Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Mati bersamamu


__ADS_3

"Buruan minum."


"Enggak, Mas."


"Buruan!" Dimas terus memaksa kendati Amara tetap menolaknya. Pria itu lama-lama kesal juga sebab cangkir yang ia sodorkan selalu saja di tolak oleh Amara.


"Itu kopi Mas Dimas, ngapain nyuruh-nyuruh aku minum?"


"Biar gue tau, kopi ini nggak mengandung racun!"


"Astaghfirullah, Mas ...!" Amara yang tak habis pikir akan tuduhan Dimas sampai-sampai geleng kepala karena saking geramnya. "Memangnya tampang aku ini seperti pembunuh sampai-sampai kamu nuduh aku bubuhi racun ke dalam kopi ini? Sini, aku kasih tunjuk biar kamu yakin aku nggak seperti itu!"


Amara langsung merebut cangkir dari tangan Dimas dan meneguknya hingga menyisakan setengah bagian. Memang sudah beberapa lama keduanya terlibat obrolan santai sebelum perdebatan kopi ini dimulai. Jadi, suhu kopi yang Amara minum itu sudah dipastikan dalam kondisi hangat.


"Nih, lihat. Aku baik-baik aja 'kan. Nggak keracunan. Nggak kejang-kejang." Amara berucap tegas sembari mengusap bibirnya yang basah.


"Hehe, iya-iya, gue percaya." Dimas berujar sembari cengengesan. Ia lantas mengambil alih cangkir dari tangan Amara. Tanpa gadis itu sadari, Dimas tersenyum penuh kemenangan karena usahanya memaksa itu berhasil lancar jaya.


"Eh, eh. Kok diminum!" Tangan Amara menggapai-gapai, berusaha menahan Dimas yang tiba-tiba meneguk kopi sisanya tadi. Ia membulatkan matanya, benar-benar tak bisa menutupi keterkejutan.


"Kan lo bilang nggak ada racunnya. Jadi gue minum, lah," balas Dimas dengan nada mengingatkan.


"Minum ya minum. Tapi bukan sisaku juga, kali Mas. Aku bikinkan yang baru, ya." Amara menawarkan sembari bangkit untuk menunjukkan keseriusan.


"Enggak. Entar yang baru malah lo kasih racun beneran."


"Ish!"


"Aduh!" Dimas memekik saat kepalan tangan Amara bertubi-tubi mengenai lengannya. Sebenarnya itu tidaklah sakit. Namun, ia bersikap demikian agar momen kebersamaan mereka malam itu menjadi lebih berwarna. "Sakit, Mar," keluhnya dengan wajah memelas. Sedangkan tangannya memegang lengan yang baru saja mendapatkan serangan.


"Biar! Siapa suruh souzon terus." Amara menghela napas kasar sembari melirik Dimas. Ia membetulkan posisi duduk. Napasnya sedikit ngos-ngosan. Ternyata gerakannya barusan agak menguras tenaga.

__ADS_1


"Uluh-uluh, jangan ngambek gitu dong. Percaya deh, setelah nanti kita nggak sama-sama lagi, lo bakal rindu momen-momen kayak gini." Dimas melanjutkan obrolan yang sempat terjeda karena perdebatan perihal kopi tadi. Sebelumnya mereka sempat membahas kontrak kerja Amara yang akan berakhir tak lama lagi.


Sebagai manusia normal, tentunya mereka memiliki rencana untuk masa depan. Dimas akan menikahi Naura dan Amara melanjutkan kehidupannya. Namun, sayangnya Dimas harus sedikit merasakan kecewa karena Juan belum juga menyatakan cinta pada Amara. Harusnya mereka sama-sama merasa bahagia karena mendapatkan tambatan hati. Bagaimanapun juga, Dimas tak ingin merasakan bahagia sendirian. Ia merasa berhutang budi pada Amara. Karena itulah tentunya ia tak bisa melepaskan gadis itu begitu saja tanpa pengawasan. Jika saja Juan dan Amara nantinya bersatu dalam pernikahan, maka otomatis tanggung jawabnya terhadap Amara pun beralih pada Juan.


"Mar," panggil Dimas setelah beberapa saat keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


"Ya." Amara menatap Dimas dengan wajah polos. Kali ini ia membuang jauh-jauh rasa kesal oleh ulah jahil pasiennya itu. Ia sadar, sekarang bukanlah saatnya untuk meninggikan ego mengingat tak lama lagi kebersamaan ini hanya tinggal sebuah kenangan.


"Sebelum lo kelar jadi perawat gue, gue pengen traktir apa pun yang lo mau. Besok, gue bakalan temenin lo seharian penuh, sebagai bentuk rasa terima kasih gue."


"Apaan sih Mas Dimas. Nggak usah lebay, deh. Pake sok-sok'an nemenin seharian. Entar yang ada Mbak Nauranya marah, loh." Alih-alih menyetujui, Amara justru merasa tak enak hati sebab pastinya membuat Naura sakit hati. Meskipun niat Dimas hanya bentuk rasa terima kasih, bukan tidak mungkin Naura akan cemburu buta karena kekasihnya bersama wanita lain seharian penuh. Bagaimanapun juga Naura hanyalah manusia biasa. Amara hanya memikirkan kemungkinan terburuknya saja demi kebaikan bersama.


"Enggak bakal," bantah Dimas. Namun, bukan tanpa alasan dia berkata demikian. "Asal lo tau ya, gue tadi udah izin sama dia, dan dia setuju-setuju aja, kok. Naura itu aslinya baik, kali Mar. Lo nggak perlu khawatir." Dimas berucap santai.


"Tetep aja aku nggak mau, Mas. Seharian jalan-jalan itu cuma bikin capek. Kaki pegal. Jikapun ada waktu luang, malahan aku pengen tidur seharian."


"What!" Dimas nyaris tersedak air ludahnya.


"Keinginan macam apa itu. Lo tuh benar-benar aneh."


"Enggak. Aku biasa aja."


"Aneh, lah!" bantah Dimas. Pria itu lantas bangkit dari duduknya. "Gue nggak mau tau. Pokoknya, besok jam delapan lo udah harus rapi, dandan yang cantik, karena kita akan pergi jalan-jalan. Okay!" tegas Dimas seraya mengacungkan telunjuknya, seolah-olah mengisyaratkan agar Amara diam dan tak memberikan bantahan.


"Tat–tapi, Mas!" Amara sontak bangkit dan ingin melayangkan protes keras. Namun, percuma. Sebab Dimas telah lebih dulu enyah dari sana.


***


"Ibu ... Ayah ... Amara datang." Amara menaburkan kelopak bunga ke atas dua pusara yang berdekatan. Gadis itu lantas duduk di tengah-tengah, lalu mulai memanjatkan doa dalam keheningan.


Sementara Dimas yang tak tahu harus bagaimana, hanya bisa diam berdiri beberapa langkah di belakang Amara.

__ADS_1


Ini benar-benar di luar dugaannya. Awalnya ia begitu antusias karena Amara menerima dengan baik ajakannya semalam. Tepat pukul delapan pagi gadis itu bahkan sudah keluar kamar dengan penampilan sangat rapi.


"Okay. Kita let's go! Mau ke mana kita pagi ini, Nona?" Dimas yang berada di belakang kemudi memutuskan bertanya pada Amara yang duduk di sisi kiri sebelum memulai perjalanan. Hari ini ia berperan sebagai sopir yang patuh akan bosnya. Ia akan menuruti ke mana pun Amara minta. Namun, alangkah terkejutnya Dimas ketika mendengar jawaban Amara yang terlontar penuh keyakinan.


"Pemakaman."


"Innalilahi!" Bola mata Dimas sontak membulat. Ia menatap Amara dengan wajah tak percaya.


"Kenapa?" tanya Amara yang menangkap ekspresi aneh dari wajah Dimas.


"Kenapa? Lo masih nanya kenapa!" Geram, Dimas berucap penuh penekanan.


"Kenapa Mas Dimas marah? Bukannya Mas Dimas sendiri yang bilang bakal turuti semua kemauan aku?" Amara balik bertanya setengah mengingatkan.


"Iya, khusus hari ini gue bakal turuti semua yang lo minta. Tapi bukan berarti mati bersama juga, Esmeralda! Gue tau lo terpaksa iyain ajakan gue, tapi nggak gini juga, kali!"


Amara memberengut saat Dimas menonyol dahinya dengan geram. "Siapa yang bilang mau mati bersama!" balasnya pula dengan nada lirih. Namun, dengan ekspresi tak terima.


"Elo!"


"Enggak!"


"Terus, yang barusan itu apa!" Dimas berucap sembari menekan dahi Amara sekali lagi. "Salah gue di mana coba? Hari ini gue ngajak lo buat happy-happy. Bukannya mau mati!"


"Astaghfirullah, Mas. Kalau ngomong bisa disaring, nggak?"


"Nggak! Penyaringan gue udah jebol."


"Ya Allah, Mas." Amara mendesah pelan. Kelakuan pasiennya satu ini benar-benar membuatnya mengurut dada. Selalu menyimpulkan suatu hal dengan tergesa-gesa tanpa lebih dulu memahami maknanya.


"Mas." Amara menatap Dimas lekat-lekat sebelum kemudian mulai menjelaskan. "Aku ini yatim piatu. Aku rindu orang tua aku. Salahkah jika kesempatan istimewa ini kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Aku ini ingin ke makam orang tuaku! Bukannya mati bersamamu! Sampai di sini Anda paham?"

__ADS_1


Untuk sejenak Dimas terbengong-bengong mendengar penjelasan Amara. Namun, setelah itu, ia cengengesan tidak jelas karena menyadari kebodohannya. Gadis di sampingnya ini memang berbeda dengan gadis pada umumnya. Yang rela menukar kesempatan untuk bersenang-senang demi menemui orang tua yang telah lebih dulu berada di surga.


__ADS_2