Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Kejadian di panti asuhan


__ADS_3

"Selamat datang di panti asuhan kami, Pak Dimas. Bagaimana kabar Anda?" Seorang wanita berjilbab lebar menyambut dengan ramah kedatangan Dimas beserta rombongan.


Dimas yang sejak turun dari mobil tadi memang sudah memasang senyum, langsung menyambut tangan Ibu panti untuk bersalaman.


"Alhamdulillah baik, Bu. Terima kasih atas sambutan meriah ini kepada kami."


"Justru kami yang seharusnya berterima kasih kepada Bapak. Pak Dimas telah menyisihkan waktu yang begitu berharga hanya untuk mengunjungi panti ini. Mari, silahkan masuk."


Ibu panti mempersilakan Dimas memasuki tempat yang telah disiapkan. Dimas pun menganggukkan kepala dengan sikap sopannya, kemudian mereka berdua berjalan beriringan sembari berbincang ringan. Sedangkan Baskoro memilih membantu tim untuk mengurus semuanya dengan cekatan.


Jujur, sebenarnya Dimas kurang suka dengan hal seperti ini. Menunjukkan jati diri sebagai penyumbang dana pada sebuah organisasi sosial. Entah mengapa ia merasa kurang nyaman. Baginya, ibadah semacam ini cukup dirinya dan Tuhan sajalah yang tahu. Tak perlu orang lain ikut mengetahuinya, juga demi menghindari riya.


Tapi mau bagaimana lagi, perkataan Juan semalam membuatnya begitu tertantang. Barangkali juga dengan adanya doa dari anak-anak panti di sini bisa mempermudah jalannya untuk menemukan Amara dengan segera.


Acara berjalan lancar sesuai dengan rencana. Ada beberapa mobil box yang ikut dalam rombongan. Mobil pengangkut barang itu membawa bingkisan serta bermacam-macam hadiah untuk anak-anak panti yang langsung diserahkan secara simbolik.


Dimas tak tanggung-tanggung untuk urusan ini. Selain donasi dana dengan jumlah yang sangat besar berikut buku-buku terbaik yang sengaja ia hibahkan untuk mengisi perpustakaan panti, ia juga sengaja mengundang badut untuk menghibur anak-anak tanpa orang tua tersebut.


Awalnya Dimas merasa kurang nyaman berada di antara orang asing dengan pikiran tak menentu seperti sekarang ini. Lebih-lebih lagi gerak-geriknya tak henti-henti disorot kamera untuk diabadikan. Namun, begitu melihat senyum bahagia yang anak-anak itu perlihatkan, hatinya tak kuasa menahan haru. Dalam keadaan memprihatinkan karena hidup tanpa kasih sayang orang tua, mereka masih bisa tersenyum dan bersikap ceria selayaknya anak-anak pada umumnya.


Ah, lagi-lagi ia teringat pada Amara. Bayangan gadis itu benar-benar tak mau beranjak dari benaknya. Gadis itu sangat tangguh meski terkadang rapuh. Ia sangat kuat kendati memiliki sikap anggun nan memikat. Sayangnya, ia terlambat menyadari sesuatu hal terhadap Amara. Yaitu cinta. Sebetapa gadis itu begitu berharga baginya.


"Silahkan diminum, Pak Dimas." Seorang gadis berjilbab meletakkan secangkir kopi hitam di meja Dimas sebelum kemudian mempersilakan.


Dimas segera mengangguk sopan sembari tersenyum tipis hanya sebagai formalitas saja. Ia juga hanya bersikap biasa kala gadis itu tiba-tiba duduk di sampingnya.


Laras. Begitulah gadis itu menyebutkan namanya. Dari caranya mengajak berinteraksi, Dimas bisa membaca pikiran gadis itu yang sepertinya ingin memikat dia. Banyak bicara kendati ini baru awal mereka jumpa.


Namun, tetap saja ia merasa risih dan tak nyaman sekalipun gadis itu tergolong cerdas dan memiliki banyak wawasan. Pantas saja. Laras adalah dokter muda yang sengaja mendedikasikan sebagian waktunya sebagai relawan di panti asuhan ini. Dari titel yang dimilikinya sudah jelas memperlihatkan jika ia memiliki banyak jam terbang di bangku sekolahan. Namun, demi menjaga etika diri untuk menghormati tuan rumah, Dimas tetap merespon baik pula sikap baik Laras terhadapnya. Asalkan tidak melebihi batas wajar.


Tiba saat acara makan bersama, Dimas langsung menyantap makanan di dalam piringnya. Entah mengapa, dari sebegitu banyak makanan serta kudapan yang disajikan, pilihannya justru jatuh pada rawon daging yang masih mengepulkan asap panas.


Aroma sedap langsung menguar menusuk indra penciuman, dan seperti melambai-lambai minta disantap di tengah perutnya yang dalam kondisi benar-benar lapar.


Ya, semenjak menghilangnya Amara, Dimas bahkan lupa bagaimana caranya makan yang rutin dan benar di. Alhasil, badan berototnya kini sedikit kurus akibat waktu dan pikirannya yang dikuras habis untuk memikirkan keberadaan Amara, bagaimana caranya menemukan sang istri tercintanya.


Awalnya, suasana makan bersama itu berjalan dengan lancar dan kondusif. Semua berbaur di tempat yang sama dan dengan hidangan yang sama pula atas keinginan Dimas sendiri. Baginya tak ada sedikitpun sekat antara dia dengan anak-anak yang ada di sana. Hingga pada akhirnya sebuah tragedi pun terjadi.


Bocah bernama Doni yang rupanya sejak tadi memperhatikan bagaimana Dimas begitu menikmati rawon yang disantapnya, tetiba mendekat karena ingin menyampaikan sesuatu hal. Bocah berumur sembilan tahun itu bertanya penuh percaya diri dan dengan wajah polosnya.


"Pak Dimas suka makan rawon, ya?"


Dimas yang memang pada dasarnya memiliki jiwa ramah dan bersahaja langsung menghentikan makan dan merespon baik pertanyaan Doni padanya.

__ADS_1


"Yup. Apa kamu juga sama seperti saya, suka makan rawon juga?"


Bocah itu mengangguk mantap. Ia tak mempedulikan tatapan Laras yang tersorot penuh peringatan. Bahkan ibu panti beserta pengurus lain pun turut mencemaskan sikap tak terduga dirinya itu.


"Tentu saja. Saya bahkan menambahkan banyak sambal dan kecambahnya agar terasa lebih nikmat. Anda lihat piring makan saya?" Ia menunjukkan piring makan dengan warna kuah hitam yang sedikit kemerahan akibat dibubuhi banyak sambal.


"Wow, kecil-kecil kamu ini tahan pedas, ya." Mata Dimas berbinar penuh takjub. Ia lantas mengusap rambut Doni dengan sedikit gerakan mengacak.


"Tentu saja. Apa Bapak ingin tahu siapa yang memasaknya untuk kita?"


Dimas tersenyum lembut demi menghargai tawaran si bocah. Ia tetap bersikap baik meskipun sama sekali tak penasaran akan siapa si pemasak kendati diakuinya masakan ini sangat lezat. Rasanya benar-benar mirip dengan rawon masakan Amara. Tapi sepertinya itu adalah hal mustahil. Jelas-jelas Amara tidak ada di sini. Justru Dimas menebak Laras lah orang yang tengah Doni maksudkan itu.


Baru juga hendak menjawab, tiba-tiba Dimas dikejutkan oleh suara Laras yang menyela.


"Doni, kembali ke tempatmu ya, Sayang. Biarkan Pak Dimas menikmati makan bersama ini dengan tenang. Jangan ganggu beliau. Itu namanya tidak sopan."


"Tapi, Kak–" Doni menghentikan ucapannya dan menatap Laras dengan penuh harap. Namun, sepertinya Laras tetap tak mengizinkan hingga membuat ia ciut nyali kemudian tertunduk dengan penuh sesal.


"Tidak apa-apa." Dimas segera menyela demi mengembalikan situasi menjadi kondusif. "Saya sama sekali nggak merasa terganggu kok."


Dimas lantas kembali memperhatikan Doni yang tertunduk kaku di depannya. Ah kasihan. Raut wajah bocah itu menunjukkan ekspresi kecewa. Ia hendak menyuruh Doni meneruskan kata-katanya tapi tiba-tiba Laras kembali memperingatkan Doni bahkan kali ini dengan nada lebih tinggi.


"Doni!"


Hal tak terduga pun terjadi. Akibat tarikan Dimas tanpa sengaja Doni menumpahkan kuah rawonnya. Tepat di tangan Dimas pula.


Bukan hanya Doni yang terbelalak. Bahkan semua mata yang saat itu tepat melihatnya. Reaksi buruk pun bermunculan sebab menilai Doni terlalu berani pada sang donatur yang selama ini menaungi panti mereka, memberi makan mereka.


"Doni! Kakak tadi bilang apa, kembali ke tempatmu! Bukannya cepat kembali kau justru membuat ulah pada Pak Dimas. Cepat, minta maaf!" Tak tahan menahan geram, Laras refleks mendekat dan menarik tangan bocah yang ketakutan itu.


Jelas saja Dimas ternganga. Sikap yang ditunjukkan oleh Laras tak seiras dengan titel yang disandangnya. Ia bahkan terlihat seperti gadis tak berpendidikan karena gagal mengendalikan amarahnya. Di muka umum, terhadap anak kecil pula.


"Cukup!" Dimas menyela dengan nada tinggi. Ia menatap tajam pada Laras yang telah menunjukkan sifat aslinya. "Berhenti menyudutkan anak yang tidak tahu apa-apa. Kau tidak lihat wajahnya sudah sangat tertekan? Dia tidak bersalah! Sayalah yang telah menumpahkan makanannya. Saya tahu, dia tidak berniat mengganggu saya. Dia hanya ingin berbicara karena kami satu selera. Lantas salahnya di mana?"


Laras hanya tertunduk malu tanpa bisa berkata-kata. Dalam hati ia benar-benar merutuki kebodohannya.


Dimas yang semula berdiri menghadap Laras kini berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Doni. Bocah itu masih menitikkan air mata meskipun tanpa suara.


"Siapa namamu?" tanyanya sembari mengusap pipi gembul yang basah itu. Gerakannya sangat lembut penuh kasih sayang, berharap Doni tak lagi ketakutan.


"Doni, Pak." Bocah itu menjawab dengan suara lirih dan bergetar. Namun, masih bisa ditangkap jelas oleh Dimas.


"Nama yang bagus. Tampan seperti orangnya." Dimas memuji sembari tersenyum pada Doni.

__ADS_1


Bocah itu langsung mendongak dan menatapnya seperti tak percaya. Ternyata selain dermawan, Pak Dimas juga memiliki hati yang mulia meskipun terhadap anak-anak seperti dirinya.


Sungguh, Doni tak bisa menggambarkan seperti apa perasaannya saat ini. Mendapatkan perhatian sangat manis dari orang yang sangat dikagumi.


Ini adalah pertemuan pertama yang begitu bermakna. Selama ini ia hanya mendengar namanya saja. Dan ketika ia bisa benar-benar bertatap muka, Doni tak ingin membuang kesempatan begitu saja untuk bisa berkomunikasi. Alhasil, ia semakin dibuat terkagum-kagum pada sosok di depannya.


"Pak Dimas, maafkan atas kekacauan ini." Ibu panti akhirnya turut bicara meski harus sekuat tenaga menahan malu. Kejadian ini benar-benar di luar kendalinya.


Dimas langsung berdiri dan mengulas senyum pada ibu panti.


"Tidak apa-apa Bu. Saya sudah terbiasa menghadapi situasi yang tak menentu. Saya harap Ibu panti tak perlu malu dan tidak enak hati seperti itu." Dimas lantas menunjukkan tangannya yang kotor dan mulai terasa pedas. "Emmm, sepertinya saya harus mencuci tangan dulu. Kira-kira di mana ya letak kran air yang terdekat?"


"Oh, mari saya antar, Pak. Dapur panti letaknya tidak jauh dari sini." Ibu panti lekas-lekas menawarkan.


"Terima kasih Bu, tapi saya bisa sendiri kok. Silahkan dilanjut makan bersamanya. Saya pamit sebentar dan akan kembali secepatnya."


Sebenarnya ibu panti hendak mengantar Dimas, tetapi pria itu menolak dengan halus tawarannya. Alhasil, ia hanya bisa mempersilahkan pria itu menuju dapur sendirian.


"Saya nggak akan tersesat, kok," ujar Dimas untuk meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja.


Dimas memasuki sebuah ruangan yang ia yakini itu adalah dapur panti. Ukurannya lumayan besar untuk kapasitas dapur yang harus masak banyak setiap harinya. Ada meja makan besar dengan beberapa kursi yang mengelilingi. Suasana agak hening sebab hanya ada seorang wanita berjilbab yang tengah berdiri di depan wastafel pencucian piring.


Dari belakang, Dimas memandang wanita yang tak nampak wajahnya itu sekilas sebelum kemudian mengetuk pintu agar tidak mengagetkan.


"Assalamualaikum. Permisi, bisa numpang cuci tangan?"


"Waalaikumsalam." Gadis itu setengah tersentak. Mungkin terkejut karena baru saja melamun. Dimas sempat melihat dia mencuci piring dengan gerakan sangat lamban. Agak memutar kepala ke arah belakang, ia kemudian sedikit menggeser posisi tubuh untuk memberikan tempat pada Dimas dan kemudian mempersilakan. "Silakan."


"Terima kasih," ucap Dimas sopan. Kemudian, ia mendekati wastafel dan mulai mencuci tangannya. Tak ada keinginan untuk saling menatap dari keduanya hingga mereka terjebak dalam keheningan meskipun berdekatan. Tentunya masing-masing memiliki alasan tersendiri. Dimas, yang memang tak tertarik pada siapa pun selain Amara, dan si wanita yang merasa harus menundukkan pandangan sebab telah terikat pernikahan.


Hingga ... terdengar suara gaduh dari arah belakang membuyarkan keheningan ruangan.


Laras tiba-tiba menerobos masuk dan menempatkan diri di antara keduanya.


"Pak Dimas maafkan saya, Pak. Ini murni kesalahan saya sehingga Bapak jadi ketumpahan makanan seperti ini. Biar saya bantu mencucinya sebagai bentuk tanggung jawab saya."


Mendengar nama Dimas di sebut oleh Lara ketika memanggil pria itu membuat gadis di sampingnya membelalak seketika.


Dimas? Mungkinkah dia?


Benar saja, ketika dia memberanikan diri untuk menoleh demi memastikan kebenarannya, ia dibuat kian membelalak dengan degub jantung yang bertalu tak menentu, bekerja dua kali lipat dari biasanya. Sosok pria yang berdiri di sampingnya adalah Dimas, pria yang pernah menikahinya. Pria itu terlihat tidak nyaman ketika tiba-tiba Laras menyentuh tangannya yang sedang ia cuci.


Dan ketika pria itu mengangkat pandangan sehingga dua pasang netra saling bertemu, Dimas juga membulatkan matanya seperti terkejut.

__ADS_1


Untuk sejenak Amara seperti kehilangan daya hingga kakinya terasa lemas. Ia nyaris limbung andai gagal menguasai diri. Seketika ia bingung harus melakukan apa hingga tak ada hal lain selain beranjak pergi dari sana sebelum air mata berjatuhan tanpa dipinta.


__ADS_2