Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Satu permintaan


__ADS_3

Suara azan subuh telah berkumandang ketika Amara membuka mata. Ia melihat ke sekeliling, di mana nuansa putih mendominasi ruangan. Seketika ia menyadari jika dirinya masih berbaring di ranjang rumah sakit.


Saat hendak bergerak, ia merasa kesulitan sebab tubuhnya seperti terbelenggu. Sebuah tangan kokoh rupanya melingkar erat mendekapnya, seolah-olah si pemilik tangan tak ingin melepaskan sedikit saja.


Kepalanya perlahan menunduk, guna mengamati penampilannya yang masih terbaring. Rupanya pakaiannya masih utuh. Serta posisinya juga masih persis sama seperti saat pertama ia memejamkan mata.


Sekarang Amara bisa bernapas lega. Ketakutannya semalam rupanya tak berarti apa-apa. Pria bernama Dimas ini ternyata hanya menggodanya saja. Walau ia akui jika pria yang memeluknya sekarang ini memiliki sifat pemaksa, tetapi dia masih memiliki hati nurani dengan tak bertindak jauh melebihi batasannya. Hanya saja badannya terasa pegal oleh kungkungan tubuh Dimas yang membatasi ruang geraknya. Juga ukuran ranjang yang terasa sempit jika dipergunakan untuk dua orang.


Setelah diam sejenak untuk mengumpulkan nyawa, Amara berniat bangkit untuk keluar dari sana. Sebelum perawat yang lain tahu dan melihat semuanya. Sebelum petugas kebersihan atau pengantar makanan datang memergoki mereka.


Amara memindahkan tangan Dimas dengan sangat hati-hati agar tidak mengusik tidur nyaman pria itu. Begitu pula dengan kaki Dimas yang menindih bagian tubuh sisi kanannya. Pria itu hanya melenguh ketika Amara memindahkan kakinya, lalu ia segera menjauh sebelum tangan pria itu kembali melingkar dan menahan pergerakannya.


Sayangnya, ketika Amara mengangkat kepalanya dan berniat untuk bangun, ia merasa tertahan seolah-olah rambutnya ditarik dengan kuat dari belakang. Otomatis kepala Amara yang sedikit terangkat itu kembali membentur lengan Dimas hingga pria itu terkejut dan sontak membuka mata.


Dimas yang masih sangat mengantuk itu berusaha memperhatikan Amara dengan ekspresi bingung. Lalu ketika dilihatnya gadis itu menoleh padanya sambil nyengir hingga menunjukkan deretan gigi putihnya, ia pun mengerutkan keningnya sembari bertanya dengan nada pelan.


"Kenapa?"


"Rambut aku ...." Amara berucap sambil melirik ke arah rambutnya yang ditindih lengan Dimas. Pria itu pun mengikuti arah pandangnya dan spontan terkejut setelah menyadari.

__ADS_1


"Oh sorry," ucapnya seperti menyesal sambil bergerak mengamankan rambut istrinya.


Kini Amara mendesah kasar dengan wajah putus asa. Usahanya untuk kabur yang dilakukan dengan susah payah nyatanya gagal dan hasilnya nol besar. Sebab kini pria itu kembali mendekapnya dengan sangat erat.


"Tidur lagi yuk. Gue masih ngantuk."


"Sudah pagi, Mas ... aku mau bangun," rengeknya sambil memanyunkan bibir.


"Masih gelap, Amara. Ngapain sih buru-buru bangun?" tawar Dimas tanpa membuka mata, juga sedikitpun tidak mengendurkan dekapannya. Padahal dia sendiri belum melihat pemandangan luar, lantas bagaimana bisa secepat itu menarik kesimpulan?


"Aku harus membersihkan diri terus salat, Mas. Aku juga harus selesaikan laporan dan diserahkan pada kepala team perawat. Aku harus kumpul di sana sebelum pergantian shift hari ini," terang Amara masih dengan wajah kesalnya.


"Maaas bangun ...!" Amara menggeram mengguncang-guncang tubuh Dimas. Membuat pria itu tersentak lalu membuka mata dan menatapnya dengan kesal.


"Kenapa sih Mar? Gue masih ngantuk." Dimas kembali memejamkan mata dan membenamkan kepalanya ke atas bantal, tetapi Amara buru-buru menepuk pipinya pelan.


"Bangun. Ini sudah pagi."


Dimas menggeliat lalu mengubah posisinya jadi terlentang. Tak lupa pula menarik tubuh istrinya dan menarik ke dalam pelukan. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas dan membuka kunci layarnya yang ternyata terpampang foto Amara.

__ADS_1


Amara sendiri bahkan sampai melotot karena tak menyangka. Ia lantas menoleh pada Dimas demi melihat ekspresi pria itu, tetapi nyatanya Dimas terlihat biasa saja. Tidak tampak sedang memamerkan layar ponselnya. Pria itu kini malahan sedang asik membalas pesan-pesan penting yang masuk dari semalam hingga pagi ini.


Memangnya sejak kapan ia memasang foto Amara di ponsel pribadinya?


Amara masih terdiam di tempatnya. Sesekali ia menatap layar ponsel Dimas. Kadang juga melirik ke arah pintu dengan ekspresi gelisah.


Sementara Dimas, tangan kanan pria itu masih sibuk dengan gawainya, sedangkan tangan kiri sibuk mendekap bahu istrinya. Sesekali ia melirik ke arah bawah, di mana istrinya terlihat gelisah. Lalu ia akan diam-diam mengulum senyum dan mengecup puncak kepala Amara dengan penuh sayang.


"Maaas ...!" Amara tak bisa menahan diri lagi. Ia menatap Dimas dengan wajah mengiba sambil meremas baju pria itu di bagian dadanya.


"Apa?" Dimas mengalihkan perhatiannya dari ponsel demi menatap manik mata istrinya.


"Nanti kita pulang, ya. Jangan nginap di sini lagi," pinta Amara dengan nada manja. Entah sejak kapan dia jadi bersikap manja?


"Oke."


Mata Amara langsung berbinar senang mendengar kata Dimas barusan. Namun, ternyata pria itu belum selesai berbicara. Air muka Amara kembali berubah muram setelah Dimas kembali bicara.


"Asalkan, lo turuti satu permintaan gue."

__ADS_1


"Apa?" tanya Amara dengan wajah polosnya.


__ADS_2