpa canggung, Dimas meraih lengan kiri Amara lalu melingkarkan pada lehernya dari samping.


Awalnya Amara terkejut dan merasa canggung. Namun, setelah Dimas menyunggingkan senyum, ia pun patuh saat Dimas mulai memapahnya.


Sebenarnya luka Amara tak terlalu dalam hingga sampai mengkhawatirkan, tapi karena luka itu tepat pada telapak yang menjadi tumpu, Dimas khawatir kaki Amara akan mengeluarkan banyak darah mengingat gadis itu tak kuat menahan sakit.


"Kalau gini caranya, kapan bakal nyampai rumah!"


Amara langsung menatap Dimas mendengar pria itu menggerutu. Entah mengapa ia merasa tersinggung dengan perkataan pria itu. Berniat tak ingin menyusahkan orang lain, ia pun segera melepaskan diri dari Dimas dan menjauh untuk menciptakan jarak.


"Aku bisa jalan sendiri. Mas Dimas kalau mau lari, ya lari aja!" ucap Amara saat Dimas menatapnya dengan raut kebingungan.


"Maksud lo apa?"


"Kan aku sudah bilang, Mas Dimas kalau mau duluan ya duluan aja. Entar saya nyusul."


"Ya nggak bisa gitu, dong. Berangkat bareng, pulangnya juga harus bareng."


"Mas Dimas pasti bakalan nggak sabar nunggu jalan saya yang lamban," sahut Amara memberi penjelasan.


"Kalau gitu jalan pakai kaki gue biar cepet."


Amara menautkan alisnya tak mengerti. "Maksudnya?"


Tak menjawab dengan perkataan, Dimas justru menunjukkan melalui tindakan. Tanpa aba-aba, pria itu lantas membungkuk dan kemudian merengkuh tubuh Amara ke dalam gendongannya.


"Mas Dimas! Apa-apaan ini? Ngapain saya digendong?"


Meski Amara meronta minta diturunkan, tapi Dimas dengan mudahnya mengabaikan dan tetap melangkah menuju pulang.

__ADS_1


Bersambung


Maaf guys, hari ini aku lagi gabut🤧😤😟


__ADS_2