
Eli menutup tubuh Amara yang sudah terbaring di ranjang hingga sebatas dada. Ia tersenyum, lantas membelai puncak kepala yang tertutup jilbab gadis itu dengan lembut.
Amara sudah terlihat lebih tenang usai mencurahkan perasaannya pada Eli. Wanita paruh baya itu dengan sabar menjadi pendengar yang baik selama gadis berjilbab itu bercerita.
Namun kini keadaan Amara sedikit memburuk akibat influenza yang tengah dialaminya. Suhu tubuhnya naik, dan wajahnya semakin pucat. Eli segera memberikannya obat dan menyuruhnya beristirahat.
"Bi Eli," lirih Amara seraya memegangi tangan Eli.
"Ya, Cantik ...?" balas Eli sambil tersenyum.
Amara yang tubuhnya lemah lantas terseyum lembut. "Makasih udah dengerin keluh kesah Amara," ucapnya penuh haru.
Eli menganggukkan kepala sambil mengedipkan mata lamat-lamat. "Bibi selalu ada kapanpun Amara membutuhkannya," tuturnya penuh keyakinan. Ia lantas meremas lembut jemari Amara. "Sekarang istirahat dulu, ya. Jangan ambil hati perkataan Mas Dimas tadi. Sekarang, Bibi tinggal ke dapur dulu."
Amara mengangguk pelan. Eli pun berbalik badan usai berpamitan, kemudian melangkah meninggalkan Amara.
Amara masih tak bergeming dari posisinya. Ia masih terpaku menatap punggung Eli hingga menghilang di balik pintu. Gadis itu lantas menghela napas dalam, menarik selimut hingga menutupi leher lantas memiringkan tubuhnya ke arah kanan. Dan mulai memejamkan mata hingga terlelap sepenuhnya.
***
Eli nampak terseyum mendapati Dimas tengah duduk di kursi taman. Ia akhirnya menghela napas lega setelah mencari pemuda itu sampai ke mana-mana.
Tanpa pikir panjang, wanita paruh baya itu segera melangkah mendekati dengan membawa nampan di tangannya.
"Mas Dimas," panggil Eli saat sudah berada tak jauh.
Pria dengan balutan kaus oblong serta celana panjang berwarna putih itu langsung menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Bibi bawakan kopi hitam kesukaan Mas Dimas."
Dimas mengangguk samar. "Terima kasih, Bi. Bibi tau aja kalau Dimas lagi pusing," celetuknya kemudian. Lelaki itu lantas memalingkan wajah.
"Sama-sama, Mas." Eli meletakkan kopi hitam beserta toples berisi camilan ke atas meja, lantas mendudukkan diri di samping Dimas.
Wanita berkulit kuning langsat itu tersenyum samar selagi mengamati wajah Dimas yang nampak lesu. Pria itu cemberut. Sementara pandangannya kosong meskipun menatap air kolam renang yang saat itu dalam keadaan tenang.
"Mas Dimas lagi kesel, ya?" tanya Eli kemudian setelah beberapa saat keduanya sama-sama terdiam.
Dimas sontak menoleh ke arah Eli lalu mendengkus sambil memalingkan muka. "Gimana nggak kesel coba, Bi. Tau-tau Amara nampar aku gitu aja. Dia pikir aku apa!"
"Apa pipi Mas Dimas sangat sakit?" tanya Eli kemudian.
"Sakit di pipi sih, enggak ... tapi sakitnya tuh di sini, Bi ...," jawab Dimas sambil menepuk-nepuk dadanya dengan keras.
"Begitu juga dengan Amara," Eli menyahut cepat.
Eli terseyum lembut menatap Dimas yang terbengong bingung. "Boleh Bibi bercerita sedikit tentang Amara?"
***
"Sial sial sial!" Dimas menggerutu sambil mondar-mandir di kamarnya. Giginya menggemertak dan tangannya mengepal. Cerita Eli mengenai Amara sore tadi masih mengiang-ngiang di kepala. Entah mengapa kini rasa sesal tiba-tiba menyeruak, menggulung di dada hingga membuatnya merasa sesak.
Selama ini Amara terlihat begitu tangguh di matanya. Siapa sangka jika sebenarnya gadis itu sebatang kara. Pada akhirnya Dimas menyadari jika ia terlalu berlebihan memperlakukan perawat itu dengan mengungkit keluarganya. Tapi mana dia tau jika hal itu menyinggung perasaannya. Ia hanya merasa aksi menembak saat itu adalah bagian akhir yang harus dijalani sebelum ia memastikan dirinya sembuh total.
"Gue harus bagaimana sekarang?" Dimas menghentikan mondar-mandirnya lalu berkacak pinggang. Berbicara sendiri dengan nada setengah menggeram. "Iya, gue tahu Amara sudah berbuat banyak buat kesembuhan gue. Dari itu gue harus mengapresiasinya dengan perlakuan baik. Tapi apa dong? Gue nggak bisa minta maaf secara langsung. Hah bingung!" Dimas mengacak rambutnya dengan kasar.
__ADS_1
Hari sudah semakin malam tapi mata Dimas belum mau terpejam. Malam ini ia lewati tak seperti malam-malam sebelumnya. Tak ada obat yang diberikan Amara seperti malam-malam sebelumnya. Tak ada camilan buatan dia. Dan tak ada omelan dari bibir Dimas yang pura-pura kesal pada perawatnya.
Dimas mendesah pelan. Ada yang kurang dalam dirinya malam ini. Terasa hampa. Tapi entah karena apa. Tak ingin dikuasai rasa gelisah, iapun memutuskan untuk keluar kamar.
Usai menutup pintu dari luar, Dimas terdiam sejenak. Pria dengan piyama berwarna putih itu termangu menatap pintu yang tertutup rapat tepat di samping kamarnya. Di situlah kamar Amara.
"Dia lagi apa, ya?" gumamnya bertanya-tanya. Masih menatap pintu itu, Dimas menggigit bibir bawahnya. "Kalau gue ngintip bentar, nggak papa kali ya?" Menoleh ke kanan dan kiri, tak ada sesiapapun ia dapati. "Ah bodo amat, nggak ada orang yang lihat juga."
Dimas melangkah ringan menuju pintu itu. Mencoba memutar tuas, ia terbelalak mendapati pintu itu terbuka. Hohoho, nggak dikunci ternyata.
Menoleh lagi ke kanan dan kiri, ia kemudian menyembulkan kepalanya masuk ke dalam. Matanya menyisir ruangan, dan mendapati sesosok tubuh tengah bergulung di bawah selimut di atas ranjang. Tubuh itu tertutup seluruhnya, hingga membuat wajah si pemilik tak nampak.
"Dia lagi tidur rupanya," gumam Dimas sambil tersenyum. Mendorong daun pintu itu perlahan, ia lantas masuk ke dalam. Pria itu melangkah tanpa bersuara mendekati ranjang dan berdiri di sisinya. Terdiam, ia memindai tubuh mungil yang tertutup selimut itu.
Dimas setengah membungkukkan badan dengan dua tangan bertumpu pada tepian ranjang. Mendekatkan bibirnya pada tempat yang ia pikir itu adalah telinga Amara, Dimas lantas berbisik. "Mar, maafin gue untuk kejadian tadi, ya."
"Loh, Mas Dimas ngapain di situ?"
Dimas sontak membelalak mendengar suara Amara. Tapi kenapa bukan berasal dari bawah selimut? Pria itu masih terpaku di tempat dengan posisi semula. Merasa ada yang janggal, ia menoleh ke arah belakang dengan perlahan, dan semakin dibuat heran mendapati Amara tengah berdiri di depan pintu toilet dengan wajah basah.
"Amara ...!" seru Dimas wajah histeris, bahkan membelalak seperti tak percaya. "Lo ngapain di situ?"
"Saya barusan wudhu," jawab Amara sambil menunjuk pintu toilet dengan ibu jarinya tanpa menoleh. Matanya masih menatap pria itu penuh curiga sebelum kemudian memberikan diri untuk bertanya sambil memiringkan kepala. "Mas Dimas, ngapain di situ? Mas Dimas mau nyium--" Amara membungkam mulutnya yang ternganga dengan mata membelalak.
"Astaghfirullah." Dimas sontak berjingkat lalu menarik diri. Ia mengerti kemana arah pembicaraan Amara dengan melihat posisi tubuhnya yang seperti ingin memeluk tubuh di balik selimut. Yang jadi pertanyaan sekarang, siapa yang ada di sana jika bukan Amara?
"Hooaaaam?" Suara lenguhan pun terdengar dari balik selimut. Nampak pergerakan di bawah sana yang disusul dengan menyingkapnya selimut warna merah jambu motif bunga-bunga itu yang kemudian menampilkan Eli dengan wajah bantal dan mata mengantuk yang dipaksakan terbuka. Wanita paruh baya itu langsung tercengang mendapati Amara dan Dimas tengah menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Loh, ini ada apa to?" tanyanya kemudian dengan wajah kebingungan.
Bersambung