Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Yang suami Amara itu siapa?


__ADS_3

Dimas melajukan mobilnya dengan perasaan marah serta kecewa. Untuk kesekian kalinya ia gagal lagi menemukan Amara istrinya. Ingin rasanya menyalahkan Baskoro atas ketidak becusannya dalam mengemban tugas, tetapi otak warasnya masih bekerja dengan benar hingga membuatnya sadar jika ini sepenuhnya kesalahan dia sendiri yang pernah mengabaikan Amara.


Mengambil ponsel di dashboard mobil, ia lantas menekan satu nomor sebelum kemudian memasang airpod di telinga. Sejujurnya ia sangat tidak ingin menghubungi pria ini. Namun, demi Amara bisa kembali, ia tak punya pilihan lain lagi.


"Halo." Sebuah sapaan di ujung sana membuat Dimas akhirnya sedikit merasa lega.


"Juan, lo ada waktu nggak? Gue pengen ketemu sama lo. Pengen ngobrol sama lo sekarang juga." Tanpa basa-basi lagi, Dimas langsung mengutarakan keinginannya. Ia bahkan merasa jadi pria tak tahu malu yang tiba-tiba merengek minta ketemu setelah sempat menelantarkan sahabat pria yang ingin ia ajak bertemu.


Sesuai pemikiran Dimas, Juan yang baru saja pulang dari kantor tampak mengernyitkan keningnya heran mendapati Dimas tiba-tiba menghubunginya. Otak Juan langsung bekerja cepat mengira-ngira motif apa yang membuat Dimas berlaku demikian. Secara ..., terakhir mereka bertemu beberapa hari lalu hubungan dia dan Dimas berjalan kurang baik lantaran tindakan brutalnya menghajar pria itu.


Terang saja ia berang. Selama ini ia memperlakukan Amara dengan penuh kelembutan, tetapi pria sialan itu malah menyakiti perasaan Amara dengan tanpa perasaan. Bukankah sebuah hal wajar jika ia tiba-tiba datang dan memberi Dimas sebuah pelajaran?

__ADS_1


"Ngapain tiba-tiba lo nelpon gue, bilang pengen ketemu pakai acara ngobrol segala?" Tak bisa menyembunyikan sisa kejengkelan, Juan akhirnya bertanya dengan nada meremehkan.


"Sorry," jawab Dimas dengan nada penuh sesal. "Gue mau nanya-nanya sedikit tentang Amara sama lo. Gue kehilangan jejak dia." Nada bicara Dimas terdengar memelan. Demi Amara ia bahkan rela malu harus merendahkan dirinya untuk memohon seperti itu. Dan tanpa dia tahu, di ujung sana saat ini Juan tengah menyeringai mencemoohnya.


Rasakan.


"Kalau yang hilang jejak Amara terus kenapa lo malah nyari gue? Sorry. Gue lagi nggak ada waktu untuk itu. Lagian, selama ini gue sama Amara juga nggak pernah ketemu, tuh." Juan menjawab enteng sembari menyibukkan diri membuka kancing kemejanya.


"Bohong!" Dimas menyahut cepat. "Gue yakin lo pasti tau keberadaan Amara sekarang."


Dimas menggeram marah mendengar Juan tergelak di ujung sana. Tangannya tanpa sadar menyengkeram stir mobil dengan sangat kuat. Sindiran Juan benar-benar menohok perasaannya. Namun, ia tak bisa menyalahkan Juan kendati ia melakukan itu karena sebuah alasan.

__ADS_1


"Okay. Intinya, lo mau ngasih tau keberadaan Amara sama gue, atau nggak?" Sembari menahan diri dari kemarahan, Dimas bertanya memastikan. Ia tak ingin membuang waktu tenaga dan pikirannya yang berharga hanya untuk berdebat tidak penting dengan Juan sontoloyo itu.


"Eng-gak!" Juan menjawab lugas dan lantang dengan pula penekanan. Namun, ia lantas buru-buru menambahkan sebelum pria sialan bernama Dimas itu salah paham terhadapnya. "Karena gue sama sekali nggak tau di mana Amara berada. Gue sama sekali nggak pernah ketemuan sama dia secara disengaja."


"Sialan. Maksud lo apaan!" Jawaban Juan yang ambigu itu terang saja membuat Dimas geram. Untuk apa bilang tidak pernah bertemu jika ujung-ujungnya memberi embel-embel secara sengaja. Bukankah itu artinya mereka pernah menjalin pertemuan meski tidak ada unsur kesengajaan?


"Makanya, kalau jadi donatur panti asuhan itu sekali-kali lo turun tangan sendiri buat nyerahin donasinya lo itu ...! Bukannya nyuruh-nyuruh bawahan buat gantiin diri! Dari sini lo ngerti?" Tanpa menunggu reaksi Dimas bagaimana, Juan langsung menutup teleponnya tanpa kata.


Dimas yang menyadari sambungan mereka terputus hanya bisa menggeram kesal sambil memukul-mukul stir mobilnya. Yang lebih menyebalkannya lagi, Juan justru berbicara seperti itu tadi hanya dengan maksud tersirat. Kenapa tidak diungkapkan secara lugas saja jika memang tahu yang sebenarnya? Ia bahkan tak memiliki banyak tenaga untuk menebak-nebak.


Kini Dimas malah berpikir jika Juan tengah mengerjainya. Otaknya yang sudah buntu begini harus dipaksa memikirkan donasi panti asuhan yang jelas-jelas sama sekali tidak ada hubungannya dengan Amara. Mana mungkin bisa jika isi kepalanya sudah dipenuhi oleh Amara.

__ADS_1


Ah, kata-kata Juan tadi benar-benar sukses membuat Dimas tak tenang. Mau tak mau ia jadi berpikir keras berusaha untuk mengartikan. Ia merebahkan tubuhnya di kasur dengan tatapan hampa terarah pada langit-langit kamar. Namun, kemudian ia mengerjap ketika teringat jika besok lusa adalah jadwal memberikan donasi setiap bulannya.


Selama ini Dimas memang tak pernah turun langsung ke panti asuhan yang selama ini didonasi oleh keluarganya. Namun, tidak ada salahnya juga bukan, jika ia sekali-kali turun tangan langsung untuk memberikan donasinya langsung pada pihak panti. Sekalian membuktikan sebenarnya apa maksud perkataan Juan tadi. Ya walaupun dia akan lebih sibuk dari biasanya, sebab bukan hanya satu panti saja tempatnya berdonasi.


__ADS_2