Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Nggak bisa tidur tanpa lo


__ADS_3

Dimas menahan tangan Amara saat gadis itu hendak menutup kepalanya dengan selimut.


"Mar–" Dimas menggeleng sebagai isyarat. Seakan-akan dia mengatakan jangan kepada istrinya.


Sementara Amara hanya bisa tertunduk kaku menahan malu. Gadis itu meremas selimutnya dan menggigit bibir bawah.


"Nggak usah malu, Mar, kan status kita suami istri." Dimas berusaha menenangkan, tetapi itu tetap saja tidak bisa membuat Amara tenang. Gadis itu masih enggan mengangkat wajah meski telah dipanggilnya.


"Kemarilah." Dimas merentangkan kedua tangannya, seolah-olah merelakan dirinya untuk dipeluk Amara. Namun, wanita itu malah geleng kepala tanpa mengangkat wajahnya.


"Gue tau, lo kangen banget sama gue."


Kini Amara benar-benar menyesali perbuatannya. Untuk apa tadi dia memeluk foto Dimas sebagai pengantar tidur? Sekarang jadi ketahuan, kan. Pria itu pasti berpikir ia tergila-gila kepadanya.


Ya sudahlah. Menyesal juga percuma. Ia mengelak juga tak guna. Yang tersisa hanyalah rasa malu hingga ke ubun-ubunnya. Terlebih melihat Dimas tengah tersenyum senang, seolah-olah sedang merayakan kemenangan.


Tiba-tiba Dimas merebahkan tubuhnya di tempat yang biasa. Ia sempat berpikir jika Dimas sudah bosan membujuknya, makanya pria itu tak peduli lagi dan memutuskan untuk tidur saja.


Namun, ternyata tangan kokoh itu kemudian bergerak menelusup ke pinggang Amara dan menarik gadis itu untuk berbaring. Meski sempat terkejut, nyatanya gadis itu pasrah saja saat Dimas membaringkan tubuhnya di sisi kiri dengan posisi membelakangi. Lalu kemudian tanpa canggung memeluk istrinya itu dari belakang.


Amara bisa bernapas lega sebab pria itu hanya memeluknya saja. Walaupun ternyata pelukan itu sukses membuatnya lemas tak berdaya.


Malam ini Amara merasakan perilaku Dimas kepadanya jauh berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya Dimas selalu bertingkah manja dan memaksa, kali ini pria itu bersikap sangat manis dan perhatian. Pelukannya juga terasa lembut dan penuh sayang. Tidak seperti bocah kecil yang menuntut perhatian.


Amara merasa sangat nyaman di dekapan Dimas. Entah mengapa ia jadi wanita yang gampangan. Mau saja diperlakukan seperti itu meski status pernikahan belum jelas. Bahkan malah betah berlama-lama dalam pelukan Dimas Sanjaya.


Untuk beberapa saat hanya hening yang membentang. Dua manusia itu masih betah membisu. Seolah-olah tak ingin lagi melepaskan Amara, Dimas begitu erat mendekapnya. Ia menyatukan jemarinya dengan jemari dingin Amara. Mengendus rambut beraroma sampo itu berlama-lama sambil memejamkan mata. Kadang sesekali mengecup puncak kepala si istri dengan penuh rasa sayang. Meski reaksi Amara masih terasa kaku dan tegang.

__ADS_1


"Mar," panggil Dimas pada Amara setelah beberapa lama terdiam. Suaranya terdengar parau dan sensual.


"Ya?" Amara sedikit memutar kepalanya, lalu melirik ke arah pria yang merekat pada punggungnya.


"Gue boleh ngomong sesuatu?"


Amara mengangguk cepat. "Boleh."


Dimas mengeratkan pelukannya, lalu mencium pipi kanan Amara dengan lembut sebelum bicara.


"Ternyata lo lebih cantik dari yang gue duga." Dimas berbicara pelan dan tenang di dekat telinga istrinya.


Amara mengernyit. "Lantas apa karena itu tiba-tiba kamu jadi manis gini sama aku?"


Wajar kan kalau dia curiga begini? Sikap manis Dimas ini meningkat drastis setelah pria itu melihatnya tanpa jilbab.


"Terus?"


"Lo tau kenapa semalam ini gue tetep pulang? Menempuh perjalanan darat sampai berjam-jam. Sampai melawan rasa ngantuk yang berat?"


Amara menggeleng sebagai bentuk jawaban. Ia benar-benar penasaran dengan penyebabnya.


"Karena gue nggak bisa tidur tanpa lo."


Jawaban Dimas membuat mata Amara sontak membelalak. Jelas saja ia seterkejut itu. Amara benar-benar tak menduga jika dirinyalah penyebabnya.


Dimas kembali menghadiahi kecupan sebelum kemudian menempelkan pipi kirinya pada pipi kiri Amara dan memejamkan mata. "Sekarang gue nggak biasa tidur tanpa pelukan lo."

__ADS_1


Diam-diam senyum Amara mengembang senang. Kata-kata Dimas membuatnya seperti melambung di awan. Segampang itukah dia bahagia? Hanya mendengar gombalan dari bibir pria yang dicinta, tanpa tahu fakta sebenarnya apa.


"Mar ... jangan pernah tinggalin gue, ya."


Hati wanita mana yang tidak berbunga-bunga jika kata-kata memohon seperti itu terlontar dari bibir pria yang dicintainya. Namun, sesaat kemudian senyuman getir terukir di bibirnya ketika mengingat sesuatu hal.


Ini benar-benar mengganggu pikiran Amara hingga dia merasakan kegelisahan. Sayangnya dia tak memiliki cukup keberanian untuk mengutarakannya pada Dimas. Ia hanya bisa memendam kegelisahan itu hingga terlelap dalam buaian suaminya.


***


Pagi itu Dimas terlambat bangun lantaran hasratnya malam tadi tidak tersalur. Padahal ia sudah mengutarakan bagaimana perasaannya, bagaimana dirinya begitu membutuhkan Amara. Namun, gadis itu tak menjawab apa-apa. Malahan semakin tegang dan terlihat gelisah. Mungkinkah ada yang sedang dipikirkan? Ketika dia mendesak pun gadis itu tak mau mengaku.


Dimas malahan berpikir Amara masih belum move on dari Juan hingga belum bisa menerimanya. Jadi ia tak punya daya untuk memaksa. Hanya bisa mencurahkan kasih sayang lewat sentuhan dan pelukan. Hingga Amara benar-benar terlelap di dekapannya.


Ia bahkan tak sempat menanyakan sebab Amara tak mengenakan pakaian dinasnya pagi itu. Ia terlalu buru-buru dan hanya bisa berpesan agar Amara berangkat bersama Mamad saat hendak ke rumah sakit.


"Minta antar Pak Mamad, ya. Jangan berangkat sendirian!" tegasnya penuh tuntutan. Amara hanya mengangguk dan tersenyum. Dimas juga menyempatkan mengecup kening istrinya dengan mesra sebelum bertolak ke lokasi proyek.


Aktivitas hari ini sangat melelahkan bagi Dimas. Seharian ia bekerja di luar ruangan. Meninjau dari lokasi satu ke lokasi yang lain, dan baru bisa pulang ketika bulan sudah merangkak naik. Ia bahkan tidak sempat memegang ponselnya, dan baru membuka setelah berada di rumah.


Ada begitu banyak pesan dan panggilan tak terjawab. Ia mengernyit heran saat menemukan nama Amara di sana.


"Tumben lo telepon." Dimas bergumam. Ia menutup kembali ponselnya ketika berjalan memasuki rumah.


"Hai, Bi." Dimas menyapa Eli yang membukakan pintu itu dengan senyuman ramah. Wanita paruh baya itu juga membalasnya tak kalah ramah. "Amara lagi apa?"


"Lho, memangnya Mas Dimas nggak tau kalau hari ini Amara kerja shift malam? Amara sudah berangkat sejak sore tadi, Mas."

__ADS_1


"Hah!"


__ADS_2