
Amara merebahkan tubuhnya di tempat tidur usai membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban. Hingga detik ini Dimas bahkan belum datang. Ada rasa cemas bercampur kesal karena pria itu sama sekali tak memberi kabar.
Apakah Amara merasa cemburu? Jawabannya tentu tidak. Ia hanya khawatir sebab kesehatan Dimas belum pulih benar. Namun, kendati demikian Amara merasa lega karena Dimas kembali mendapatkan tambatan hatinya.
Suara pintu yang diketuk mengejutkan Amara yang nyaris terlelap. Gadis itu sontak membuka mata, lalu bangkit dengan malas untuk membuka pintu kamarnya.
"Mas Dimas?" lirih Amara setengah terkejut, mendapati Dimas tengah tersenyum kepadanya. Pria itu masih berpakaian sama dengan saat pesta. Menandakan jika Dimas benar-benar baru datang. Dengan gaya santainya, menyandarkan bahu di dinding dengan tangan bersedekap dada.
"Udah tidur?" tanya pria itu penasaran, sebab melihat Amara tengah mengucek matanya.
"Belum." Amara menggeleng.
"Gue haus. Bikinin kopi, dong," pinta Dimas setengah merengek.
"Sekarang?" tanya Amara memastikan.
"Besok lusa!" ketus Dimas. Namun, sesaat kemudian ia meralat ucapan dengan nada setengah geram. "Ya sekarang, Esmeralda. Kalau nunggu besok lusa, ini tenggorokan udah keburu kering ...! Ayo buruan!" sentak Dimas sambil mengedikkan dagunya ke arah kanan.
"Iya, iya." Gadis yang sudah mengenakan piyama itu menutup pintu kamarnya, lantas berjalan dengan langkah berat mendahului sang pasien. Sementara Dimas, pria itu diam-diam tersenyum senang sembari mengikuti Amara dari belakang. Ia bahkan membuntuti Amara sampai ke dapur.
Amara yang sadar diikuti Dimas tampak menoleh, lalu menggelengkan kepalanya samar. Ia menghentikan langkahnya, kemudian bertanya.
"Ngapain ikut ke dapur? Tunggu aja di kamar atau ruang tengah. Nanti juga aku bawain ke sana, kok," ujarnya setengah memprotes.
"Suka-suka gue mau ngapain juga." Dimas yang spontan ikut berhenti, menjawab tanya Amara dengan sikap tak acuh.
"Termasuk ngikutin aku ke dapur?"
"Yup."
"Buat apa?"
"Nemenin lo. Gue tuh tau, aslinya lo itu cewek penakut."
"Dih, ngasal." Amara mencebik. Gadis itu lantas berjalan menuju pantry. Mengambil cangkir, kemudian mulai menyeduh kopi hitam kesukaan Dimas.
Sedangkan Dimas memilih berdiri tak jauh dari Amara. Pria itu menelusupkan jemari ke dalam saku celana, sementara pandangannya sama sekali tak lepas dari gerak-gerik sang perawat.
"Ngapain liatin aku terus?" Merasa tengah Dimas perhatikan, Amara bertanya tanpa memandang muka. Ia tetap menunduk dengan pandangan fokus pada kopi yang tengah diaduk-aduk. "Lagi puas-puasin lihat muka aku sebelum hilang dari pandangan kamu?" imbuhnya dengan nada menyindir.
Tak langsung menjawab dengan kata, Dimas justru mengangkat sebelah sudut bibirnya. Ia tahu benar arah pembicaraan perawatnya yang merujuk pada pemberhentian kerja. Ia sadar, kondisinya kini semakin membaik. Jadi bisa dipastikan, keberadaan Amara tak lagi dibutuhkan di sini.
__ADS_1
"Kenapa ...? Lo nggak rela jauh-jauh dari gue? Heum?" tanya Dimas dengan nada menggoda sembari mencondongkan tubuhnya ke depan dengan lengan bertumpu pada meja.
"Ish, mana ada?" Amara melirik Dimas sekejap lalu lekas-lekas membuang muka dan beranjak. Bukan karena gusar, melainkan hendak mengambil nampan dan toples berisi camilan yang berada di dalam lemari sebelah kiri.
"Lo merasa nggak sih? Hari ini muka lo kelihatan berseri-seri."
Mendengar perkataan Dimas yang seperti mengada-ngada membuat Amara menghentikan kegiatannya yang tengah menyusun camilan beserta kopi ke atas nampan. Gadis itu menatap Dimas sembari mengerutkan kening sebelum akhirnya melayangkan pertanyaan.
"Maksudnya?"
"Lo kelihatan bahagia sejak di pesta." Dimas menjawab jujur. "Emm, biar gue tebak. Juan nembak lo jadi pacar? Atau mungkin, kasih cincin terus melamar?"
"Enggak!" Amara menjawab cepat dengan nada tegas.
Jawabannya Amara yang di luar ekspektasi itu jelas membuat Dimas tercengang.
"Hah! Enggak?"
Amara menjawab dengan gelengan.
"Loh kok bisa?"
Dimas terdiam sejenak dengan ekspresi tak habis pikir. Sesaat kemudian pria itu pun beranjak, mengikuti sang perawat yang telah lebih dulu meninggalkan dapur.
"Gue pikir kalian saling cinta!"
Amara melirik Dimas yang tiba-tiba sudah berada di sisinya. Gadis itu mendesah pelan sebelum kemudian memberikan penjelasan.
"Saling cinta bukan berarti harus pacaran juga, kan? Asal Mas Dimas tau, pacaran itu cuma nambah dosa. Ya kalau sampai naik pelaminan. Kalau ternyata cuma jagain jodoh orang, gimana?"
Sekuat tenaga Amara berusaha menyembunyikan kegelisahan agar tak terbaca oleh Dimas. Sebagai gadis yang memiliki rasa, tentunya ia menginginkan kejelasan sekalipun tahu jika Juan mencintainya. Bukankah wajar jika gadis itu menginginkan kepastian? Ah, andai dia tahu sebesar apa keinginan Juan untuk meminangnya.
"Itu sih alibi lo doang buat melindungi Juan. Bagi gue, tetep aja Juan itu cowok lembek dan nggak tegas! Masa nembak cewek kayak lo doang nggak berani juga sampai sekarang."
"Mas!" Amara sontak berhenti dan menatap Dimas dengan sorot mata tajam. "Jangan pernah jelek-jelekin Juan, ya! Juan itu orang paling baik yang pernah aku kenal. Dia takut hubungan baik kami rusak, makanya mikir ribuan kali untuk menyatakan perasaannya!"
Meski hati membenarkan perkataan Dimas, tetapi sikap tidak suka tampak begitu kentara ketika Amara memberikan penyangkalan. Gadis itu sama sekali tak berkedip, hingga berhasil membuat Dimas keheranan. Bahkan menyesal telah berkata demikian.
Tak ingin hal ini menjadi perdebatan, Amara memutuskan melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah untuk menaruh nampan yang ia bawa di sana.
"Mar, lo tersinggung gue ngomong kayak tadi?" Dimas menghadang Amara yang hendak keluar. Ia menatap Amara dengan ekspresi menyesal.
__ADS_1
"Enggak."
"Enggak, tapi kok mukanya jutek gitu?"
"Memang dari dulu muka aku jutek, kan."
"Enggak. Dulu lo itu ramah dan murah senyum. Kemaren-kemaren juga. Bahkan dua menit yang lalu juga masih ramah. Tapi kenapa sekarang–"
"Mas, minggir!" potong Amara sebelum Dimas menyelesaikan ucapannya.
"Tuh, kan, kesel." Telunjuk Dimas mengarah tepat ke wajah Amara.
"Enggak, aku cuma ngantuk." Amara menyangkal dengan intonasi datar.
"Bohong, kan. Bola mata kamu aja masih bening."
"Hoaamm." Amara pura-pura menguap.
"Halah, gue tau lo cuma pura-pura. Duduk dulu, yuk. Kita ngobrol bentar." Tak ingin mendapatkan penolakan, Dimas menarik tangan Amara untuk duduk bersama di sofa.
Jika sudah begitu apalagi yang bisa Amara lakukan selain mengikuti keinginan Dimas. Meskipun masih pasang muka sebal, tetapi ia tetap duduk di tempat yang Dimas sediakan.
"Nah, gitu dong," ucap Dimas diiringi senyum penuh kemenangan sembari membenamkan bokongnya di sofa. "Ngobrol sambil ngopi kan lebih enak. Eh, ngomong-ngomong kenapa lo bikin kopinya cuma satu?" Mimik wajah Dimas seketika berubah ketika menatap cangkir di atas meja. Entah kesadarannya hilang kemana, padahal sejak tadi ia tahu Amara hanya menyeduh satu cangkir kopi.
"Ya cuma satu, lah Mas. Kan aku bikin cuma buat kamu," sahut Amara.
"Buat lo mana?"
"Nggak usah."
"Yah, nggak seru, dong." Bibir Dimas maju beberapa senti, seolah-olah menunjukkan jika ia hilang semangat.
Namun, raut wajahnya kembali terlihat cerah ketika sebuah ide gila tiba-tiba terlintas di kepalanya.
"Ah, ngapain repot-repot. Barengan aja malah lebih seru, ya kan," ujarnya dengan wajah semringah.
"Barengan? Maksudnya?" tanya Amara dengan alis yang bertaut.
"Secangkir berdua ...."
"Hah!" Bola mata Amara membulat sempurna. Terlebih dengan ekspresi Dimas yang tersenyum nakal dengan alis mata yang dinaik turunkan.
__ADS_1