
"Amara ...."
Jauh dari dugaan Amara, Winda yang menyadari kehadiran gadis itu segera menyambutnya dengan pelukan hangat serta senyuman ramah.
"Kamu cantik sekali, Sayang. Bagaimana kabar kamu sekarang?" Winda bertanya usai mengurai pelukannya, kemudian memegang lembut tangan gadis itu dan menatap matanya dengan binar bahagia.
Amara tercekat. Untuk sejenak, ia hanya bisa terbengong, sebelum akhirnya bola mata bening itu mengerjap-kerjap kebingungan. Merasa ada yang tak beres dengan Winda, ia lantas menoleh pada Juan yang berada di sisi kanan, seperti tengah bertanya melalui pandangan mata.
Juan yang tampaknya paham akan arti sorot mata Amara seketika mengangkat sudut bibir hingga menampakkan senyum disertai anggukan kepala.
"Alhamdulillah baik, Tante." Amara menjawab kemudian.
"Bagus. Tante senang mendengarnya." Winda bertutur dengan tegas.
Sesi ucapan selamat Amara pada orang tua Juan terus berlanjut dengan obrolan hangat. Sontak saja hal itu menjadi pusat perhatian para undangan yang datang. Tak sedikit dari mereka yang menyangka jika Amara adalah calon istri Juan, hingga ucapan selamat serta doa bahagia bertubi-tubi datang menghampiri.
Namun, sayangnya ada sesosok yang tampaknya tak menyukai hal itu. Dari kejauhan, seorang gadis cantik dengan bentuk tubuh proporsional terlihat tengah mengamati kedekatan dua wanita itu dengan tangan mengepal kuat. Rahangnya mengetat, dan matanya menyorotkan dendam yang membara.
"Harusnya gue yang ada di sana. Bukan dia!" geramnya penuh amarah. Sayangnya, tidak ada seorang pun yang mendengar suara itu meski diucapkan dengan lantang. Sebab, kebisingan yang menyelimuti ruangan berhasil meredam pekikan bernada gemetar itu hingga tenggelam ditelan keramaian.
"Maaf, sepertinya saya datang terlambat."
__ADS_1
Amara sontak menoleh saat suara familiar itu menyapa gendang telinganya dari arah belakang. Ekspresi gadis itu sontak berubah, diiringi gemertak jengkel yang berasal dari gigi putihnya akibat sisa kecemasan yang sempat tertahan.
"Mas Dimas kamu ke mana aja, sih? Aku khawatir, tau nggak!" geramnya dengan wajah memberengut. Mata bening itu masih dengan tajam mengawasi setiap gerakan Dimas yang duduk mengambil posisi di sebelah kirinya. Tanpa rasa bersalah, Dimas justru menanggapinya dengan bibir cengar-cengir.
"Sorry, gue ada perlu sebentar." Lekas-lekas Dimas beralasan karena mendapat serangan tatapan tajam dari Juan beserta Amara.
"Bisa nggak sih, kalau mau kabur itu pamit dulu."
Dimas sontak terkekeh mendengar kalimat Juan barusan. Seketika tangannya bergerak memberikan pukulan tepat di lengan Juan, sembari berkata, "Woy, orang kabur mana ada yang bilang-bilang! Yang ada dia dikurung entar. Lagian, tanpa gue pesta tetep berjalan, kan?"
"Pestanya tetep jalan, tapi dia yang terus gelisah!" ketus Juan pada Dimas, tetapi matanya melirik ke arah Amara dengan sikap menyindir yang kental, membuat gadis itu memberengut karenanya.
"Ish, apaan sih? Aku cuma takut dia nyasar," sahut Amara memberi penjelasan, yang seketika membuat ekspresi wajah Dimas berubah.
Penjelasan bernada lembut serta tatapan jujur dari sepasang bola Dimas itu tak ayal membuat Amara melembut pula. Gadis itu tersenyum tulus, lalu mengangguk tanda paham.
"Makasih udah cemasin gue," imbuh Dimas tulus.
"Sama-sama, Mas," balas Amara.
Keduanya masih saling menatap dalam diam sampai-sampai tak menyadari jika ada yang mulai tak nyaman dengan hal ini.
__ADS_1
"Ekhem!"
Dimas dan Amara sontak mengalikan pandangan bersamaan kala mendengar suara dehaman Juan. Benar saja, pria itu tengah bersedekap dada dan memasang wajah tak suka.
"Ya elah. Dunia berasa milik berdua, ya? Lupa, kalau ada hati yang perlu dijaga?"
Ceketukan Juan itu tak ayal mengundang tawa semua yang ada di sana. Orang tua Juan yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, akhirnya tergelitik untuk bertanya karena begitu penasaran.
"Maaf, ini dengan siapa, ya?" tanyanya ditujukan pada Dimas.
Dimas yang saat itu masih tertawa seketika menghentikan tawa. Memasang senyum semanis gula, lantas menyodorkan tangan untuk memperkenalkan diri dengan sikap sopan.
"Saya adalah pasien Amara sekaligus klien Juan, Tante. Oh, ya, sebelumnya, happy anniversary untuk Tante dan Om, semoga langgeng sampai maut memisahkan. Senang sekali bisa berkenalan dan hadir pada pesta yang hebat ini."
"Owh ini yang namanya Dimas? Juan pernah nyeritain kamu beberapa kali, loh," tutur Winda yang masih berjabat tangan dengan Dimas. Wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu tersenyum sembari melirik ke arah putranya.
"Oh ya?" Dimas mengerutkan keningnya.
"Iya."
Bola mata Dimas berputar ke arah Juan, kemudian bertanya dengan nada curiga. "Lo nggak cerita yang aneh-aneh sama Tante, kan? Lo nggak ngomong kalau gue gila, kan?"
__ADS_1
Sontak saja semua yang ada di sana tertawa melihat ulah Dimas.