Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Bercak darah


__ADS_3

Pencarian Amara rupanya tak semulus yang dipikirkan Dimas. Awalnya ia merasa lega lantaran yakin Amara berada dalam sebuah mobil box di tepi jalan bersama Naura.


Namun, sialnya mobil box yang berada di tepi jalan bukannya hanya ada satu unit saja, melainkan ada belasan dan itu letaknya berjajar-jajar.


Dimas menggeram kesal. Ia perlu memastikan dulu Amara dan Naura ada di mobil bagian mana sebelum ia benar-benar merusak pintunya.


"Amara! Amara!" teriak Dimas. Namun, ia tak juga mendengar sahutan.


"Lo cek sebelah sini, gue cek sebelah sana." Baskoro yang sejak tadi mengikuti Dimas kini angkat bicara memberikan usulan.


Dimas mengangguk setuju. Ia kembali melanjutkan pencarian, tetapi kali ini nama Naura lah yang ia serukan.


"Naura! Naura!"


Masih belum ada sahutan di mobil box kedua. Dimas mendesah kasar. Ia lantas beranjak menuju mobil box yang ketiga.


Namun, ketika dia melangkah, tanpa sadar matanya menatap ke bawah, di mana tetesan darah yang sudah berubah kehitaman tampak tercecer di jalan.


"Darah?" Dimas menggumam pelan. Tanpa pikir panjang, ia berjalan mengikuti tetesan darah itu. Terlepas dari pikiran buruk yang berkecamuk, Dimas berharap darah itu merupakan sebuah petunjuk untuk mengetahui keberadaan Amara. Ia harus menemukan istrinya bagaimanapun keadaannya.


Sungguh, andapun Dimas kelak mendapati istrinya dalam keadaan terluka, ia bersumpah tak akan mengampuni dirinya sendiri karena tak bisa menjaga Amara dari kejahatan Naura.


Tanpa suara, Dimas terus melangkah mengikuti jejak darah yang hampir mengering itu. Mata Dimas kemudian membelalak setelah tahu jejak darah terputus di belakang mobil box yang ke delapan.


Tidak salah lagi. Naura pasti membawa istrinya ke dalam box mobil itu. Bercak darah yang menempel di pijakannya itu menjadi bukti nyata.


Sontak saja Dimas menggedor pintu itu sambil menyerukan nama Naura.


"Naura! Naura! Apa lo ada di dalam sana! Naura!" Dimas diam sejenak selagi mengatur napasnya yang memburu. Ia ingin menggedor lagi, tetapi mendadak urung saat mendengar suara samar dari dalam sana.


"Aku di sini, Dimas! Aku di sini! Tolong keluarkan aku, Dimas! Di sini sangat pengap dan aku kesulitan bernapas."


"Itu suara Naura." Dimas bergumam antara panik dan juga lega. Seketika pikirannya langsung berkelana, membayangkan bagaimana keadaan istrinya di dalam sana. "Demi Tuhan, gue bakal bunuh lo kalau sampai melukai Amara sedikit saja, Naura." Dimas kembali bicara pada dirinya sendiri. Kemudian ia mulai menggunakan linggis di tangannya.

__ADS_1


Suara gaduh yang ditimbulkan Dimas sukses membuat Baskoro datang mendekat. Pria itu rupanya ingin memastikan apa yang sedang dipikirkan.


"Gimana? Mereka udah ketemu?" tanyanya kemudian.


Dimas menghentikan kegiatan sejenak selagi menjawab tanya Baskoro. "Naura ada di dalam, Bas. Gue yakin Amara juga di sana. Lo bantuin gue, ya."


"Oke."


Baru juga Baskoro hendak bergerak, beberapa orang pria tampak muncul menghampiri mereka.


"Hey, ada apa ini? Apa yang kalian lakukan dengan mobil box bos kami!" Salah satu dari mereka bertanya dengan ekspresi marah.


"Jadi ini mobil box bosnya Bapak? Kalau gitu bisa pinjam kuncinya, Pak. Biar bisa kami buka?" Baskoro yang terlihat lebih tenang ambil posisi berbicara dengan sopan.


"Enak saja mau main buka. Memangnya situ siapa?"


"Pak, orang yang saya cinta ada di dalam sana, Pak! Dia terjebak dan nggak bisa keluar!" Dimas yang tak sabaran akhirnya menyahuti dengan nada tinggi.


Baskoro membelalak dirinya dikatai perwakilan buruh. "Heh, Pak! Tuduhan Bapak ini terlampau kejam! Tatap kami baik-baik, Pak. Dilihat dari sisi mana kami ini seperti para buruh tadi? Kami tidak ada sangkut pautnya dengan mereka, Pak!"


"Halah, alasan! Bisa jadi kalian ini orang bayaran, kan!"


Keadaan semakin kacau lantaran Dimas terus memaksa sedangkan pihak pabrik keberatan memberikan kunci mobil boxnya. Kegaduhan itu pun berhasil menarik perhatian warga sekitar hingga berbondong-bondong datang untuk melihat.


Dimas yang habis kesabaran akhirnya naik pitam. Ia refleks mencengkeram kerah pegawai pabrik dan hendak melayangkan bogem mentah ke arah wajah. Beruntung, Baskoro bergerak sigap melerai tepat waktu hingga niatan Dimas bisa digagalkan.


"Saya peringatkan untuk tidak main kekerasan, ya! Saya tidak akan segan-segan memenjarakan Anda!" Orang itu mengancam Dimas.


"Saya nggak peduli!" sahut Dimas dengan amarah yang memuncak. "Apa Bapak mau tanggung jawab andai orang yang saya cintai di dalam sana tewas akibat terlambat mendapatkan pertolongan!"


Hening. Tak ada orang yang bersuara. Tepat di saat itulah suara teriakan Naura terdengar walau samar.


"Bukain pintunya, Dimas! Tolong aku!"

__ADS_1


Semua orang yang ada di sana membelalak mendengarnya. Awalnya di antara mereka tak ada yang percaya. Mereka berpikir mustahil ada orang yang bersembunyi di dalam sana. Sedangkan orang-orang yang tadi terlibat kericuhan sudah diamankan polisi dan tempat sudah disterilkan.


"Kalian dengar sendiri, kan! Ada orang di dalam sana! Masih tidak percaya juga!" Dimas menggeram sambil menunjuk ke arah mobil box.


"Maaf. Kami pikir kalian bagian dari mereka. Kami kira kalian dendam dan ingin merusak mobil-mobil perusahaan," tutur pria itu penuh sesal.


"Saya minta buka sekarang juga!" desak Dimas dengan rahang yang mengetat.


Namun, alih-alih mengambil kuncinya dan membuka gembok, para pegawai pabrik itu justru saling pandang kebingungan.


"Cepat!" desak Dimas lagi sebab mulai habis kesabaran.


"Saya harap Bapak tenang sebentar." Salah satu dari mereka ambil posisi mendekati Dimas untuk menenangkan.


Seketika Dimas merasa jika ada sesuatu yang salah hingga pria itu melakukan pendekatan kepadanya sampai seperti itu. Karena ingin mendengarkan penjelasannya, Dimas menatap pria itu dengan tajam seolah-olah menuntut penjelasan.


"Begini, Pak. Sebenarnya kami ingin memberikan kuncinya pada kalian. Tapi, sayangnya kami juga tidak menyimpan kunci cadangan sebab semua sedang disita pihak polisi karena dilarang beroperasi untuk sementara waktu."


"Sialan!" Untuk kesekian kalinya Dimas meluapkan emosinya. Tanpa pikir panjang ia kembali mengambil linggis yang tergeletak di tanah, lalu kembali mengeksekusi pintu dengan membabi buta.


Walau ia sempat curiga kenapa Amara tak bersuara, tetapi Dimas mencoba menepisnya dan berpikiran yang baik-baik saja. Hanya satu keinginannya. Menemukan Amara dan langsung memeluknya.


Tak ada orang yang berani mencegah tindakan Dimas. Semuanya serentak memperhatikan Dimas dalam diam, seolah-olah menanti dengan cemas gerangan apa yang akan terlihat di dalam sana.


Aksi Dimas itu terlihat dramatis sebab pemuda itu terlihat sangat khawatir hingga nyaris saja menangis. Wajahnya merah padam dan matanya berkaca-kaca. Pemuda itu bahkan mengabaikan keringan yang bercucuran serta debu yang mengotori pakaiannya.


Tak berapa lama, pengait kunci pintu box itu berhasil Dimas patahkan. Pria itu segera membuang linggisnya dan membuka pintu dengan tak sabaran.


Seperti melihat pemandangan yang mencengangkan, Dimas terlihat syok dengan sorot mata terpaku pada satu titik begitu melihat keadaan di dalam. Wajahnya memucat. Tubuhnya sejenak seperti beku. Hanya napasnya yang memburu.


Namun, tak berselang lama sebuah suara teriakan wanita menggema dari dalam sana.


"Cepat panggil ambulans! Dia membutuhkan pertolongan!"

__ADS_1


__ADS_2