
"Tambahi lagi. Segitu kurang banyak. Nggak usah takut nggak bisa bayar, duit gue masih banyak."
Amara sontak menatap Dimas dengan wajah tak bersahabat. Dasar sombong. Mendesah pelan, Amara lantas terpaksa memasukkan lagi beberapa eskrim ke dalam keranjang belanjanya.
Padahal ia sudah mengambil lebih dari sepuluh buah es krim beraneka rasa dari kulkas sebuah market terdekat, tapi pemuda yang mengajaknya itu masih saya meminta agar ia menambah lagi. Mau dibuat apa? Apa dia akan menggunakannya untuk keramas saat semua es krim ini mencair?
"Mau beli apa lagi? Mumpung masih di sini." Dimas menawarkan saat mereka berjalan beriringan menuju meja kasir. Sedang Amara hanya menggeleng sebagai jawaban.
Urusan pembayaran sudah beres, kini keduanya tampak berjalan menuju taman kompleks sesuai keinginan Dimas.
"Ngapain beli es krim banyak-banyak sih, Mas? Padahal stock di kulkas dapur masih banyak." Amara yang menenteng kantong berisi es krim itu bertanya dengan mimik kesal. Alih-alih mendapatkan jawaban, sedang yang ditanya justru malah asik berkutat dengan ponselnya.
Kesal, Amara hanya bisa mendengkus saat mengentikan langkah. Ia menatap sebal pada punggung lelaki yang tengah berjalan sambil menunduk itu.
Namun dari tempatnya berdiri, Amara bisa melihat jika berjarak beberapa langkah dari Dimas ada sebongkah batu berukuran sedang teronggok di tengah jalan. Dimas bisa tersandung andai ia tak segera memperingatkan.
"Hati-hati kalau jalan! Di depan ada batu."
Dimas langsung berhenti dan menoleh ke arah Amara. "Iya, gue tau," balasnya ketus. Lelaki itu mendesah lalu sedikit memutar badan ke belakang. "Lo ngapain berhenti di situ? Keberatan? Masa iya cuma bawa es krim segitu doang Lo nyerah!"
"Siapa yang nyerah!"
"Elo!"
Amara merengut, lalu berjalan dengan kaki yang dientak-hentakkan mendekati Dimas.
"Ya elah, pake mau nangis, pula."
"Ih ...! Siapa yang mau nangis!"
"Lah itu," Dimas tertawa sambil menunjuk wajah Amara. "Udah muka jelek, masih dijelek-jelekkin pula."
Geram, Amara melayangkan tinjunya tepat di lengan Dimas.
__ADS_1
"Aow, sakit!" pekik pria itu meringis seraya mengusap lengannya. Entah dia betulan sakit atau hanya pura-pura sakit.
"Biar rasakan!"
"Lo yang mukul kenapa malah lo yang mau mewek ...?" Lagi-lagi Dimas menggoda perawatnya hingga kembali mendapatkan serangan susulan.
***
Lelah berdebat, keduanya memutuskan untuk duduk di sebuah kursi taman yang berukuran panjang dan terbuat dari kayu. Cukup nyaman untuk menikmati es krim yang telah mereka beli barusan tadi.
Dimas terseyum melihat Amara yang tengah begitu menikmati es krim rasa strawberry susu pilihannya. Jilatan demi jilatan telah gadis itu lakukan hingga sebuah es krim akhirnya tandas juga masuk ke perutnya.
"Ck ck CK," Dimas berdecak sambil geleng kepala menatap Amara yang tengah melempar stik es krim ke dalam tempat sampah.
Gadis itu sontak melempar pandangan pada Dimas sambil mengerutkan keningnya. "Kenapa? Saya nggak buang sampah sembarang, kok!" ujarnya dengan nada ketus tanpa dosa.
"Yang bilang lo buang sampah sembarang itu siapa!"
"Terus? Ngapain Mas Dimas menatap saya seperti itu?"
"Masa?" Amara sontak menyentuh area bibirnya, dan benar saja kata Dimas. Gadis itu menemukan bercak warna merah muda di jemarinya yang disinyalir adalah sisa es krim. Tentu saja ia tersipu-sipu melihat kebenaran yang ditunjukkan lelaki itu. "Eh iya, jadi cemong."
"Ih jorok banget si, lo. Masa diusap pakai tangan gitu. Tangan lo jadi kotor, kan! Sini biar gue yang lap-in!" Dimas merogoh sapu tangan dari saku celananya, lantas bergerak mengusap bibir perawatnya.
Bukannya menghindar, Amara justru menyondongkan wajah untuk mempermudah Dimas saat mengusap bibirnya. Hal itu tak ayal membuat Dimas mendadak menghentikan kegiatannya saat pandangan mereka saling bertemu. Terlebih dengan jarak keduanya yang begitu dekat.
Entah untuk berapa lama keduanya saling pandang dalam diam, dengan tangan Dimas masih menempel di bibir Amara hingga gadis itu menggerakkan kepalanya untuk menyadarkan Dimas dari lamunan.
"Mas, kok berhenti? Mau sampai kapan Mas Dimas mau bungkam mulutku terus?"
Dimas sontak terkesiap dan langsung menarik tangannya dari bibir Amara. Wajah pria nampak memerah menahan gugup yang menjalar. Dia yang selalu dingin dan cuek mendadak salah tingkah saat Amara masih saja mengamatinya dengan ekspresi kebingungan.
"Ih, siapa elo minta gue lap-in! Nih, lap sendiri sana! Mau ngelunjak lo, ya." Dimas memalingkan wajah usai menjejal mulut Amara dengan sapu tangannya. Tentu saja untuk menyembunyikan wajahnya yang mendadak memanas.
__ADS_1
Sedangkan Amara, meski tangannya tampak mengusap bibir, tapi matanya menyorot begitu tajam ke arah Dimas yang membelakanginya. Aura tak terima masih nampak jelas di wajah pucatnya. Yang benar saja, orang lagi melongo tiba-tiba di jejal sapu tangan. Memangnya pria itu pikir bibirnya adalah gelas kotor di tempat cucian yang perlu digosok dengan spons?
"Ehmm," Dimas berdehem sambil memegangi leher bagian depannya. Ia langsung menoleh ke belakang untuk melihat perawatannya.
Amara membalas tatapan Dimas sambil menyipitkan mata, ia bahkan sudah hapal jika lelaki ini sedang ada maunya.
"Cariin minum, dong. Gue haus."
Tuh kan, bener. Boro-boro menyesal, ini malah sengaja menyulitkan. Kenapa nggak habisin aja es krim yang sudah dibeli satu kantong penuh ini!
"Ngapain malah bengong? Buruan beli, napa. Elo mau gue kejang-kejang gara-gara kehausan?"
Dasar, sukanya mendramatisir. Mana ada orang kehausan sampai kejang-kejang! Memangnya kamu sakit ayan?
Menghela napas dalam, Amara lantas bangkit dari duduknya. Namun flu berat yang masih melanda membuat gadis itu kembali bersin hingga berkali-kali hingga membuat Dimas menatapnya dengan wajah setengah panik.
"Udah tau lagi flu, masih nekad juga makan es krim!"
"Bukannya Mas Dimas yang beli?"
"Tapi gue nggak maksa lo makan!"
Amara mendesah pelan sambil menatap Dimas dengan ekspresi kesal. Dasar maunya menang sendiri. Nggak ingat apa, tadi bilangnya beli buat berdua. Berarti secara langsung dia maksa! Tapi sok nasehatin sekata-kata. Sabar, sabar. Orang teraniaya pasti akan manis akhirnya.
Dengan menggunakan sapu tangan Dimas, Amara menekan hidungnya dan mengeluarkan ingus yang sejak tadi sudah tertahan.
"Iyuh ..., jorok!" Dimas berseru dengan memasang tampang jijik pada Amara.
Amara yang tersadar telah menggunakan sapu tangan Dimas hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehe, maaf lupa."
"Buruan cari minum sana! Malah bengong."
Amara segera melangkah cepat meninggalkan pria itu. Hingga beberapa jauh, ia mengentikan langkah dan menoleh ke belakang. Entah mengapa, perlakuan Dimas tadi kembali mengingatkannya pada Juan.
__ADS_1
Hatinya kembali berdenyut perih saat bayangan wajah satu-satunya pria yang ia cintai itu melintas di kepala. Meski telah bersusah payah melupakan, tapi nyatanya rasa rindu semakin terasa mengiris kalbu.
Bersambung