Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Awas naksir


__ADS_3

Pagi itu, seperti biasa Amara masuk ke kamar Dimas untuk membangunkan pria itu sekaligus membersihkan kamarnya. Masih jam setengah tujuh pagi, tapi Amara sudah terlihat rapi.


Seperti biasanya pula, Dimas masih bergulung di bawah selimutnya. Posisinya terlentang dengan mulut yang sedikit ternganga. Terdengar dengkuran halus yang menandakan jika tidurnya masih sangat pulas.


Mendesah pelan sambil geleng kepala, Amara meletakkan nampan berisi segelas air mineral beserta roti panggang ke atas nakas. Gadis itu melangkah ke tepi ranjang sebelum kemudian setengah membungkukkan badan.


"Mas, Mas Dimas." Amara mengguncang lengan Dimas untuk membangunkan. "Mas, Mas Dimas!" ulangnya dengan intonasi lebih tinggi saat pria itu tak menunjukkan pergerakan.


Gadis pemilik hidung bangir itu menghela napas kasar sambil menegakkan badan dan berkacak pinggang mengamati sosok di bawah selimut itu.


"Mas Dimas. Ini sudah siang, loh!"


Hening. Lelaki itu tak mengeluarkan suara, apalagi bergeser dari tempatnya. Pandangan Amara kemudian beralih ke jendela, di mana gorden tebal berwarna cokelat masih menutup rapat. Amara segera meraih remote control untuk membuka gorden itu dari jarak jauh.


Sinar Matahari yang berwarna jingga keemasan langsung menyemburat masuk menerobos kaca dan tirai tipis. Cahayanya langsung menerpa Dimas yang tengah melanglang buana di alam mimpinya, dan kening pria itu mengerut hingga kedua alisnya bertaut.


Tubuh atletis itu bergerak menggeliat untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Bergolek ke kiri dan kanan lantas mengerjap-ngerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata.


Saat Dimas membuka mata, sesuatu yang ia lihat pertama kali adalah wajah cantik yang tengah tersenyum manis kepadanya. Siapa lagi kalau bukan Amara.


"Selamat pagi, Mas Dimas," ucap Amara seperti sedang memberikan penyambutan dengan jemari tangan saling bertaut di bagian depan.


Dimas mengerutkan keningnya, mengucek-kucek mata sebelum kemudian kembali menatap Amara.


"Jam berapa sih ini? Orang masih pagi, juga. Gangguin orang tidur aja," gerutu Dimas dengan wajah kesal, lalu kembali menarik selimutnya hingga menutupi seluruh badan.


"Mas, ini sudah siang! Kok tidur lagi?"


"Biarin gue tidur lagi sebentar, ya. Hari ini gue nggak ada kegiatan juga. Lima menit ... aja." Tangan Dimas yang berada di dalam selimut bergerak keluar dan terangkat sambil menunjukkan lima jarinya, seolah-olah tengah menegaskan perkataannya. Sedangkan kepala dan anggota badan yang lain masih berada di dalam selimut saat berucap.


"Ih ... nggak bisa!" Amara membungkukkan badan lalu menarik ujung selimut Dimas hingga terbuka sebatas dada. "Coba deh Mas Dimas lihat, Matahari pagi ini sangat cerah. Mas Dimas harus berjemur sekarang walaupun hanya sebentar!" tegas Amara.


Dimas merengut sambil menatap Amara. "Besok aja, ya. Kalau perlu sekalian joging, deh. Tapi sekarang gue bener-bener masih ngantuk ...!" tawar Dimas seraya memberi usulan.


"Nggak bisa. Atau kalau perlu sekarang aja jodging-nya, gimana?"

__ADS_1


Sementara Amara sibuk membujuk, Dimas justru kembali memejamkan mata dan terlelap.


"Mas Dimas ...!" Amara menggeram setengah berteriak. Tentu saja gadis itu kesal. Capek-capek membujuk malah ditinggal tidur!


Amara terdiam selagi memperhatikan ekspresi wajah Dimas yang sedang terpejam. Sebuah seringai jahat lantas tersungging di bibir gadis perawat itu.


Dikira aku nggak tau kalau kamu cuma pura-pura tidur? Huh, awas ya, aku kerjain aja sekalian! batin Amara.


"Mas Dimas susah banget sih, bangunnya. Vitamin D dari Mataharinya entar keburu habis loh, Mas! Bagus untuk pemulihan kamu!"


Dimas masih betah pura-pura tidur dan belum mau membuka mata meski Amara sudah mencoba berbicara keras. Pria itu bahkan berguling membelakangi seraya memeluk bantal guling yang ada di sisinya.


Dasar. Kita lihat aja, setelah ini kamu masih mau pura-pura tidur lagi, atau langsung bangun dan lari terbirit-birit?


"Oh, ya udah deh kalau masih pengen tidur lagi. Nggak usah sebentar, yang lama-lama juga nggak papa. Mumpung kamu tidur, mendingan aku pergi shopping belanja-belanja. Duit aku kan banyak. Walaupun aku hari ini keluar seharian kayaknya itu duit yang di rekening nggak bakalan habis, deh. Untung aja tadi aku bawa suntikan obat penenang. Ternyata pas banget buat kamu yang pengen tidur lagi seharian ini."


Dimas langsung membuka mata mendengar perkataan terakhir Amara. Suntik? Obat penenang? No! Gue nggak mau tidur seharian!


"Iya, iya, gue bangun!" Dimas langsung mendudukkan tubuhnya dengan ekspresi kesal. Terlebih saat menatap Amara yang rupanya tengah tersenyum puas sembari memainkan naik turun kedua alisnya.


"Ih Mas Dimas udah bangun aja. Takut saya suntik, ya?" goda gadis itu kemudian sambil tertawa.


"Bukan," bantah Dimas. "Gendang telinga gue hampir rusak gara-gara denger suara Lo yang cempreng!"


"Masa? Cempreng dari mana, orang merdu begini, kok." Amara berucap sambil memasang wajah polos.


Dimas hanya berdecih sambil buang muka. Sedangkan Amara, justru senyum-senyum sambil memperhatikan raut wajah Dimas.


"Jangan sering-sering mandangin muka gue. Bisa naksir lo entar," ucap Dimas dengan nada acuh.


"Hah? Naksir?"


Amara dengan wajah mirisnya memperhatikan Dimas dari ujung kaki sampai kepala. Bangun tidur dengan rambut yang masih acak-acakan, terlebih matanya yang masih lamat-lamat akibat kantuk berat yang masih melanda. Dengan memakai kaos oblong dan bawahan celana kolor, menariknya dari mana? Benar-benar mengurangi nilai ketampanan seorang pria.


Lagipula, selain Juan seorang, belum ada seorang pria pun yang mampu menggetarkan hati Amara. Terlebih Amara adalah type wanita yang sangat setia.

__ADS_1


"Kenapa? Nggak percaya? Lo nggak tau aja gue udah bikin banyak cewek klepek-klepek dan patah hati."


Nggak salah? Bukannya dia yang frustasi gara-gara cewek? batin Amara.


"Awas aja lo, bakalan patah hati kalau sampai jatuh cinta sama gue." Dimas berucap seperti mengucapkan sumpah sambil menuding Amara dengan telunjuknya.


Amara menyimpul senyum di bibirnya. "Insyaallah enggak, Mas. Saya orangnya profesional, kok. Saya nggak akan mencampur adukkan masalah hati dengan pekerjaan."


"Hemmm," Dimas menyebik meragukan.


Menurunkan kaki dari atas ranjang, pria itu mengenakan sandal rumahan sebelum kemudian bangkit dan berdiri.


"Minggir. Gue mau ke kamar mandi."


"Ahh ...." Amara meringis sakit saat Dimas sengaja menabrakkan lengan kirinya pada bahu kanan Amara.


Dimas mengentikan langkah lalu menoleh menatap Amara. "Kenapa?" tanyanya kemudian. Lebih menyebalkan lagi dengan memasang mimik wajah lugu seperti tak melakukan apa-apa.


"Mas sengaja, ya? Sakit tau!" adu Amara seraya mengusap-usap bahu kanannya.


"Disakitin cowok lo, ngapain ngadunya ke gue?"


Amara menggeram. "Siapa yang disakitin cowok? Orang kena lengan Mas Dimas tadi ...!"


"Owh, yang barusan. Siapa suruh lo ngalangin jalan!" Pria itu bahkan sedikitpun tak merasa bersalah.


"Ngalangin jalan gimana sih, Mas. Jelas-jelas kamar Mas Dimas ukurannya luas, ngapain lewat aja masih nyempil-nyempil di sebelah saya."


"Dah, ah! Gue malas debat. Udah kebelet." Dinas lalu menatap Amara dengan pandangan penuh arti. "Atau ... lo mau, gue pipis di sini?"


"Hah! Eeggh, Jorok!" geram Amara dengan memasang wajah jijik. "Kalau kebelet ngapain masih di sini? Buruan sana kamar mandi!"


"Ye ... orang lo yang nahan gue, juga." Dimas terseyum menatap Amara yang memalingkan wajahnya malu-malu, lantas melangkah dengan santai menuju kamar mandi sambil bibirnya bersiul-siul.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2