
Dimas kembali pada kursinya setelah berhasil menenangkan diri dari euforia kebahagiaan. Namun, sayangnya kebahagiaan itu terasa belum sempurna. Bahagianya baru sebatas lega sebab telah mengetahui keberadaan Amara. Dan kebahagiaannya baru akan sempurna setelah mereka bisa bersama.
Memasang wajah datar tanpa ekspresi, Dimas bertingkah seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya. Tak ada yang tahu jika pria tampan bertubuh tegap itu baru saja lemas, seolah-olah energinya terkuras banyak saat lagi-lagi harus kehilangan jejak Amara dan ia nyaris frustasi karena ini.
Saat itulah Baskoro muncul dengan sikap sok bijaknya ketika memberikan nasihat. Terang saja Dimas meragukan nasihatnya jika mengingat Baskoro sendiri adalah jomblo sejati.
Perbedaan pendapat itu pada akhirnya membuat mereka harus berdebat panjang sebelum kembali ke aula panti.
"Gue mau, malam ini juga Amara balik ke rumah gue entah gimana caranya. Ti-tik."
Baskoro mengerutkan keningnya menanggapi tuntutan Dimas.
"Balik sama lo malam ini juga? Lo yakin Amara bakalan mau?"
Dimas terdengar mendesah panjang. Ia yang awalnya begitu menggebu-gebu langsung berubah muram mendengar pertanyaan yang Baskoro layangkan. Kata-kata pria itu ada benarnya. Dan tiba-tiba Dimas pun seperti kehilangan keyakinan.
Jika baru melihatnya saja Amara sudah kabur, lantas apa yang akan gadis itu lakukan jika dipaksa ikut pulang bersamanya? Bisa-bisa istrinya itu tak mau lagi melihat wajahnya.
"Terus, maksud lo gue harus pasrah dan biarin aja Amara ninggalin gue gitu?"
Dimas menjeda ucapan untuk sekadar mendengkus sebal sambil buang muka, lalu kemudian ia kembali menatap Baskoro dan melanjutkan bicara dengan nada tidak rela.
"Bas, lo tau sendiri gimana usaha kita buat nyari keberadaan Amara. Susah, Man. Dan setelah dia ada di depan mata, mau dilepasin gitu aja?" Dimas kemudian geleng kepala. "Nggak Bas. Gue tetep mau bawa Amara pulang gimana pun caranya. Gue yakin dia nggak benar-benar pergi. Amaraku pasti masih ada di sekitar sini. Dan sekarang gue baru memahami perkataan Juan yang nyuruh gue nyampein uang donasi panti secara langsung. Ternyata Juan mau kasih tau kalau selama ini Amara berada di sini."
"Dan lo mau maksa dia gitu?"
Dimas hanya terdiam mendengar pertanyaan setengah meragukan dari Baskoro.
"Saran gue, jangan gegabah saat bertindak, Bro. Gunakan taktik. Pakai cara cantik yang Aman, gimana caranya biar Amara mau kembali dengan suka rela tanpa merasa terpaksa dan tertekan."
"Maksud lo apa dengan kata-kata tertekan? Memangnya apa yang udah gue lakuin sampai Amara harus merasa tertekan?"
Lihatlah gaya Dimas yang jadi mudah tersinggung. Dia tiba-tiba nyolot begitu mendengar saran sekaligus ucapan Baskoro yang terkesan memojokkannya. Kini ia berkacak pinggang dan menatap Baskoro dengan ekspresi seperti menantang.
"Hey, jangan salah paham dulu."
Dimas hanya membalas dengan dengkusan.
"Bukannya lo udah bilang kalau bebasin dia dari ikatan pernikahan? Terus apa kata dia kalau tau tiba-tiba lo ngajak balikan? Lo bisa dicap sebagai cowok plin-plan yang nggak punya pendirian, Dim. Bukannya cinta, yang ada malah dia ilfil lagi sama lo."
"Hey, gue ngajak balikan dia juga ada alasannya." Dimas menyahut cepat. "Gue punya alasan kuat kenapa waktu itu ninggalin dia! Gue itu berniat baik. Semua gue lakuin demi keselamatan Amara dari kemungkinan terburuk yang akan dilakukan Naura."
__ADS_1
"Iya kalau Amara percaya! Lah kalau nggak?"
"Gue yakin Amara bakalan percaya, kok. Apalagi gue berhasil bikin dia merasa bersalah."
"Nah, justru itu!"
Dimas nyaris berjingkat kala Baskoro tiba-tiba menimpali perkataannya dengan nada tinggi sembari menepuk pundak dengan keras.
Meski nada bicara Dimas tadi terdengar lemah dan meragu, tetapi mata pria itu menunjukkan binar penuh keyakinan yang tak bisa Baskoro remehkan. Tapi tetap saja bagi Baskoro langkah itu terlalu tergesa-gesa untuk pria berkelas seperti Dimas. Dalam otaknya sudah bersarang sebuah ide gila yang sepertinya bakalan memacu adrenalin jika dilancarkan.
"Justru karena lo udah bikin dia merasa bersalah, harusnya sekarang lo bisa bikin dia minta maaf, bukan? Tetaplah jadi pria berkelas meski kenyataannya lo ini pengemis cinta, Bro. Gue punya cara jitu biar lo bisa dapetin Amara lagi dengan cara yang elegan."
Sialan. Dimas membulatkan matanya. Kata-kata Baskoro barusan benar-benar menohok dan nyaris membuatnya tersinggung andai saja ia lupa kenyataan yang sebenarnya.
Ya, kenyataannya ia memang pengemis cinta. Bahkan ia adalah budak cinta saat masih berpacaran dengan Naura. Dan ia hanya bisa tertegun saat Baskoro menepuk pundaknya pelan seolah-olah memberi dukungan. Dan sialnya lagi, sahabatnya itu malah beranjak meninggalkan. Bikin orang penasaran saja, kan.
"Hey! Awas kalau sampai lo nggak mau bocorin cara jitu itu!" seru Dimas dengan wajah penasaran.
Dan di sinilah dia sekarang. Memasang wajah tanpa ekspresi sesuai saran dari Baskoro. Ia harus pura-pura jual mahal pada Amara meski kenyataannya ia begitu menginginkan wanita itu kembali padanya.
Menoleh ke sisi kiri, pandangan Dimas langsung bertemu dengan sepasang mata milik Baskoro yang duduk di sampingnya. Ia mengarahkan pandangan penuh ancaman hingga membuat Baskoro sedikit menciut.
Bagaimana tidak menciut jika nyawa yang ia pertaruhan agar Dimas mengikuti sarannya.
Kini, saat pandangan Dimas begitu menusuk seolah-olah menunjukkan jika ancamannya tadi itu tidak main-main, ia hanya mengulum senyum sambil mengedipkan sebelah mata. Tetap bersikap tenang sembari menyatukan ujung jari jempol dengan telunjuknya, seolah-olah mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.
Baskoro tak perlu ambil pusing akan ancaman itu. Toh yang mengancamnya cuma seorang Dimas. Sahabat sekaligus atasannya. Orang yang paling baik kepadanya meskipun sikapnya terkadang menjengkelkan juga.
Ia kemudian mendorong tubuhnya mendekat pada Dimas sebelum kemudian berbisik di telinga pria itu.
"Lo tenang aja. Sebentar lagi Amara bakalan keluar dari persembunyiannya kok." Baskoro mengulum senyum dan menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan ketika tatapan Dimas terarah meragukan. "Udah, tunggu aja."
Dimas terdengar menghela napas. Pria itu kemudian kembali memfokuskan perhatian pada anak-anak penghafal Al-Qur'an yang saat itu tampil mengaji menunjukkan kebolehannya. Salah satu program yang didanai oleh keluarga Dimas. Dan ketika sang donatur hadir secara langsung, pihak panti pun merasa perlu menunjukkan hasil dari kerja keras mereka dalam mengemban amanah.
Sepanjang waktu menyelesaikan rangkaian acara, sejujurnya Dimas merasakan kegelisahan. Ia memang terlihat tersenyum di mata orang, tetapi sesungguhnya hanyalah senyum palsu yang ia sunggingkan.
Tiba saat acara berakhir dan membuat Dimas serta rombongan berpamitan pulang, hati Dimas dibuat berbunga-bunga oleh sosok Amara yang turut hadir dalam jajaran panitia.
Ia sontak menoleh saat Baskoro mencolek tangannya dan menatap penuh peringatan.
"Ingat. Pasang wajah datar. Bukannya muka bucin seperti barusan," bisik Baskoro padanya.
__ADS_1
Dimas langsung mengikuti anjuran Baskoro saat itu juga. Sepertinya tadi ia terlalu bahagia sampai-sampai melupakan rencana.
Dimas melirik Baskoro yang tersenyum bangga. Entah apa yang dilakukan pria itu hingga bershasil membuat Amara berdiri di sana.
"Biarpun malam ini lo belum bisa bawa pulang, tapi kan setidaknya lo bisa bersalaman dan saling pandang." Baskoro memainkan alisnya usai berbicara, dan itu berhasil membuat Dimas tersenyum karena saking harunya.
"Thanks ya. Lo memang yang terbaik," ucapnya sembari menepuk bahu Baskoro.
"Alah, udah biasa. Santai aja," balas Baskoro dengan bangganya yang membuat Dimas berdecak sebal.
"Muntah boleh nggak?"
"Sialan."
Sesi berpamitan sambil salaman pun dimulai. Lagi-lagi Dimas melirik Baskoro, si pencetus ide ini dengan ekspresi yang sulit diartikan sebelum dirinya menyalami ibu panti dan berbasa-basi. Degub jantungnya pun masih aman terkendali hingga melewati beberapa orang setelahnya.
Namun, semakin mendekati Amara jantungnya kian bertalu tak menentu. Ia masih berupaya tenang, lurus seperti rencana awal demi melihat bagaimana reaksi gadis itu. Hingga benar-benar tiba pada giliran Amara dan dirinya berdiri tepat di depan istrinya, Dimas dengan wajah datarnya mengulurkan tangan untuk bersalaman ....
Satu ... dua ... tiga ....
Amara menyambutnya meski tanpa memandang, lalu mengatakan ucapan terima kasih dengan nada yang bergetar.
Lembut dan dingin. Itulah kesan pertama Dimas setelah sekian waktu jemari lentik itu tak lagi menyentuh kulitnya.
Kenapa sedingin ini? Sakitkah Amaraku?
Tiba-tiba Dimas diserang kecemasan. Ia sampai-sampai lupa melepaskan salaman, bahkan tanpa sadar malah menatap Amara dengan tatapan penasaran.
"Ehemm!"
Tiba-tiba terdengar suara dehaman yang sukses membuyarkan momen Dimas. Ia menoleh ke arah kanan dan mendapati Laras yang tengah menatapnya.
"Bisa lepasin tangan dia, Pak?" Laras melirik tangan Dimas yang masih menyatu dengan Amara penuh isyarat. "Seperti dia tidak nyaman karena dia wanita yang bersuami."
"Oh benarkah?" Mata Dimas berbinar dan ia begitu antusias menanggapi kata-kata Laras. Entah apa yang dirasakannya saat ini hingga Dimas makin nekat dengan sengaja tak mau melepaskan tangan Amara.
Okay, dia tahu konsekuensinya. Pastinya orang akan berpikir dia adalah pria bejat yang dengan sengaja menjamah bagian tubuh seorang perempuan yang sudah bersuami. Di panti asuhan lagi.
Kendati ditujukan pada Laras yang begitu antusias, ia yakin pertanyaannya kali ini mampu menyerang Amara layaknya bombardir yang bisa meluluh lantakkan pertahanan.
"Boleh tau siapa nama suaminya?"
__ADS_1
Bersambung~