Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Permintaan Naura


__ADS_3

Sampai di tempat pemotretan Naura, Dimas melihat area sekitar sudah sepi dari aktifitas. Kru yang bertugas sudah tak nampak lagi berada di sana, hanya menyisakan tukang bersih-bersih yang tengah membereskan sampah yang berserakan akibat properti yang digunakan.


Namun, sejak pertama kali ia naik ke atap gedung yang menjadi tempat pemotretan Naura itu, ia sudah melihat sosok tubuh semampai sang kekasih tengah berdiri dengan posisi membelakangi untuk melihat pemandangan kota dari ketinggian. Tanpa pikir panjang, ia segera mendekat dan memeluknya dari belakang.


"I love you," bisik Dimas tepat di telinga kiri Naura.


Alih-alih menjawab atau membalas sikap romantis Dimas, Naura justru hanya bergeming tanpa sedikitpun menggerakkan tubuhnya.


Dimas mengernyit heran. Tak biasanya Naura berlaku demikian terhadapnya. Mendengar helaan napas lolos dari bibir Naura, Dimas dibuat tak percaya mendengar gadis itu bertanya dengan nada penuh curiga.


"Dari mana saja kau?"


"Dari rumah. Langsung ke sini." Dimas menjawab jujur tanpa berniat melepaskan pelukannya.


"Dari rumah?" Naura sontak berdecih. Bahasa tubuhnya jelas-jelas menunjukkan sikap meragukan.


"Hey, ada apa denganmu?" Tanpa peringatan, Dimas memutar posisi tubuh Naura agar berhadapan langsung dengan dia. Mengikis jarak dengan menarik pinggul si wanita untuk merapat, ia lantas menatap manik dengan lensa kontak coklat itu lekat-lekat.


"Maaf. Kau pasti kecewa karena aku datang terlambat. Maaf juga, karena telah membuatmu menunggu lama." Kata maaf bahkan tak segan Dimas lontarkan. Namun, Naura masih begitu enggan menurunkan sikap egonya.


"Ya, i see. Kau pasti kelelahan karena baru saja mengajak Amara jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Kalian bahkan mampir ke toko perhiasan untuk membelikannya sesuatu hal. Kau pasti membutuhkan sedikit waktu untuk beristirahat. Ya, aku mengerti." Masih dengan ekspresi kecewa, Naura kembali berbalik badan untuk membelakangi Dimas.


Mendengar itu terang saja sisi sentimental Dimas meronta-ronta hingga kembali memutar tubuh Naura untuk menghadap kepadanya.


"Hey, bagaimana kau mengetahuinya? Apa kau sengaja memata-mataiku dengan Amara?" tanyanya menuntut penjelasan.


"Kau lupa jika mataku ada di mana-mana?" tanya Naura penuh penekanan. Entah kenapa, kecemburuan pada Amara benar-benar membuatnya hilang kendali kali ini. Ini adalah hari ulang tahunnya. Alih-alih menemaninya saat kerja, Dimas justru berduaan dengan Amara. Bukankah wajar jika ia merasa cemburu, sebab Dimas hanya miliknya seorang. Kendati telah menikah dengan Amara, tapi itu hanya pura-pura dan hanya selama enam bulan saja. Harusnya pria itu bisa menjaga perasaan!


Tak mampu mengontrol emosinya, Naura pun menggeram penuh amarah, lantas kembali berbalik badan dan membelakangi kekasihnya.


"Sayang ... dengarkan aku dulu."


"Lepas." Naura menepis tangan Dimas yang berusaha membujuknya.


"Oke!" bentak Dimas pasrah. Dia menganggukkan kepalanya berulang-ulang sambil menggemertakkan gigi, bersikap pengertian oleh keinginan kekasihnya tapi dengan ekspresi yang jengkel.

__ADS_1


Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya kemudian menaruh itu pada telapak tangan Naura dengan paksa.


"Ya! Aku memang mengajak Amara ke toko perhiasan untuk ini."


Naura membelalakkan mata melihat sesuatu di tangannya. Sebuah kotak beludru berwarna merah dengan bentuk hati. Otaknya yang sudah terbiasa dengan hal itu langsung bekerja cepat menebak apa isi di dalamnya.


Ia sontak mengalihkan pandangannya pada Dimas yang tengah membuang pandangan ke sisi kanan. Pria itu terlihat kesal dan itu benar-benar membuatnya menyesal.


"Aku akan pergi jika itu yang kamu mau."


"Sayang tunggu!" Naura mendekap tubuh Dimas dari belakang, menahan pria itu agar tidak pergi meninggalkan. "Maaf, maafkan aku. Aku cemburu karena terlalu takut kehilanganmu. Plis maafkan aku."


Dimas mendesah kasar tanpa berniat melepaskan tangan Naura yang masih melingkar di perutnya.


"Bukankah sudah kukatakan berulang-ulang, aku dan Amara itu tidak ada apa-apa!" terang Dimas penuh penekanan.


"Iya, aku tau, tapi aku hanya manusia biasa yang mudah terbakar cemburu saat kau dekat dengan wanita itu!"


"Lantas bagaimana dengan Amara?" Dimas melontarkan pertanyaan yang seketika membuat Naura heran.


"Maksudmu?" tanya Naura menuntut penjelasan. Ia melepaskan pelukannya dan membentang jarak, lalu menatap wajah bagian samping Dimas dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Itu karena dia tidak mencintaimu!" sahut Naura penuh kemarahan. Ia menarik kakinya mundur selangkah dan mengepalkan tangan dengan geram. "Cukup, Dimas! Cukup! Aku tidak ingin lagi mendengarmu memuji-muji Amara. Kau selalu membandingkan aku dengan dia di saat kita berdua. Kau selalu merusak kebahagiaan kita. Selama ini aku selalu diam, tapi jujur, sekarang aku sudah tidak tahan ...." Naura tergugu.


Dimas mengusap wajahnya kasar. Ia mengembuskan napas kasar untuk melepaskan kekesalan. Ia sama sekali tak pernah berniat membandingkan Naura dengan Amara, tetapi yang ia katakan tentang Amara itu adalah fakta. Ia ingin Naura mengubah sifat buruknya dan memberikan contoh Amara sebagai panutan. Siapa sangka, rupanya itu membuat Naura murka.


Melihat Naura menangis, ia jadi tak tega dan semakin merasa bersalah. Gegas dipeluknya si wanita untuk menghentikan tangisnya.


"Sayang, diam ya. Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu."


"Bohong!" bantah Naura.


"Sungguh. Aku mencintaimu melebihi apa pun. Kau sendiri tahu bagaimana perjuanganku mendapatkanmu."


Naura terdiam. Ia tak berniat melepaskan diri atau pun menimpali perkataan Dimas. Kata-kata pria itu memang benar. Dan kini ia hanya bisa memejamkan mata, merasakan dan menikmati kehangatan yang disalurkan oleh prianya.

__ADS_1


"Kau memaafkanku?" tanya Dimas setelah keduanya terdiam cukup lama.


"Ya. Tapi dengan satu syarat."


"Apa?" Dimas mengurai pelukannya. Ia menangkub bahu kekasihnya dan menatap wajah Naura dengan seksama.


"Aku tidak mau kau membandingkanku dengan Amara lagi."


Tak langsung mengiakan atau menunjukkan sikap keberatan, Dimas memilih diam setelah menghela napas. Ia tampak berpikir panjang sebelum kemudian menganggukkan kepala.


"Okay. Tapi kau juga harus bisa menunjukkan sikap baikmu padaku."


"Baik. Mulai sekarang aku akan menjadi kekasih terbaikmu. Aku janji." Naura berucap mantap.


Senyum Dimas seketika terkembang. Ia mencubit gemas hidung kekasihnya lalu menyematkan kecupan hangat di puncak kepalanya.


Naura membuka wadah beludru yang sejak tadi ia pegang, lantas menyodorkan isinya pada Dimas.


"Bisa kau pakaikan ini ke leherku?" pintanya dengan memasang mimik gemas.


Dimas melihat itu dan seketika mengangguk yakin.


"Dengan senang hati," katanya. Ia pun mengambil kalung dari tempatnya dan memakaikan itu pada Naura. Gadis itu terlihat sangat bahagia, begitu pula dengan dirinya.


"Kau suka?" tanya Dimas kemudian.


Naura langsung mengangguk. "Bahkan sangat suka," balasnya.


"Baguslah." Dimas memutar tubuhnya Naura lalu mendekapnya dari belakang. Mendekatkan bibirnya pada telinga Naura, ia lantas berbisik, "Karena hari ini adalah hari ulang tahunmu, kau boleh minta apa pun dariku."


"Sungguh?" Naura terlihat antusias.


"Ya. Katakan, benda apa yang kau minta."


Naura tersenyum senang, lalu melirik wajah kekasihnya. "Aku memang menginginkan sesuatu, tapi itu bukanlah benda."

__ADS_1


"Hemmm." Alis Dimas bertaut heran. "Lantas?"


"Khusus malam ini, aku ingin kita hanya berdua saja. Bagaimana kalau kita tidak usah pulang. Melewatkan malam panjang di hotel sepertinya lebih menyenangkan. Kau setuju, kan?"


__ADS_2