
Hingga seminggu berlalu, Dimas dan Amara masih belum menemukan rumah idaman yang pas untuk mereka. Rupanya uang banyak tak lantas menjamin kemudahan. Nyatanya membeli rumah yang sesuai dengan hati tak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih menyatukan dua manusia dengan isi kepala berbeda.
Saat Amara telah cocok dengan sebuah rumah, di sisi lain Dimas justru tak setuju dengan alasan yang terkesan dibuat-buat. Terlalu kecil, lah. Terlalu dekat dengan rumah mama, lah. Bangunannya tidak kuat, lah, dan bla bla bla.
Ia yang seorang kontraktor terlalu cerewet dalam urusan hunian. Terang saja ia perlu banyak pertimbangan. Hunian untuk masa depan bukan semata dilihat dari sisi keindahan saja. Struktur bangunan, serta lingkungan sekitar juga berpengaruh pada kenyamanan penghuninya. Sayangnya, mereka butuh rumah yang sudah jadi hingga bisa ditempati dengan cepat. Andai tak terburu-buru, ia ingin merancang sendiri rumah yang indah dan nyaman untuk mereka berdua.
"Yang ini aja, ya Mas. Aku suka. Ada taman kecil dan kolam ikan. Suasananya juga lebih adem karena banyak pepohonan," kata Amara saat mereka sedang melihat-lihat rumah yang berada di pinggiran kota.
"Gue nggak mau," tegas Dimas, yang seketika membuat Amara pasang tampang heran.
"Lah, kenapa? Alasannya apa? Udah jauh-jauh kita ke sini, masa nggak jadi lagi?" keluhnya dengan ekspresi lelah.
"Lo nggak lihat, tempatnya kayak hutan gini!"
Amara menggeram kesal. Sejujurnya ia sudah sangat lelah seharian ini berkeliling kota. Setiap ada teman yang merekomendasikan, keduanya langsung antusias mendatangi lokasi yang disebutkan. Tapi, ya gitu lagi gitu lagi. Perbedaan selera selalu jadi alasan utama.
"Katanya rumah itu nantinya untuk aku. Tapi kenapa justru kamu yang banyak mau!"
"Tapi gue entar tinggal di sana selama enam bulan, Amara. Enam bulan itu bukanlah waktu yang sebentar!"
"Terserah," pungkas Amara kesal dengan nada penuh penekanan. Ia lantas berlalu meninggalkan Dimas. Dan seperti sebelum-sebelumnya, hari itu mereka tak mendapatkan hasil apa-apa.
Keesokan harinya, Dimas memutuskan pergi ke kantor dan menghentikan survei lokasi rumah yang akan mereka beli dengan alasan lelah. Sedangkan Amara memilih diam di rumah karena merasakan tak enak badan. Hanya alibi, sebab Amara justru haha-hihi bersama Euis dan Eli.
Sore itu, Amara yang selesai mandi dibuat keheranan oleh Dimas yang tiba-tiba meneleponnya.
Amara meraih benda pipih itu, menggeser icon gagang telepon berwarna hijau, lantas menempelkan pada telinga.
"Assalamualaikum, Mas. Ada apa?" sapanya membuka percakapan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Lo di mana?" tanya Dimas dari ujung telepon.
"Di rumah."
"Siap-siap, ya. Bentar lagi gue jemput. Ada sesuatu yang mau gue tunjukin sama lo."
"Mau tunjukin a–" Amara menghentikan pertanyaan lantaran sambungan terputus. Gadis itu menurunkan ponselnya dan mendesah pelan, lalu menggerutu pada layar. "Kebiasaan. Belum juga kelar ngomong, udah main tutup aja. Eh, kira-kira Mas Dimas mau nunjukin apa, ya?" gumamnya bertanya-tanya.
Selang beberapa lama, Dimas benar-benar tiba di rumah. Ia langsung menghampiri Amara yang tengah berada di kamarnya, lantas membawa gadis itu ke tempat yang masih dirahasiakan.
Amel dan penghuni rumah lainnya bahkan tak diizinkan bertanya oleh Dimas. Sebab dalam waktu singkat mobil mahalnya sudah lebih dulu melesat.
"Mas, kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Amara dalam perjalanan.
"Ada, deh. Entar lo juga tau." Dimas menjawab santai sambil senyum-senyum nggak jelas. Jelas saja Amara jadi kesulitan menebaknya.
Amara sontak menatap Dimas dengan wajah heran saat pria itu tiba-tiba membelokkan mobil pada sebuah gerbang kompleks perumahan kelas menengah.
Setelah melewati beberapa unit rumah, Dimas menepikan mobilnya tepat di depan sebuah bangunan berlantai dua dan berpagar besi setinggi dada. Usai mematikan mesin, pria itu gegas turun dengan wajah ceria seperti biasanya, dan dengan langkah ringan berjalan mendekati pagar usai menutup pintu mobil.
Ketika menyadari sang istri masih betah berada di kendaraan, barulah ia menggeleng pelan lantas berjalan cepat menghampiri.
"Turun, yuk," ajaknya saat kepala Amara melongok keluar.
"Ini rumah siapa?" tanya Amara penasaran.
"Ada, deh." Lagi-lagi Dimas memicu rasa penasaran Amara. Setelah membuka pintu mobil, ia lantas membantu Amara turun dari sana. Tanpa segan, ditariknya tangan gadis itu masuk usai membuka pagar. Bahkan mengambil kunci dari saku celana guna membuka pintu utama.
Melihat sendiri bagaimana tindakan Dimas yang tanpa canggung dan bahkan membawa kunci sendiri, mau tak mau pikiran Amara langsung menghubungkan semuanya dengan tanggap.
__ADS_1
"Mas Dimas udah beli rumah ini untuk kita tempati?" tanyanya setengah menebak. Ia mengamati suaminya dengan mata memicing seperti tengah menyelidik.
Mendengar hal itu dipertanyakan, Dimas sontak mengulas senyum selagi membalas tatapan istrinya.
"Iya. Lo suka, kan?" Dimas menjawab cepat, lalu kemudian balik bertanya.
Amara tak langsung menjawab pertanyaan Dimas. Gadis itu justru menyibukkan diri mengamati setiap jengkal teras sisi kiri yang menyatu dengan garasi mobil. Rumah dengan warna dominan biru pastel yang lembut itu memang sesuai keinginannya jika dilihat sekilas. Masih memiliki halaman kendati berimpitan dengan tetangga kiri kanan. Namun, dengan tembok tinggi yang jadi pembatas, sepertinya itu cukup menjaga privasi dan dijamin tak akan mendengar suara teriakan tetangga sebelah.
Ketika lehernya berputar dan menatap ke sisi kanan, matanya langsung berbinar senang mendapati kolam kecil di antara taman bunga berukuran mini.
"Tuh, ada kolam ikan sama taman mini. Sesuai sama ekspektasi lo, kan?"
Dimas yang sejak tadi mengamati Amara tentu saja menangkap ekspresi senang gadis itu sekalipun tampak samar. Amara tak menjawab pertanyaannya, melainkan hanya mengulum senyum dan berjalan menghampiri kolam kecil yang dihuni oleh puluhan ikan koi. Gadis itu berjongkok, lalu memasukkan tangannya ke air dan menciptakan pada ikan yang berenang.
"Apalagi lokasinya dekat dengan rumah sakit. Idaman lo banget, kan? Suka nggak, suka nggak? Ya jelas suka, lah!"
"Kenapa nggak bilang-bilang dari awal kalau kamu sudah ada gambaran?" tanya Amara setelah berdiri dan berhadapan dengan Dimas. "Tau gitu kan kita nggak usah capek-capek hunting yang nggak ada hasil."
"Hehe, sengaja," tutur Dimas sambil menelusupkan jemarinya ke dalam saku celana. Pria itu setengah membungkukkan badan, kemudian membisikkan kata pada Amara dengan nada nakal. "Biar lo lelah hayati."
"Huh, jahara," timpal Amara sambil memukul gemas lengan Dimas.
"Biar," balas Dimas.
"Dasar." Amara mengumpat dengan nada lirih sambil mencebik. Namun, karena Dimas terus saja memperhatikannya dengan senyuman, mau tak mau ia pun tersenyum dengan rona bahagia.
"Masuk, yuk. Kita lihat-lihat dalamnya kayak apa."
"Yuk."
__ADS_1