
"Tidurlah, Sayang. Aku akan selalu di sini untuk menjagamu."
Entah sungguhan atau hanya acting saja, ucapan serta tindakan yang Amara tunjukkan itu membuat hati Dimas berbunga-bunga. Ia laksana musafir kehausan yang menemukan oase di padang pasir. Dahaganya akan kasih sayang dari Amara seperti terpenuhi saat itu juga.
Namun, meski demikian ia belum mau berpuas diri secepatnya. Diliriknya Naura yang masih berdiri di sana. Dengan tatapan tercengang sembari mengepalkan kedua tangan. Seolah-olah belum sadar diri, gadis itu masih bertahan dan dengan gamblang menonton pertunjukan yang dirinya dan Amara suguhkan.
Menambahkan sedikit adegan erotis sebagai pelengkap, sepertinya akan lebih seru. Lihat bagaimana kau akan lebih tercengang, Naura, batin Dimas licik.
Ketika itulah, Dimas langsung memeluk Amara dan menempatkan wajahnya pada dada gadis itu. Ia bisa merasakan Amara sangat terkejut oleh tindakannya yang diluar dugaan.
Wangi. Hangat. Itulah kesan pertama Dimas merasakan sesuatu milik Amara yang belum pernah dijamahnya.
Senyum Dimas diam-diam mengembang mendengarkan deguban jantung Amara yang tak beraturan. Gadis itu berdebar-debar.
Cintakah dia? Atau hanya terkejut saja? Dimas bahkan tak mau tahu penyebabnya apa. Yang jelas, saat ini ia sangat bahagia sebab Amara sama sekali tak menolak apa pun yang dilakukannya.
Diam, rupanya Dimas menunggu reaksi Amara. Beberapa saat sejak dirinya merapat, Amara masih bergeming layaknya beku. Dan sepertinya bukan hanya dirinya saja yang sedang menunggu itu. Naura juga. Gadis itu seperti ingin membuktikan dengan mata kepalanya sendiri, sebahagia apa Dimas dengan Amara saat ini. Benarkah keduanya saling mencintai? Atau hanya pura-pura saja sebab ada dia di sini?
"Tidurlah. Aku selalu ada di sini untuk kamu, Mas."
Dimas tercengang saat merasakan usapan di kepalanya menyusul kata-kata Amara barusan. Sangat lembut meskipun jemari itu terasa dingin dan gemetar. Juga terasa nyaman. Benar-benar membuat hatinya menghangat. Bahkan ketika ia mendongak agar bisa menatap wajah Amara demi memastikan bagaimana ekspresinya, rupanya gadis itu tersenyum tulus sebelum kemudian mengecup keningnya begitu lembut.
Benarkah ini nyata? Amara mengecupku? Dimas membatin tak percaya, tetapi inilah faktanya. Bahkan andai ini hanya mimpi pun ia tak ingin segera bangun. Atau mungkin jika hanya sandiwara pun ia tetap akan bersyukur.
Sedang asyik menikmati euforia kebahagiaannya, ia dan Amara disentakan oleh sebuah suara.
"Aku nggak percaya ini! Ini pasti cuma sandiwara!" Naura menggeleng dengan geram. Ia lalu berjalan cepat mendekati ranjang. "Berhenti mengganggu Dimasku, Amara! Dasar wanita perusak hubungan orang!"
Dimas mendelikan mata kala melihat Naura berdiri di belakang Amara. Andai saat itu ekspresi Naura terlihat tenang, ia takkan terkejut begitu. Pasalnya, Naura terlihat berang, dan sudah mengangkat tangannya seperti akan menyerang. Aura kemarahan menyeruak begitu kental.
"Jangan pernah sentuh Amara-ku jika kau ingin selamat, Naura!" hardik Dimas sembari menangkap tangan Naura dengan cekatan. Dicekalnya pergelangan itu dengan kuat hingga Naura meringis merasakan nyeri di sana.
"Lepaskan aku, Dimas! Biarkan aku menghajar wanita tak tahu diri ini!" Naura memekik sembari berusaha melepaskan diri, sementara mata dan tangan kirinya menuding tepat ke arah Amara dengan penuh kebencian.
Sementara itu Dimas menggemertakkan gigi. Ia marah semarah-marahnya. Ia tak terima jika Amara diperlakukan demikian oleh Naura.
__ADS_1
"Tanganmu akan kupatahkan sekalipun tindakan konyolmu itu baru sebatas niatan, Naura." Kalimat ancaman itu Dimas lontarkan dengan penuh penekanan. "Akan kupastikan kau akan mengalaminya berkali-kali lipat dari yang kau lakukan pada Amara. Jadi, pastikan yang kau lakukan adalah hal baik jika ingin aku berbuat baik kepadamu juga." Dimas mendesis diiringi tatapan kebencian, dan di mata Naura itu sangat mengerikan.
"Dimas, kau membelanya?" Naura menggeleng tak percaya. Sejauh hubungannya dengan Dimas, Naura tak pernah melihat Dimas semarah itu kepadanya, apalagi sampai melontarkan ancaman yang begitu mengerikan.
"Ini bukan lagi hanya sebuah ancaman jika kau sampai berbuat nekat." Lagi, Dimas mendesis.
"Dimas–"
"Apa!" potong Dimas dengan suara lantang. Ia hendak kembali memaki Naura, tetapi urung lantaran Amara mencegahnya dengan bahasa isyarat. Sebagai sama-sama wanita, Amara tentunya tahu seperti apa perasaan Naura sekarang.
Namun, alih-alih mengikuti keinginan Amara, Dimas justru semakin memojokkan Naura.
"Biar aja, Sayang. Biar dia tau letak salahnya di mana! Aku yakin, dia nggak bakalan ngerti juga karena dia nggak punya hati."
"Dimas!" Mendengar perkataan Dimas itu, Naura memekik tak terima. Namun, wajah berang itu seketika berubah sendu sebelum kemudian banjir air mata. "Kenapa kamu tega bicara seperti itu sama aku, Dim? Kenapa?" lirihnya tak berdaya.
"Karena kamu lebih tega sama aku!" balas Dimas dengan nada kesal. Ia menatap Naura dengan nyalang sebelum kemudian mengusirnya pulang. "Mendingan sekarang kamu pulang, Naura. Nggak ada yang menginginkan kamu ada di sini."
"Nggak mau." Naura menggeleng. Tolong pikirkan lagi kata-katamu itu, Dimas."
Dimas mendengkus kesal lantaran si keras kepala masih bergeming di tempatnya. Ia lantas menggeleng, tak habis pikir, bisa-bisanya ada wanita seperti dia? Sudah dipermalukan sedemikian rupa tapi masih berharap juga. Sebegitu besarnyakah cinta Naura, atau dirinyalah yang belum maksimal membuatnya jera?
"Mas, tenangin diri kamu, ya. Jangan emosi." Amara mengusap lembut punggung Dimas sebagai tindakan untuk menenangkan.
Jujur, berada di posisi ini ia benar-benar tidak nyaman. Di antara dua orang yang pernah menjalin cinta dan kini tengah bersitegang. Apalagi dirinya sempat dijadikan sebab lantaran Dimas membelanya mati-matian. Ia merasa terjebak. Bisakah ia melepaskan diri dari hal ini?
"Mas, aku keluar dulu, ya. Bicarakan masalah kalian secara baik-baik dengan Mbak Naura. Aku akan masuk setelah kalian selesai bicara." Amara hendak bangkit tapi buru-buru Dimas mencegahnya.
"Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan, Sayang. Semuanya udah selesai." Dimas memegangi tangan Amara dan menatap gadis itu seperti memohon. "Plis, jangan tinggalkan aku. Aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu."
Disadari Dimas atau tidak, kata-katanya itu benar-benar membuat hati Amara melambung tinggi. Amara sangat bahagia meskipun ini cacat logika. Bagaimana bisa pria dingin bisa berubah bucin hanya dalam waktu sekejap mata kalau bukan karena sandiwara.
Namun, ia hanya wanita biasa, yang mudah baper hanya karena perlakuan manis seorang pria. Kapan lagi merasakan kasih sayang Dimas kalau bukan saat drama. Toh ia bahagia meskipun ia hanya dimanfaatkan saja. Hingga ketika Dimas memohon kepadanya, Amara hanya bisa berkata apa adanya dengan tulus dan mata berkaca-kaca.
"Aku nggak pernah ninggalin kamu, Mas. Enggak pernah sedikitpun."
__ADS_1
"Terima kasih." Dimas menarik tangan Amara lembut dan menghadiahi kecupan hangat di sana. Tahu apa yang dirasakan oleh Amara? Ia sangat berbunga-bunga. Akan tetapi ia berusaha menguasai diri agar tidak tenggelam dan terlena terlalu dalam.
Dimas kembali menatap Amara selagi gadis itu masih memandangnya. Entah mengapa jiwanya selalu merasa tenang saat memandangi wajah teduh itu. Meski sejak lama ia menyadari kecantikan Amara, tetapi semakin lama gadis itu kian cantik saja. Ia bahkan tak bisa menahan diri saat tangannya bergerak menyentuh pipi Amara dan merabanya dengan lembut.
Pipi gadis itu kian merona dan Dimas sangat menyukainya. Dan ketika pandangannya tertambat pada bibir ranum itu, Dimas tak kuasa menahan jemarinya untuk meraba di sana. Hingga kemudian ....
"Emmhh." Amara tanpa sadar mengerang pelan saat tiba-tiba Dimas menyatukan bibir mereka. Penuh kelembutan sekalipun hasrat mulai meledak-ledak.
Meski awalnya Amara sempat terkesiap, tetapi akhirnya ia luluh oleh serangan penuh kenikmatan yang telah Dimas lancarkan. Hingga ketika ia tersengal kehabisan napas, barulah Dimas melepaskan.
Dimas tersenyum melihat Amara yang tersipu malu. Gadis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Sejenak keduanya lupa jika masih ada Naura di sana, hingga teriakan histeris gadis itu sukses menyadarkan mereka.
"Dimas! Bahkan meski kalian memamerkan kemesraan dalam bentuk apa pun aku tidak akan terbakar, Dimas! Aku tau kalian hanya pura-pura!"
Dimas mendengkus lirih tanpa memandang Naura. Selanjutnya ia berkata penuh penekanan sembari meliriknya.
"Terserah kamu. Nggak ada juga yang memaksa kamu untuk percaya. Tapi, apa kamu benar-benar mau lihat seperti apa pemandangan pasangan suami istri saat sedang berhubungan badan?"
Tanpa menghiraukan ekspresi tak percaya Amara dan Naura, Dimas tanpa segan membuka pakaian atasannya lalu memagut bibir Amara.
Kali ini terasa lebih rakus dan penuh nafsu, bahkan dengan tak tahu malunya merebahkan tubuh Amara dan meremas area sensitif Amara yang terbungkus pakaian lengkap. Dimas benar-benar terlihat sangat lapar dan seperti ingin melahap Amara dan menikmatinya.
Bibir Naura ternganga melihat pemandangan di depannya. Ia tak menyangka Dimas benar-benar melakukan itu.
Sangat sakit. Hatinya benar-benar terluka. Dimas adalah sosok pria idamannya, dan Naura sadar telah melakukan kesalahan besar dengan pernah menyiakan dia. Namun, salahkah jika kali ini ia datang untuk meminta maaf? Toh beberapa waktu lalu ia dan Dimas adalah pasangan yang serasi dan saling mencintai, bukankah seharusnya Dimas memaafkannya dan kembali memperbaiki hubungan. Keretakan sebuah hubungan itu wajar kan, apalagi masih pacaran. Tinggal bagaimana masing-masing pihak menyikapi kesalahan pasangan dan berusaha memaafkan. Begitu pikir Naura.
Gadis itu akui, awalnya ia berusaha menerima dengan ikhlas saat Dimas memutuskannya. Berlandaskan dari rasa bersalah yang besar, ia berusaha melupakan dan menerima keadaan.
Namun, rupanya melupakan Dimas bukanlah perkara gampang. Sekian waktu menjalani hubungan dengan Dimas membuatnya bergantung pada pria itu. Ia tak bisa melenyapkan bayang-bayang Dimas dari kepalanya. Tak bisa menjalani hari-harinya tanpa sosok Dimas. Ia rindu segala-galanya dari Dimas. Kebaikannya, perhatiannya, bahkan transferan di rekeningnya.
Saat itulah ia membulatkan tekad, mengumpulkan keberanian untuk datang pada Dimas. Ia tahu Dimas tidak tegaan, dan berpikir pria itu mau kembali setelah melihat dirinya yang terpuruk. Entah ide gila dari mana yang merasuki otaknya, hingga Naura begitu percaya diri berpikir Dimas mau kembali. Keyakinan yang terlalu dipaksakan, lebih tepatnya. Ia bahkan rela melakukan apa saja agar Dimas mau kembali nantinya.
Ia bahkan telah mempersiapkan dirinya secantik mungkin hari ini, tetapi hasilnya apa? Nol besar. Ia yang berpikir Dimas akan terpesona ternyata sama sekali tak memandang rupa. Bahkan segala perkataan menyakitkan Dimas tadi seperti senjata yang telah dipersiapkan sejak lama untuk digunakan menyerangnya.
Dia kalah. Naura benar-benar kalah. Dimas bukan hanya menyerang pada palung hatinya yang terdalam. Tetapi juga jantung, tempat nyawa berpusat. Kini ia seperti mati rasa meski nyawa masih berkelindan dengan raga. Ia sungguh hancur-sehancurnya. Dan tanpa sepatah kata ia memilih pergi dari sana dengan langkah gontai dan tubuh tak bertenaga.
__ADS_1
...Bersambung~~~...
Hai guys, komentar dong. aku rindu komentar kalian 🥺🥺🥺