
"Kamu kejam, Dimas! Bahkan setelah semua yang kualami, kau masih tega berbuat demikian?" Naura mulai terisak. "Aku sudah hancur sehancur-hancurnya, Dimas. Aku keguguran dan tidak bisa lagi melahirkan putra lantaran rahimku sudah diangkat. Dan kau masih tega mencampakkan?"
"Bila tau kau ini sudah hancur, lalu untuk apa lagi kau datang kepadaku?" Dimas mendecih. "Come on, Naura ... kau tidak sedang amnesia, kan? Aku yakin, kau juga tidak sedang bermimpi sambil jalan kaki hingga sampai ke tempat ini. Aku rasa kau juga tau, jika orang yang benar-benar mencintai akan menyerahkan dirinya kepada orang yang dicintai dengan hati tulus dan dalam keadaan masih utuh. Bukannya cuma pas ada maunya, apalagi dalam keadaan sudah hancur."
Amara tidak mengerti dengan maksud perkataan Dimas itu. Namun, ia tetap memposisikan diri sebagai pendengar dan pengamat yang baik di tengah dua orang yang sedang berseteru.
"Kau tau Naura, aku benar-benar khawatir jiwamu mengalami gangguan hingga berpikir akulah orang yang mejadi penyebab dirimu hancur. Bukankah kau sendiri tau bagaimana aku selalu memuliakanmu?" Tatapan Dimas kian tajam dan kalimat yang dilontarkannya begitu lantang.
"Aku selalu menerima keadaanmu, apa pun itu. Mencintaimu setulus hatiku, bahkan sampai menentang keinginan orang tua aku. Aku berusaha menuntun kamu, mengarahkan ke jalan yang benar. Tapi yang terjadi apa? Kau justru hilang kendali dan lepas pengawasan, lantas aku harus bagaimana?"
"Apa kau marah padaku, Dimas?" tanya Naura di sela isakan. Sejujurnya ia sudah kalah telak. Namun, ia berusaha mengalihkan rasa malunya dengan kalimat tanya setengah tuduhan.
"Tidak." Dimas menggeleng sembari menyebik. "Hanya sedikit meratapi nasib. Bayangkan saja. Aku yang membantumu berdiri, tapi dia yang kau ajak berlari." Tiba-tiba tawa Dimas menggema. Sebuah tawa hampa yang hanya terjadi sekejap saja, sebelum kemudian berganti dengan sebuah seringai bangga. "Tapi apa kau tahu, Naura? Pada akhirnya aku merasa beruntung sebab tidak bernasib sial dengan ikut terjatuh bersamamu."
Tanpa sadar Naura mengepalkan tangannya. Kata-kata Dimas benar-benar menohok tepat di palung hatinya yang terdalam.
"Kau dendam kepadaku?" Naura bertanya lagi dengan suara lirih dan bergetar. Ia nyaris kehabisan kata-kata, dan hanya itu yang terlintas di benaknya. Namun, kali ini Dimas mengulas senyum sebagai reaksinya.
"Naura ... apa kau pernah mendengar karma berbicara?"
__ADS_1
Naura tak menjawab pertanyaan Dimas itu dengan kata-kata. Ia hanya semakin lekat menatap Dimas yang artinya mengharapkan pria itu segera menjelaskan.
"Jika seseorang tega mengkhianati, bahkan menghancurkan dengan brutal, dan juga telah berbuat curang, maka diam dan perhatikan saja bagaimana hukum alam bekerja. Tanganku cukup suci untuk dikotori dengan membalas perbuatan yang jahat." Lagi-lagi Dimas berhasil
Naura menelan ludahnya susah payah. Sudah sangat jelas Dimas menyindirnya secara terang-terangan. Hatinya tak pernah sesakit ini dicampakkan seseorang. Ia berangkat dengan bekal semangat yang membara. Haruskah sekarang dia pulang dengan membawa hati yang kecewa?
"Sayang ... sepertinya kau baru saja memberiku obat, tapi kenapa tiba-tiba kepalaku pusing lagi, ya? Apa karena kedatangan tamu yang tidak diharapkan?"
Amara yang sadar jika dirinyalah yang diajak bicara Dimas, spontan menoleh ke belakang. Benar saja. Ia mendapati Dimas tengah memijat pelipisnya dan memasang wajah suram, dan seketika itu juga ia langsung memutar badan untuk kemudian ikut memijat kepala Dimas. Sangat lembut. Disertai tatapan perhatian, hingga pria yang masih memangkunya itu menyunggingkan senyum sangat menawan.
"Kau masih belum pulih benar, Sayang. Jadi jangan berpikir macam-macam dulu, ya. Jaga kesehatanmu. Demi aku ...."
"Aku akan jaga kesehatanku demi kamu." Dimas bertutur lembut, menatap Amara dengan hangat, lantas meraih tangan Amara dan mengecup punggung tangannya dengan mesra.
Tahu, apa yang dirasakan oleh Amara? Wajahnya memerah merasakan hangatnya kecupan Dimas. Jantungnya berdesir hebat. Jelas ia tidak menduga Dimas akan berbuat demikian.
Sementara hal mengenaskan justru dialami oleh Naura. Hatinya berdenyut nyeri melihat kemesraan Dimas dan Amara di depan mata. Tangannya tanpa sadar meremas ujung dress cantik warna hitam yang ia kenakan. Namun, entah mengapa dirinya masih sulit untuk percaya?
Sikap Amara dan Dimas memperlihatkan perubahan yang signifikan. Awalnya gadis itu terlihat kaku dan canggung. Hal itu terlihat saat pertama kali Dimas memangku dan memeluknya dari belakang. Dimas pun demikian. Awalnya terlihat datar dan terkesan menekan Amara. Lantas, kenapa tiba-tiba sok mesra seperti ini? Hal itulah yang membuat Naura begitu ingin menyelidikinya.
__ADS_1
Sementara itu, Amara yang masih berupaya menguasai diri tampak tersenyum canggung sebelum kemudian beringsut dari duduk. Ia berusaha mengurai pelukan Dimas dan berniat turun dari pangkuan pria itu.
"Beristirahatlah, Sayang. Jangan memangku aku dulu. Kau tau aku ini gendut. Badanku berat. Aku takut kau tidak kuat, Sayang," ujarnya beralasan dengan nada canda, lalu tertawa renyah untuk mengusir rasa malu yang sudah kadung menghinggapinya.
"Tidak. Aku tidak mau melepasanmu." Dimas menggeleng sembari cemberut. Ia juga malah mengeratkan pelukannya pada pinggang Amara. Bisa-bisanya dia bersikap manja, padahal tatapan terluka Naura masih terarah kepadanya.
"Temani aku tidur," pintanya pada Amara, tapi dengan nada lembut dan juga manja.
Kalau sudah begini, apa lagi yang bisa Amara lakukan? Tak bisa menolak keinginan Dimas, ia hanya bisa tersenyum lembut sebelum kemudian menganggukkan kepalanya.
Amara membantu Dimas berbaring lalu menutupi setengah badannya dengan selimut tebal.
"Jangan pernah tinggalkan aku." Seperti benar-benar tak ingin ditinggalkan, Dimas memegangi tangan Amara dan memohon agar gadis itu tak akan pergi dari sana.
Akan tetapi Amara yang sudah kadung masuk ke dalam drama yang Dimas ciptakan itu tahu betul bagaimana harus menempatkan diri.
Ia memposisikan diri layaknya istri sungguhan yang begitu mencintai suaminya. Sehingga saat Dimas memintanya berbaring di sisi pria itu ia patuh saja menuruti. Mengabaikan debaran jantungnya. Tak peduli pada Naura yang masih ada di sana dan menonton mereka. Toh mereka begini memang disengaja lantaran untuk dipertontonkan kepada gadis itu.
"Tidurlah, Sayang. Aku akan selalu di sini untuk menjagamu." Amara yang berbaring miring dengan posisi kepala lebih tinggi, mengusap lengan Dimas dengan usapan lembut. Namun gadis itu nyaris memekik saat Dimas tiba-tiba mengikis jarak. Melingkarkan tangan ke pinggangnya dan dengan tak tahu malunya menyembunyikan wajah di dadanya seperti bayi yang berlindung pada ibunya. Amara bisa merasakan wajahnya memucat seperti tak dialiri darah.
__ADS_1
Sekarang ia harus apa? Mendorong kepala Dimas atau justru mengusapnya?