Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Gue Capek


__ADS_3

Amara berlari menuju toilet dan menutup pintunya rapat-rapat. Tak bisa menahan lagi, ia lantas menumpahkan air mata yang sejak tadi berusaha dibendung. Untuk yang kedua kalinya, ia menangisi pria bernama Dimas Sanjaya dalam sehari ini.


Rindu. Satu kata yang menggambarkan perasaannya terhadap pria itu. Namun, sikap dingin serta ekspresi datar Dimas tadi sudah cukup menunjukkan jika ia bukanlah siapa-siapa bagi pria itu.


Amara merasa sangat hancur. Patah hati. Bahkan tatapan tajam Dimas terhadapnya masih menunjukkan kemarahan atas kebohongannya waktu itu.


Meminta maaf? Amara bahkan tak memiliki keberanian untuk itu. Ia merasa mentalnya belum siap. Belum siap jika kembali mendapat penolakan serta pengusiran seperti waktu itu.


Bodohnya dia yang tak tahu menahu akan donatur panti yang selama ini mendanai. Jika saja dari awal ia tahu Dimas lah yang akan hadir hari ini, mungkin ia bisa menghindar dan ngotot pergi kerja dengan alasan pasien yang tak bisa ditinggalkan.


Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur dan ia sudah bertemu dengan Dimas Sanjaya, suami yang mungkin tak pernah menganggapnya sebagai istri. Sebuah pertemuan yang ternyata semakin melukai perasaannya. Terlebih lagi, Dimas menjebaknya dengan sebuah sindiran yang begitu sulit ia jawab.


Apa maunya pria itu? Ingin mengujiku dengan pertanyaan semacam itu? Bagaimana bila aku sampai salah menjawab? Bisa jadi semua orang akan tertawa terbahak, berpikir mimpiku terlalu tinggi sedangkan aku masih terjaga. Istri seorang Dimas Sanjaya? Yang benar saja. Status sosialku bahkan tak ada seujung kuku pun dibandingkan dengan dia.


Beruntung Laras selalu jadi penolongnya meskipun gadis itu tak tahu apa-apa. Bahkan seluruh penghuni panti itu tak ada yang tahu ikatan pernikahan antara dirinya dengan Dimas. Amara memang tak pernah terbuka untuk hal ini, pun dengan mereka yang tak ingin mengusik ketenangan Amara dengan mengulik kehidupan pribadinya.


Sementara itu, di dalam sebuah mobil mewah yang tengah melaju kencang, Dimas tengah termenung sembari menatap ke arah luar jendela.


"Bas, tadi Amara lari buat ngapain, ya?" tanyanya sembari menoleh ke arah kanan, di mana Baskoro tengah fokus mengendarai mobil dengan pandangan lurus ke arah jalan. Matanya terlihat sayu, sementara wajahnya menunjukkan kecemasan. "Gimana kalau dia berbuat yang tidak-tidak?"


"Halah, palingan juga lari ke toilet buat nangis," jawab Baskoro enteng tanpa menatap.

__ADS_1


"Hah?" Dimas membelalak. "Terus ngapain lo malah narik gue buat pergi! Harusnya lo biarin gue ngejar Amara buat nenangin dia. Saat menangis, biasanya wanita itu butuh bahu buat bersandar. Butuh pria untuk menenangkan. Apalagi nangisnya dia itu karena gue!"


Baskoro berdecih. "Itu sih sikap pria bucin, Dim." Ia menatap Dimas sebentar sebelum menambahkan. "Ingat ya, di sini peran lo itu suami yang lagi kesal karena ulah istrinya. Istri lo itu bohongin lo mentah-mentah. Bahkan tanpa izin lo udah pergi ninggalin rumah. Dan secara logika, lo berhak marah! Ingat Dim, kalau pengen Amara kembali, lo harus konsisten dengan rencana ini."


"Tapi gue tersiksa, Bas! Gue nggak bisa lagi nahan diri buat meluk dia."


"Dasar otak mesum. Memang ya, orang kalau lagi jatuh cinta itu nggak bisa bersikap lebih dewasa."


Dimas mendelik saat Baskoro mengoloknya dengan perkataan seperti itu. Ia mendengkus kesal sebelum kemudian memberi alasan.


"Lo nggak tau aja gimana takutnya gue kehilangan dia lagi. Gue takut dia pergi lagi. Lo pasti nggak sampai kepikiran, kan, gimana kalau Amara ngira gue udah bahagia sama Naura?" Dimas menjeda ucapannya sembari menghela napas. "Gue tau watak dia, Bas. Dia itu gampang nyerah sekalipun dia sangat cinta. Itu yang gue lihat waktu dia cinta sama Juan."


"Kita lihat aja sebesar apa cinta Amara buat elo. Dengan cara ini gue yakin entar bakal ketahuan, kok. Lo lihat sendiri kan, gimana reaksi Amara saat pertama kali ketemu elo. Bawaannya pengen kabur mulu, kan? Lo yakin, mau nodong dia, maksa dia buat ikutan pulang?"


"Lo serahkan aja sama gue, Dim. Jangan lupa salat dan doa juga. Tanpa campur tangan Tuhan, semuanya nggak akan berjalan dengan lancar. Mudahan aja Amara itu jodoh lo selamanya."


Tak ada jawaban yang bisa diberikan Dimas selain anggukan lemah, pasrah terhadap rencana Baskoro serta takdir Allah, sebab dirinya sendiri seperti sudah kehilangan daya hingga tak tahu harus bagaimana.


***


Sejak kejadian di panti waktu itu, Dimas dan Amara semakin sering terlibat pertemuan yang memang sudah dirancang oleh Baskoro secara diam-diam, meski keduanya sendiri tak pernah saling berbincang, lebih-lebih berdekatan.

__ADS_1


Mereka masih konsisten dengan sikap masing-masing. Hanya berani curi-curi pandang dalam diam dan itu pun dari kejauhan.


Berulang kali Amara berusaha menghalau rasa cemburu ketika sosok Laras yang tak tahu apa-apa selalu memiliki cara untuk mendekati Dimas guna menarik perhatiannya.


Dimas sendiri hanya menanggapi itu dengan sikap biasa, sebab dia sendiri tak berniat untuk menyakiti hati Amara dan semacamnya.


"Gue capek, Bas. Udah berhari-hari ketemuan, tapi sama sekali nggak ada perkembangan. Gini-gini aja!" keluh Dimas suatu ketika, saat ia baru sampai kantor setelah acara bakti sosial di panti itu.


"Terus mau lo apa? Gue harus apa? Amara juga masih adem ayem gitu," balas Baskoro tanpa memandang, sebab pandangannya masih tertuju pada layar laptop di depannya.


"Kan gue udah bilang dari dulu, kalau sifat Amara itu kayak gitu! Apalagi si Laras bolak-balik deketin gue mulu, gue risih tau!" Dimas memasang wajah sebal sembari mengibaskan lengan jasnya yang sebentar-sebentar selalu disentuh Laras. Ia pun menatap Baskoro sebelum kemudian berbicara dengan nada merengek. "Ayolah Bas, pikirin cara lain yang bisa bikin Amara sadar dan balik ke gue. Gue udah nggak tahan, Bas!"


Baskoro mendesah panjang. Ia hanya bisa memutar bola mata melihat atasan sekaligus sahabatnya itu kelimpungan.


"Oke. Tapi lo harus nurut kata-kata gue, ya."


"Oke," balas Dimas penuh semangat.


"Janji?"


"Janji!"

__ADS_1


"Kalau gitu lo harus sakit."


"Hah!"


__ADS_2