
"Mama, Papa, pagi-pagi sekali kalian sampai?" Dimas menuruni tangga sembari menggulung lengan kemeja warna putih yang dikenakannya. Penampilan pria itu terlihat segar dengan rambut setengah basah yang disisir rapi dan memakai pomade. Bibirnya juga menampilkan senyuman secerah mentari. Di belakangnya tampak Eli berjalan mengekori, padahal belum dua menit wanita itu pamit mohon diri.
"Maaf, aku terlambat bangun dan baru selesai mandi," lanjut Dimas lagi.
Tiga orang yang duduk di sofa ruang tengah itu serentak menoleh ke sumber suara. Amara menatap Dimas sebentar, lalu kembali menunduk dan sedikit mengubah posisi duduk.
Dimas mendekati orang tuanya, mencium pipi mereka bergantian seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Apa kabar, Ma?" tanya Dimas tulus pada sang Mama saat keduanya kini beradu pandang.
"Mama baik." jawab Amel datar. Ia melirik sebentar pada sofa kosong di sisi Amara selagi berbicara. "Sekarang duduklah. Mama mau bicara." Usai memberikan kode pada Dimas, ia lantas duduk di tempat semula.
__ADS_1
Dimas mengangguk patuh. Tanpa banyak bicara ia segera melakukannya. Saat sudah bersisian dengan Amara, ia menggerakkan leher, menoleh pada gadis itu untuk sejenak. Tepat saat itu pula Amara juga tengah mengamatinya. Hanya beberapa detik adu pandang tanpa kata itu terjadi, sebab di detik berikutnya mereka sama-sama mengalihkan pandangan pada Amel yang tengah meminta perhatian.
"Dimas, Amara, bisa ceritakan pada Mama apa yang telah terjadi hingga kalian dipaksa menikah seperti ini?" tanya Amel sembari menatap sepasang suami istri di depannya itu bergantian. Berbeda dengan saat datang, kini ekspresi wanita itu terlihat jauh lebih tenang. Tak ada raut kemarahan, selain rasa penasaran untuk mengetahui duduk permasalahan.
Tak langsung menjawab, Dimas dan Amara masih kompak untuk diam. Keduanya justru saling pandang dalam diam. Entah belum siap menjawab, atau mungkin belum mendapatkan jawaban yang tepat.
"Dimas, Amara, Mama ini sedang bertanya! Mama butuh jawaban! Bukannya sikap diam seperti yang kalian berdua saat ini lakukan!"
"Mama yang tenang, ya. Dimas akan ceritakan semuanya."
"Cepat. Mama nggak punya waktu banyak."
__ADS_1
Dimas menarik napas dalam dan mengembuskan perlahan, seolah-olah tengah menyiapkan mental sebelum memulai ceritanya.
"Jadi gini, Ma ...."
Dimas akhirnya menceritakan semua yang terjadi. Tanpa ditambahkan, pun tanpa dikurangi. Sedangkan Amel dengan seksama mendengarkan, sambil sesekali saling pandang dengan sang suami.
"Demi Allah, Ma, Dimas dan Amara tidak melakukan apa-apa. Ini semua hanya kesalahpahaman. Kami nggak bisa membela diri karena aku dan Amara bukanlah penduduk asli. Plis, Ma, percaya sama anakmu ini ...." Dimas berucap penuh kesungguhan setelah sang mama sempat meragukan. Sorot matanya tampak memohon. Entah dengan tujuan melindungi nama baik sendiri, atau mungkin harkat dan martabatnya Amara sebagai wanita.
"Beneran kamu jujur? Sungguh kalian tidak melakukan apa-apa?" Amel bertanya sekali lagi demi untuk meyakinkan.
"Ya Allah, Ma!" Dimas mendesah. Pemuda itu beringsut dari duduknya dengan wajah nyaris putus asa. "Harus berapa kali Dimas mengulanginya lagi? Ini tuh cuma salah paham!" Ia lantas menoleh pada Amara dan mengedikkan dagunya. "Mar, lo bantu jelasin dong sama Mama. Jangan cuma diam aja."
__ADS_1
"Cukup! Mama nggak perlu penjelasan Amara lagi!" tegas Amel seraya mengangkat tangan kanannya ke depan. Wanita itu lantas bangkit dari duduknya.