Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Baper


__ADS_3

"Amara? Ini elo?" tanya Dimas dengan nada memastikan.


"Aaa ... memangnya Mas Dimas pikir aku ini siapa?" Amara menggerutu kesal karena berpikir Dimas berpura-pura tak mengenalinya. Ia kemudian melayangkan tanya usai memperhatikan diri sendiri dengan ekspresi tak percaya diri. "Mas, menurut Mas Dimas penampilanku ini bagaimana?"


Dimas memerhatikan mimik polos Amara untuk sejenak, sebelum kemudian mengamati penampilan gadis itu seolah-olah tengah menilai. Entah apa yang ada dalam benaknya saat ini, tiba-tiba saja mendesah dan mesang mimik kecewa.


"Gimana, ya ...," ucapnya dengan nada yang sulit diartikan.


"Gimana apanya?" desak Amara pula dengan ekspresi kebingungan.


"Mbak ... karena saking cantiknya Mbak, pacar Mbak ini sampai nggak bisa berkata-kata, loh. Benar 'kan, Pak?" Seorang wanita yang menjabat sebagai manager di salon itu akhirnya angkat bicara untuk menengahi. Wanita itu tersenyum sangat manis sambil menyentuh lengan Amara dengan lembut, lalu beralih menatap Dimas untuk meminta persetujuan.


Mendengar kata pacar membuat Amara dan Dimas kompak saling pandang dengan ekspresi terkejut. Sejurus kemudian, Amara segera meralat ucapan manager itu demi menghindari kesalahpahaman.


"Tapi kami nggak pacaran, kok Mbak. Saya ini cuma perawatnya saja."


"Perawat?" Wanita itu mengulangi kata perawat dengan ekspresi terkejut sekaligus tak percaya.


"Benar." Amara mengangguk yakin.


Manager itu menelan ludah seketika. Rupanya ia benar-benar salah duga. Meski di awal ia sudah merasa curiga jika dua manusia di depannya itu bukanlah pasangan kekasih–melihat bagaimana sikap acuh Dimas serta seragam yang dikenakan Amara–tetapi ia berusaha menyangkal karena pria itu rela menggelontorkan dana yang tak sedikit hanya untuk mempercantik wanita ini.


Oleh karena jaminan jika Dimas akan membayar semua biayanya, ia pun memilihkan semua yang terbaik untuk Amara. Mulai dari gaun, sepatu hak tinggi, dompet merk ternama, aksesoris, hingga riasan kelas satu di salon yang dikelolanya.


"Oh, mohon maafkan saya Mas, Mbak, saya sudah salah duga," ucapnya penuh sesal sambil menatap Dimas dan Amara bergantian.


"Ah, nggak papa, Mbak," balas Amara ramah dengan senyuman ceria. Sedangkan reaksi berbeda justru ditunjukkan oleh Dimas.


"Lagian Mbak, dilihat dari sisi mananya coba kalau kami ini pacaran? Jelas-jelas nggak ada kecocokan. Apalagi dari segi wajah, huh ... dia nggak ada apa-apanya dibanding saya," ketus Dimas menyombongkan dirinya, sedangkan bola matanya tampak melirik ke arah Amara.


Alih-alih tersinggung, Amara yang jadi bulan-bulanan Dimas justru hanya menyebik. Hapal betul bagaimana perangai Dimas yang asli, membuatnya sama sekali tak sakit hati.


"Din," panggil sang manager pada resepsionis yang berdiri di belakangnya. Kedua wanita itu saat ini tengah berdiri sambil menatap kepergian Amara dan Dimas dari tempat pusat kecantikan itu.

__ADS_1


"Iya, Bu." Gadis itu menyahut sopan, lalu maju selangkah, berdiri tepat di sisi manajernya.


Wanita yang bersedekap dada itu menoleh sejenak, melirik sang resepsionis sebelum akhirnya kembali menatap punggung yang bergerak menjauh itu. "Aku pikir hanya orang jompo, bayi dan balita saja yang butuh perawat, ternyata pria dewasa juga, ya."


Resepsionis langsung tertawa geli. "Saya juga mikir gitu, Bu. Atas dasar apa juga pria bugar seperti Pak Dimas masih membutuhkan seorang perawat di sisinya?"


"Entahlah." Sang manajer mengedikkan bahunya. Ia lantas menoleh dan menatap gadis di sisinya, dan kemudian berucap, "Mungkin bayi besar itu masih butuh disuapi saat makan?"


"Atau mungkin perlu dinina bobo setiap malam?" timpal si resepsionis setengah menebak.


Keduanya saling pandang dan terdiam untuk sejenak, sebelum akhirnya terpingkal bersamaan karena ternyata sepemikiran.


***


Mobil Dimas melesat membelah keramaian jalan. Menembus petang di bawah indahnya kelap-kelip lampu kota.


Dua orang penumpang di dalamnya masih betah membisu hingga beberapa menit berlalu. Si pria disibukkan dengan kendali kemudinya, sementara si wanita sibuk merenung sembari menatap ke arah luar jendela.


Sesaat kemudian, terdengar ******* pelan dari bibir si wanita. Ia lantas menoleh ke arah kanan, tepat ketika si pria menoleh padanya pula.


Amara beringsut, sedikit memutar posisi duduk. Menoleh pada Dimas di sisi kanannya, ia lantas bertanya dengan penuh keseriusan. "Menurut Mas Dimas penampilan aku kayak gimana? Apa nggak terlalu berlebihan? Aku nggak enak, Mas. Aku lihat sendiri Mas Dimas udah keluar duit banyak cuma buat permak aku doang ...." Gadis itu memanyunkan bibirnya.


"Ya kalau lo nggak suka tinggal lepas aja. Nih, ada tisu buat lap wajah. Hapus tuh make-up kamu." Pria itu berucap enteng sambil menyodorkan kotak tisu pada Amara. Terang saja Amara langsung menolaknya mentah-mentah.


"Ish, Mas Dimas!" geram gadis itu sambil menepis. "Aku serius, ini."


"Lah gue kurang serius apa? Ngabisin duit segitu lo pikir gue main-main? Entar bisa diambil lagi pas baju lo gue balikin?"


Amara hanya diam saat Dimas mengarahkan tatapan kepadanya. Pria itu lantas mendesah, dan kembali menatap jalanan.


"Kalau boleh jujur sih, gue sebenarnya nyesel udah bawa lo ke salon itu," imbuh Dimas.


"Nyesel gimana?"

__ADS_1


"Ya nyesel, lah. Udah habis duit banyak, tapi penampilan lo cuma gitu-gitu aja." Dimas menjawab santai tetapi dengan gaya yang meyakinkan.


Parahnya, Amara bahkan percaya pada kata-katanya. Gadis itu sontak menunduk guna memperhatikan penampilan sendiri, kemudian mengangkat pandangannya dan menatap Dimas dengan wajah lemas.


"Aku jelek banget, ya ...?"


"Iya. Tapi berhubung ada manager tadi, gue jadi nggak enak hati mau ngomong langsung sama lo."


"Tapi tadi dia bilang aku cantik!" protes Amara.


"Ya iya, lah. Masa iya dia mau ngomong jelek ke customernya di depan mata. Yang ada entar malah minta duitnya dikembalikan."


Tak mendengar suara Amara, Dimas lantas menoleh demi bisa menatap wajah gadis itu.


Entah mengapa, ia jadi tak enak hati ketika dilihatnya Amara mendadak murung dan hilang seri. Memasang wajah suram, ia termenung menatap luar jendela, dengan tangan kiri bertopang dagu.


Tanpa Dimas minta, tiba-tiba rasa sesal berduyun-duyun datang dan berdesakan memenuhi rongga dada. Jujur, dari dalam lubuh hati ia hanya ingin menggoda. Dimas yang angkuh bahkan terlalu munafik mengakui jika Amara cantik. Tanpa ia sangka, gadis itu justru menanggapinya penuh keseriusan.


Tak ingin membuat kesedihan Amara berkelanjutan, ia pun memutar otak demi bisa menghiburnya.


"Mar, kok cemberut gitu? Kata-kata gue terlalu nyakitin, ya?"


"Iya. Mas Dimas terlalu jujur," dengkus Amara tanpa menoleh.


"Ya sorry," singkat Dimas tanpa rasa berdosa. Namun, sesaat kemudian ia menyunggingkan senyum, dan mengarahkan tatapannya pada Amara, bersikap layaknya tengah memerhatikan dengan seksama. "Tapi, kalau lo mau senyum sedikiiit ... aja, pasti kelihatan cantik."


"Halah, bohong." Amara mencebik.


"Eh, beneran kok."


"Nggak percaya. Aku tau, Mas Dimas cuma berusaha menghiburku, kan?"


"Enggak. Kamu beneran cantik."

__ADS_1


"Hah?" Dengan wajah polosnya, Amara menoleh demi bisa melihat bagaimana ekspresi Dimas. Ketika dilihatnya netra bening pria itu memancarkan binar keseriusan, wajahnya sontak bersemu malu. Sejurus kemudian ia memalingkan muka, lalu berkata, "Udah lah Mas. Jangan bikin aku jadi baper."


__ADS_2